
Gara gara kaki Mark yang terluka, tergores ke pokok kelapa. Jadilah malam ini, Dinda sibuk mengurus sang suami. Yang menurutnya sangat manja dan rewel, melebihi anak balita yang sedang kurang sehat. Ditinggal sebentar saja langsung merengek.
"Sakit... Sakit Butet...!" keluh Mark, kakinya terasa makin pedih saja. Begitu juga dengan benda pusakanya yang juga sedikit lecet. Agar berkurang rasa pedihnya. Paha dan organ sensitifnya itu harus dikipas kipas seperti sate.
"Iya, ini lagi dikipasin sayang." Ujar Dinda lembut, menahan senyum, ia merasa tingkah Mark sangat lucu.
"Kipasnya lebih kencang Tet!" titah Mark, wajah putih nya kini memerah, kesal dengan kejadian sore tadi di salah, saat mangat kelapa. Entah kenapa ia sor kali lihat kelapa muda itu. Tanpa persiapan dan safety, ia memanjat pokok kelapa itu. Padahal ia sedang memakai celana bahan.
"Kalau gak, aku ambilkan kipas angin dulu." Dinda beranjak dari duduknya. Mereka sedang duduk di atas ranjang. Mark dengan kaki terbuka lebar ditutupi sarung, bersandar di head bord templar tidur, sedangkan Dinda duduk bersila di sebelah Mark. Tangannya memegang kipas, untuk mengipas ngipas kakinya Mark.
"Eemmmm... Sakitan mana yang sekarang ini, atau saat di cut dulu?" Ujar Dinda masih mengulum senyum. Tangannya bergerak seperti gunting.
Sebelah alis pria itu terangkat, "Di cut? dikhitan? waktu disunat maksudmu Tet....?" tanya Mark dengan muka masamnya. Menjepit gemes hidung mancung sang istri. Yang dari tadi asyik menggodanya terus.
"Hahhaha... Iihh... Lepas....!" Dinda menjauhkan tangan Mark dari hidungnya. "Sakit tahu!" dengusnya kesal, mengusap usap hidungnya dengan membuang muka pada Mark. Acara kipas mengipas terhenti.
"Gitu saja sudah mengaduh kesakitan. Kenapa kamu gak respect sedikitpun pada suamimu ini Tet..? lihat, ia tersiksa, sakit sekali.....! Lebih Sakit dari pada disunat. Lihat lah bulunya di bagian atas pada rontok!" Jelas Mark dengan wajah penuh kesakitan. Muka nya berkerut sudah.
Lagi lagi ucapan Mark, membuat Dinda ingin tertawa. "Mana lihat, bener rontok gak?" Dinda mendekatkan wajahnya ke milik sang suami yang ditutupi baju koko, Dinda pun menyibak sarung yang dikenakan oleh Mark, agar melihat jelas milik sang suami, yang lecet, karena tergesek ke pokok kelapa. Walau dilapisi ****** *****, tetap bagian sensitifnya itu terluka.
"Ya ampun... Cehh... ceh... ceh...! Ini namanya disunat dua kali." grap... Belum selesai Dinda mengejek, Mark sudah beraksi.
Mark ya g kesal akhirnya menenggelamkan wajah sang istri dimiliknya itu. Ia geram lihat tingkah sang istri yang sejak tadi menganggap musibah yang memimpanya adalah sebuah lelucon.
"Iihh Uccokkk...! lepas.... Dasar suami psikopat....! Kalau mau dicium diem ut,, jangan kasar dong...!" teriak Dinda, tangannya bergerak meraih tangan sang suami yang menahan tengkuknya. Agar kepala wanita itu tetap terbenam dimiliknya yang lecet itu. "Lepas.... Aku ngap ini...!" Mark tidak mengindahkan teriakan sang istri. "Katanya lecet, tapi koq hidup sih..?"
Hahaha...
__ADS_1
"Lucu lucu....!" Ujar Mark, seolah lupa rasa Sakit nya. "Ayo em mut..!" Ujar Mark tertawa terbahak bahak.
Dasar suami reseh.
"Oouuww... Baiklah.. Aku gigit, aku gigit beneran...!"
"Aoouuuww... !" teriak Mark, Tangannya Lepas dari kepala sang istri. "Di em mut, bukan digigit Tet!" Ujar Mark kesal.
"Moohhh.. Akkhh..!" tantang Dinda, menatap jengah sang istri.
Ceklek
Dinda yang wajah nya masih berada tepat di bagian bawahnya Mark, menoleh ke arah pintu. Dilihatnya pasangan suami istri, Idris dan Nur di ambang pintu. Idris memegang handle pintu kamar.
"Astaga.... Kalian..!" pintu kembali ditutup oleh Idris dengan tatapan yang membingungkan. Saling tetap dengan sang istri.
Ya, terdengar suara teriakan Mark hingga keluar. Karena kamar yang mereka tempati ada di lantai satu, dekat ruang keluarga. Jendela kamar yang masih terbuka itulah yang membuat teriakan Mark sampai ke luar.
"Dasar mereka, selalu gak tahu tempat dan keadaan. Burungnya masih lecet. sudah minta di e mut." Ujar Idris menahan senyum, melirik sang istri yang juga menahan untuk tertawa. Entah kenapa mereka merasa lucu dengan kejadian yang menimpa Mark.
"Hubby koq sensi gitu sih? siapa bilang mereka gak tahu tempat dan situasi? mereka itu berada di ruang dan waktu yang tepat. Mereka sedang di kamar, begituan ya wajah saja. Kecuali tadi mereka sedang di pasar. Baru mereka salah. Jadi, tak ada yang salah dengan kelakuan mereka. Kitalah yang salah, karena membuka pintu kamar orang, tanpa ucapkan salam terlebih dahulu." Jelas Nur serius. Mereka menghentikan langkahnya, saat membahas Mark dan Dinda.
"Ya gak mesti teriak teriak gitu. Buat orang khawatir saja." Ujar Idris masam. Ia sedang butuh Mark, karena pekerjaan yang menumpuk. Apa lagi tiga hari lagi, acara tujuh bulanannya Nur, akan diadakan. Kalau Mark tak bisa bergerak dengan leluasa. Idris jadi kekurangan SDM yang profesional.
"Kan si Mark, lagi sakit By. Mungkin tadi ia sedang merasakan sakit yang amat." Jelas Nur lagi. Tangannya langsung melingkar di leher sang suami. Menatap sang suami dengan tatapan liarnya.
"Eemmm... Jangan mancing mancing. Ingat Mayang, sudah tidur di kamar." Ujar Idris mentoel hidung mancung nya Nur, yang masih menatapnya genit.
__ADS_1
"Rumah ini luas, banyak kamar nya Hubby. Kita coba saja dulu bermain di home teater. Gimana?" tawar Nur, masih dengan tatapan menggoda. Kini tangan sebelah kanannya, berpangku di bahu sang suami. Sedangkan tangan kiri menjawir dagunya Idris. Mata indah itu akhirnya berkedip, menggoda Idris yang tiba tiba saja tegang, dengan kelakuan genit sang istri.
"Ayuuk..!" Idris menurunkan bahunya. Sehingga tangan Nur mengatung di udara. Dengan satu gerakan sang istri sudah ada dalam gendongannya.
"Iihhh Hubby, turunin aku. Aku beratloh!" protes Nur manja, tapi ia malah melingkarkan tangannya di leher Idris, membuat jarak di antara keduanya semakin tipis. Bahkan kini Nur memasrahkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Hoh.. Hoh.. Hoh..
Idris ngos ngosan, ruang home teater lumayan jauh dari lift.
"Turun ya sayang, baru terasa capeknya!" keluh Idris dengan dada yang naik turun. Ia menurunkan istri nya itu tepat di hadapan pintu lift.
Nur menatap Idris dengan tatapan meledeknya. "Makanya sayang, gak usah sok kuat. Aku BB nya naik 18 kilo gram loh. Aku sekarang 70 kilo gram" Jelas Nur.
"Pantesan berat, sudah sebesar kerbau ternyata."
Brak..
Nur menghentakkan kuat kakinya. Menatap tajam Idris, yang sedang menahan tawa.
"Gak sekalian bilang, aku ini kuda nil..!" Nur berbalik menekan penel lift.
"Sayang..!" Idris ikut masuk ke dalam lift. Ia heran dengan Nur, yang tiba tiba marah pada nya. Menekan angka dua.
Nur membuang muka, tangannya Idris ditepis dari lengannya.
"Sayang..!" bujuk Idris dengan bingungnya.
__ADS_1
"Aku bukan sayangmu. Aku kerbau...!" ketus Nur kesal. Mata berkaca kaca sudah.
"Kerbau...?" tanya Idris heran. Mengekori Nur yang sudah keluar dari lift.