HARAMKAH?

HARAMKAH?
Aku Hanya Ingin Dirinya


__ADS_3

"dokter, ada pasien emergency di UGD" teriak seorang perawat membuyarkan lamunan Aiyra yang sejak tadi berdiri di depan pintu ruang kerja Ilham. Aiyra butuh waktu beberapa bulan untuk menyembuhkan dirinya dari kekacauan hati karena kepergian Ilham, namun tekad nya untuk menolong orang-orang tidak mampu masih jadi prioritas dalam hidupnya. Dengan membulatkan tekad dan menguatkan mentalnya dia kembali bekerja di RS milik Ilham.


Ruang kerja Ilham masih kosong,belum ada pengganti yang menggantikan poisis Ilham sampai saat ini. Setiap Aiyra amat merindukan Ilham, dia selalu menghampiri ruangan itu dan berdiri di depan pintunya, berharap seseorang membuka pintunya dan memeluknya erat.


Satu tahu berselang, Aiyra masih tidak bisa melupakan Ilham, entah dia di mabuk cinta atau cinta buta atau bahkan mungkin kah dia bodoh? Yang pasti tidak asa ruang dalam hati Aiyra untuk orang lain. Kembali atau tidaknya Ilham ke negara ini, Aiyra memutuskan untuk selalu menunggu kepulangan nya, meski pulang dengan kabar terburuk sekalipun dia akan terus menunggu.


Aiyra tidak ingin berpaling dari Ilham sebelum dia mendengar sendiri langsung dari mulut Ilham, bahwa Ilham sudah tidak mencintai dirinya lagi, selama itu belum terjadi maka tidak ada yang bisa merubah hari Aiyra.


Pasien di ruang UGD sudah teratasi dengan baik, sampai waktu menunjukkan jam pulang Aiyra.


saat membuka pintu mobil, Aiyra melihat di tempat parkir khusus untuk Ilham ada sebuah mobil yang tak asing lagi untuknya. Tanpa pikir panjang Aiyra berlari menghampiri mobil itu,, Aiyra celingukan kesana kemari memastikan mobil itu benar benar milik Ilham. Tidak salah lagi itu memang milik Ilham.


Aiyra berpaling, baru beberapa langkah kaki Aiyra melangkah, pintu mobil itu terbuka, langkah Aiyra terhenti seketika. jantungnya berdegup begitu keras.


" hai "


Aiyra terdiam sejenak, jantungnya yang tadi berdegup begitu cepat kini mulai normal perlahan.


" ada yang bisa saya bantu" tanya seorang laki-laki asing yang tak pernah Aiyra temui, tapi bagaimana dia bisa memakai mobil Ilham?


" ah... eu... itu"


"saya Adnan, saya baru tiba kemarin di kota ini, saya yang menggantikan posisi pak Ilham"


" hallo, saya Aiyra. dokter yang bekerja di RS ini"


"oh ok, senang bertemu dengan anda dokter Aiyra"


"baiklah, kalau begitu saya permisi pak Adnan, kebetulan jam kerja saya sudah selesai"


" baiklah, hati hati di perjalanan"

__ADS_1


"terimakasih"


Adnan menatap dalam punggung Aiyra sampai Aiyra benar benar masuk ke dalam mobil dan menghilang di pintu gerbang RS


Aiyra terus menghembuskan nafas kuat, dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya. Betapa kecewa perasaannya saat melihat seseorang yang turun dari mobil Ilham adalah orang lain.


Dia berusaha keras agar air matanya tak kembali turun membasahi pipinya. Dia hanya akan menangis saat Ilham datang dan membawa istri nya ke hadapannya langsung.


****


"Aiyra... ini udah berapa tahun kamu masih Seperti ini saja"


"Entahlah dok" Jawab Aiyra pada dr. Hilda saat mereka berdua makan di sebuah restoran setelah seharian mereka bekerja bakti di sebuah desa terpencil, membuka pengobatan gratis bagi mereka yang jauh dari RS.


"Aiyra,,, aku bukan mau sok sok an menggurui mu, tapi menurutku lupakan dan cari pengganti saaj, jangan sia siakan hidupmu hanya untuk seseorang yang tidak jelas"


"tidak apa dok, dokter kan sudah seperti ibu kedua bagiku" Ya, memang umur mereka terpaut sangat jauh.


"Aiyra, cobalah berpikir, saat kamu begitu mencintai seseorang, lalu apa kabar dengan orang yang mencintai mu juga, bagaimana dengan Bram? dia juga mempunyai cinta yang sama besar untukmu, cinta yang sama besar seperti kamu mencintai Ilham"


" Bram?"


"dia berhak mendapatkan balasan cinta darimu Aiyra"


" Dia terlalu baik untukku dok".


"bukan terlalu baik, tapi dia terlalu mencintai mu Aiyra, pikirkahlah sedikit saja tentang dia, dia terlalu banyak berkorban disini. jika kamu terus seperti ini akan ada dua hati yang terluka, tapi jika kamu membuka hati untuk Bram, aku yakin kalian akan bahagia, seiring berjalan waktu kamu pasti akan mencintai nya"


"Entahlah dok, untuk sekarang aku hanya menginginkan dia, bukan yang lain".


"baiklah, aku hanya ingin yang terbaik untukmu".

__ADS_1


"Ya, terimakasih" Aiyra tersenyum tipis,sambil melanjutkan acaranya mengisi perut.


Bram?


Ya, sampai saat ini dia masih menanti Aiyra, dia masih setia menemani Aya nya, menemani setiap dia butuh, tidak peduli berapa jauh dan berapa banyak biaya yang harus dia keluarkan untuk bisa selalu menemani Aiyra. Bahkan di saat-saat terpenting pun akan Bram tinggalkan demi Aiyra.


Meski Bram tau hati Aiyra masih tertutup untuknya tapi dia masih terus bersabar. Berharap suatu hari nanti Aiyra akan merasa lelah dan putus asa menunggu Ilham dan saat itu dengan senang hati akan merangkul Aiyra, tak apa meski hanya jadi pelampiasan, bukankah cinta itu suatu pengorbanan? Bram akan mengorbankan apapun untuk wanita yang dia cintai. Ah! Bram.


Hari hari terus berjalan terlewati seperti biasa, tidak ada perubahan dalam diri dan hati Aiyra, dia masih sibuk dengan rutinitas nya sebagaimana dokter, bahkan sekarang dia lebih aktif lagi dalam sosial, dia ikut berbagai organisasi di bidang sosial, setiap ada bencana ataupun masalah kesosialan, Aiyra selalu tanggap. Beruntung pihak RS pun selalu membantu menyokong dana untuk setiap kegiatan yang Aiyra lakukan, mungkinkah itu sebagai tanda rasa bersalah keluarga Ilham atau bukan, tapi bagi Aiyra dia artikan sebagai rasa sayang pada dirinya, Aiyra menganggap mereka masih mengakui Aiyra sebagai keluarga nya, padahal keluarga Ilham tidak ada yang mau menemui Aiyra termasuk Mammy. Hanya sesekali saja Abel mau menemui Aiyra itupun bisa di hitung memakai jari dalam setahun. Meski begitu Abel akan tetap bungkam saat Aiyra bertanya terkait Ilham dan malaikat kecil nya Rere dan Reno.


"Hallo,,," sapa Abel. Aiyra memeluk abel begitu erat, meski dia sadar itu tak akan merubah apapun tapi setidaknya dia bisa merasakan darah yang mengalir dalam tubuh Abel, bukankah darah mereka sama? Aiyra seperti nya memang sudah seidkit tidak waras.


" apa kabara Kak?" tanya Abel sesaat setela minuman pesanan mereka datang.


"Baik Bel, kamu gimana?"


"aku baik Kak, Mammy sama ayah juga baik"


" Abel, Kakak tidak akan bertanya apapun kali ini tentang Ilham ataupun malaikat malaikat kami, Kakak hanya ingin mengatakan sesuatu padamu dan sampaikan pada ilham, bahwa Kakak hanya menginginkan dia dalam hidup ini, dia cinta pertama ku dan akan jadi cinta terakhirku, tidak akan ada laki laki lain dalam hati dam hidupku"


Terlihat butiran bening bagaikan kristal menetes di sudut mata Aiyra. Bibirnya bergetar, jarai tanganya saling bertautan erat, seakan dia menguatkan diri sendiri yang sebenarnya sangat rapuh.


"Kak, tolong....! lupakan Kak Ilham"


" tidak! Jangan pernah menyuruhku untuk melakukan hal yang tidak bisa kulakukan, dia pergi membawa nyawaku, jika aku harus hidup maka dia harus mengembalikan nyawaku terlebih dahulu."


"Kakak..." Abel memelas


"aku masih ada kegiatan bakti sosial Bel, aku harus pergi."


Aiyra pergi meninggalkan Abel yang masih bingung dengan sikap Aiyra, sebagai wanita Abel bisa meeasakan apa yang Aiyra rasakan.

__ADS_1


"Kak Ilham, kamu menyakiti hati separuh perempuan di duni ini" bisik Abel lirih seraya tangannya meremas ponsel yang ada di tangannya.


__ADS_2