
Setiap malam Aiyra selalu merasa gelisah memikirkan Ilham yang kini hadir kembali dalam hidupnya, disaat cintanya untuk Bram telah tumbuh, kenapa Ilham kembali merusak segalanya.
"Apa yang terjadi hari itu" tanya Bram tiba tiba saat Aiyra dan Bram akan tidur.
Aiyra yang ada di dekapan Bram menggeleng kan kepala perlahan.
"kami hanya bicara dan bertanya kabar saja, lagi pula sekian lama tidak bertemu rasanya sangat canggung" ucap Aiyra berbohong.
Aiyra memejamkan mata dalam dekapan Bram, dia mengingat kembali hari itu, dimana Ilham memeluk tubuhnya dengan penuh kerinduan, Aiyra mencoba merasakan kembali ciuman hangat di bibir nya, dia meresapi saat bibir Ilham mulai turun menjelajahi leher halus aiyra.
Tanpa sadar Aiyra merepleksikan bayangan dia bersama Ilham saat itu pada Bram, Bram yang tidak tau bahwa istrinya sedang berimajinasi dengan laki laki lain hanya bisa menikmati setiap sentuhan dan ciuman yang Aiyra lakukan. Bram yang sudah terpancing pun membalas semua sentuhan dan ciuman dari istrinya, hingga mereka berdua berada dalam gairah asmara yang salah, bagaimana tidak, Aiyra memejamkan matanya membayangkan bahwa apa yang sedang dia lakukan saat ini dengan Ilham,bukan dengan Bram. Oh, Bram.
****
"Kak, hari ini Aya tidak bisa bangun pagi buat nyiapin sarapan ya"
"kenapa sayang? apa kamu gak enak badan?"
"iya, rasanya kepalaku kliyengan, sepertinya aku masuk angin Kak"
Percakapan mereka di pagi hari, dimana Bram sudah bangun hendak mandi, sementara Aiyra masih bermalas malasan di kasur.
"mau ke dokter? nanti sebelum berangkat ke kantor, Kak Bram antar kamu dulu periksa"
"gak Kak, aku cuma butuh istirahat saja sebentar lagi"
"baiklah kalau begitu, Kak Bram siap siap dulu ya"
"hemm"
Bram bersiap diri untuk berangkat kerja, seperti biasa, dia berdiri di depan cermin sambil memakai dasi, matanya melirik sekilas di cermin pada istrinya yang sepertinya memang agak pucat.
"Yakin tidak apa-apa Kak Bram tinggal?" ucap Bram di telinga istrinya yang masih terbaring di atas ranjang
"Ya ampun Kak Bram, kenapa bau mu selalu membuat Aya terlena"
Aiyra membalikan badan dan menarik tubuh suaminya, dia memeluk erat lelaki kekar yang ganteng paripurna itu.
"kamu demam sayang, lebih baik kita periksa ya"
"gak mau, Aya mau seperti ini saja. Kakak jangan kemana mana pokoknya" Aiyra semakin mempererat pelukannya.
"sayang, hari ini Kak Bram ada meeting penting, ada klien dari luar negeri. kalau di batalkan begitu saja gak enak karena sudah di rencanakan seminggu sebelumnya"
"Fine! pergilah!" ketus Aiyra sambil melepaskan pelukan nya, Aiyra membalikan badan dan membelakangi Bram.
"sayang..."
"don't touch" tegas Aiyra. "pergilah jauh jauh sangat jauh" lanjut Aiyra.
"sayang, Kak Bram janji begitu selesai meeting akan segera pulang okeh, Kak Bram tidak akan mengurus pekerjaan lainnya"
"berisik!!!" teriak Aiyra.
"sayang..."
buukkkk
__ADS_1
Aiyra melempar bantal ke muka Bram. namun Bram tangkis sebelum bantal itu mendarat di wajahnya. Bram hanya menghela nafas panjang, sebenarnya dia ingin menemani istrinya di rumah, tapi dia tidak bisa begitu saja membatalkan meeting dengan klien yang sudah jauh-jauh datang. Bram mencium kepala Aiyra lembut, namun Aiyra segera mengusapnya kasar.
" Ma, Bram titip Aya" ucapnya saat meminum secangkir teh hangat di meja makan.
"kenapa dia?"
"Aya bilang gak enak badan, dia mau Bram menemaninya saat ini, tapi Bram ada klien penting dan gak bisa di cancel begitu saja"
"Rara kalau sudah kumat manjanya ya begitu Bram, alm. Ayahnya juga suka di bikin pusing, tapi biarlah Bram nanti juga sembuh sendiri"
"tapi dia agak demam juga Ma, wajahnya sedikit pucat"
"tidak usah khawatir Bram, pergilah bekerja biar Rara Mama yang urus"
"terimakasih Ma, kalau begitu Bram berngkat dulu, selesai meeting Bram langsung pulang"
"hati hati di jalan ya Bram"
Bram pergi. dan Mama naik ke atas menuju kamar Aiyra, pintunya terbuka. Mama hanya menggeleng kan kepala saat melihat anak semata wayangnya itu melempar barang barang yang ada di atas kasur.
"Ya ampun Rara, kamu tuh ya gak berubah meski udah lama menikah juga, Ayah gk ada sekarang Bram yang kamu bikin pusing ah!"
Aiyra menangis sesenggukan, manja. Mama mendengus kesal melihat tingkah anaknya itu. Mama menjewer telinga Aiyra dan menariknya ke kamar mandi, Mama mebuka baju Aiyra satu persatu, sementara itu Aiyra masih menangis manja.
Aiyra terduduk di bathtub, sementara Mama menyiram tubuh anak kesayangan dengan air hangat. Mama menuangkan shampoo dan memijit lembut kepala Aiyra, Mama menggosok punggung Aiyra perlahan-lahan. Tak sadar Mama pun ikut menitikkan air mata.
"lihatlah Ayah, anak manja mu ini, meski telah bersuami dia sama sekali tidak berubah" bisik Mama dalam hati.
Mama juga menggosok gigi Aiyra. Aiyra yang berhadapan langsung dengan Mama nya bisa melihat linangan air mata di mata sang Mama. Aiyra memeluk Mama sambil menangis.
"Rara kangen Ayah Ma"
Mereka berdua berpelukan dalam tangisan kesedihan karena merindukan orang yang sudah tidak bisa mereka temui.
"ya sudah, sekarang pakai handuk, nanti masuk angin, pakai baju sendiri ya, Mama harus menelpon Om Heru, ada sedikit masalah di kantor"
"iya Ma"
Mama pergi meninggalkan Aiyra sendiri di kamar mandi, Aiyra membersihkan badannya yang penuh dengan busa. Setelah memakai handuk dia keluar.
drreeettt drreeettt
ponsel Aiyra bergetar, Aiyra segera mengambil ponselnya. Ilham. panggilan video. Aiyra menerima nya tanpa sadar kalau dia hanya memakai handuk.
Ilham hanya diam terpana melihat Aiyra hanya memakai handuk dengan dada yang terbuka memperlihatkan belahan dada nya.
"sangat menggoda" ucap Ilham penuh gairah.
Aiyra yang menyadari apa yang Ilham maksud langsung mematikan ponselnya. Dia terkejut bukan kepalang, bagaimana dia sangat ceroboh? Aiyra memukul mukul kepalanya. Aiyra marah pada dirinya sendiri sambil terus memukul mukul kepalanya.
"aduuuhhhhh" Aiyra meringis, dia merasa kepalanya sakit. Aiyra berbaring di atas kasur.
setelah dirasa enakan, Aiyra berdiri dan mencoba memakai baju, kepalanya ternyata masih berasa pusing, dengan segala kekuatan yang masih dia miliki, Aiyra mencoba memakai pakaian. di raihnya hand bag yang selalu ia bawa kemana mana.
"Ma....Mama...." teriak Aiyra pelan. Aiyra mencari Mama nya kesemua ruangan, tapi tidak ada, Aiyra berjalan tertatih menuju kamar Mama nya tapi tetap tidak ada.
"Non Aiyra,,,, Non kenapa?" tanya si mbok yang khawatir melihat keadaan majikannya itu.
__ADS_1
"Mbok ada supir gak? tolong minta anterin saya ke RS sekarang,,, kepala saya pusing"
"pak Memen pergi sama ibu tadi, Nurdin juga belum kembali dari pasar, tadi ibu minta dia beli buah buat Non Aiyra"
"tolong telepon RS mbok suruh ambulans kesini, saya tidak bisa menelpon Kak Bram, dia pasti masih meeting"
" baik Non" si mbok pergi meninggalkan Aiyra yang terkulai lemas di atas sofa, wajahnya pucat pasi, keringat nya mengucur dari dahi. badannya gemetar.
"Non, saya sudah...." si mbok terdiam saat melihat Aiyra tidak sadarkan diri.
"Non...Non bangun Non...Non Aiyra" si mbokkk yang sendirian panik mengetahui majikan nya pingsan. dia mengguncang tubuh Aiyra perlahan. sadar Aiyra tak kunjung bangun, si mbok berdiri, dia mondar mandir berharap seseorang akan datang.
ngiung ngiung ngiung
Ambulans datang, si mbok langsung berlari membuka pintu gerbang yang jauh disana, berlari tanpa alas kaki.
"ayo pak cepat...majikan saya pingsan" si mbok berlari mendahului petugas RS.
"ini pak, tolong majikan saya pak"
"iya Bi, kami akan menolong nya" petugas RS memindahkan Aiyra ke blankar, sebelum itu mereka memasang oksigen terlebih dahulu pada Aiyra. Tak berselang lama Nurdin datang. dia langsung berlari ke dalam rumah saat melihat ada ambulans.
"mbok ada apa ini?"
"Non Aiyra pingsan Din, kamu ikut ya sama bapak bapak ini, saya di rumah jagain"
"iya mbok"
Nurdin mengikuti para petugas RS dari belakang. ambulans pun pergi. si mbok membuka buku telepon mencari no ponsel Mama Aiyra.
"Hallo bu, bu ini mbok... Bu non Aiyra pingsan, dia di bawa ke RS... iya bu...iya...iya bu RS itu..." si mbok menutup telepon nya, dia sekarang merasa agak tenang.
****
Aiyra masih tergolek lemah meski sekarang dia sudah siuman. Mama sejak dari tadi duduk di samping Aiyra sambil mengelus wajah Aiyra tak henti henti.
brakkkk
suara pintu kamar Aiyra terbuka kasar. Bram.
"sayang....sayang...a... apa yang terjadi" Bram cemas.
"tenang Bram, Rara baik baik saja" jawab Mama.
"sayang maaf ya, harusnya Kak Bram tidak mementingkan pekerjaan kantor tadi" ucap Bram penuh sesal, Bram memegang erat tangan istrinya, dia mencium kening istrinya berkali-kali.
"Kak, Aya tidak apa-apa, Kakak jangan khawatir"
"Bram mulai saat ini berlatihlah untuk tidak terlalu mencintai anakku itu" ujar Mama.
Bram menatap mata mertuanya penuh tanya.
Aiyra menarik tangan Bram, dan meletakkan nya di atas perutnya.
"Hallo Papa...." bisik Aiyra di telinga Bram. Bram terdiam masih tidak mengerti
"Mama akan jdi nenek Bram" jelas Mama.
__ADS_1
Bram yang mulai mengerti langsung berbinar,dia menangis haru dan memeluk istrinya penuh kebahagiaan.
"terimakasih sayang..." Bram mencium pipi Aiyra. dengan senyum yang merekah di wajahnya.