
Bram merebahkan badannya di atas ranjang,tangan kanannya di letakan di atas dahi nya, matanya tertutup rapat, giginya merekat kuat, air mata mengalir dari samping membasahi telinganya.
Bagaimana dia bisa tidak sesakit ini melihat wanita yang dia cintai bertahun lamanya berlutut di kaki laki laki lain.
Bram membatalkan pertemuan nya besok dengan klien. Dia memutuskan untuk pulang saat itu juga. Pikiran nya sedang tidak baik kalau harus menjalankan bisnis, dia takut salah langkah dan merugikan perusahaan.
****
Aiyra masih tidak berhenti menangis saat dia dan Ilham berada di apartemennya. Aiyra menangis sambil memekuk Ilham dari belekang, Ilham hanya diam berdiri memandang keluar jendel, keduan tangannya dia masukkan ke dalam saku celananya.
" Apa yang harus aku katakan pada Rere dan Reno? bagaimana cara aku menyampaikan kepada mereka bahwa Mommy nya akan menikah dengan laki laki lain" ucapnya getir.
Aiyra menggelengkan kepalanya sambil mempererat pelukannya. Air matanya masih mengalir deras.
" aku mengerti dan tidak akan menyalakan mu atas semua ini, jika kamu memang harus menikah dengannya pergilah, aku tidak akan menahanmu, akhiri hubungan kita sampai disini, semakin cepat semakin baik" Ilham melepaskan paksa pelukan Aiyra dan dengan langkah cepat dia keluar dari apartemen Aiyra.
"Mas tunggu Mas.... Mas!" Aiyra berteriak. Ilham tidak memperdulikan Aiyra. dia terus berjalan menjauh dengan perasaan yang sama hancurnya seperti Aiyra.
Aiyra terduduk lemas dengan keadaan masih menangis, entah berapa lama dia seperti itu hingga badannya ambruk ke lantai.
****
"selamat pagi pak" sapa security RS
"pagi" jawab ilham datar.
"bapak pagi sekali datang ke RS, mau jenguk dr Aiyra ya pak"
"maksdunya?"
"oh bapak belum tau? tadi malam dr. Aiyra masuk UGD pak, di bawa sama tetangga apartemen nya,katanya dr. Aiyra pingsan"
Ilham langsung berlari mendengar perkataan security, dia masuk ke UGD.
__ADS_1
" dimana Aiyra?" tanya nya lantang membuat semua yang ada disana menoleh.
" dr. Aiyra di kama VVIP pak no. 2" ucap salah seorang perawat.
Ilham kembali berlari menuju lift, dia terus menekan tombol lift tapi tak kunjung terbuka. Dia berlari ke arah tangga dan mulai menaiki anak tangga setengah berlari. Kelas VVIP ada di lantai 3.
Tanpa mengetuk pintu Ilham langsung masuk dan menghampiri ranjang Aiyra.
"sayang..." ilham berucap lembut sambil membelai rambut Aiyra yang sedang tertidur. Ilham mencium kening Aiyra, Panas. Ilham merasa bersalah karena semalam dia meninggal kan Aiyra begitu saja.
Ehemmm
suara itu membuat Ilham sadar bahwa ada orang lain di kamar itu, ia menoleh ke arah sumber suara.
"Bram?" Ilham merasa canggung.
"hemm" ilham bergumam.
Bram dan Ilham saling beradu pandang.
lama mereka saling diam,tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"lima tahun aku mencintai dia dalam diam, gayung bersambut ternyata orang tua kami memang ingin kami bersatu, keegoisan ku meng iya kan tanpa bertanya dulu pada Aiyra."
Hening. mereka kembali terdiam. Hanya terdengar beberapa orang saja yang melewati mereka.
"aku pikir Aiyra masih sendiri, karena dia bilang padaku dulu bahwa dia tidak akan jatuh cinta sebelum dia lulus jadi dr. anak. Tapi ternyata anda berhasil mengambil hatinya, aku terlambat"
"bagaimana pun juga sekrang situasinya berbeda, statusku jauh di bawah anda pak Bram, mungkin..."
"Bukan, status tidaklah penting. Mungkin statusku calon suaminya,tapi hatinya di miliki anda."
" dia akan terbiasa mencintai anda jika sudah bersama"
__ADS_1
" Pak Ilham, apa anda tidak merasa bagaimana takutnya dia saat kemarin anda meninggalkan dia? apa anda tidak merasakan bahwa dia tidak ingin anda pergi?"
Ilham terdiam. dia ingat kemarin dia berlari dan berlutut di kakinya. Ilham menghela nafas.
"perasaan saya padanya pun tidak kalah dari itu pak Bram"
"untuk itu saya akan mundur"
Mendengar pernyataan Bram spontan Ilham menoleh, dia menatap lekat laki laki yang ada di sebelahnya.
"saya tidak ingin membebani Aiyra dengan pertunangan ini, sementara dia memendam rasa sakit karena berpisah denganmu"
"tapi pak Bram"
"biarkan saya sehari ini saja bersamanya, apa anda keberatan"
"oh,, ti,,tidak pak, silahkan. saya juga kebetulan hari ini ada tamu. kalau begitu saya permisi"
Ilham pergi menuju lift. Bram menghela nafas dan masuk ke kamar Aiyra. Aiyra sudah sadar, tatapannya kosong melihat langit langit kamar.
"hai,,,sudah sadar?"
"Kak..."
"shhhhttttt" Bram menyimpan telunjuk nya di bibir Aiyra. Aiyra kembali menangis, tangisan pecah di pelukan Bram. Dengan lembut Bram membelai Aiyra.
"kamu kenapa? tadi malam Kak Bram di bandara mau pulang, Kak Bram menghubungi ponselmu tapi yang angkat orang lain, dan bilang kamu ada dalam ambulans menuju RS, jadi Kakak batalkan penerbangan Kakak."
Aiyra kembali memeluk Bram dan masih saja terus menangis.
"sayang, jangan menangis terus. nanti Kak Bram akan bilang pada orang tua kita kalau Kak Bram tidak ingin menikahimu"
Aiyra melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Bram. bola matanya bergantian ke kanan dan ke kiri memandang Bram, memastikan apa yang barusan dia dengar.
__ADS_1
"Kak Bram serius, Kak Bram juga udh bilang sama Ilham, tadi dia kesini dan terlihat sangat cemas,memeluk dan mencium mu tanpa menyadari kehadiran kakak disini, bagaimana Kakak bisa menghancurkan perasaan kalian berdua sekaligus"
"terimakasih Kak Bram" Aiyra memeluk Bram dengan erat,lalu mencium pipi kanan Bram.