HARAMKAH?

HARAMKAH?
Di Atas Tanah Merah Basah


__ADS_3

Langit begitu hitam pekat, Matahari tak sedikitpun muncul menampakkan dirinya pada dunia, hujan pun tak turun membasahi bumi, hanya angin yang datang sepoi-sepoi. Sepertinya hujan akan turun sebentar lagi. Atau mungkin hujan akan turun seperti hari kemarin, turun saat senja datang.


Hening, Dingin. Hanya suara isak tangis yang terdengar dari beberapa insan yang begitu merasa tidak bisa menahan rasa sedihnya karena kepergian Aiyra.


Ilham hanya berdiri mematung, melihat pusara Aiyra. Hatinya hancur berkeping-keping, matanya panas namun dia tida bisa mengeluarkan air matanya, dadanya terasa begitu sesak.


Sementara Reno? Dia bahkan menangis seperti anak kecil, dia memeluk gundukan tanah merah yang masih basah itu, menangis memanggil manggil Aiyra, bajunya yang nampak kotor oleh tanah tak dia pedulikan, bahkan pipinya yg mulus pun ikut serta terkena noda tanah pemakaman Aiyra.


Sementara Rere masih bisa mengendalikan dirinya, meski dia menangis tapi tidak seperti Reno. Rere lebih bisa bersikap bijak dengan berpikir positif bahwa kematian mungkin jalan yang terbaik untuk Aiyra, ketimbang dia di sakiti suami dan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Paling tidak sekarang Aiyra tidak merasakan sakit. Pikir Rere.


"Yang tenang disana ya Mom, we love you" Bisik Rere sambil menaburkan bunga di atas kuburan Aiyra.


Mama Aiyra terduduk lemas di atas kursi, di dampingi keluarga nya yang lain. Keluarga Ilham lengkap ada disana mengantar kepergian Aiyra ke tempat peristirahatan nya yang terahir, tidak ada yang tidak menangis saat itu kecuali Ilham yang berusaha untuk tetap tegar.


"Jika ada kehidupan setelah kematian, tetaplah bersamaku Mas, jangan tinggalkan aku meski untuk sesaat"


Ucapan Aiyra di sisa waktunya membuat Ilham sedikit memiliki harapan, paling tidak dia tau Aiyra hanya mencintai nya di sisa waktunya. Bukankah kehidupan setelah kematian lebih kekal?


"sampai kapanpun aku tidak akan mencintai wanita lain, tunggu aku disana" gumam Ilham dalam hati.


Jam menunjukkan waktu semakin siang, satu persatu orang-orang meninggal kan pemakaman, hanya Ilham yang tersisa. Dia yang semula berdiri jauh dari makam Aiyra, perlahan melangkah dan mendekat. Di bukannya kaca mata hitam yang sedari tadi dia pakai. Ilham jongkok dan menaburkan bunga mawar kesukaan Aiyra.


Ilham mendongakkan kepalanya, saat mengetahui ada beberapa orang yang datang mendekat. Bram dan keluarga nya.


Ilham tersenyum kecut menyambut kedatangan mereka.


Bram nampak bersedih, dia menangis menyesali kepergian Aiyra yang tidak dia ketahui. Bram tidak sepenuh salah dalam hal ini, karena Aiyra sengaja tidak ingin ada orang yang memberi tahu Bram tentang kondisinya, entah apa yang Aiyra pikirkan dengan melakukan itu? apakah dia hanya ingin ada Ilham yang menemani hari-hari terakh7unya di dunia ini?


Tak ada yang bicara, semua nampak sedih, entah mereka bersedih karena memang kehilangan Aiyra, atau mereka hanya sedang berusaha terlihat sedih agar tidak ada yang berpikir negatif jika mereka harus terlihat datar. Hanya Bram yang sepertinya benar benar bersedih dan menyesal.


"Mas, aku dan Mama pulang duluan ya, aku takut anak kita masuk angin"

__ADS_1


Bram tidak merespon, ucapan Maura, dia terus menatap foto Aiyra yang di simpan dekat pusara.


Maura dan Mama nya Bram pergi meninggalkan pemakaman. Lama Bram terdiam meratapi kepergian Aiyra.


"aku tidak tau apa alasan kamu untuk tidak mencari keberadaan Aiyra hampir sebulan lebih kalian tidak bertemu. tapi Bram, aku terimakasih banyak untuk itu"


Bram mengangkat kepalanya, dia menatap heran atas apa yang Ilham ucapkan.


"selama sebulan lebih Aiyra di rumah sakit, akulah yang menggantikan peranmu, aku menjadi suami Aiyra disisa ahir hidupnya, mungkin ini memang tidak bisa menggantikan kesalahanku Padanya selama ini, tapi paling tidak Aiyra tau bahwa aku menyesal dan aku tulus mencintai dirinya"


" aku terlalu fokus pada anakku, saat dia lahir keadaan nya tidak baik, dia mengalami kelainan pada jantung nya dan..."


"kamu tidak salah Bram, lagi pula Aiyra sendiri tidak ingin kami memberitahu keadaan nya padamu, entah apa tujuan Aiyra"


"apa Aiyra begitu?"


"Hmm, harusnya dari awal kamu tidak pernah masuk dalam kehidupan nya Bram"


"aku tau, dan terimakasih telah menemani dia saat hancur dan terpuruk atas sikapku, oh iya"


Ilham merogoh kantong celananya dan memberikan selembar kertas pada Bram.


"ini... Aiyra menitipkan ini, aku pergi dulu"


Ilham membalikan badan nya dan melangkah meninggalkan Aiyra, wanita yang sangat dia cintai kini telah pergi untuk selamanya, akan jadi hal yang sangat berat pada hari hari yang akan datang, merindukan orang yang tidak bisa kita temui adalah hal yang paling menyakitkan. Air mata Ilham menetes.


Dengan air mata yang masih mengalir, Bram membuka sepucuk surat yang Aiyra tulis saat dia di rawat.


***Teruntuk suamiku, Kak Bram sayang.


Hai Kak, apa kabar kakak hari ini?

__ADS_1


Jika Kakak membaca surat ini, itu artinya Aya sudah berada di tempat lain, tempat yang Aya harap tidak ada rasa sakit, tidak ada kecewa dan tidak lagi menderita.


Sejak lama Aya memang mengharapkan kematian akan segera datang menghampiri, tapi Aya tidak menyangka disaat seperti ini Kakak tidak ada di samping Aya, menemani hari-hari yang menyakitkan.


Aya merasa sangat bersedih, sedih yang teramat sangat, Kak Bram yang selalu setia menemani hari-hari tersulit Aya, Kak Bram yang selalu siap menggantikan posisi Ayah, menjaga dan melindungi Aya dari semua bahaya dan kesedihan kini telah berubah. Aya tidak tau kenapa Kakak pergi dan tidak menghubungi Aya. Kak... Aya rindu. sangat rindu sosok Bram yang dulu


Bagaimana si kecil? dia seorang bidadari? ataukah jagoan seperti Ayahnya? semoga kelak anak Kak Bram tumbuh menjadi pribadi yang hangat, baik dan ramah seperti Kak Bram.


Kak Bram...


terimakasih untuk semua pengorbanan Kakak selama ini. Kak Bram yang dengan setia menemani hari yang paling buruk dalam hidup Aya, menjadi pelindung untuk Aya dan Mama saat Ayah pergi. Terimakasih untuk cinta Kak Bram yang tulus meski Kakak tau ada yang lain di hati Aya.


Kak Bram...


sampaikan permintaan maaf Aya untuk orang tua Kak Bram, maaf Aya tidak bisa menjadi menantu yang mereka harapkan. Aya juga minta maaf sama Kakak karena tidak bisa menjaga calon anak kita. Kak apa nanti disana aku akan bertemu dengannya? apa dia akan mengenaliku? tapi apakah itu mungkin? karena dia lahir sebelum berwujud. Tapi jika aku bertemu dengannya, akan ku ceritakan tentang mu, tentang Ayah nya yang hebat, Ayah nya yang begitu mencintai kami berdua.


Kak saat Kakak membaca surat ini Aya mohon jangan menangis, jangan ada penyesalan di hati Kakak.


Dalam hati Aya, Kakak tetap yang terbaik, berbahagialah Kak. peluk cium dariku yang merindukan mu.


Aiyra.


Istrimu***


Bram meremas kertas itu, tangisannya pecah. Bram memeluk gundukan tanah merah yang masih basah, dia menangis sejadinya. Sungguh menyesal hati Bram, dia yang selalu ada di setiap kesulitan dan rasa sakit Aiyra, tapi kini? Bahkan dia tidak pernah tau istrinya menderita.


Hujan mulai turun perlahan, mengguyur bumi. pepohonan hanya terdiam pasrah berayun naik turun tertimpa butiran air hujan yang turun dari langit. Gemericik nya membuat hati Bram semakin tersayat.


Foto Aiyra yang kini telah basah nampak tersenyum tipis, dia terlihat begitu cantik dengan wajah yang masih sangat segar, bibir yang merah muda, kulit pipi bak kapas dan alis yang seperti semut beriring.


Selamat jalan wanita kecil yang tangguh, begitu kuatnya dirimu menghadapi perihnya dunia, tapi tidak bisa melawan kehendak Tuhan.

__ADS_1


Cukup sudah manusia di dunia menyakiti dirimu, kembalilah pada penciptamu, kini berbahagia lah disana, tidurlah dengan tenang wahai Aiyra.


__ADS_2