
"Sini..!" Idris menarik tubuh Nur dan ambruk di atas dadanya yang bidang. Kedua mata bersitatap penuh gairah. Dada sudah berdetak tak karuan.
Idris menarik wajah sang istri dan langsung mencium bibirnya. Satu tangan sibuk memainkan gundukan kenyal itu. Ingin perlakuan lebih, Idris membalikkan tubuh sang istri dan kini Nur sudah dalam kungkungannya.
Idris pria dewasa, wajah tampan bersih dengan alis tebal, hidung mancung dan dengan rahang yang kokoh kini terlihat jelas di hadapan Nur.
Pria itu bertumpu satu tangan di atas ranjang. Sedangkan tangan satu lagi, sibuk membuka kancing kebaya Nur.
Nur tahu pria ini sedang tersulut bira-hinya. Ia harus bisa memuaskan suaminya ini. Agar Pria ini bertekuk lutut kepadanya. Bagaimana pun di otak pria kebanyakan kesenangan dalam bercinta.
Idris sibuk membuka pengait kebaya Nur. Sedangkan Nur sibuk membuka kancing kemejanya Idris. Keduanya menunjukkan rasa ketertarikan yang dahsyat.
Setelah pria itu berhasil membuka kancing kebaya Nur. Terpampanglah gundukan kembar yang putih mulus besar dan padat. Ya Nur punya gunung kembar yang lumayan besar. Ukurannya 38 cup B.
Idris yang sedang haus akan belaian, karena ia sudah dua Minggu tidak bercinta dengan sang istri, langsung mengeluarkan gundukan yang montok dan hangat itu. Ia mulai bermain di sana. Yang membuat Nur mulai menggila.
Idris tipe pria yang menyukai gunung kembar, apalagi gunung kembar seperti miliknya Nur.
"Oouuugghh... Nur mulai mende-sah. Disaat pria itu memainkan pucuknya dengan lidah dan jemarinya. Ia menyukai cara Idris memberikan kepuasan untuknya. Bisa dibilang, cara main Idris lebih menghanyutkan dibanding kekasihnya dulu.
"Hubbyy...!" Ya Nur memutuskan memanggil sang suami dengan sebutan Hubby.
"Ya sayang .!" kini bibir nakal itu bergerak ke leher jenjang nya Nur. Menghisapnya lembut, yang membuat Nur tak tahan dengan sensasi yang ditimbulkannya. Ia mendekap erat Idris. Tangannya mencengkram kuat lengan dan punggung sang suami.
Tok
Tok
"Tuan... Tuan... Maaf tuan mengganggu..! di rumah utama, nyonya besar sedang mengamuk tuan."
Suara keras dan penuh khawatir dari balik pintu kamar pengantin, mengejutkan pasangan pengantin baru yang sedang menikmati percumbuan mereka yang sangat bergelorah.
Idris menatap Nur dengan mata yang memerah, penuh keputusasaan. Sedangkan Nur yang juga tadi tersulut bira-hinya malah kini wanita itu mengulum senyum. Ia merasa lucu, gara gara istri pertama ngamuk. Suaminya yang masih di atas tubuhnya terlihat cemas.
"Napa tertawa?" tanya Idris ikut mengulum senyum.
__ADS_1
"Gak apa apa?" ujar Nur, memainkan bulu halus di dadanya Idris.
"Jangan memancing sayang, kamu tahu sendiri ini harus di hentikan."
Tok
Tok
"Tuan... Nyonya terus saja menghubungi ponsel tuan!"
"Tunggu sebentar Mark, siapkan semuanya. Dua puluh menit lagi kita berangkat." Ujar Idris dengan suara keras.
Kemudian menggulingkan tubuhnya di sebelah Nur. Pria itu membuka celananya cepat.
Kedua mata Nur membelalak melihat milik sang suami, yang sangat besar, panjang dan sangat bersih. Rambut rambut yang mengelilingi milik sang suami, tertata rapih. Nur yang sudah pernah melihat punya kekasihnya tentu saja langsung membanding bandingkan.
"Lihat.. Ia sangat tersiksa..!" memegangilik sendiri yang sudah tegak dan keras.
"Kamu harus kenalan dengannya." Menarik tangan Nur lembut dan menempatkannya di batangan keras seperti besi itu. Mana hangat lagi. Nur dibuat terkejut dan sangat penasaran jadinya. Ingin rasanya ia mengulumnya. Karena jujur ia pernah seperti itu dengan kekasihnya.
Gluk
Gluk.
"Aku sangat suka bentuk tubuhmu dan ini." Idris meraup gunung kembarnya Nur. Wanita itu kembali terlonjak kaget.
"Tolong bantu aku mengeluarkannya." Meraih wajah Nur dan menempatkannya di batangan yang lagi tegak itu.
"Hubby... Kita lakukan saja, jangan main kocok gini." Keluh Nur, ia merasa enggan melakukannya.
"Waktunya tak cukup, aku tipe pria yang lama bercumbu baru penetrasi. Seperti itu aku suka. Tapi, kalau terdesak, ya begini cepat keluar." Ujarnya dengan napas yang tersengal karena menahan bira-hi.
Nur pun melakukan apa yang diinginkan Idris. Ia makan ice crem yang walau di isap dan dimakan gak akan habis.
"Terima kasih..!" mencium kening Nur dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Dug
Dag
Dug
Dag.
Nur memegangi dadanya yang berdebar debar, setelah ia membersihkan cairan sang suami di tangannya dengan tisu.
"Ya Tuhan....! bagaimana kelanjutan dari drama yang akan ku mainkan ini. Jangan biarkan aku nanti jatuh cinta dengannya tuan. Bisa makin hancur aku..!" ujarnya lemah, takut dengan kemungkinan yang terjadi nantinya.
Sebelum Idris keluar dari kamar mandi. Nur berinisiatif menyiapkan pakaian sang suami. Saat ini penampilannya saat sexy. Bagian atasnya hanya ditutupi Bra. Dan bagian bawahnya hanya shot. Karena rok batik nya sudah melorot dibuat Idris.
Idris tersenyum penuh kepuasan menatap Nur. Istrinya itu membantunya memakai pakaiannya.
"Kenapa kita gak kenal dari dulu, jujur baru hitungan jam aku menikahimu. Aku sudah kagum denganmu." Mencium kening Nur lembut, saat Nur mengancing kemeja sang suami.
Nur tersenyum malu menanggapi ucapan suaminya itu. Ternyata Idris sangat romantis dan hangat. Siapa pun pasti suka diperlakukan seperti itu.
"Aku usahakan pulang dua hari lagi. Besok aku sibuk sekali. Kalau kerjaan selesai cepat. Aku akan kesini." Ujar Idris, mengambil kemejanya dari lemari. Memakaikannya pada Nur. "Kamu kalau bosan di rumah, boleh keluar. Aku sudah bicarakan semuanya dengan bibi. Termasuk kamu kalau ingin pergi kerja. Kamu merantau ke kota ini, karena merantau kan?" tanya Idris penuh selidik.
"Iya Hubby, terima kasih atas pengertiannya. Ku pikir aku gak dibolehkan kerja lagi." Ujarnya manja.
"Boleh, aku gak mau ngekang kamu. Kamu perlu mengembangkan diri. Nanti jikalau kita pisah, kamu sudah cukup dalam finansial."
"Iya, aku tahu diri. Mana mungkin hubby mempertahankan aku nanti. Aku tahu, selamanya akan jadi simpanan "
"Eemmm.. Jangan sedih, kedepannya kita gak tahu apa yang terjadi. Baiklah aku pergi dulu." Mencium kembali kening Nur.
"Gak usah ikut ke bawah. Lihat pahamu terekspos. Aku gak mau, para pelayan, asistenku melihat tubuhmu." Idris keluar dari kamar itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Ia bahagia, tapi ia sebenarnya takut juga.
Nur berlari ke balkon, ia ingin melihat sang suami pergi. Dan ternyata Idris menoleh ke balkon tempat ia berdiri. Idris melambaikan tangan, dan Nur membalas belaian tangan itu. Nur baru masuk ke dalam kamar setelah mobil yang di tumpangi sang suami, menghilang dari pandangan.
Ia pun langsung ambruk di ranjang empuknya. Wajahnya memerah mengingat aktifitas intim mereka. Syukur ia dan Idris belum mantap mantap. Karena ia belum merapikan bulu bulu di bagian bawahnya. Ia harus siapkan diri, memberikan servis full jikalau suami itu pulang. Ia akan meracik jamu tradisional untuk kesehatan alat repro-duksinya.
__ADS_1
TBC