
Makan malam tersaji di meja, banyak makanan lezat terhidang di atasnya. Aiyra dan pria itu mulai makan dengan tenang.
"Kenapa setiap bertemu kamu seakan kehilangan fungsi matamu hingga tidak bisa berkedip"
Sontak pertanyaan itu berhasil membuat Aiyra kikuk.
"euhmm itu..."
"Jangan jatuh cinta padaku" Pria itu berdiri di depan jendela yang dari sana kita bisa melihat sebagian kota S. Dengan tubuh yang tegap dan tuxedo mahal yang dia kenakan membuat jantung Aiyra berdebar kencang. Belum lagi sempat Aiyra menata hatinya, dia di kejutkan oleh pernyataan pria itu yang begitu frontal.
"Ruangan ini khusus di design oleh istriku, kami biasa makan berdua ditempat ini. Restoran ini adikku yang punya"
Aiyra terperangah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Istri?" Batin nya.
"Apa anda kecewa Nona?" Ucap Pria itu tanpa menoleh ke arah Aiyra.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Kepala Aiyra begitu berat di rasa. Hatinya begitu sakit, dada nya terasa sangat sesak seakan ada ribuan ton beban yang menindih dadanya. Perih bagai luka yang tersiram air garam.
Dengan kesadaran yang entah berada dimana, Aiyra berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Tanpa permisi.
"selalu tidak berterimakasih" ucap pria itu datar.
****
Tatapan Aiyra kosong ke depan, air matanya menetes. Bagai robot yang hanya lurus ke depan tanpa melihat orang- orang yang ada disekelilingnya yang menatap Aiyra penuh tanda tanya.
"Masuk!" Suara itu membuat dia sadar tentang keberadaan dirinya saat ini. Aiyra segera menghapus bulir bening yang masih tersisa di wajah cantik nya yang mungkin sudah terlihat oleh pria itu.
Dengan langkah yang sedikit gemetar, Aiyra menjauhi mobil Pria itu dan memilih untuk memberhentikan taxi.
Sepanjang perjalanan Aiyra terus menangis dengan nafas yang terasa begitu berat.
"Bodoh! Aku ini kenapa? untuk apa menangisi dia?"
Hiks hiks
"Orang bilang mencintai seseorang itu sangat indah apa seperti ini rasanya indah?"
Aiyra meremas dadanya kuat dengan air mata yang masih terus berjatuhan.
"Non, kita sudah sampai"
"Oh? Iya Pak terimkasih" sambil menyerahkan Ongkos.
Aiyra segera bergegas turun dari taxi, dia membenahi wajahnya agar tidak terlihat orang lain bahwa dia habis menangis.
__ADS_1
"Dok,,,,ini kunci mobilnya" ucap security sambil menyodorkan kunci mobil dengan sopan.
" ya, terimakasih"
Aiyra mengambil kunci mobilnya dan memasukkan nya ke dalam tas. Dia berjalan menuju ruang perawatan. Sekilas dia melirik ke mobilnya yang telah terparkir.
"Hai dok,,," sapa dr. indrawan
"Hai...,bagaimana kondisi disni?"
Aiyra menyimpan tasnya, di pakainya jas putih kebanggaan wanita jelita itu, lengkap dengan stetoskop dan masker yang menutupi sebagian wajah Aiyra
"hemmmm lumayan" ucapnya sambil serius membaca rekam medis pasien.
"oh iya dok kita oper tugas dsni saja ya,karena tidak ada pasien yang gawat juga" seru dr. indrawan.
"ok,biar nanti saya visit sendiri ke ruangan" timpal Aiyra.
Setelah mendengar kan penjelasan dr. indrawan tentang kondisi pasien,Aiyra visit menuju ruangan di temani tiga orang suster.
"halo,selamat siang" sapa Aiyra ceria pada seorang pasien wanita tua yang umurnya sudah 70th
.
"halo dokter cantik kenapa baru datang sekarang?" tanya si Nenek agak manja.
Aiyra tanpa segan duduk di samping nenek tersebut. dan merangkul bahu si nenek
"Tadi Aiyra habis ketemu calon suami nek"
Nenek itu tertawa dengan suara khas nenek kebanyakan memperlihatkan giginya yg sudah habis termakan usia.
"Tapi Nek, calon suami Aiyra punya orang lain ternyata" ucap Aiyra manja,, bibirnya maju beberapa senti,dahinya mengerut,matanya menyipit Aiyra berusaha terlihat becanda meski air matanya berlinang.
Nenek itu hanya tertawa dengan suara khasnya.
Aiyra adalah dokter yang tidak pernah punya jarak antara dirinya dengan pasien, kaya miskin di mata Aiyra sama sekali tidak terlihat, baginya membuat pasien tertawa dan bahagia adalah sesuatu yang sangat membahagiakan juga untuk hatinya.
Tidak! Bukan karena Aiyra tidak tau kebersihan, karena setiap selesai bertugas Aiyra selalu mengganti pakaiannya, di masukannya ke dalam sebuah kantong keresek yang akan berakhir di tempat laundry.
Sudah mulai gelap. Aiyra masih sibuk dengan pekerjaannya membolak balik berkas para pasien sambil sesekali dia mencatat hasil pemeriksaan nya.
"Dok, istirahat dulu" saran seorang suster tapi Aiyra masih saja sibuk dengan pekerjaan nya.
"Hemm. Sebentar lg tanggung nanti kalau ini sudah selesai saya istirahat" ucapnya sambil terus memriksa rekam medis para pasien.
Keadaan semakin gelap lebih gelap dari biasanya. Mungkin saat itu akan turun hujan. Dan benar saja setelah Aiyra menyelesaikan laporan rekam medisnya dan beranjak dari kursi hujan pun turun. Aiyra melihat keluar jendela dan hujan turun sangat lebat.
__ADS_1
Fpuhh..! Dengusnya.
Aiyra memasukan ballpoint nya ke saku jas nya dan meletakkan stetoskop di meja kerjanya.
Aiyra berjalan keluar sambil memasukan tangannya ke dalam saku jas.
"Suster kalau ada apa-apa saya ada di kantin atas ya" pesan nya kepada suster penjaga.
Ya kantin atas memang di peruntukan untuk para dokter dan staf lain nya. Ruangannya ber AC karena disana kantin khusus untuk yang tidak merokok. Semantara kantin bawah yang ada di luar tidak ber AC itu artinya bebas merokok dan agak jauh dari RS.
Aiyra menaiki tangga tidak memakai Lift karena dia pikir kantin cuma ada di lantai dua jadi jalan kaki pun tidak akan membuat dia merasa cape.
Aiyra berjalan dengan kepala yang tertunduk, membuat dia tidak bisa melihat siapapun yang ada di depannya.
Brukkk. Aiyra menabrak seseorang.
Betapa terkejutnya Aiyra saat dia mengangkat kepalanya dan melihat wajah orang yang dia tabrak.
Kali ini Aiyra berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak terhipnotis dan memandang pria itu tanpa kedipan mata, bagaimana pun juga dia suami wanita lain.
Aiyra melangkah kan kakinya tergesa-gesa, hingga kakinya berhenti karena tangan nya tertahan oleh genggam Pria itu.
Aiyra membalikan badan nya dan melihat tangan pria itu mencengkeram tangannya dengan erat.
Tanpa seucap kata pun Aiyra mengikuti langkah kaki Pria itu saat dia menyeret tangannya dan berjalan menuju sebuah ruangan. Ruangan yang sepertinya ruang kerja seseorang. Ada Meja kerja besar dengan kursi yang begitu kokoh berwarna cokelat tua, di tengah nya terlihat ada beberapa kursi dengan meja yang agak panjang sesuai jumlah kursi yang ada. Ada rak buku yang terisi penuh. Di belakang kursi terdapat lukisan abstrak yang begitu indah.
Mata Aiyra terus menjelajahi setiap inci dari ruangan itu dengan posisi tangan masih berada di genggaman Pria tersebut.
ββββ
*Hey Readers πππ
Happy reading ya.... ππ
Jangan lupa bantu author dengan
Like
β€οΈ
komen
rate π lima ya Readers.
Vote kalau bisa.
Maka author akan sangat berterima kasih untuk itu.
__ADS_1
salam sayang dari author untuk kalian semuaπ€π€π€π*