HARAMKAH?

HARAMKAH?
Kaca Yang Pecah


__ADS_3

Suara burung tidak lagi indah di dengar,,, dedaunan terdiam seakan enggan melambai,,, pepohonan hanya terdiam, Matahari tak lagi sehangat dulu.


Bram menyeret dua koper milik Aiyra, sementara itu Aiyra mengikuti langkah Bram dengan berat, tatapan matanya kosong, dia melangkah seperti mayat hidup, bergerak namun seperti tak bernyawa.


Sesekali dia hampir menabrak benda dan tembok yang ada di depannya, beruntung Bram begitu cekatan hingga tak terjdi hal yang tidak di inginkan.


Bram hanya bisa bernafas berat melihat kondisi Aiyra seperti itu, dia merasa prihatin sekaligus sedih, sedih karena dia bisa melihat betapa besar cinta Aiyra untuk Ilham, wanita yang begitu dia cintai mencintai orang lain dengan begitu dalam.


"apa suatu saat nanti aku akan dicintai begitu dalam olehmu? apa akan ada masa nya?"


Bram tau pertanyaan nya tak akan pernah dia jawab, bahkan mungkin terdengar di telinga nya saja tidak.


Sepanjang perjalanan dari kota S menuju kota C, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulut Aiyra. raut mukanya tidak berubah sama sekali. bahkan suara perutnya yang meminta untuk di isi pun seolah tidak Aiyra rasakan.


" Bram, Rara kenapa? " tanya Mama begitu cemas saat anak semata wayangnya pulang Seperti robot berjalan tidak memberikan reaksi apapun.


"Tidak apa-apa tante, Aiyra hanya tidak enak badan, untuk sementara ini Bram minta tante jangan terlalu banyak bertanya ya, nanti tunggu Aya sendiri yang bicara"


"iya Bram" ucap Mama Aiyra sedih.


Dua hari berlalu tapi tidak ada perubahan pada diri Aiyra, dia hanya mengurung diri di kamarnya, bergerak hanya saat akan ke toilet. selebihnya dia habiskan di atas kasur dengan pikiran kosong, tidak menangis,tida tersenyum. Dia menyalakan sebuah lagu di ponselnya.


menatap kepergian dirimu


meratap menangis sedih tak tertahankan


terbayang saat bersama lewati masa terindah


saat kau memelukku tuturkan cinta.


Kaulah seluruh cinta bagiku


yang selalu menentramkan sluruh jiwaku


dirimu kan selalu ada


disisiku selamanya


Kau bagaikan nafas di hidupku

__ADS_1


yang sanggup menghidupkan segala gerakku


ku kan slalu memujamu


hingga nanti kita kan bersama


*siti Nurhaliza ft chakra khan


Aiyra bereaksi mendengar lagu itu, dia berdiri dan berjalan menuju jendela kamarnya. dia menyilangkan kedua tangannya dia atas dada. Dia menatap lepas ke atas langit sambil menghela nafas panjang, dia memjamkan matanya dalam dalam, bibirnya bergetar menahan tangis, namun air matanya tak bisa di bendung.


tak sanggup ku memikirnya lagi


habis separuh nyawaku tangisimu


tiada lagi bait terindah


terdengar merdu terucap


merayu menyanjung ku tenangkan jiwa


Tangisan Aiyra pecah, dia menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Aiyra terduduk lemas. Bahunya terlihat turun naik seiring irama tangisannya yang semakin keras.


" Ra! Rara.... buka nak....kamu kenapa?" Ucap Ayah panik, Ayah menggedor-gedor pintu Aiyra yang terkunci dari dalam


"Dobrak ajah Yah pintunya"


"panggil security Ma,,buat bantuin Ayah dobrak pintunya"


terdengar suara langkah Mama Aiyra pergi. Sementara itu Ayah masih mencoba menggedor pintu kama Aiyra dengan keras.


"Ayo pak kita dobrak dalam hitungan ke tiga" ucap security yang baru saja datang.


" satu... dua... tiga..."


percobaan pertama mereka gagal, Ayah dan security rumah Aiyra terus mencoba.


Brakkkk


pintu ahirnya terbuka, dengan kondisi kunci yang rusak. Ayah aiyra dan Mamanya segera berlari ke arah Aiyra yang sedang terduduk menangis histeris.

__ADS_1


" ya ampun Ra kamu kenapa" tanya Ayah pelan sambil merangkul Aiyra, sementara tangan yang satunya sibuk mengusap air mata anak kesayangan nya.


Aiyra tidak menjawab, dia hanya terus menangis hingga suara tangisnya perlahan melemah dan hilang. Aiyra pingsan. Ayah dan Mama Aiyra panik, Ayah langsung membopong Aiyra, dan membawa Aiyra ke RS terdekat. Aiyra masuk ke UGD, dan di periksa oleh dokter.


Infus terpasang di lengan kiri Aiyra,begitupun dengan selang oxygen terpasang di hidung Aiyra.


"bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Ayah Aiyra panik sambil merangkul istrinya yang terus menangis.


" Anak bapak mengalami dehidrasi berat, dan sepertinya dia juga terlalu stres pak"


Ayah menoleh ke arah Mama nya Aiyra yang menangis sedih.


" tapi tidak apa-apa kan dok?"


"tidak pak, hanya harus di rawat disini untuk observasi"


" baik dok, lakukan yang terbaik untuk anak kami"


"tentu pak, kami akan memberikan yang terbaik semaksimal mungkin, kalau begitu saya oermisi, sikahkan bapak masuk namun jangan terlalu banyak bertanya jika nanti anak bapak dasar"


Ayah Aiyra hanya mengangguk, dan masuk ke dalam dengan perlahan. mereka menatapi sedih anak semata wayangnya terkulai lemah tak berdaya.


"pak, maaf kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan." ucap salah seorang petugas.


" iya sus, silahkan"


Aiyra ynag sudah mendapatkan pertolongan pertama di pindahkan ke ruang perawatan.


" kami permisi pak, kalau ada sesuatu bisa hubungi kami ya pak bu"


"iya suster, terimakasih banyak"


"sama sama pak bu, kami permisi"


mereka membalikan badan dan pergi kekuarin, bersaaman dengan itu Bram masuk dengan wajah cemas dan tergesa gesa.


" maaf tante Bram tadi ada meeting penting jadi baru bisa kesini, Aya gimana tante"


"belum sadar Bram," ucap Mama sambil kembali menangis.

__ADS_1


"bram ada apa sebenarnya?apa ada kaitannya dengan Ilham? bram, tante setuju, tante akan merestui mereka Bram jika itu yang Rara mau" ucap Mama dengan penuh kesungguhan. Bram hanya terdiam menatap wanita yang sekarang ada di hadapannya.


"andai saja tante tau kalau Ilham kini pergi meninggalkan Aya,andai saja aku bisa memberitahu kalau Aya telah di tipu, apa yang akan mereka lakukan Tuhan" bisik Bram dalam hati. Bram sangat marah saat Aiya menelpon dan menjelaskan semuanya pada Bram, meeting dengan klien besarpun dia batalkan dan memilih pergi untuk menemui Aiyra, dia tau Aiyra akan sangat kecau, jika dia tidak pergi dengan cepat untuk menemui Aiyra, dia takut akan terjadi sesuatu hal yang buruk pikir Bram.


__ADS_2