
"Bagaimana ******** itu sekarang"
"Dia belum siuman dari koma bos" jawab seseorang di sebrang telepon.
"apa kita tidak melaporkan saja pada pihak berwajib?" lanjutnya.
"Tidak! hukuman itu terlalu ringan untuknya, aku hanya ingin dia menyesal karena bertahan hidup" Bram menggertakkan gigi nya kuat, sambil menutup pembicaraan nya dengan salah seorang temannya yang ikut mengajar Ilham.
Bram memasukan ponselnya ke dalam kantong celananya, dan dia segera merubah raut wajahnya dengan sangat manis saat hendak memasuki kamar perawatan Aiyra di sebuah rumah sakit.
Empat hari sudah berlalu Aiyra di rawat di RS pasca operasi yang dia jalani akibat ulah Ilham. Aiyra harus menjalani therapy psikologi, karena dia mengalami gangguan emosional.
Aiyra begitu tergoncang saat dia mengetahui calon bayinya telah pergi tanpa merasakan kasih sayangnya sebagai seorang ibu. Ibu? bahkan mungkin Aiyra tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan seorang bayi dan menjadi seorang ibu. Rahim Aiyra pecah dan harus segera di angkat, itulah yang membuat Aiyra depresi dan harus menjalani therapy psikologis.
Pasca operasi, Aiyra hanya bisa terdiam tanpa bicara ataupun merespon orang orang sekitarnya, dia hanya bisa meneteskan air mata tanpa suara, dia bahkan tidak membuka mulutnya meski hanya untuk satu sendok air.
Tatapan matanya kosong ke depan. Wajahnya begitu layu, bibirnya yang berwarna merah muda kini menjadi pucat pasi.
" sayang, apa kabarmu hari ini" ucap Bram sambil menyisir rambut Aiyra dengan lembut.
"sayang, apa kamu tau? kemarin aku bertemu dengan seseorang di jalan, dia tidak memiliki satu kaki, dan membawa seorang anak kecil, aku memberikan dia uang dan juga roti, aku bilang ini dari dr. Aiyra." Bram mengikat rambut Aiyra, lalu memeluknya dari belakang denga mata yang nanar.
"sayang, Kak Bram rindu"
Air mata Bram mengalir deras, dia menangis sesenggukan di atas bahu Aiyra, dia begitu ingin istrinya kembali seperti dahulu, Namun meski bahunya kini telah basah olah air mata Bram, Aiyra hanya menatap kosong ke depan tanpa reaksi apapun.
****
" Kakak..." lirih seorang wanita cantik di balik kaca pembatas antara pasien dan pengunjung. Abel. Dia hanya bisa menangisi Kakak nya yang kini terbaring lemah tidak sadarkan diri di ruang ICU.
"Bel, gimana keadaan Kakak?
"Kak Zen"
"tenang lah, semua pasti akan baik baik saja"
Zen memeluk adik bungsunya berusaha menenangkan dirinya yang begitu sedih akan kondisi Ilham saat ini.
"Rere dan Reno bagaimana?"
"Mereka di rumah baik baik saja, meski sedih dan ingin disini menunggu Daddy nya, tapi Mommy melarang mereka"
"Ya, lagi pula mereka masih terlalu kecil untuk tetap disini"
"Kakak berharap Kak Ilham akan baik baik saja, tidak bisa di bayangkan apa yang akan terjadi pada Rere dan Reno kalau sampai kak Ilham tidak ada"
__ADS_1
"Abel tau Kak, Rere dan Reno bahkan mereka belum bisa melupakan Kak Aiyra, lalu apa yang akan terjadi jika Kak Ilham..." tangisan Abel pecah.
" tenanglah, semua akan baik baik saja"
****
" Bram, gimana Aiyra hari ini? "
" belum ada perubahan Mam, Mama sama siapa kesini? Papa mana?"
" Papa ada urusan, mungkin nanti sore dia baru bisa menjenguk Aiyra"
" okeh"
" Bram, ini udah lebih dari tiga bulan sejak Aiyra keguguran, di tambah dia tidak bisa memiliki anak lagi..."
"Apa maksud Mama?"
"Keluarga kita butuh penerus Bram, kamu satu satunya anak Mama, kalau kamu sampai tidak bisa memiliki anak, akan bagaimana ke depannya?"
"cukup Mam"
"ceraikan Aiyra, atau kamu poligami saja dia"
"Stop Mam! aku baru kehilangan anakku, dan sekarang istriku sedang tidak baik, Bram tidak akan memikirkan hal lain selain kesembilan aiyra saat ini"
" Mam...."
"Kak Bram"
Mama Bram dan Bram bicara cukup keras, mereka berpikir Aiyra tidak akan merespon pembicaraan mereka, tapi kenyataan bicara lain. Pembicara mereka terdengar di telinga Aiyra dan membuat Aiyra sadar dari lamunannya yang panjang. Mama dan Bram menoleh bersamaan.
"sayang..."
Bram langsung berlari dan memeluk istrinya dengan penuh kebahagiaan.
"Apa yang Mama bicarakan itu sangat benar Kak, kalau Kak Bram tidak menceraikan Aya, menikahlah lagi, Aya siap di madu"
"itu tidak akan pernah terjadi, sampai kapanpun Kakak tidak akan menikah lagi"
" Kak Bram jangan egois, Mama dan Papa Kak Bram berhak mendapatkan kebahagiaan dari Kakak"
"stop!" teriak Bram.
"Kakak panggil dokter sebentar ya, jangan bicara apapun lagi" Bram mencium ubun ubun Aiyra lalu pergi memanggil dokter.
__ADS_1
"Aiyra..." Mama menghampiri dan memeluk menantunya.
"Mama minta maaf, hanya saja Mama putus asa dengan keadaan kamu, Mama menyayangi kamu seperti anak sendiri tapi sayang... Mama dan Papa begitu berharap kami mendapat kan cucu"
" Aiyra mengerti Ma, Mama tenang saja,jika Kak Bram akan menikah lagi, Aiyra tidak akan menghalanginya"
" Terimakasih nak" Mama memeluk Aiyra lagi .
"Permisi ya Bu, saya periksa dulu" dokter dan Bram datang dan memeriksa keadaan Aiyra dengan seksama.
" tanda tanda vital ibu Aiyra sangat baik, besok sudah bisa pulang ke rumah, hanya saja untuk pemeriksaan psikolog nya hwrus kontrol setiap empat hari sekali"
" Baik dok, terimakasih"
"sama sama, kalau begitu saya permisi"
"Mama juga harus pulang sekarang, nanti sore kesini lagi sama Papa"
"Hati hati Ma"
"oke"
Bram menoleh ke arah Aiyra, dia kembali memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang, beberapa kali Bram mencium istrinya dengan bahagia.
Meski telah merespon dan mau bicara, tapi sikap Aiyra menjadi agak sedikit pendiam, dia tidak ceria dan manja seperti dulu, dia merasa tidak punya harapan lagi dalam hidup, dia kehilangan calon anaknya, dia pun tidak akan pernah merasakan menjadi ibu seumur hidupnya. di tambah sekarang mertuanya meminta suaminya untuk menikah lagi dengan wanita lain.
Aiyra berpikir kenapa dia tidak ikut pergi bersama calon bayinya saja, jika dia harus hidup dengan isi dunia yang seakan tak menginginkan dirinya untuk ada di dunia ini.
Bram memang tidak akan pernah mau menikah lagi, apa lagi kalau harus bercerai dengan Aiyra, bagaimana mungkin dia menyakiti istri yang begitu dia cintai, tidak perduli dia memiliki keturunan atau tidak baginya hidup bersama Aiyra adalah hal yang paling penting dalam hidupnya di bandingkan Dengan apapun di dunia ini.
Tapi orang tua Bram tidak pernah lelah membujuk Bram untuk menikah lagi, dengan berbagai cara mereka berusah meyakinkan Bram bahwa seorang anak itu sangat penting dalam sebuah kehidupan, Mungkin kondisi ini tidak akan terjadi jika saja Bram memiliki saudara. Sayangnya dia adalah seorang anak tunggal.
****
Kemalangan sepertinya selalu saja berpihak pada Aiyra, Papa mertua Aiyra mengalami kecelakaan yang menyebabkan beliau kehilangan nyawanya. Ya, Papa Bram meninggal dalam perjalanan bisnisnya ke luar kota. Seperti kebanyakan istri di dunia, Mama Bram begitu terpukul dan syok, beberapa hari bahkan tidak mau makan dan minum hingga membuat kondisinya drop dan harus mendapatkan perawatan medis.
"Bram, Papa kini telah tiada, harapan Mama hanya kamu"
"iya Ma, Bram akan selalu menjaga Mama"
"Mama ingin menimang cucu Bram, jangn biarkan Mama pergi sebelum bisa melihat cucu Mama"
"Tapi Ma..."
"cukup Bram, Mama ingin istirahat, kembali lah kesini jika bisa memenuhi keinginan Mama"
__ADS_1
Bram hanya bisa tertunduk lesu dengan permintaan sang Mama.