
Sesampainya di lokasi wisata religi Makam Papan Tinggi. Idris dan Mayang sangat semangat untuk sampai di tempat itu. Ia mulai olah raga kecil, olah raga pernapasan dan meregangkan otot ototnya, agar tak kram saat menaiki tangga yang katanya jumlahnya tak pernah sama setiap kali dihitung, saking banyaknya. Katanya sih jumlahnya 800-1000 anak tangga.
"Kamu gak boleh ikut naik sayang!" tegas Idris pada Nur.
"Yah... Padahal aku ingin buat konten di atas sana." Jawabnya lemas.
"Jangan bahayakan nyawa demi sebuah konten." Tegas Idris lagi, menatap tajam Nur yang tetap ngeyel ingin naik ke atas. Kalau Nur cemberut gitu, ia tak akan tenang naik ke atas.
"Baiklah.!" Jawabnya masih dengan ekspresi wajah cemberutnya.
"Kalau cemberut gitu, Hubby pun gak akan naik ke atas." Ucap Idris lembut. Ia harus bisa menenangkan sang istri.
"Aku kan ingin foto bersama Di sana!" masih kekeuh.
"Sayang... Idemu naik ke atas itu gak baik. Kamu sedang hamil. Jangan buat Hubby cemas dan tenang. Jikalau kamu maksa tetap naik, itu akan menimbulkan kontroversi. Kapan kapan kita ke sini lagi. Kita foto di sana." Jelas Idris tegas. Ia sampai memegang lengan sang istri, agar istrinya bisa dibilangin.
"Iya deh." Sahutnya dengan bibir manyun.
"Baiklah, Kami jalan nih." Menatap lekat Nur, yang masih menampilkan ekspresi wajah cemberut.
Entahlah kali ini, ia susah sekali dibilangin. Keinginannya sangat kuat untuk naik ke atas, dalam keadaan hamil. Ia seperti, ingin menunjukkan kehebatannya.
"Sampai di atas, kami gak akan lama."
"Lama itu, naik saja hampir satu jam nanti, turunnya lagi. Bosan, nunggu kalian di sini." Nur masih belum mau ditinggal.
"Kan ada Dewi dan Aswan menemanimu sayang?!" ujar Idris lembut. Kenapa istrinya itu susah sekali dibilangin. "Jalan saja kamu sudah susah, ini mau naik tangga yang jumlahnya hampir 1000, jangan cari masalah ya sayang?!" Merangkum wajah Nur gemesh.
Cup
__ADS_1
Ia pun mengecup kening sang istri. Sikap Idris yang sangat mengkhwatirkannya itu, membuat suasana hatinya Nur, sedikit membaik.
"Nanti di sana kalian sikapnya yang sopan. Itu Makam, bukan taman mini!" ujar Nur menasehati sang suami. Tadi manyun, ini sudah seperti tokoh agama saja bicaranya.
"Iya sayang. Kami pasti akan jaga sikap." Ujar Idris tersenyum manis, kembali mengecup kening sang istri, kemudian memeluknya gemes.
***
Idris, Mayang beserta dua asisten yang berjenis kelamin pria mulai menapaki anak tangga, menuju Makam Papan Tinggi Nantinya dua asisten itu, yang akan meliput kegiatan mereka. Jadi konten kali ini, Idris dan Mayang yang jadi aktrisnya.
Sebelum menghilang dari jangkauan mata, Nur tetap setiap menatap ke arah Suami dan anak angkat mereka, Mayang. Tangan terus melambai, dan sesekali Idris dan Mayang menoleh ke arah Nur, membalas lambaian tangan itu. Setelah sang suami, dan sang putri hilang dari jangkauan mata. Nur membalik badan.
Huufftt...
Ia menghela napas panjang. Dan menghembuskannya barat. Ia sedih, karena gak diizinkan sang suami ikut ke atas.
"Dewi, Aswan, kita cari Makam yuk! nunggu di sini Bosan juga, banyak nyamuk!" ujar Nur pada asisten nya Dewi dan sang supir Aswan. Jelas di tempat itu banyak nyamuk. Emang di tempat itu masih asri, banyak pohonnya.
***
"Mayang... Hati hati sayang..!" Mayang sangat lincah menaiki tangga yang jumlahnya hampir seribu itu. Sedangkan Idris, dan dua asistennya sudah mulai ngos ngosan. Perlu istirahat di post, guna menghela napas dengan tenang, untuk stok oksigen di paru paru dan mengistirahatkan otot kaki yang mulai pegal dan kram. ketiga orang dewasa itu sampai kelelahan seperti itu, karena kelakuan Mayang, yang tak mau digendong oleh Idris.
"Iihh.. Ayah payah, naik tangga saja gak sanggup." Cerocos Mayang, sama sekali tak merasa lelah. Ia bahkan berlari saat menapaki anak tangga menuju Makam Papan Tinggi itu. Tingkah Mayang inilah yang buat Idris sedikit kecapean dan ngos ngosan, karena harus penuh kewaspadaan menjaga Mayang. Ia takut anak nya itu terpleset, dan jatuh ke jurang. Kekhawatiran yang berlebih itu, membuatnya jadi tidak rileks saat ini.
Huuufft..
Huufftt..
Dua asistennya masih ngos ngosan, walau sudah beristirahat duduk di bangku kayu. Sambil mengambil gambar dari bukit. View dari atas puncak bukit Makam Papan Tinggi, sangat indah. Keindahan perbukitan hijau yang membentang luas.
__ADS_1
"Bos, kita sudah mau sampai di puncak bukit. Seperti nya live streaming, sudah pas momentnya." Ujar asisten pria bernama Yudhis.
"Baiklah," ujar Idris, meraih Mayang untuk ia digendong. "Bisa, diajak kompromi ya sayang! Dukung ayah buat konten yang bagus, agar bundamu puas lihat hasil rekamannya." Pria itu bicara lembut pada sang putri.
"Ok ayah, Mantap!" Mayang mengacungkan dua jempol.
Video shoting pun di mulai. Idris sebenarnya merasa gugup, karena ia belum terbiasa melakukan siarang langsung. Ia itu pria introvert. Tidak terlalu suka hal yang beginian. Tapi, demi menenangkan hati istri, ia harus bisa berakting.
"Assalamualaikum.... Haai.. Semua.!" Itulah kalimat pembukaan yang diucapkan Idris, dengan senyum tipis, tapi buat para wanita jingkrak jingkrak. Nur yang nontonnya saja dibuat terkesima, koq suaminya tampan sekali di tayangan itu. Komentar dengan cepat bertambah dan sudah 99+, dalam waktu 1 menit.
Sambil berjalan, menaiki anak tangga. Idris mulai promosi.
"Siapa bilang tracking itu tidak menyenangkan ? . Aktivitas seperti ini memang paling menyakitkan saat ingin mencapai puncak bukit. Tapi ada juga keseruannya, apalagi trackingnya bareng-bareng teman yang super heboh, pasti gak akan membosankan melainkan yang ada keseruan." Idris mentoel pipi tembemnya Mayang. Saat ini Idris merasa Mayanglah temannya yang sangat heboh, saat naik ke atas bukit ini.
"Untuk sampai ke puncak bukit ini, teman-teman gak perlu harus mendaki melewati tanah yang menanjak, melainkan anda akan menaiki tangga dengan jumlahnya hampir 900 buah anak tangga... 100 anak tangga aja udah pegal, apalagi 700 anak tangga." Idris nyengir kuda 😁. "Pasti gemetar tuh kaki saat udah sampai di atas. Seperti kakiku... Hahhahaa..!" Sorot kamera beralih ke kakinya Idris. Ia pun berakting, dengan kaki yang dibuat gemetaran.
Sesekali cameramen, memindah spot pengambilan gambar ke hamparAn bukit yang indah dan asri.
"Yah setiap tempat yang indah-indah pasti butuh pengorbanan untuk bisa melihatnya. Bukan hanya hubungan saja Lurr ! yang membutuhkan pengorbanan.!" Terdengar suara kambing.. Beeekk.. Mantap kali memang abang cameramen, yang buat konten. Apa lagi Idris. Ia tak menyangka, dirinya bisa merangkai kata kata seperti itu.
Dan kini mereka sudah sampai di Makam Papan Tinggi.
"Kkta harus menghormati tempat yang sakral ini Guys, jadi kita harus buka alas kaki ya?!"
Idris menurunkan Mayang dari gendongannya. Ia membuka sepatu nya Mayang dan juga sepatunya. "Dengan membaca doa, kaki kanan terlebih dahulu masuk ke areal pemakaman." Ujar nya di live straming.
" Sesampainya di atas puncak Bukit Makam Papan Tinggi, rasa lelah kamu pasti bakal terbayar dengan pemandangan alam yang indah nan menawan." Ujar nya antusias.
Cameramen pun merekam semua aktifitas Idris di Makam Papan Tinggi itu. Hari ini, pengunjung ternyata cukup membludak. Jadilah Idris hanya bisa sebentar berziarah di Makam Syekh Mahmud, yang merupakan saudagar dari Arab Persia sekaligus sosok yang di balik penyebaran Islam pertama di Indonesia. Panjang makam nya lebih dari tujuh meter, dan setiap kali diukur, panjangnya tak pernah sama.
__ADS_1
Setelah memanjatkan doa, serta mengikat tali di pohon keinginan. Acara live streaming pun di akhiri. Karena mereka akan turun. Idris tak mau lagi kegiatan nya diliput.
TBC