
Pagi Pagi sekali Idris harus datang ke rumah utama. Ia akan menghadapi semuanya dengan tenang. Toh selama ini ia merasa tak bahagia dalam pernikahannya. Ia datang sendiri ke rumah besar itu. Sedangkan sang asisten dimintanya mempacking barang barang nya dari kantor yang baru tiga hari ia pimpin, sebelum dipecat, lebih baik mengundurkan diri.
Saat masuk ke ruang tamu. Ia langsung disambut oleh sang putri, yang kini sudah berusia lima tahun. Di ruang tamu itu sudah berkumpul kedua orang tua Anne, beserta Angga yang baru saja tiba di kota itu dan langsung diminta datang ke kediaman kakaknya.
Idris langsung menyambut sang putri yang berlari ke arahnya.
"Ayah, semalam ayah di mana? aku cariin ayah dan mama di kamar, tapi gak ada." tanya sang putri sedih dalam gendongannya.
"Ayahmu tidur dengan wanita Ja-lang."
Anne yang masih emosi itu, menjawab pertanyaan sang putri. Seketika semua mata melotot padanya. Apa seperti itu bicara dengan anak kecil.
"Sayang.. Mainnya sama bibi dulu ya?" Idris memberikan sang putri kepada ART.
Huufftt..
Ia pun menarik napas panjang, sebelum mendudukkan bokongnya di sofa.
"Aku sudah berikan surat pengunduran diri sebagai direktur utama." menunduk, karena ia juga masih punya rasa malu. Ia tahu, perbuatannya salah. Tak seharusnya ia mengkhianati sang istri. Idris langsung saja ke point utama. Ia sudah siap dengan konsekuensi dari perbuatannya.
"Ayah.... Lihatlah, ia dengan tenang nya bicara seperti itu." Anne bicara dengan sesenggukan, menatap penuh kekecewaan sang suami. "Dia telah berkhianat ayah. Apa kurangku ayah?"
"Nak, tenang dulu. Kendalikan dirimu, kalau kamu tanya apa kurangmu. Ya ini kekuranganmu. Kamu itu terlalu arongan, keras kepala dan suka mengatur."
"Ayah, kenapa malah marahi dan salahkan aku! dia yang salah, malah aku yang disudutkan..!" Anne semakin dibuat kesal, ia yang jadi korban. Malah ia yang kena marahi.
Huufftt..
__ADS_1
"Makanya kamu tenang dulu." Tegas sang ayah geram. Ia merasa dadanya sudah mulai sesak. Jujur pria tua itu juga terkejut dengan apa yang menimpa rumah tangga putrinya.
"Sabar sayang, kita dengarkan penjelasan dari Nak Idris dulu." Kini ibunya Anne berusaha menenangkan sang putri yang emosi itu.
"Tak ada yang akan saja jelaskan di sini. Apa yang diceritakan Anne, semuanya benar. Aku sudah menikah diam- diam. Aku mengaku salah. Dan aku siap keluar dari rumah ini." Ujar Idris dengan tenangnya.
Praakkkk
Pas bunga melayang ke arah Idris. Ia dengan cepat menghindar. Dan pas bunga itu hancur di lantai.
"Anne...!" sang ibu menahan sang putri yang hendak bergelut dengan Idris.
Sedangkan Angga ikutan geram dengan sikap Idris yang terlihat tak bersalah itu. Dan kini pria itu bangkit dari duduknya. Ia pun melayangkan satu tinjunya ke pipi kanan Idris. Tak puas dengan hal itu. Ia kembali meninju pipi kiri Idris. Di saat serangan ketiga. Idris menahan serangan Angga.
"Breng-sek kamu Idris... Tak ku sangka kamu sekeji ini. Berani sekali kamu sakitin hati kakakku. Gara gara perempuan itu, kamu hancurkan keluargamu." Teriak Angga dengan kesalnya. Berusaha melepaskan tangan nya dari cengkeraman Idris. Dan saat tangan itu lepas. Ia pun kembali menyerang Idris.
Akhirnya perkelahian sengit pun terjadi di ruang keluarga itu. Anne menangis histeris dalam pelukan sang ibu. Sedangkan sang ayah terlihat kesusahan menghela napas.
Perkelahian antara Idris dan Angga terhenti. Kedua nya sama sama terkejut melihat sang ayah yang terlihat kesusahan bernapas dalam rengkuhan pelayan.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit." Idris bergerak cepat berjalan ke mobilnya yang terparkir.
Angga membopong sang ayah dengan kesusahan ke mobil nya Idris. Setelah sang ayah berada di dalam mobil. Mobil itu melaju dengan cepat menuju rumah sakit. Sedangkan Anne dan sang ibu menyusul dari belakang.
***
Tiga jam kemudian Ayahnya Anne, Pak Mulya sadar juga. Saat itu orang yang pertama dicarinya adalah Idris.
__ADS_1
"Aku tak menyangka ini semua akan terjadi Idris." Air mata terlihat mengalir dari sudut mata pria tua itu. "Manusia tempatnya Khilaf. Bapak mohon, jangan ceraikan Anne. Ia sangat mencintaimu." Ujar Pak Mulya dengan penuh keputusasaan. "Tak ada manusia yang sempurna. Akan selalu ada masalah dalam rumah tangga, menguji rumah tangga yang sedang kita jalani, dengan banyaknya godaan yang datang. Mulai daei godaan liar hingga godaan daei dalam diri kita sendiri. Yang tak bersyukur akan nikmat yang Tuhan berikan."
Idris tercenung dengan ucapan sang ayah mertua. Ia jadi merasa sangat bersalah. Tak seharusnya ia mengkhianati Anne. Harus nya jika ia ada niat menikah lagi. Ia harus minta izin pada Anne. Dan seumpama tidak diizinkan, maka ia harus nya selesaikan dulu pernikahannya dengan Anne dan menikah lagi.
"Kembalilah pada Anne, ingat kalian sudah ada anak. Jangan kalian korbankan anak kalian, hanya untuk kesenangan diri kalian. Jangan egois, terima lah kekurangan dan kelebihan istrimu. Lupakan wanita itu. Ia mau jadi istri. simpanan, pasti ada mau nya."
Pak Mulya mengatupkan kedua tangan nya dengan sudah payah. Karena tangan kirinya di infus.
Deg
Ucapan sang ayah mertua memang benar. Nur ada mau nya. Ya Nur mengatakan hanya ingin merasa kan punya suami. dan keluarga. Tapi, kalau dipikir, alasan itu kurang masuk akal. Apa lagi Nur terlihat seperti wanita baik baik. Tak mungkin kan mau jadi jstri simpanan.
"Pak, jangan mikirkan masalah ini. Bapak istirahat ya, biar cepat sembuh." Idris merangkum tangan Pak Mulya. Meletakkan tangan itu di tempat semula.
"Berjanji dulu kamu Idris, jangan ceraikan Anne. Ingat putri kalian Dira."
"Iya pak. Kita tak usah bahas ini. Bapak harus cepat sembuh." Ujar Idris dengan berat. Sungguh ia dibuat sangat dilema. Wajahnya sangat tenang saat ini.
"Baiklah, aku percaya padamu Nak Idris. Kamu tak akan sebodoh itu mengorbankan semuanya demi wanita itu." Pak Mulya, masih cemas. Ia perlu meyakinkan Idris. Ia tak mau kehilangan pria se potensial Idris.
"Iya pak. Bapak istirahat dulu ya!" Ujar Idris tersenyum tipis. Pak Mulya menganggukkan kepala nya lemah.
Idris pun keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang porak poranda. Pesona Nur, sudah membuat nya oleng. Bingung, sudah setelah mendengar permintaan sang ayah mertua.
Saat keluar dari ruang ICU itu. Anne langsung memeluknya dan menangis dengan sedih nya. "Jangan pergi, maafkan aku jika aku ada salah. Katakan padaku salahku di mana? aku akan merubahnya?!" bicara dengan isak tangis dan masih memeluk Idris.
Anne merasa tak melakukan kesalahan Apa pun. Makanya ia heran, saat kecurigaannya terbukti tadi malam. Kenapa Idris mengkhianati nya? dan sejak kapan?
__ADS_1
"Di sini bukan tempatnya membahas itu." Mengurai pelukan sang istri. Dan pria itu mendudukkan bokongnya di kursi panjang, yang ada di lorong rumah sakit itu.
TBc