Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Tak sabar


__ADS_3

"Kita harus periksa, sekarang..!" Ujar Idris dengan semangat berkobar kobar. Saking semangatnya pria itu sampai loncat turun dari atas ranjang. Nur dibuat heran dengan tingkah sang suami. Yang sudah seperti Balita itu.


"Mau periksa, periksa ke mana? ini sudah pukul 22.44 wib." Nur menunjuk jam yang bertengger di dinding kamar itu. Tepat di hadapan mereka. Ia pun mengubah posisi jadi ter duduk.


"Ya ke Dokter obgyn lah sayang." Ujar Idris dengan tak sabarannya.


"Sudah malam, Dokternya pasti sudah tidur." Sahut Nur dengan mengulum senyum. Ia sangat terharu melihat sikap sang suami yang sangat semangat dan penasaran itu akan kehamilannya. Sangat berbeda saat ia hamil anaknya Angga. Pria itu sempat meminta nya untuk abor-si, karena belum siap untuk menikah.


Mengingat kisah masa lalunya yang kelam, membuat suasana hati Nur mendadak buruk. Bagaimanapun peristiwa itu sangat membekas di hati nya. Raut wajahnya mendadak mendung. Ia pun kembali membaringkan tubuhnya dengan miring ke kanan.


Tes


Air mata langsung mengucur deras. Wanita itu dengan cepat melap air mata yang membasahi pipinya itu. Ia malu pada Idris.


Melihat sang istri terisak. Idris dengan penuh khawatir nya kembali naik ke atas ranjang. "Kamu kenapa sayang?" bicara lembut dan meraih lengan sang istri, agar mau membalik badan. "Apa kamu tak ingin punya anak?" Ekspresi wajahnya Idris murung saat mengatakan itu. Ia sangat menginginkan keturunan. Karena anak yang kini bersama nya bukanlah darah dagingnya. Itu adalah anak yang diambil dari panti asuhan.


Istrinya Anne tidak mau punya anak, ia tak mau bentuk tubuhnya rusak karena melahirkan. Dan Anne mengatakan, patokan hidup bahagia tak mesti punya anak.


Nur menggeleng lemah. "Aku ingin sekali punya anak, bukan kah ini sudah pernah kita bahas sayang." ujar Nur masih dengan wajah sedih nya.

__ADS_1


"Terus, kenapa kamu menangis?" Idris dibuat semakin bingung dengan sikap Nur yang tiba tiba sedih.


"Gak apa apa. Aku teringat masa lalu saja Hubby. Masa lalu yang kelam dan pahit, karena kebodohan ku sendiri." Tanpa permisi air mata kembali mengucur deras. Idris dibuat tak tahan melihat Nur yang menangis terisak itu. Entah kenapa ia merasa sayang sekali kepada Nur, padahal mereka baru kenal. Dan cerita masa lalu Nur dengan detail bersama Angga tak ia ketahui. Yang ia tahu, Nur dan Angga pernah jadi pasangan. Angga meninggalkannya, serta Anne ikut ikutan memarahi Nur.


Dengan lembut, ia menarik Nur dalam rengkuhannya. "Yang lalu gak usah diingat lagi. Hidup masih panjang. Mari kita sama sama isi sisa hidup kita dengan perbuatan yang baik." Nur mendongak, ingin melihat wajah sang suami, yang semakin hari ucapannya semakin bijak saja


"Kenapa kita kenal nya gak dari dulu ya Hubby?" mengusap usap dagunya Idris yang ditumbuhi jambang halus.


"Iya ya, kalau kita kenal nya dari dulu, anak kita pasti sudah banyak." Sahut Idris, tersenyum lebar menatap Nur yang kini bermanja manja di atas pangkuan nya.


"Anak, anak lagi di pikiran Hubby. Hubby kan sudah punya anak."


"Masak sih?" Nur yang terkejut dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Sangat penasaran dengan pernyataan sang suami. "Mayang itu bukan anak Hubby?!" tanya nya lagi dengan tercengang.


"Iya, Mayang itu kami adopsi dari panti asuhan." Jelas Idris, ia meraih ponsel nya yang ada di atas nakas. Terlihat mengetik pesan.


"Koq bisa?" tanya Nur semakin bingung.


"Ya gitu deh, aku dan Anne gak dikarunia anak. Sudah jangan bahas Anne." Idris kini malah melakukan panggilan. "Sebentar sayang, Hubby telepon Mark Dulu ya? penasaran nya di pending dulu." bicara lembut pada Nur, sebelum panggilan nya diangkat Mark.

__ADS_1


"Mark, coba kamu cari apa masih ada praktek Dokter Obgyn yang buka malam ini?"


Haah.. ..


Nur dibuat terperanjat mengetahui sang suami sampai merepotkan Mark, soal ia yang sudah telat datang bulan.


"Seumpama tak ada praktek yang buka, kamu beli testpack." Titah Idris dengan ekspresi wajah yang kini serius.


"Ya Allah.. Hubby jangan repotin Mark. Besok kita bisa check. Sabar dong!" Jelas Nur tertawa tipis sambil menggeleng dengan herannya dengan sikap sang suami.


"Besok, nunggu besok itu rasanya seabad." Idris yang sudah merebahkan kembali tubuhnya. Menarik Nur dalam dekapan nya. Tangannya dengan cepat menjulur ke perut datar nya Nur. "Hubby yakin, di sini sudah ada anakku!" ujar nya lembut penuh rasa syukur dan penghayatan. Yang membuat Nur sangat tersentuh atas sikap sang suami yang memperlakukan nya dengan baik.


"Aminn... Ya Allah..!" Nur menimpali tangan sang suami dengan tangannya. Mereka selaras mengusap usap perut datar nya.


"Hubby sudah tak sabar nunggu esok subuh."


"Sama sayang." Sahut Nur sambil menguap.


"Baiklah kita tidur!" mencium kening sang istri dengan lembut. Mereka ber pelukan, bersiap siap untuk istirahat.

__ADS_1


TBC


__ADS_2