HARAMKAH?

HARAMKAH?
Maaf


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, Aiyra dan Bram tidak banyak bicara.


Aiyra masih memperlakukan Bram seperti biasa, Hanya saja tanpa senyuman dan kehangatan, bahkan tanpa sepatah katapun.


Dulu saat Bram merasa memakai baju yang telah Aiyra persiapkan membuat dai begitu berbunga, makan sekarang dia merasa hendak memakai jubah duri besi.


Jika dulu Bram menganggap hidangan yang di masak Aiyra adalah vitamin, tapi kali ini dia merasa hendak memakan ribuan paku panas.


****


"Aya, apa malam ini bisa kita makan di luar?" tanya Bram hati hati


"hemmm" jawab Aiyra.


"kalau begitu bersiaplah, nanti jam 7 kota berangkat"


Aiyra hanya mengangguk kan kepalanya, dan segera pergi meninggalkan Bram di samping kolam renang.


Begitulah, Aiyra hanya menjawab pertanyaan Bram dengan singkat, dan pergi menjauh saat di rasa tidak ada hal penting lainnya.


Saat makan malam mereka tidak banyak bicara, pun saat memilih menu makanan pun Aiyra sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun, hingga menu makan malam mereka Bram yang memutuskan sendiri.


Dalam hari hari biasanya pun, saat sedang makan, Aiyra memang tidak pernah berbicara sampai makanan itu habis,tapi kali ini Bram merasa diam nya aiyra karena dia memang tidak ingin bicara padanya.


Seorang pelayan menghampiri mereka dengan membawakan buket bunga mawar yang besar dan sebuah kotak hadiah. Pelayan itu menyerahkan buket bunga dan kotak hadiah itu pada Bram.


"Terimakasih mas"


"sama sama pak" ucap pelayang itu dan pergi.


"Bukalah" ucap Bram sambil menyerahkan kotak hadiah dan bunga mawar nya pada Aiyra. Aiyra menerima bunganya dan membuka kotak hadiah yang ada di atas meja. perlahan Aiyra membuka nya dan melihat ada sebuah kalung berlian hitam di dalamnya.


"apa kamu suka Ay?"


"hemmm"


"Aku pakaikan ya"


"Hemm"


Bram beranjak dari kursinya dan mengambil kalung berlian itu dia berjalan memutari setengah meja dan berdiri di belakang kursi Aiyra, Aiyra mengangkat rambutnya untuk mempermudah Bram memasang kan kalung tersebut.


Setelah selesai Bram kembali ke tempat duduknya, Bram melihat wajah Aiyra masih tanpa ekspresi. Bram hanya tersenyum getir.


****


"apa kamu ingin pergi ke suatu tempat lagi?"


"Tidak" jawab Aiyra singkat.


"Ok, kalau begitu kita langsung pulang saja"


Hanya itu pembicaraan mereka yang terdengar sangat dingin dan hampa, meski kejadian malam itu sudah berlalu lama tapi rasa sakit di hati Aiyra tidak bisa hilang begitu saja.

__ADS_1


Bram sudah berusaha meminta maaf dengan berbagai cara, dan Aiyra selalu bilang bahwa dia memaafkan Bram, tapi sikap Aiyra yang dingin memberikan hukuman bagi Bram begitu berat dirasanya.


***


"Ra, bantuin Mama bikin kue ya, nanti sore Mama mau ada arisan, Mama mau bawain mereka cemilan hasil sendiri"


"oh iya Ma, nanti Rara bantuin" Aiyra yang sedang asik menonton acara televisi beranjak dari sofanya, di letakan nya toples cemilan di atas meja, dan dia bejalan menyusul langkah Mama nya menuju dapur.


"Ra, bagaimana hubungan mu sama Bram?"


"Baik Ma, kenapa memangnya?" jawab Aiyra datar sambil sibuk memecahkan telur.


"Ra, Bram itu sudah banyak berkorban untuk kita, dia menggantikan posisi Ayah menjaga kita"


"iya Ma"


"Bukan hanya itu, tapi dia begitu mencintai kamu dengan ikhlas, coba lihat Ra, berapa lama dia menunggu mu? bahkan dia memendam rasa sakitnya mengetahui istrinya masih mencintai laki laki lain"


"Ma...."


"Dengar nak, bukan tidak ada wanita yang mencintai suami mu itu, tapi suami mu lah yang terlalu mencintai kamu sampai dia mengabaikan ribuan wanita di luaran sana yang ingin menjadi istrinya Bram"


"Mama, bisakah kita membahas ini nanti?"


"Ra, bagaimana rasanya kamu mencintai Ilham?"


"Ma, plisssss"


"seperti itu pula Bram mencintai kamu nak"


Mungkinkah Bram juga merasakan hal yang sama? meski Aiyra ada di hadapannya, tapi hati Aiyra tidak untuknya, oh, Bram.


"Ra, suami istri itu bukan hanya tentang cinta, tapi lebih penting lagi tentang rasa saling memiliki, menyayangi, dan menghormati dan..."


"Ma, apa suatu saat Kak Bram akan meninggalkan Rara? ya, karena Rara selalu mengabaikan perasaan nya"


"cegah itu sebelum terjadi, kecuali kamu benar-benar tidak menginginkan dirinya, tanya pada hati mu yang paling dalam apa kamu benar-benar siap kalau kehilangan Bram?"


Aiyra hanya menatap mata Mama nya yang teduh, Aiyra tidak yakin bahwa dia akan siap kalau suatu saat Bram pergi, apa mungkin karena Bram selalu menemani nya di setiap keadaan sulit? Bram selalu menjadi sandaran di setiap rasa lelahnya melanda, Bram selalu menjadi tempat dia mengadu, dadanya ynag bidang selalu menjadi wadah untuk menumpahkan air matanya.


"Entahlah Ma..."


Mama hanya tersenyum lalu memeluk anak semata wayangnya.


"pergilah ke kamarmu dan mandi, sebentar lagi suamimu datang, bersiaplah. Kue biar Mama yang menyelesaikan"


"iya Ma..."


Di dalam bathtub Aiyra terus memikirkan perkataan Mama, dia terus bertanya pada hatinya, siapakah dia kehilangan Bram jika dia terus seperti ini? Aiyra menghela nafas panjang, dia bangkit dan membilas badannya yang penuh dengan busa, di raihnya handuk lalu berganti baju dan memoles wajahnya tipis tipis agar terlihat cantik natural.


Aiyra mendengar suara mobil Bram saat dia duduk di ruang tamu, Aiyra sengaja menunggu Bram pulang, begitu mendengar suara mobil suaminya datang dia langsung keluar dan menunggu di depan pintu.


Supir membukakan pintu mobil untuk Bram, dan lelaki gagah nan tampan itu keluar dari mobil dengan pakaian stelan jas hitam nya yang pas di badan membuat ketampanan nya terlihat sangat paripurna, untuk sesaat Aiyra begitu terpesona.

__ADS_1


Bram melihat istrinya berdiri menunggu nya, Aiyra dengan kulit bak kapas dengan tubuh mungilnya memakai dress dengan dada sedikit terbuka, dan lengan yang pendek begitu pas di tubuhnya, dres hitam di atas lutut yang memperlihatkan kakinya yang putih kemerahan begitu mulus. Bram tersenyum manis.


Aiyra terus menatap suaminya dengan senyuman, jantungnya tiba tiba berdegup cepat saat suaminya mendekat, dia menjadi sedikit gugup dan kikuk, bingung apa yang harus dia lakukan.


Bram menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya, dan mencium ubun ubun Aiyra dengan lembut.


"Bisakah tidak berdandan secantik ini, agar aku tidak semakin terpedaya padamu"


Bisik Bram di telinga Aiyra.


"sengaja"


"kenapa?" tanya Bram seraya melepaskan pelukannya, Bram sedikit membungkuk kan tubuhnya agar wajah merek sejajar.


"ehmm,,, sudahlah Kak, ayo kita makan" ucap Aiyra malu, dia menggandeng tangan suaminya menuju tempat makan. Bram merasa agak heran dengan tingkah istrinya, bukankah dia masih marah dengan kejadian waktu itu? kenapa sekarang dia kembali seperti biasanya, bahkan Aiyra semakin baik. apapun alasannya Bram merasa lega karena istrinya tidak marah lagi.


"Kakak, mau makan sama apa?"


"capcai sama ayam goreng ajah Ay"


"oh baiklah, Aya ambilkan ya"


Kali ini Bram akan memakan masakan istrinya layaknya makanan manusia lainnya, bukan lagi paku panas seperti kemarin-kemarin, kini senyuman Aiyra sudah kembali.


"Kak..."


"hemm" sambil mengunyah "tumben lagi makan ngajak ngomong"


hehehe. Aiyra hanya tersenyum malu.


"Kak Bram sibuk gak di kantor? ehmm maksud Aya Kakak sedang banyak kerjaan tidak?"


"sibuk dan banyak kerjaan itu sama saja Aya"


"eh iya, Aya..."


"ada apa Aya? sesibuk apapun di kantor akan Kakak tinggalkan jika Aya membutuhkan Kak Bram"


Sesaat Aiyra menatap lekat suaminya. Dia merasa beruntung memiliki Bram dalam hidupnya.


"Kak, Maaf"


Bram menghentikan tangannya yang membawa sendok makan ke dalam mulutnya, dia meletakkan kembali sendok itu ke dalam piring mkan nya.


"selama ini Aya terlalu egois hanya memikirkan perasaan Aya, dan mengabaikan perasaan Kak Bram, tapi Kak untuk saat ini Aya memang belum bisa membuka hati Aiyra"


"Kakak tau itu..."


"tapi Kak, Aya akan berusaha. Lagi pula membayangkan Kak Bram pergi dari sisi Aya pun, Aya tidak sanggup, saat Aya membayangkan kakak pergi, hati Aya sama perihnya saat Ilham pergi"


Bram hanya menatap istrinya yang kini mulai menitikkan air mata.


"Aya harap Kakak mau bersabar sedikit lagi, dan jangan pergi dari kehidupan Aya" lirih Aiyra sambil menundukan kepalanya. Bram mengelap mulutnya dan beranjak menghampiri istrinya, di peluknya sang istri dari belakang dengan penuh kehangatan.

__ADS_1


"untuk alasan apapun, Kak Bram tidak akan pergi, kecuali Kak Bram di panggil Tuhan"


Aiyra segera berdiri dan memeluk suaminya erat, tangisannya pecah di dalam pelukan Bram. Bram hanya tersenyum dan mengelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.


__ADS_2