Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Racun


__ADS_3

Sore harinya.


Nur dan Idris berkunjung ke rumah paman Danu nya. Tentu saja mereka dikawal ketat oleh bodyguard. Sedangkan Dinda gak ikut, ia di ruang kerjanya Nur. Banyak kerjaan yang harus diselesaikan, sebelum acara tujuh bulanan, yang rencananya akan diadakan seminggu lagi.


"Nur, paman ucapkan banyak terima kasih atas bantuan mu!" ujar paman Danu dengan mata berkaca kaca. Pria tua itu terlihat melepas kaca matanya yang sudah berembun. Melap matanya yang sedikit berair. Karena ia emosional dengan nasib yang menimpanya. Gara gara putri semata wayang, pria pensiunan PNS itu, kehilangan banyak harta. Harusnya di usianya yang tak muda lagi. Ia bisa hidup tenang, menjalani masa pensiunnya.


"Iya paman, sama sama. Maaf, baru bisa berkunjung hari ini." Sahut Nur lembut, tersenyum manis penuh ketulusan pada pamannya.


Saat ini, hanya pria tua itu ada di rumah. Sedangkan istrinya masih di rumah sakit, menjaga Dila.


"Apa pria itu sudah dilapor ke pihak berwajib pak?" tanya Idris sopan. Ia juga sudah tahu semua ceritanya dari Mark, sore tadi. Jadi, Dinda dan Mark, sepakat menceritakan masalah keluarga paman Danu siang tadi.


"Belum Nak, gak ada guna dilaporkan. Memang Dila yang salah. Ia yang gadaikan semua serifikat berharga." Jawab paman Danu. Pria tua itu kembali mengusap matanya yang berkabut itu. Pria tua itu menyayangkan kelakuan sang putri, yang dengan mudahnya diperdaya, sehingga kena tipu besar besaran.


"Gak Pak, kasus ini harus diusut. Aku tak akan membiarkannya." Ujar Idris tegas, ia geram. Penipu itu harus diproses hukum.


"Kami gak sanggup bahas masalah itu lagi nak, mana keuangan juga tak cukup mengurus itu. Biaya Dila di rumah sakit juga tak sedikit. Besok ia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Dan kami masih membutuhkan uang banyak untuk itu. Lagi pula, Setelah ditelusuri, pria itu selama ini menggunakan identitas palsu." Jelas Pak Danu, dengan murung penuh keputusasaan.


Idris dan Nur saling pandang. Tatapan keduanya memancarkan kesedihan mendalam. Sikap baiknya Paman Danu dan sang istri, membuat idris tersentuh. Makanya ia akan membantu keluarga pak Danu, mendapatkan keadilan


"Bapak punya foto pria itu?" tanya Idris, menatap lekat pak Danu.


Pak Danu mengangguk cepat. "Ada Nak." ujarnya antusias, melihat Idris semangat untuk membantu, membuat Pak Danu senang bukan main. "Sebentar aku ambilkan Nak." Pak Danu bergegas masuk ke kamarnya Dila. Seingat dia, ada foto pernikahan Dila dan pria penipu itu.


Di kamar Dila.


Pak Idris terlihat sibuk mencari album foto pernikahan sang putri. Tapi, gak nemu.


"Pasti Dila sudah membakarnya." Pak Danu bermonolog. Hhuufftt.. Menghela napas panjang. Karena merasa kelelahan mencari album foto pernikahannya Dila.


"Oohh iya, ada di hape!" Pak Danu bicara sendiri. Ia keluar daru kamar sang putri. Saat itu juga, Nur dan Idris menatap ke arah Pak Danu, yang keluar dari kamar.


"Sebentar Nak!" ujar Pak Danu, bergegas ke ruang makan. Ia baru ingat, kalau ponselnya tersimpan di atas lemari makan.


Setelah mendapatkan yang ia cari. Pak Danu bergegas ke ruang keluarga, walau ia murung. Ia tetap berusaha tersenyum pada Nur dan Idris.


"Yang tersisa, hanya foto di handphone ini Nak." Menjulurkan ponsel kepada Idris.


Nur yang penasaran mendekatkan wajahnya ke ponsel yang dipegang sang suami. Ia ingin melihat wajah pria yang menipu Dila, dan pamannya itu.


"Tampan By, gayanya sudah seperti pengusaha sukses." Ujar Nur tanpa sadar, mengkomentari foto pria yang menipu Dila.


Eehhmm... Sahut Idris menekuk bibirnya melirik Nur.


Nur ingin tertawa dengan sikap Idris, yang cemburu dengan ucapan nya. "Tampan difoto, pakai filter ini mah!"


"Gak lucu sayang." Jawab Idris, beranjak dari duduknya, guna memberikan ponselnya Pak Idris.


Eemmm... Nur menampilkan ekspresi masam. Ia cemberut.


"Pak, fotonya sudah ku kirim ke hapeku. Aku ya g akan menangani masalah ini. Serahkan sepenuhnya padaku Pak. Pria ini harus dihukum!" tegas Idris.


"Iya Nak, iya, terima kasih banyak." Jawab Pak Danu.


Ngung

__ADS_1


Ngung


Ponsel yang masih di tangannya bergetar. Ternyata sang istri menelpon. Pak Danu pun mengangkat telepon itu, setelah minta izin oada Idris dan Nur.


"Iya bu, ini bapak mau ke sana." Itulah kalimat yang keluar dari mulutnya pak Danu. Sepertinya, istrinya itu memintanya cepat datang ke rumah sakit.


"Bibimu nelpon Nur, minta paman cepat ke rumah sakit. Dila katanya lapar. Mau makan bubur ayam" Ujar Pak Danu lemah.


"Iya Paman, syukurlah kalau Dila sudah ingin makan sesuatu." Jawab Nur lembut.


"Ayo kita sama sama berangkat ke rumah sakit!" ajak Idris pada Pak Danu.


"Iya Nak, terima kasih banyak!" sahut Pak Danu dengan senangnya. Setidaknya ia bisa naik mobilnya Idris. Karena barang bawaannya lumayan banyak.


Dari cerita yang Nur dapat dari pamannya, sepanjang jalan menuju rumah sakit. Dila mencoba bunuh diri dengan meminum racun rumput. Ya, pak Danu baru selesai menyemprot halaman rumahnya yang luas. Halaman depan, samping dan belakang.


Saat sedang lengah, istirahat di halaman belakang rumah, yang banyak ditumbuhi sayur sayuran. Dila malah mengambil wadah racun itu. Membawanya ke kamarnya. Dengan kebingungan serta putus asa, ia pun meneguk racun itu. Belum ketelan banyak, ia sudah memuntahkan racun itu dan teriak minta tolong.


Ibunya Dila yang sedang sibuk di dapur, bergegas ke kamar sang putri. Mendapati sang putri meringis kesakitan memegang mulut dan lehernya.


Istri Pak Danu berteriak, karena melihat cairan racun rumput bersimbah di lantai. Pak Danu bergegas masuk ke kamar Dila. Karena teriakan serta tangisan terdengar dari kamar itu. Saat itu juga ia melihat sang putri hampir meregang nyawa di dalam rengkuhan sang istri.


Mereka bergegas membawa Dila ke puskesmas, yang kebetulan dekat ke rumah. Setelah diperiksa, Dila sudah mengalami bengkak dan rasa sakit hebat pada mulut dan tenggorokan, serta lidah melepuh. Detak jantung cepat/abnormal, keringat deras, kelemahan otot, sakit perut, muntah-muntah, bahkan sudah muntah darah, sulit bernapas. Dila terlihat tak tertolong lagi.


Dila akhirnya dirujuk ke rumah sakit. Karena tenaga Medis di puskesmas, tidak sanggup menangani Dila, yang terlihat kritis. Dan ini ketiga harinya Dila dirawat di rumah sakit. Keadaannya belum membaik, ia masih diare dan mengeluarkan darah saat BAB. Bahkan ginjal sudah rusak, akibat minum racun rumput.


Cerita panjangnya Pak Danu, membuat Nur dan Idris terperangah. Sungguh menyedihkan sekali, kena tipu mentah mentah.


"Kalau mau bunuh diri, harusnya minum racun tikus atau serangga. Itu lebih ampuh. Atau racun sianida." Timpal sang supir, tanpa sadar. Sang supir geram dengan cerita pak Danu, yang duduk di sebelahnya.


"Oouuwwhh... Maaf Bos." Sahut si boy, menatap pak Danu di sebelahnya, dengan penuh penyesalan, karena merasa bersalah. Ia tahu ucapannya itu pasti menyinggung perasaan pria tua itu. Ia pasti menyakiti hati orang tua yang duduk di sebelahnya.


"Gak apa apa, yang dikatakan Nak Boy itu benar. Putriku itu memang bodoh. Ia pantas dapat hukuman ini. Semoga setelah ini, ia sadar dan bertaubat." Ujar pak Danu sedih.


"Iya Paman, semoga saja. Aminn!" Jawab Nur.


Mereka sampai juga di rumah sakit, tepat pukul enam sore


Saat melewati koridor rumah sakit, menuju ruang rawatnya Dila. Perasaan Nur jadi tak tenang. Bagaimanapun ia manusia biasanya. Yang masih menyimpan rasa sakit hati pada Dila. Rasanya tak nyaman ingin bertemu Dila.


Bukan Nur saja yang terlihat kikuk dan tegang saat ia masuk ke ruang tempat Dila dirawat. Ternyata Dila menunjukkan reaksi yang sama. Yaitu sama sama terperanjat.


"Nur... Kamu ke sini Nak!" Nur disambut penuh haru oleh bibinya. Wanita paruh baya itu, bahkan bergegas menghampiri Nur yang masih berdiri di ambang pintu dengan senyum kikuknya. Ia menjenguk wanita yang membencinya.


"Iya Bi, Bibi apa kabar?" Nur menyambut juluran tangan bibinya itu. Mereka berpelukan dengan hangatnya.


Sesekali Ia melirik Dila, yang terbaring di bed. Yang masih membuang muka ke arah jendela.


Masih sombong juga.


Nur membathin.


"Bibi baik nak. Gak nyangka kamu mau datang kesini?" ujar Bibinya dengan berderai air mata. Ia sangat terharu dengan sikap baiknya Nur. Dila sudah sangat jahat padanya. Tapi, lihatlah Nur masih datang menjenguk dan membantu mereka. Rumah sudah ditebus, dengan uang yang diberikan Dinda tempo hari. Sempat Dinda gak mau kasih uang. Mungkin mereka sudah jadi gelandangan. Karena rumah disita pihak bank.


"Iya Bi, tadi singgah di rumah. Ya sudah ke sini bareng paman." Mereka sudah tak berpelukan lagi. Dan kini Bibinya menuntun Nur mendekat ke arah Dila.

__ADS_1


Dila masih menampilkan ekspresi wajah sombongnya. Entahlah, sombong atau sedang malu. Nur kurang tahu. Yang jelas Dila menyambutnya dengan muka masam. Tidak ada senyum sedikitpun di wajah pucatnya itu.


"Cepat sembuh ya Dila..!" Nur memegang lembut tangan Dila. Wanita itu tak suka tangannya disentuh. Ia pun mengerakkan tangannya itu, menjauh dari Nur. Dan masih membuang muka.


Ciihh..


Masih saja sombong, dasar gak tahu diri.


Kini Idris yang membatin.


Ia pun mendekati sang istri. Merangkul Nur, kemudian membawa istrinya itu menjauh dari Dila.


"Baiklah Pak, Bu. Kami pamit. Waktu magrib hampir tiba." Ujar Idris menatap orang tuanya Dila secara bergantian. Lama lama di tempat itu, bisa membuat emosi, lihat sikap Dila yang sombong. Dikunjungi malah menunjukkan sikap dingin acuh tak acuh.


Dasar manusia sampah. Pantesan kena tipu. Gak punya otak.


"Kami pamit ya Paman, bibi. Kami akan terus bantu paman dan bibi." Ujar Nur lembut penuh ketulusan. Ia pun melirik sang supir Boy, yang ada di dekat pintu. Dan seketika Boy mendekat, sembari memberinya amplop warna coklat.


"Ini paman, terima lah!" Nur menjulurkan tangannya yang memegang amplop berisi uang. Uang untuk biaya Dila selama dirawat di rumah sakit.


Dengan tangan gemetar. Pamannya itu menerima uang itu. Ya, ia sangat membutuhkan uang. "Terima kasih Nur. Paman doa kan kamu sehat selalu, kalian sekeluarga sehat selalu." Ujar Pak Danu dengan sedihnya. Ia kembali melap matanya yang berkabut dari celah kaca matanya.


"Iya paman." Jawabnya sendu.


Kini ia mendekati sang bibi. Nur kini merangkul sang bibi. "Bibi yang kuat ya?"


"Iya Nur. Terima kasih banyak!" sahut Bibinya, memeluk erat Nur. Ia sangat bersyukur pada Allah, ternyata masih ada yang mau membantu mereka.


"Iya bi." Pelukan itu pun terurai.


Kini Idris yang mendapat giliran menyalim Pak Danu dan Istrinya.


"Kami pamit ya paman! Dila, cepat sembuh."


Mereka pun keluar dari ruang rawat itu, bergegas ke parkiran.


"Ya ampun.. Ada manusia seperti Dila itu?" Boy sang supir buka suara. Mau mati aja sombong."


"Boy, kamu koq mulutnya sekarang ember ya?" Jawab Idris dari tempat ia duduk sekarang.


Ya, mereka sedang diperjalanan mau pulang.


"Dia gak sombong Boy, mungkin ia malu. Malu pada kelakuannya." Timpal Nur sedih. Entah kenapa ia memang sedih, punya sepupu yang sombong seperti Dila.


"Iya, kelakuannya buat malu. Mau mati, gak mati mati. Harus tersiksa dulu ia, dengan mulutnya yang hancur melepuh gara gara racun rumput. Hahahaha..!" Boy, tak tahan lagi. Ia merasa lucu dengan kisah Dila, yang ia dengar hari ini. Bunuh diri, gak jadi mati. Malah menderita dengan kelakuan bodohnya


Husstt..


"Jangan mengejek, manusia tempatnya salah." Sahut Nur menatap tajam Boy dari spion.


"Iya Nona, maaf!" ujar Boy terlihat ketakutan dari spion. Tatapan Matanya Nur, seperti SP 1 saja.


"Eemmm.... Nak ayah... Nanti kamu sudah besar, harus baik seperti Mama ya?" ujar Idris mengusap lembut perut Nur yang Buncit.


Nur menyambut tangan sang suami. "Iya dong ayah." ujarnya tersenyum lebar. Boy melirik pasangan itu dari spion dengan mengulum senyum.

__ADS_1


__ADS_2