HARAMKAH?

HARAMKAH?
Sayap Itu Patah


__ADS_3

Berjuang melawan keganasan penyakit tanpa tindakan yang berarti memanglah sangat sulit bagi siapapun juga.


Aiyra dengan keukeuh tidak ingin kemoterapi dan operasi membuat kondisinya semakin hari semakin memburuk.


Tubuhnya kini begitu kurus kering, tidak terlihat lagi kecantikan di wajahnya.


Aiyra masih tetap mempertahankan nafasnya demi seseorang, Bram. sejak Maura melahirkan anaknya, Bram menghilang bagai di telan bumi.


Aiyra ingin bertemu dan bicara banyak padanya, dia hanya ingin mengucapkan terimakasih karena selama ini telah menjaganya dengan baik, menggantikan posisi Ayah yang telah mendahului nya pergi, membalut luka hati Aiyra saat Ilham pergi tanpa kata.


"Mas..." lirih Aiyra


"iya sayang, kenapa?"


"aku ingin keluar sebentar saja, boleh?"


"Jagan Aiyra, dokter tidak akan mengizinkan nya, lagi pula itu tidak baik untuk kondisi mu saat ini"


"aku mohon Mas"


Ilham pergi menemui dokter untuk meminta izin agar Aiyra boleh pergi keluar, menghirup udara segar meski hanya di taman rumah sakit.


Ilham mendorong tubuh ringkih Aiyra di kursi roda, dia mendorong dengan sangat hati-hati, di ikuti Rere dan Reno.


Mereka duduk di bawah pohon yang rindang agar Aiyra tidak kepanasan, karena waktu itu matahari cukup bersinar sangat terik.


Aiyra menghirup udara begitu dalam, spertinya dia sangat bahagia setelah 40 hari lamanya dia di kurung di kamar karena kondisinya.


Ilham menatap wajah Aiyra lekat, dia menarik sudut bibirnya ke atas, berusaha untuk tersenyum meski sebenarnya dia ingin menangis. Ilham memegang jemari Aiyra dengan lembut.


Ya, selama di rumah sakit selain Mama nya, hanya ada ilham dan anak-anak nya yang selalu setia menemani Aiyra.


Reno, dialah yang paling setia mendampingi Aiyra di rumah sakit, hanya saja saat Reno berjaga maka Ilham akan ikut serta, Reno tidak akan tahan saat melihat Mommy nya kesakitan, dia akan pergi keluar dan menangis dengan keras, disitulah Ilham mengganti kan Reno menjaga Aiyra, memeluk Aiyra dengan erat saat Aiyra seperti orang kerasukan karena rasa sakit yang di timbulkan oleh penyakitnya. Ilham akan memeluk Aiyra sampai Aiyra merasa baikan, atau sampai Aiyra tak sadarkan diri, pingsan.


"Mommy, apa kamu senang saat ini?"


"Hemm, apa kamu tidak merasa dunia ini begitu indah Reno? syukuri apa yang kita rasakan saat ini, karena kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi esok"

__ADS_1


"Iya Mommy, nikmatilah udara hari ini"


"Tapi Mommy jangan lama-lama ya, Rere gak mau Mommy kenapa napa"


"Biarkan saja Re" ucap Ilham.


"Sore ini, kalian pulang lah dulu, biarkan Daddy yang menjaga Mommy sendirian malam ini" ucap Aiyra terbata bata


"Tapi Mommy..."


Rere memegang bahu Reno dan menggeleng kan kepala, memberi isyarat agar Reno tidak membantah apa yang Aiyra perintahkan. Dengan wajah yang kecewa Reno hanya diam tanda setuju.


" Baiklah kami akan pulang, Daddy jaga Mommy baik baik, kalau ada apa-apa, segera hubungi Reno atau Rere"


"Iya Ren, Daddy akan menjaga Mommy kalian dengan baik, pulanglah"


Reno memeluk Aiyra seakan dia tidak akan pernah bertemu lagi, air mata Reno jatuh, lama Reno memeluk Aiyra. Aiyra mengelus kepala anak laki-laki nya itu dengan tangan yang gemetar, Aiyra tersenyum bahagia dengan tingkah Reno, setidaknya Reno tulus mencintai dirinya, pikir Aiyra.


"Mommy, Rere pergi ya, nanti saat Mommy sudah merasa puas berduaan sama Daddy, panggil kami" canda Rere.


Aiyra tertawa kecil, dia memeluk dan mencium kedua pipi anak gadisnya. Dengan langkah yang berat Rere dan Reno melangkah pergi meninggalkan Aiyra dan Ilham, Rere merangkul Reno yang tidak mau berhenti menangis.


Aiyra tertidur dengan begitu lelap di pelukan Ilham. langit yang cerah tiba tiba tertutup awan hitam, mungkin akan segera turun hujan. Ilham menggendong Aiyra dan membawanya kembali ke kamar.


Setelah sampai di kamar, Ilham meletakkan tubuh Aiyra di atas kasur, Ilham memanggil suster untuk memasang kembali oxygen dan menyalakan infusan Aiyra yang tadi di matikan saat aiyra ingin pergi keluar.


Ilham membenahkan selimut Aiyra, dan mengelus wajahnya.


"kenapa kamu tidak ingin kami mencari Bram? dia harus tau kondisi mu saat ini Aiyra" bisik Ilham.


Aiyra memang tidak mengizinkan seseorang diantara mereka menghubungi Bram, Aiyra ingin Bram sendiri yang datang, Aiyra ingin tau seberapa besar Bram masih punya rasa peduli padanya. Dan lihat lah hasilnya? satu bulan lebih Aiyra di rawat namun Bram tidak kunjung datang, jangankan datang untuk menelpon Aiyra pun tidak Bram lakukan. Kemana dia? apa karena antusias nya menyambut kelahiran anak hingga dia melupakannya aiyra? ataukah ada hal lain?


Aiyra membuka matanya perlahan, dia tersenyum tipis menatap wajah Ilham.


"ini jam berapa Mas?"


"sudah larut sayang" Ilham mengecup kening Aiyra.

__ADS_1


"Mas, jika ada kehidupan setelah kematian, aku ingin kamu tidak pernah meninggalkan ku meski untuk sesaat"


Ilham mencoba tegar, dia tersenyum dengan bibirnya yang bergetar. Ilham mencium pipi Aiyra. Dia berbisik pelan di telinga Aiyra.


"Tidak akan pernah"


"Hmm. Mas bahkan meski kamu begitu banyak membuatku terluka tapi entah kenapa aku tidak bisa membencimu Mas. uhukk uhukk" Aiyra batuk.


"shhhhttttt, istirahat lah, jangan terlalu banyak bicara sayang"


Aiyra tersenyum dan menggeleng kan kepala pelan.


"Aku ingin bicara selagi bisa Mas, banyak yang ingin ku katakan." Aiyra menarik nafas dalam. " Mas, aku ingin kita hidup bersama jika ada kehidupan di dunia setelah melewati kematian, kamu tau Mas saat aku melihat mu pandangan ku tak bisa ku alihkan pada yang lain, hatiku berdoa agar Tuhan memberikan dirimu untukku, Tuhan begitu baik padaku Mas, dia memberikan dirimu padaku. Aku sangat bahagia, bagiku kamu adalah cinta pertama dan terakhir dalam hatiku Mas"


Aiyra menghela nafas panjang, dia merasa Dadanya sangat sesak meski di bantu oxygen yang terpasang.


Tangan kanan Ilham menggenggam jemari Aiyra, dan tangan kirinya membelai kepala Aiyra tanpa henti. Dada ilham bergemuruh kencang, Dia mencoba untuk tegar dan menahan agar air matanya tak jatuh. Ilham merekatkan Gigin nya hingga tulang rahangnya terlihat jelas.


"Mas, aku akan selalu mencintaimu sampai akhir hidupku, jika aku tiada carilah wanita yang bisa mencintai dirimu seperti aku mencintaimu, carikan Rere dan Reno ibu yang baik, jaga Reno Mas, dia anak laki-laki ku yang rapuh, Kenapa mereka tumbuh begitu cepat Mas? bahkan tinggi mereka melebihi tinggi badanku" Aiyra terkekeh pelan.


"Mas, tolong sampaikan maafku untuk Mama, tolong jaga Mama ya Mas, dia harus sendiri menghabiskan masa tuanya, tanpaku dan tanpa Ayah"


"berhentilah omong kosong, istirahat lah ini sudah tengah malam"


"Mas, berikan sepucuk surat yang ada di laci untuk suamiku"


"okeh, tapi sekarang tidurlah"


"Mas, apa kamu menyalakan pendingin terlalu besar? kenapa rasanya begitu dingin"


Ilham melirik ke arah AC, 25 derajat. harusnya itu suhu ruangan biasa.


"Mas, naiklah... aku ingin tidur dalam pelukanmu"


Ilham bangkit dari kursinya, dia naik ke atas kasur, Ilham duduk di belakang Aiyra, di peluknya wanita kecil itu dengan penuh kasih sayang. Aiyra membenmkan wajahnya di dada ilham. Ilham mencium kepala Aiyra.


"suatu hari perlakuan aku seperti ini jika malam tiba, rasanya sangat nyaman" bisik Aiyra lemah.

__ADS_1


Ilham mengangguk kecil.


Aiyra tertidur dengan lelap dalam pelukan Ilham. Tidak ada suara malam itu, hanya terdengar suara detikan jam di susuk suara isakan tangis Ilham, dia tak kuasa menahan tangisnya saat menyadari tubuh Aiyra tak bergerak lagi. Ilham memeluk tubuh Aiyra begitu erat seakan tak ingin dia lepaskan lagi. Tubuh Ilham bergetar kuat seiring tangisannya yang semakin keras.


__ADS_2