
"Sudah kamu rasakan sakitnya kan? itu yang aku rasakan tujuh tahun ini." menatap Anne dengan keputusasaan. Kemudian Nur menatap ke arah Angga. "Hidupku hancur, aku menderita. Ini gara gara kamu..!" Masih menatap kesal Angga. Kalau mengingat penderitaannya di masa lalu. Nur tak akan bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Aku, aku mengaku salah. Aku minta maaf Nur..!" ekspresi wajah Angga penuh rasa bersalah, ia berusaha merangkul Nur yang terduduk lemah itu.
"Angga.. Menjauh dari nya!" Idris bergegas memegangi Nur.
"Oowww...Breng-sek kalian..!"
Praakkk..
Pas bunga melayang tepat ke kening Nur. Anne beraksi sangat cepat. Dan serangan itu tak dapat dihindari.
Nur merasa kepalanya mau pecah, sakit sekali dan tiba tiba penglihatannya gelap.
"Anne... Kamu...!" Menatap tajam Anne yang masih emosi dan belum puas melampiaskan kekesalannya pada Nur.
__ADS_1
"Keluar... Keluar kalian dari rumah saya!" tegas Idris Menunjuk pintu dengan amarah yang menyelimutinya. Anne sampai dibuat heran dengan ekspresi marahnya Idris, yang menurutnya sedikit berlebihan, tujuh tahun menikah dengan pria itu. Baru kali ini dia melihat Idris semarah itu. Rahang pria itu mengeras, dengan mata yang memerah melotot pada Anne.
"Keluar... Keluar kaliannn.!" Teriak Idris lagi, karena Anne dan Angga bergeming di tempat.
"Penjaga... Pelayan! seret... mereka keluar...!" urat leher pria itu terlihat keluar, saking emosi nya.
"Ayo kak, kita keluar!" Angga menarik lengan Anne. Tali, Anne menepis tangan Angga.
"Lihat, lihat.. Dia lebih memilih pelakor ini. Dari pada aku, yang jelas jelas mencintai nya." Menunjuk nunjuk Idris yang berusaha menyadarkan Nur.
"Iya kak, gak ada guna nya kita di sini lagi. Keadaan semakin memanas, lebih baik kita pulang dulu." Angga menarik kuat tangan Anne. Yang kini menangis histeris di hadapan Idris, yang tengah berusaha menyadarkan Nur.
Ciihh..
Idris berdecak kesal, ia sedang tak ingin Mendengar kata kata itu lagi. Selama satu minggu ini, itu terus yang di katakan oleh Anne padanya.
__ADS_1
"Honey... Dia tak mencintaimu. Dia hanya ingin balas dendam. Gak dengar kamu apa kata dia?" Masih berusaha menahan tangan Idris, yang membopong Nur menuju kamar di lantai dua.
"Penjaga... Pelayan... Usir mereka..!" Titah Idris tegas. Ia terlihat kesusahan membopong Nur, Karena Tangannya ditahan oleh Anne.
"Kak, kita pulang sekarang. Jangan emosi di sini!" Angga menarik kuat tangan sang kakak.
Tangan Anne lepas, Idris pun bergegas membawa Nur ke kamar. Sedangkan Anne, mengumpat kesal keluar dari rumah itu.
"Ini gara gara kamu Angga. Kenapa kamu harus berhubungan dengan wanita miskin itu dulu, dan lihatlah kakak yang kena getahnya sekarang. Ia itu sengaja menggoda Idris, agar rumah tangga kak hancur." Anne tak henti hentinya merepet sepanjang jalan.
Huufftt...
Angga menarik napas panjang. Pusing sudah kepalanya direpetin terus oleh sang kakak.
"Bukannya sudah ku katakan pada kak tadi, jangan emosi. Kakak harus mengalah saat ini untuk menang nanti di pengadilan. Tapi kak gak mau dengar." Sahut Angga menatap malas sang kakak.
__ADS_1
"Berani Idris menggugat cerai aku, gara gara wanita itu. Apa hebat nya dia..!" Anne sungguh kesal, Karena Idris sudah menceraikannya.
TBC