
Kondisi Aiyra semakin hari semakin tidak baik, Aiyra tetap pada pendirian untuk tidak melakukan kemoterapi atau operasi, dia hanya mengkonsumsi obat-obatan saja.
"Sayang,,, kenapa Kakak perhatikan badanmu semakin lama semakin kurus dan terlihat tidak terawat?"
"apa Kak Bram mulai tidak tertarik lagi?"
"Kak Aiyra hanya mengharapkan yang terbaik saat pulang kesini, mengurus Maura membuat Kak Bram merasa lelah, dia terlalu banyak menuntut, kalau bukan karena janin yang ada dalam kandungan nya"
"Maaf ya Kak"
"Sudahlah, Kak Bram lelah, ingin langsung istirahat"
"Hemm"
Aiyra menatap tubuh suaminya yang kini sudah terlelap, tak terasa air mata nya kembali terurai, Bagaimana bisa Bram hanya memperhatikan penampilannya dan tidak bertanya pada keadaan nya? Kemana Bram yang dulu begitu perhatian pada Aiyra? Jika dulu Bram tidak membiarkan semut mengigit Aiyra, tapi kini?
Aiyra berbaring di samping suaminya. Dia terbangun lagi saat tiba tiba kepalanya terasa begitu nyeri yang sangat hebat. Ingin rasanya Aiyra menjerit karena rasa sakit itu.
Dia segera mengambil obat penahan rasa sakit dan meminumnya, Namun rasa sakit itu masih saja menyerang kepalanya.
Aiyra memeluk kepalanya begitu kuat, keringat mengalir deras di wajahnya bercampur dengan air matanya. Mata Aiyra memerah menahan rasa sakit yang teramat sakit.
Aiyra pindah ke sofa agar Bram tidak terbangun karena gerakan yang Aiyra timbulkan.
Tubuh Aiyra berguling guling perlahan di atas sofa, dia mengeratkan rahang dan giginya dengan kuat, jemarinya mencengkeram sofa dengan sangat kuat. Aiyra merintih pelan.
Entah berapa lama Aiyra terus seperti itu hingga dia tertidur.
Bram terkaget saat bangun dia mendapati istrinya tergeletak di lantai, Bram segera menghampiri istrinya dan membangunkan Aiyra perlahan.
"Mas..." mata Aiyra terbuka
"Sayang, kenapa kamu ada di lantai?" tanya Bram sambil menggendong Aiyra dan memindahkannya ke atas ranjang
"Kak Bram rasa ada yang tidak beres, kita pergi ke RS sekarang, jangan menolak" Tegas Bram.
Bram bergegas ke kamar mandi untuk memberikan tubuhnya, dia bersiap. setelah dia siap, Bram merapikan Aiyra, dia mengganti baju Aiyra.
Bram menyisir dan mengikat rambut Aiyra.
"Ya ampun apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"kenapa Kak?"
"Bisakah Kak Bram menyuci mobil saja dari pada mengikat rambut seorang wanita" keluhnya kesal karena kebingungan tidak mengerti cara mengikat rambut Aiyra. Aiyra hanya terkekeh geli.
"sini Kak, Aya aja"
Aiyra mengambil ikat rambut dari tangan Bram.
drreeettt drreeettt drreeettt
Ponsel Bram yang berada di atas meja rias berbunyi. Bram berjalan mengambil ponselnya.
__ADS_1
"Hallo Mam"
"Bram, cepat pulang, perut Maura sakit, seperti nya dia akan melahirkan"
"Apa mam, ii.. iiya Bram akan segera kesana"
Bram menutup pembicaraan nya dengan Mamanya, Bram segera mengambil jas dan kunci mobilnya.
"sayang, maaf Kak Bram harus pergi, nanti ke RS sama pak Memen ya" ucap Bram sambil nyeloyor pergi begitu saja meninggalkan Aiyra.
Hati Aiyra kembali teriris sembilu melihat sikap suaminya, Baru saja Aiyra tersenyum kini sudah tergantikan lagi dengan air mata.
Aiyra memegang kepalanya yang Kemabli terasa sakit, Dia berteriak sekuat mungkin, hingga Mama Aiyra datang menghampiri nya, antara sadar dan tidak Aiyra samar samar mendengar suara Mama nya yang panik, Mama berteriak memanggil pak Memen dan Nurdin, hingga semuanya terasa begitu gelap.
Aiyra mendengar suara di sekeliling dengan tidak jelas, dia hanya mengenali beberapa suara di antara mereka.
"Mama..." Lirih Aiyra.
Aiyra membuka matanya perlahan, dia melihat sekeliling, dia merasa ada selang terpasang di hidung dan tanganya, dia membuka matanya dengan sempurna, Aiyra melihat ada Mama yang terlihat sangat khawatir, ada Ilham, Ilham? bagaimana dia bisa ada disini? ada seorang gadis cantik malaikat nya Aiyra, Rere.
"Itu siapa Ma" Aiyra menatap seorang pemuda tampan berdiri di samping Rere.
"Hai Mommy" sapa pemuda tersebut.
"Reno.."
Pemuda itu tersenyum sangat manis,meski gurat kesedihan di wajahnya tidak bisa di tutupi. Reno menghampiri Aiyra, dia mencium kening Aiyra dan memeluknya. Tangis Reno pecah di dalam pelukan Aiyra.
Aiyra menitikan air mata, dia mencium ubun ubun putranya dengan getir, bibir Aiyra bergetar tidak bisa bicara apa-apa. Tangan Aiyra terus mengelus kepala jagoan kecil nya yang kini tumbuh sangat tampan dan tinggi.
"Kemarilah" Aiyra mengisyaratkan Tangan nya pada Rere untuk mendekat. Mereka bertiga pun berpelukan dan hanyut dalam situasi antara sedih, haru dan bahagia.
Mama memberi isyarat pada Ilham untuk mengikuti nya keluar kamar.
" Apa tidak sebaiknya kita memberitahu Bram?"
" tidak saat ini Tante, Bram sedang mendampingi istrinya melahirkan, nanti saat Bram mencari keberadaan Aiyra, kita minta agar dia datang kesini dan melihat sendiri kondisi Aiyra"
"Hem, baiklah"
"semoga secepatnya Bram datang kesini"
"Ilham, kenapa kamu begitu mencintai anak saya?"
Bram menatap lekat wajah Mama Aiyra.
"Entahlah Tante, Saya hanya ingin bersamanya sampai kapan pun selama saya bisa dan mampu"
"Jika waktu bisa di putar, Tante ingin kamu yang menjadi suaminya" Mama terisak.
****
__ADS_1
"Mommy makan ya"
"Tidak sayang, rasanya tidak enak" rengek Aiyra.
"Mommy, Reno mohon. Biar Mommy cepet sehat, nanti kita akan pergi piknik ya Mommy hanya berdua saja"
"Hanya berdua?"
"Hemm"
"Rere bagaimana?"
"Temen temenku kadang hanya pergi berdua dengan ibu mereka"
Aiyra tersenyum kecil,menatap wajah anaknya. Anak nya yang tidak lahir dari rahimnya.
" Baiklah, Mommy mau makan sampai habis"
"benarkah? Ah, Mommy emang paling hebat, ayo sekarang buka mulut nya ya aaa..."
Aiyra membuka mulut nya, sedikit demi sedikit Aiyra melahap makanannya, meski dia merasa sedikit enek, tapi dia tidak ingin mengecewakan Reno.
Beberapa hari ini Reno selalu menemani Aiyra, dia bahkan tidak pulang ke rumah, Rere yang selalu membawakan perlengkapan Reno selama di RS. Dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Mommy nya, dia tidak tau berapa lama dia memilik sisa waktu untuk bersama Aiyra, jikapun waktu itu hanya sebentar saja, Reno tidak ingin menyia nyiakan waktu yang sedikit itu.
Reno bahkan tidak segan membersihkan tubuh Mommynya, menyikat gigi Aiyra, memakaikan baju untuk Aiyra, membilas rambut Aiyra, menyisir dan mengikat rambut Aiyra. Ternyata seperti ini lah rasanya memiliki anak laki-laki, tidak heran orang mengatakan bahwa ibu adalah cinta pertama untuk anak laki-laki nya.
"Mommy, istirahat lah. Reno akan memijat Mommy ya"
"sayang, pulanglah. berapa hari ini kamu tidak cukup istirahat, Mommy tidak mau kamu sakit nak"
"tidak Mommy, Reno akan selalu ada di samping Mommy, Reno tidak akan seperti Daddy dan your husband. Reno akan menjadi laki-laki yang selalu setia untuk Mommy"
"Reno..." Aiyra terharu.
"jangan menangis lagi Mommy"
Reno mengusap air mata yang jatuh di pipi Aiyra.
"Mommy kenapa?" Reno kaget melihat raut wajah Aiyra.
"Mommy ingin mun..." Belum selesai Aiyra bicara, dia telah memuntahkan isi perutnya di atas kasur, mengotori baju, selimut dan baju Reno.
Dengan cekatan Reno mengambil lap handuk yang telah dia basahi, tanpa rasa jijik Reno mengusap mulut, leher, dan tangan Aiyra yang terkena muntahan Aiyra.
Reno menggulung selimut dan meletakkan nya di box laundry. Reno membuka baju Aiyra dan mengganti nya dengan yang baru, Reno menatap tubuh Aiyra dengan seksama, dia melihat tubuh itu begitu kurus, terlihat dengan jelas garis garis tulang Aiyra. Reno menutup baju Mommy nya perlahan dengan deraian air mata.
Dengan lembut reno memeluk tubuh Aiyra.
"Tuhan, kenapa harus seperti ini? Kenapa kau tidak pernah membiarkan aku merasakan memiliki ibu untuk waktu yang lama, kau pisahkan aku darinya lama sekali, dan sekarang?
Tuhan, tidak bisakah kau membiarkan dia hidup untuk waktu yang lama agar aku bisa memeluk nya dalam situasi yang bahagia.
Tuhan, jangan pisahkan aku lagi darinya. Kumohon" gumam Reno dalam hati.
__ADS_1
Aiyra yang merasakan ada yang mengalir panas di punggungnya ikut menangis. Dia menggenggam tangan Reno dengan erat.