Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Tak ada yang memahami


__ADS_3

Air mata mengucur deras tak terbendung lagi. Ucapan Dinda yang memang benar itu, terdengar nyata membuat hati seperti diiris sembilu berbisa, sakit sekali mendengarnya. Ia lagi lagi melakukan kesalahan. Salah mengambil keputusan.


Hua .. Hua.... Hua...


"Aku, aku gak mau hidup lagi. Aku, aku malu!" ujarnya memukul kuat kepalanya. Ia yang kesal malah mencekik leher sendiri.


"Nur, kamu jangan gila..!" Dinda dengan paniknya, menarik tangan Nur yang mencoba ingin bunuh diri dengan mencekik leher sendiri. "Jangan Nur, nanti kamu mati, aku yang masuk penjara. Kalau mau mati, jangan buat orang susah dong.!"


Puukk .


Nur kesal sekali lihat Dinda. Dari tadi ucapannya buat emosi. Ia langsung menjitak kuat kepala sahabat nya itu dengan tangannya.


Nging...


Terasa begitu sakit, tepat di ubun ubun kepala. Dinda merasa asap keluar sudah dari telinganya, sakit sakitnya kepalanya yang kena jitak itu.


"Sialan kamu!"


Puukk


Dinda yang kesal, membalas memukul kepala Nur.


Hua


Hua


Hua


"Sakit... Sakit....!" ucapnya histeris air mata semakin mengucur deras.


"Kalau tahu sakit, ngapain kamu pukul kepalaku. Ini kepalaku di fitrah i setiap tahun. Aku itu rajin berpuasa. Dan aku gunakan kepalaku ini dengan baik. Berfikir dengan baik, bukan sepertimu. Otak ditaruh di dengkul. Setan apa yang merasuki, hingga kepikiran jadi pelakor, mau balas dendam? lihat dulu sainganmu siapa. Syukur kamu gak ditembak mati, atau disuruh dibunuh, oleh pembunuh bayaran. Gak lihat kamu di TV, di sosial media, banyak berita tentang pelakor yang mati di tangan istri sah."


Ujar Dinda kesal bercampur geram, karena ia merasa Nur bertindak bodoh. Hanya karena ingin melihat keluarga pria yang mencampakkannya hancur. Ia sendiri menghancurkan dirinya.


"Dari tadi kamu hina hina aku terus Dinda, nakut nakuti aku. Gak ada yang mau memahami apa yang ku rasa. Hidupku hancur, karena aku salah pergaulan. Aku sudah tiga kali gagal menikah. Aku juga ingin merasakan punya keluarga kecil. Punya suami yang mau melindungi aku, memenuhi kebutuhanku."


"Iya, kamu bisa sabar. Sabar menunggu ada pria yang mau menikahimu, yang mau menerima segala kekuranganmu. Tak harus jadi pelakor, dan niat mau balas dendam pada Nyonya Anne."

__ADS_1


Ciihh..


Dinda berdecak kesal, saat ini. Ia tak mau membenarkan perbuatan Nur.


"Kamu tak tahu sakitnya jadi aku. Kamu gak pernah rasakan sakitnya dihina saat dalam keadaan tak berdaya, saat hamil muda. Itu rasanya sakit sekali Dinda. Ia wanita, tak pernah kah ia tarik diri, atas musibah yang aku alami. Aku dalam keadaan kesakitan, darah mengucur deras dari mengalir di paha. Mencari pertolongan pertama. Tapi, tak ada yang menolongku, hingga aku terkapar di jalan. Itu rasanya sakit sekali Dinda."


Nur mengelus elus dadanya yang terasa ngilu dan perih itu. Ia sampai kesusahan saat ini untuk bernapas, karena Mengingat kejadian tujuh tahun lalu.


Dinda tak tahan melihat Nur yang terlihat tertekan itu. Ia pun menarik Nur dalam dekapannya.


"Maaf ya, kalau aku bicaranya terlalu keras. Aku bukannya tak mau ngertiin kamu. Tapi, aku merasa kamu itu tak pernah belajar dari pengalaman. Aku kecewa padamu."


"Jangan salahkan aku lagi Dinda. Dari awal memang aku ragu dengan ini semua. Tapi, entah kenapa semuanya serasa berjalan dengan lancar. Pak Idris pun terlihat bahagia dan menyukai aku." Bicara dengan terisak-isak dalam dekapan Dinda.


"Oalah Nur, kamu polos atau oon sih. Ya namanya lelaki, buaya, ya gak mau nolak daging mentahlah. Apalagi kamu ini sangat menggoda. Ini mu besar padat, bokong juga montok. Cowok di kantor saja, kalau lihat kamu pada nelan ludah."


"Iihh.. Dinda, ngomong nya lebih religius dikit Napa? terus saja salahkan aku " Mengurai pelukannya Dinda.


"Iya, aku doain kamu cepat keluar dari masalah ini. Saranku, mending kamu pergi jauh dari hidupnya Pak Idris. Jauhi keluarga itu, pak Idris tak akan mungkin memilih kamu."


"Iya, dulu saat aku menawarkan diri jadi istrinya. Ia juga katakan seperti itu. Katanya, ia tak akan meninggalkan istrinya." Ujar Nur menunduk sedih.


"Kamu yang ajak Pak Idris menikah?" Dinda takjub melihat kelakuan sahabat nya ini.


"Iya " Jawab Nur dengan muka murungnya.


"Astaga... Koq aku merasa jadi lucu, kisah kalian ini Nur. Apalagi mengingat kejadian Nyonya besar yang marah di depan rumah kalian. Bawa alat berat segala untuk menerobos masuk. Hahhaha....!"


"Iihhh Dinda, please .. Serius sebentar saja. Aku lagi bingung ini." Menatap jengah sang sahabat yang tak mau diajak serius. Malah Maslahnya Nur dibuat bahan candaan.


"Hubungi Pak Idris, tanyain padanya. Kamu mau dikemanain? terus masa depanmu bagaimana? kalau dia melepasmu, minta ganti rugi padanya. Setidaknya uang itu bisa kamu buat modal usaha. Kan kamu sudah dipecat." Ujar Dinda serius. Nur terdiam mendengar penuturan sang sahabat.


"Koq diam? gak cocok usulku?"


"Idemu bagus, tapi aku mau hubungi pak Idris ke mana? nomor yang ada padaku gak bisa dihubungi." Menunduk penuh keputus asaan. Harapan tak sesuai dengan ekspektasi. Api jauh sudah dari panggang.


Huufftt..

__ADS_1


"Berdoa sajalah kamu sama Allah, minta perlindungan. Aku takutnya kamu sebentar lagi bakal diincar pembunuh bayaran."


"Ini negara hukum, dia pikir bisa seenaknya melenyapkan nyawa orang." Jawab Nur dengan ketusnya.


"Ini zaman edan Neng. Yang punya uang yang berkuasa. Dengan uang semua bisa dibeli." Jawab Dinda cepat.


Hua


Hua


Hua


"Aku gak mau mati konyol Din." Ujar Nur mulai ketakutan.


"Tadi katanya mau mati, sekarang bilangannya gak mau mati. Aneh kamu..!" menatap jengah Nur yang terlihat bingung.


"Kalau aku hamil bagaimana ini Din?" tanya Nur penuh ketakutan, mengelus perutnya yang masih datar.


"Emang kalian saat main kuda kudaan gak pakai pengaman?" tanya Dinda dengan tak percaya nya. Nur menggeleng lemah. "Gak pakai alat kontras-epsi?" tanyanya lagi lebih jelas.


"Iya, gak pakai." Jawab Nur lemah.


"Saat main lupa daratan, saking enaknya. Emang beneran enak ya Nur?" Tanya Dinda, tersenyum devil.


Puuk..


Nur kesal, ia kembali memukul lengan Dinda.


"Iya enak, sangat enak!" jawabnya ketus, menatap masam Dinda, yang tersenyum meledek.


Tok


Tok


"Enon, ada yang cariin di luar. Non di minta turun!" ujar Bi Sekar, dari balik pintu kamar nya yang terbuka sedikit. Ya, tadi Dinda lupa menutup nya rapat saat masuk ke kamar nya Nur.


Nur dan Dinda saling pandang. Dengan ekspresi wajah penasaran dan was was.

__ADS_1


Nur sangat penasaran dengan tamu yang datang ke rumahnya. Setahu dia, Idris seminggu yang lalu, saat pergi dari rumah itu, mengatakan bahwa tak ada orang lain yang bisa masuk ke rumah ini.


TBC


__ADS_2