HARAMKAH?

HARAMKAH?
Bunga Yang Layu


__ADS_3


Aiyra


Hari ini adalah pemeriksaan Aiyra yang selanjutnya, dia akan menjalankan pemeriksaan CT scan sekaligus membaca hasil laboratorium yang minggu Lalu dia jalani.


Kak Bram, aya akan melakukan pemeriksaan di RS, agak sedikit tegang, bisakah Kakak menyisihkan waktu untuk mengantar Aya menjalani pemeriksaan.


Sampai Aiyra di RS tapi ponselnya tak kunjung berbunyi, tak ada balasan dari Bram suaminya. Dia tersenyum getir.


Aiyra memasuki ruang dokter, disana dia di periksa secara umum, lalu di bantu suster untuk melakukan pemeriksaan lanjutan, CT scan.


Aiyra kembali berganti baju dan menunggu hasilnya keluar, agak sedikit lama Aiyra menunggu, dan dia memutuskan untuk minum secangkir kopi yang ada di RS.


Aiyra hanya meminum seteguk kopi itu, selanjutnya Aiyra hanya mengaduk aduk kopi itu terus menerus.


sesekali Aiyra mengangkat sudut bibirnya, tersenyum kecut memikirkan kondisinya saat ini.


"Ah, bahkan aku sempat mengalami hal yang lebih buruk dari ini, saat Ilham meninggalkan aku sendiri, bukankah itu lebih menyakitkan daripada kehilangan nyawa sekalipun" gumamnya pelan.


"kenapa kali ini aku harus mengeluh? bukankah aku wanita yang kuat? tidak seharusnya aku menangisi keadaanku saat ini,sendirian tanpa seorangpun yang perduli" Aiyra berbincang dengan dirinya sendiri, kini air matanya mengalir deras di wajahnya yang pucat, terlihat lekukan tulang di dadanya,,, pipi yang dulu bulat menggemaskan kini sedikit menipis.


" aku masih akan selalu setia di sisi mu"


mendengar suara Ilham, Aiyra segera menghapus air matanya. Dia menoleh ke arah belakang tubuhnya, dia melihat ilham berdiri tegak menatapnya tajam.Ilham duduk di samping Aiyra.



Ilham


"sedang apa duduk sendiri disini?"


"bukan urusan mu"


"Aku minta maaf untuk semua yang terjadi, dulu dan sekarang. Mungkin aku memang brengsek dan ******** yang tidak bertanggung jawab, tapi perasaan ku tulus sampai saat ini tidak berubah"


"Lupakanlah"


"Tidak, bahkan jika ada kehidupan selanjutnya, aku berharap kita hidup bersama"


"Hmm!" gumam Aiyra sinis.


"Aku harus pergi sekarang"


Aiyra berdiri dengan cepat, hingga dia merasa kepalanya terhuyung dan jatuh, sebelum tubuh Aiyra sampai di lantai, Ilham dengan cepat kilat menyambar tubuh Aiyra. Ilham dan Aiyra terjatuh, beruntung kepala Aiyra jatuh di pangkuan Ilham.


"seseorang tolong kami" teriak Ilham. Beberapa orang menghampiri mereka, dan ada juga yang berinisiatif memanggil petugas RS.

__ADS_1


"Bagaimana dok keadaan nya?"


"sepertinya ini pasien dokter Irfan, biar nanti dia yang akan menjelaskan secara rinci apa penyakit yang di alami istri anda pak"


"Eu..." Ilham tidak melanjutkan ucapannya saat seorang dokter dan suster masuk.


"Nah pak, ini dr. Irfan silahkan anda bertanya langsung"


"Baik dok, terimakasih"


"istri anda baru saja menjalani pemeriksaan CT scan, dia juga minggu lalu telah melakukan test laboratorium, tapi kenapa anda baru menemani istri anda kesini hari ini"


"Maaf dokter, saya baru saja tiba di kota ini dan saya..."


"Baiklah pak, saya mengerti. dari hasil laboratory dan CT scan, istri anda terkena kanker stadium tiga, Ny. Aiyra ini sepertinya tidak terlalu memperdulikan gejala yang dia alami, hingga kankernya bisa diketahui setelah sudah stadium tiga"


"Apa....."


"kita masih bisa melakukan tahapan pengobatan meski itu tidak berpengaruh banyak, akan ada baiknya jika kita operasi, saya hanya menunggu keputusan bapak dan istri bapak saja"


"Baik dok"


"kalau begitu saya permisi, tolong di jaga istrinya ya pak, terutama prsikis nya, karena itu sangat berpengaruh pada kesehatan Ny. Aiyra"


"Terima kasih dokter"


"Baiklah, nanti Suter akan mengantar kan obat yang harus Ny. Aiyra minum"


Tubuh Ilham roboh ke lantai, badan nya terasa begitu tidak berdaya. Ingin rasanya dia menjerit sekeras mungkin melepaskan rasa sesak yang kini dia rasakan.


Bagaimanapun Ilham harus tegar, dia harus kuat untuk Aiyra, dia tidak boleh lemah, dia harus selalu ada untuk Aiyra, karena kini dia tidak memiliki sandaran hidup.


Ilham menarik sebuah kursi, dan duduk di samping Aiyra, dia menggenggam erat tangan Aiyra, sesekali dia mencium tangan Aiyra dengan rasa sedih yang mendalam.


Waktu menunjukkan pukul 03. 00 dini hari. Aiyra tersadar, Ilham masih memegang tangan Aiyra dan menempelkan nya di mulut Ilham.


"Mas, apa yang kamu lakukan disini" suara Aiyra lemah, dia menarik tangan nya dari cengkraman Ilham, tapi Ilham tidak mengizinkan nya.


"Mas..."


"Biarkan sperti ini"


"Aku sudah bersuami, ini tidak baik"


"Mana suamimu sekarang?"


Aiyra memalingkan wajahnya, tatapan matanya begitu pilu. Bahkan saat dia dalam kondisi seperti ini, Bram tidak ada di sampingnya.

__ADS_1


Tangan Aiyra meraba raba.


"apa kamu mencari ini?" Ilham menunjukkan ponsel milik Aiyra.


"untuk apa? karena sejak tadi kita bertemu hingga saat ini, suamimu tidak menghubungi mu sama sekali"


"kemari" Aiyra meminta ponselnya. Dia berusaha menghubungi Bram, tapi tidak ada jawaban.


"ini dini hari Aiyra, mungkin Bram masih tidur"


Aiyra terus menatap ponsel, dia berharap Bram akan menghubungi nya, atau paling tidak dia membalas pesan yang Aiyra kirim tadi siang.


"istirahat lah, aku akan menjagamu malam ini"


"pergilah Mas, aku ingin sendiri"


"Tidak! kali ini aku tidak akan pergi untuk alasan apapun juga"


"untuk apa?karena kamu merasa kasihan melihat keadaan ku saat ini? atau sebaliknya? apa kamu merasa bahagia Mas?"


"Ya, aku bahagia Bram tidak perduli padamu, aku akan lebih bahagia lagi jika kalian berpisah" tegas Ilham.


"Aiyra, apa yang salah jika aku ingin kita bersama? aku akan melindungi mu, aku akan mencintaimu bahkan hingga di kehidupan selanjutnya" suar Ilham lembut.


"andai saja dulu kamu begini Mas,mungkin ceritanya akan berbeda"


"Lupakan yang dulu, yang lalu biarkan pergi, kita hanya harus menatap masa depan"


"dengan wanita penyakitan sperti ini? apa yang kamu harapkan Mas"


"Aku hanya ingin bersamamu hingga akhir hayat Aiyra, aku tidak akan meminta lebih, apapun kondisinya aku akan terima"


"apa kata dokter Mas?"


"istirahatlah"


Ilham melepaskan genggamannya, dia bangkit dari kursinya dan menjauhi Aiyra, dia tidak bisa menjelaskan kondisi Aiyra saat ini, dia tidak punya kekuatan lebih untuk menyampaikan hal yang menyakitkan pada wanita itu.


"aku mengerti Mas, tidak perlu kamu jelaskan lagi, sudah separah apa Mas?"


"stadium tiga"


"oh, baiklah. kesempatan ku hanya kemo, itupun tidak akan membuatku sembuh, kemo hanya akan membuat rambutku rontok dan membuat ku merasa mual tak tertahankan"


Ilham segera menghampiri Aiyra.


" apapun harus kita coba, kita hanya harus berusaha bukan? jangan menyerah sayang"

__ADS_1


"tidak Mas, biarkan semuanya berjalan tanpa menyakiti tubuhku yang lain"


Ilham termenung hingga tangisnya pecah, Ilham memeluk tubuh Aiyra yang lemah dengan lembut.


__ADS_2