HARAMKAH?

HARAMKAH?
Wanita Untuk Suamiku


__ADS_3

Kadang untuk mendapatkan sesuatu kita harus mengorbankan sesuatu, bahagia di atas penderitaan orang lain itu bukanlah sebuah kebahagiaan yang hakiki.


Sejatinya seorang ibu harus mengayomi anak anaknya, meluruskan saat anaknya berbelok pada hal yang keliru, tapi keinginan seorang wanita tua yang hanya menginginkan seorang cucu dari menantu yang tidak bisa mengandung?


Bagaimana seorang Aiyra, wanita mungil yang mempunyai hati dan jiwa yang setangguh batu karang membiarkan seorang ibu merasakan kecewa yang begitu dalam di sisa umurnya menatap senja dalam kesendirian, sementara dia hanya ingin menimang cucu dari anaknya.


Setiap masalah akan Aiyra lewati dengan tegar meski awalnya dia akan terpuruk dan jatuh sangat dalam, tapi pada akhirnya dia akan berdiri tegak dan bangkit kembali.


Bisakah dia kuat kali ini? Kuat merelakan suaminya harus bersama wanita lain?


"sayang..."


"Iya Kak"


"Apapun yang terjadi kamu harus percaya satu hal, Tuhan menjadi saksi bahwa dari awal sampai akhir aku hanya akan mencintai mu, percayalah..." suara Bram serak tersendat tangisan yang tersekat dalam dadanya.


"Aya tau Kak, dan selalu percaya, sebentar lagi pernikahan Kakak akan di mulai, Aya tutup telepon nya ya"


"say...."


Tut tut tut


Maura. Wanita pilihan orang tua Bram. anak dari salah satu kolega keluarga Bram. wanita cantik dengan tinggi semampai, dan tubuh yang sintal. Hati aiyra minder di buatnya, secara fisik mereka memang jauh berbeda, Maura memang sangat cantik dan menawan, bagaimana tidak, dia adalah seorang model profesional.


Kenapa wanita yang menjadi saingan Aiyra selalu seorang model?


Tangan Aiyra gemetaran, dia tak kuasa menahan tangisannya, tak ingin membuat Mama nya khawatir, Aiyra membenamkan wajahnya di atas bantal agar suara Tangisan nya teredam bantal.


Kini Aiyra benar benar kehilangan segalanya di dunia ini. Ayah nya yang selalu memanjakan dan menjaganya dari kecil, Ilham laki laki pertama yang membuat dia jatuh cinta hingga Palung hatinya, Janin yang ada dalam kandungan nya yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan nya saat ini, dan sekarang?


Aiyra kehilangan suaminya, laki laki yang menggantikan posisi Ayah dan cinta pertamanya ( Ilham) harus pun pergi. Meski Aiyra dan Bram tidak bercerai bagaimana pun Bram kini bukan hanya milik Aiyra seorang, waktu kasih sayang dan segalanya kini akan terbagi.


****


Aiyra berusah membuka matanya yang terasa begitu lengket, dia memegang kepalanya yang terasa begitu berat. Namun Aiyra merasa tidak akan ada yang dia lakukan hari ini, dia kembali menarik selimut dan membenamkan wajahnya lagi ke bantal.


"sayang..."


Untuk sesat Aiyra berpikir bahwa dia hanya berhalusinasi, tidak mungkin suaminya ada dalam kamar yang sama, karena seharusnya dia bersama istri barunya. Hingga pelukan Bram bisa membuat Aiyra yakin bahwa suaminya ada di kamar bersamanya.


Aiyra segera bangkit dengan cepat membuat kepalanya terbentur dan mengenai hidung Bram.


"Ah, maaf Kak, apa sakit?"


Bram menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Tapi kenapa Kakak ada disini? harusnya Kak..."


"shhhhttttt" Bram meletakan telunjuknya di bibir Aiyra.


"Kakak" Tangisan Aiyra pecah di dalam pelukan suaminya.

__ADS_1


"Pergilah Kak, bagaimanapun Maura punya hak atas dirimu"


"Kak Bram ingin bersamamu saat ini, jangan bicarakan hal lain, biarkan kita bersama membicarakan hal-hal yang indah"


"hemm"


Bram memeluk istrinya begitu erat, seolah dia tidak ingin melepaskan nya lagi. Andai saja saat itu Ilham tidak berbuat gila, mungkin saat ini mereka sedang berbahagia menanti kelahiran anak pertama mereka.


***


Bram membagi waktunya tiga hari untuk Maura, dan empat hari untuk Aiyra. Bagaimanapun juga Aiyra selalu tetap jadi yang utama di hati dan hidup Bram.


Bram memang bersikap baik pada Maura, dia selalu memenuhi kewajibannya sebagai suami, meski itu tidak serta merta membuat Bram mencintai Maura. Bukankah Bram memang laki laki yang begitu baik?


"Mas, hari ini aku merasa tidak enak badan, bisakah mengantarku ke dokter?"


"Tidak bisakah di tunda sampai besok? hari ini masih hari untuk Aiyra, besok Mas pulang ke rumah kita"


"Tapi Mas, kepalaku sangat sakit, kumohon"


"Kak, itu Maura?"


"hemm"


"kenapa?"


"Dia meminta Mas untuk mengantar periksa ke dokter, dia merasa sakit"


"Hallo Maura, bolehkah Aiyra ikut mengantar mu?"


"Iya Mas tak apa"


Bram menutup pembicaraan nya dengan Maura, dan pergi menuju rumah Maura bersama aiyra.


Bram dan Maura masuk ke ruang pemeriksaan sementara itu Aiyra menunggu di luar. Aiyra duduk dengan segala pikiran nya yang begitu jelimet. Bagaimana pun hati dia merasa sakit melihat suaminya merangkul Maura saat memasuki ruangan.


"Ah, harusnya aku tidak ikut tadi" gumamnya, Aiyra memejamkan matanya dalam, dia menyandarkan kepalanya ke kursi.


Mata Aiyra terbuka, tatapannya tertuju pada sosok laki-laki yang jauh di hadapannya, yang sedang menatapnya, laki laki itu mendekat. Pada saat yang bersamaan Bram dan Maura keluar, Aiyra segera mengalihkan tatapannya ke wajah Maura dan Bram yang tampak berseri-seri.


"Aku hamil Aiyra" ucap Maura penuh kebahagian.


Aiyra hanya bisa menganga kecil entah apa yang harus dia katakan, haruskah dia bahagia? Lalau apakah itu akan membuat Bram berubah padanya? Bagaimana kalau Bram nanti akan lebih mencintai Maura dari pada dirinya?


Sementara laki laki yang di sebrang sana pun menatap dengan heran, melihat Bram merangkul wanita lain di hadapan Aiyra istrinya.


"Aya, Kak Bram antar kamu pulang ya, malam ini Kakak harus menemani Maura, karena dia merasa badannya tidak enak, Aya bisa mengerti kan?"


"Kamu juga pernah mengalami hamil muda, dan rasanya sangat istimewa bukan" tambah Maura.


"hemm, Kak pulang lah, aku bisa naik taxi"

__ADS_1


"Jangan! Kakak tidak ingin kamu pulang sendirian, Kak Bram ingin memastikan sendiri kamu pulang dengan aman sampai rumah"


"Baiklah, biar nanti pak Memen yang menjemput Aya kak"


"ok, Kak Bram telepon dulu pak Memen nya ya"


"Tidak perlu Kak, Aya bisa sendiri, pulanglah kasian Maura harus banyak istirahat"


Bram menarik tubuh mungil Aiyra, dia memeluk istrinya dengan penuh penyesalan, Bram mencium kening Aiyra lama.


"Kak Bram minta maaf"


"pergilah"


"Hemm"


Bram memegang tangan Maura dan pergi meninggalkan Aiyra dengan luka di hatinya, Aiyra menahan air mata yang hampir jatuh dari matanya.


"Aiyra"


"kamu melihat semuanya bukan?"


"aku..."


"itu Maura istri suamiku, sekarang dia sedang mengandung, suamiku di paksa menikah lagi oleh orang tuanya karena akibat ulahmu aku bukan hanya kehilangan anak, tapi aku juga kehilangan rahim ku, dan aku tidak akan pernah menjadi seorang ibu seumur hidupku!"


Aiyra menatap tajam dengan penuh amarah ke arah Ilham. ingin rasanya dia mencabik wajah Ilham, tapi hatinya menolak. Wajah yang sangat menyiksa batin Aiyra, tersiksa karena dia begitu marah mengingat dialah penyebab Aiyra kehilangan rahimnya, Namun Aiyra juga tidak bisa berbohong bahwa ilham masih ada mengisi ruang hati Aiyra.


"Mas minta maaf Aiyra, Mas hilap, Mas hanya ingin kamu kembali itu saja dan Mas.."


"Daddy..."


Aiyra dan Ilham menoleh bersamaan pada sumber suara, seorang gadis belia datang menghampiri, tatapan gadis itu fokus pada Aiyra.


"Mommy..." Gadis cantik itu memeluk Aiyra begitu erat, banyak rindu yang tertumpah disana. Aiyra hanya diam menebak nebak siapa gadis ini.


"Rere..."


Gadis itu mengangguk pelan dengan isakan tangis haru.


Aiyra mengusap air mata yang ada di wajah gadis cantik itu.


"Anak Mommy sudah sangat tinggi"


"Mommy aku merindukan mu" tangisan gadis itu pecah dan memeluk Aiyra kembali dengan begitu erat.


Bram yang berdiri dengan tangan yang di masukan ke kantong celana hanya tersenyum tipis sambil menundukkan kepala.


Rere, dia selama bertahun-tahun merindukan Aiyra kini telah bertemu, dia tumbuh menjadi gadis yang cantik. Rere yang selalu menganggap Aiyra adalah ibunya dan selalu mengabaikan ibunya sendiri selama di paris, kini begitu bahagia ada dalam pelukan Aiyra.


"Mommy i miss you so much"

__ADS_1



__ADS_2