Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Menyukai nya


__ADS_3

'Iya, iya Mark. Aku segera ke sana."


Idris terlihat panik sekali. Bahkan pria itu pergi begitu saja, dari kamar itu. Meninggalkan Nur dengan seribu tanda tanya.


Setelah kepergian Idris, Nur langsung memegangi tangan Dinda, yang ekpresi wajahnya terlihat murung itu.


"Dinda.... Apa yang terjadi?" Nur memegangi keningnya yang tiba tiba terasa sakit sekali. Ternyata setelah sadar, ia baru merasakan, kalau ia terluka


"Jangan pegang itu, kamu terluka." Menjauhkan tangan Nur dari keningnya yang di perban.


"Hiisss.... Sakit banget!" keluh Nur dengan mata berkaca-kaca menatap Dinda.


"Iya, keningmu luka Nur." merapikan rambut Nur, agar tidak mengenai perban yang menutupinya lukanya.


"Dinda, ceritakan apa yang terjadi? kenapa Pak Idris tadi, masih di sini. Dan kenapa ia buru buru pergi lagi?" Nur menatap lekat Dinda, sangat tak sabar menunggu jawaban dari Dinda yang terlihat tak tenang.


"Aku juga gak ngerti Nur. Tapi, bisa ku simpulkan bahwa Pak Idris, sepertinya memilih kamu dari pada Nyonya besar." Ujar Dinda dengan ragu. Ia yang hanya menguping dari lantai dua, kurang jelas mendengar semua percakapan yang terjadi di lantai satu.


"Begitukah?" tanya Nur dengan tatapan tak yakin. "Kalau Pak Idris memilih aku, kenapa tadi saat aku dan Nyonya Anne bertengkar. Dia malah membantu istrinya?" menatap Dinda dengan penuh tanda tanya.


"Gak tahu aku Nur, aku gak tahu semua apa yang terjadi di bawah tadi. Aku hanya nguping. Aku takutlah munculkan diriku." Sahut Dinda dengan tidak tenang.


"Oouuww iya Din, makasih ya sudah mau nemenin aku." Memegang lengan Dinda, Nur tersenyum penuh kebahagiaan. Ternyata masih ada teman sebaik Dinda.


"Iya, sama sama." Sahut Dinda. Ia pun terlihat merapikan penampilannya, setelah itu meraih tas sandangnya.


"Kamu mau pulang?" tanya Nur dengan sedih.


"Iya Nur." Dinda tersenyum tipis pada Nur.


"Kamu nginap di sini ya?" wajahnya Nur memelas. Ekspresi wajah Dinda terlihat keberatan. "Besok kan weekend!" masih menatap Dinda penuh harap


"Nur, aku tak mau Pak Idris nanti salah paham padaku. Aku gak mau dibilang ikut campur. Aku harus pulang Nur." Memegang bahu Nur lembut, memberi pengertian pada sahabat nya itu.


"Pak Idris gak akan marah. Aku takut di sini Dinda." Masih memelas pada Dinda.

__ADS_1


"Banyak ART di sini, penjagaan juga ketat."


Ngung .


Ngung..


Ngung..


Ponsel di dalam tas yang sudah disandang Dinda bergetar. Sebelum ia merogoh tas nya, ia kembali menatap Nur penuh kekhawatiran. Siapa yang menelponnya? Ia tak punya orang tua lagi, ia juga sedang tak punya pacar.


Pak Mark..


Dinda membatin, ia dengan cepat menutup mulutnya yang sempat menganga, karena Mark menelponnya.


Ia naksir pada pria itu. Makanya ia jantungan saat ini, mendapati Mark menelponnya. Di kantor ia dan Mark tak ada garis penghubung dalam kerjaan. Jadi apa prihal pria itu menelponnya. Ia yang suka pada Mark, diam diam menyimpan nomor pria itu. Mendapatkan nomornya saja susahnya minta ampun


"I, iya,." ucapnya gugup, yang membuat Nur bingung melihat Dinda, yang ekspresi wajahnya sangat tegang itu.


"Eeehh.. Walaikum salam.!" Nur semakin bingung dibuat Oleh Dinda yang terlihat tak tenang itu. Siapa sebenarnya yang menelpon sahabat nya itu. Apa ia sedang diteror?


Huufftt..


Setelah panggilan telepon itu berakhir. Dinda terlihat menarik napas panjang dan berulang. Rasanya ia tak bisa menghirup udara di sekitarnya. Karena didera gugup yang amat sangat.


"Dinda, kamu kenapa?" tanya Nur menatap heran Dinda yang senyam senyum tak jelas. "Dinda ..!" Nur kembali memanggil nama sahabat nya itu


Dinda yang terkejut, karena Nur memanggil namanya dengan keras itu, mendudukkan bokongnya di tepi ranjang, memegangi dadanya yang berdebar debar, dengan sudut bibir masih menyungging menciptakan senyum sejuta tanda tanya.


"Dinda... Kamu kenapa sih?" menggoyang paha Dinda yang masih senyam senyum. "Dinda ..!"


"Oohh iya, iya Nur. Aku akan temani kamu di sini. Merawatmu dan menjagamu." Ujar Dinda dengan bahagianya, yang membuat Nur semakin bingung dengan tingkah sang sahabat. Tadi, Dinda menolak menemaninya di rumah itu, dan sekarang kenapa Dinda terlihat senang sekali.


"Kamu, kamu kenapa sih?" tanya Nur bingung.


"Gak ada, tadi aku disuruh asistennya Pak Idris jagain kamu." Bicara masih dengan ekspresi wajah senyam senyum.

__ADS_1


"Ouuuww.. Yang nelpon itu Mark?" tanya Nur penuh selidik.


"Iya " Jawabnya masih dengan senyum penuh kebahagiaan.


"Kamu suka Mark?"


"Iihh.. Kamu ngomong apa sih Nur?" Dinda yang malu dengan cepat membuang wajahnya. Ia tak mau dinilai oleh Nur.


"Habis, kamu berubah gitu setelah menerima telepon dari Mark. Saat menerima telepon juga kamu seperti orang gila. Senyam senyum dan tegang tak jelas."


"Aku gugup Nur." Kini Dinda menatap kembali Nur dengan memegangi dadanya yang berdebar-debar itu.


"Eemmm.. Bilang saja kamu suka Mark. Ditelepon saja sudah buat kamu hampir gila." Tersenyum tipis meledek Dinda.


"Iya, tapi aku gak PD." Dinda yang tak percaya diri, langsung menekuk bibirnya.


"PD aja kali Din, yang penting jangan coba coba kamu utarakan rasa sukamu terlebih dahulu." Jelas Nur lemah, ia kembali sedih. Statusnya belum jelas.


Dinda terlihat bingung. "Iya, mana berani aku Nur deketin cowok duluan." Ujarnya sedih, ya Dinda tipe wanita yang pemalu pada lawan jenis.


"Nanti, kalau Pak Idris belum ceraikan aku. Aku akan coba dekatkan kalian." Ujar Nur semangat. Menatap Dinda dengan senyum tulusnya.


"Gak, gak usah Nur. Aku gak berani. Dia itu terlalu tampan dan sempurna untukku." Jawabnya minder


"Ya usaha dulu lah. Jangan pesimis gitu. Kamu juga cantik koq. Tinggal ubah stylish saja. Ini kaca mata yang tebalnya sudah seperti martabak dilepas, diganti pakai softlens. Ini juga bibir, perlu dioles dengan lipstik, agar kamu terlihat lebih segar." Nur menunjuk bibirnya Dinda yang pucat.


"Eemmm.. Bibirku merah koq, walau gak pakai lipstiks. Aku gak suka pakai lipstik Nur." Keluhnya seperti ABG yang lagi centil centil nya.


"Iya deh, bibirmu memang merah seperti buah Cherry. Wajahmu cantik seperti bulan." Wajah Dinda berbinar binar dapat pujian dari Nur. "Dan rambutmu indah, seperti Indomie goreng kriuk kriuk..! Hahaaah....!'


Dinda lemas sudah, karena diledek oleh Nur. Suasana di ruangan itu mendadak hangat dan ceriah, karena Dinda ketahuan menyukai Mark. Padahal tadi suasana kamar itu sangat panas dan tegang. Karena Nur berfikir keras, tentang hubungan nya dengan Idris, yang ia tak tahu gimana kejelasannya.


"Sialan kamu Nur, jangan menghina dong! lihat saja rambut keriting ini akan berubah jadi spaghetti." Ujar Dinda menatap masam Nur, yang masih tertawa.


"Wwaahh... Akan kah ada yang bertransformasi?" Nur masih meledek Dinda. Yang membuat wanita itu jadi cemberut.

__ADS_1


TBC


__ADS_2