
Sudah seminggu berlalu, UFO tak ada yang mendarat di bumi. Idris sudah mencek ke seluruh penjuru dunia, apakah pesawat luar angkasa itu melakukan pendaratan. Hasilnya nihil, hal itu membuat Idris pusing tujuh keliling, karena tak kunjung bisa mengabulkan permintaan sang istri, bahkan Mark juga dibuat pusing oleh ngidam istri Bos nya itu.
"Bos, Coba bicara merendah pada Nona Nur, apakah Non Nur mau menaiki pesawat mainan UFO yang ada di time zone?" Mark memberi usul, dengan penuh kehati hatian. Semoga idenya itu berterima.
Idris menatap lekat Mark, ia cukup terkejut dengan ide asistennya itu. "Kasih ide, yang bagus an sedikit napa Mark? mana mungkin seorang Nur Intan, youtuber yang paling tôp di asia tenggara naik pesawat mainan di time zone?" Ujar Idris dengan muka masamnya.
"Ya bisa aja Bos, sekalian dibuat konten. Hai hai hai..!" Mark merasa lucu membayangkan Nur naik pesawat mainan.
"Gak, Aku gak mau istriku nanti jadi bahan tertawaan orang orang. Kau saja sudah tertawa, dengan membayangkan nya saja."
"Kalau gitu ide satu satunya, ya terpaksa kita harus pesan pesawat angkasa itu Bos."
"Lagi-lagi idemu gila. Kita sedang butuh dana banyak, kembangkan usaha kuliner. Buat pesawat luar angkasa emang gak butuh duit?" Ujar Idris masih dengan wajah kusutnya, memikirkan cara mewujudkan ngidam sang istri.
Gimana tak kusut, seminggu ini. Ia tak diizinkan sang istri menjamahnya. Termasuk mengelus perut buncit itu. Nur masih kesal pada Idris, karena keinginan nya tak diwujudkan.
"Semua ide gak masuk diakal menurut Bos. Kalau gitu, gak usah tanya aku lagi. Aku juga pusing dibuat Dinda, ngidam nya juga aneh." Kini Mark yang mengelus dadanya yang dari semalam gereget dengan tingkah istrinya itu, ya Denda sedang hamil dua bulan.
"Emang Dinda, hamil apa? hamil naik perahu nabi Nuh?" tanya Idris mengulum senyum. Koq ibu ibu hamil, permintaan nya aneh aneh.
Mark terlihat nelangsa, "Kalau Dinda hamil itu, aku akan cepat cepat bilangnya mustahil ter wujud Bos, dan aku tak akan setres karena ngidam yang tak mungkin itu."
"Terus Dinda ngidam apa? ngidam naik UFO juga? kalau ngidam naik UFO juga. Kita patungan saja buat kapal angkasa itu." Ujar Idris masih menahan tawa, ia merasa jadi lucu.
Ciihh..
Dasar pelit, mau patungan lagi.
"Coba bos perhatikan jari ku ini..!" menunjukkan sepuluh jari tangannya ke hadapan Idris.
Alis Idris tertaut, heran melihat tangannya Mark yang terluka. "Jarimu kenapa itu?" tanya Idris dengan penasaran nya.
"Digigit Bos." Jawab Mark lesuh.
"Digigit? Digigit apa? digigit tikus?" tanya Idris menahan tawa. "Makanya selesai makan sambal terasi tangan dicuci bersih."
__ADS_1
Ha.. Ha... Ha..
Idris tertawa lepas, membayangkan tangan Mark digigit tikus.
"Siapa juga yang makan terasi." Mark menampilkan Ekspresi sedihnya. Kalau tiap hari ngidam nya Dinda aneh aneh, kan buat ribet.
"Jadi tanganmu digigiti Dinda?" tanya dengan penasaran nya.
Mark mengangguk.
Hahahah...
Idris kembali tertawa terbahak bahak.
"Dinda ngidam nya, gigitin jariku satu persatu, Kalau belum berbekas dia gak akan tenang." Ujar Mark lemas, memperhatikan jari Jarinya yang meninggalkan bekas gigitan dengan memprihatinkan.
Hahhaha..
"Itu balasan untukmu."
"Mark, solusi untuk masalah ku apa?" teriak Idris.
Mark menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya dan menatap jengah Idris.
"Ajak Non Nur, main ke time zone! Bos cari time zone yang ada mainan pesawat ufo nya." Pungkas Mark dengan serius nya.
"Emang ada time zone yang begituan?"
"Gak tahu bos, semoga ada."
"Tugasmu, cari tempat bermain yang ada pesawat UFO nya. Kalau gak ada, kamu saya pecat." Tegas Idris, menatap tajam Mark yang
Mark kesusahan menelan ludahnya, setelah mendengar titah sang bos yang penuh dengan ancaman itu. "Siap dilaksanakan!" Jawab nya juga, dalam hati semoga ada tempat bermain yang ada pesawat angkasa nya.
***
__ADS_1
Siang hari nya
Nur baru saja selesai buat konten. Kali ini dia bahas tentang keluhan wanita saat hamil, tentu saja fokusnya ke bumil yang lagi ngidam. Tepatnya ngidam yang aneh aneh. Kontennya memang selalu diserbu banyak komentar dari netizen, tentu saja ada coment yang positif dan negatif.
Huufftt...
Nur menghela napas panjang, setelah mendarat kan bokong nya di sofa. Hari ini ia merasa lelah dan kurang semangat. Ternyata pura pura merajuk pada Idris, rasanya gak enak dan buat setres sendiri.
"Nur, aku iri lihat kamu, sejak hamil trimester pertama, kedua dan kini masuk trimester ketiga, kamu gak pernah ku lihat ngidam. Bahkan kamu seperti gak hamil saja. Semuanya terasa enteng, makan kuat, kerja juga kuat." Ujar Dinda, menatap lemas Nur. Ia sedang membandingkan dirinya dengan Nur.
Ia sejak tepat datang bulan, langsung mengalami morning sick, makan juga gak selerah.
"Eemmmm... Aku juga ngidam kali Dinda. Ya, mungkin setiap orang beda tingkat keparahannya. Dan kamu golongan wanita yang mengalami morning sick parah."
"Iya." Sahutnya lemas, ia ingin cerita ngidam nya pada Nur, prihal ia yang menggigiti jari Jarinya Mark. Tapi, ia malu untuk menceritakannya.
"Eemmm... Gak nyangka, kita tetap jadi teman walau sudah menikah. Terima kasih ya Din. Kamu tetap mau bekerja dengan ku." Meriah tangan Dinda, yang juga sedang duduk di sofa yang sama dengan nya.
"Aku yang harus berterima kasih. Karena kamu tetap mempekerjakan aku." Sahut Dinda dengan tulus dan merasa berhutang budi Pada Nur. "Berkat kamu juga, aku akhirnya mendapatkan pria impianku." Kini Dinda tersenyum tipis. Bahagia rasanya karena telah menikah dengan Mark.
"Iya Dinda. Apasih yang gak buat kamu? kamu itu tak hanya sekedar sahabat buat ku, tapi aku sudah anggap kamu sebagai keluargaku sendiri. Hanya kamu teman yang mau mendengar kan keluh kesahku, memahami dan menghiburku, di saat aku terpuruk. Abangku, satu satunya keluarga yang kumiliki, mengusirku cepat dari rumah. Padahal tanah kuburan ibu, masih basah."
Dinda sangat terharu mendengar curahan hatinya Nur. Tak tahan melihat sahabatnya itu bersedih, ia dengan cepat merangkul Nur.
"Kita sama, kamu syukur masih punya saudara laki laki. Sedangkan aku tak punya saudara di dunia ini." Bicara lembut, dan mereka masih berpelukan.
"Iya Dinda, aku tetap bersyukur koq. Walau saudaraku itu akhirnya mau menganggapku sebagai saudaranya sekarang."
"Dianggap saudara, karena kamu sekarang sudah jadi orang sukses." ujar Dinda. "Itulah kehidupan di dunia, kamu akan diakui keberadaannya jikalau kamu sukses." Jelas Dinda lagi.
Nur mengangguk lemah. Ia pun mengurai pelukannya sahabat nya itu.
"Dan kamu lah sahabat sejati itu." Kembali berpelukan dengan mata yang berkaca kaca.
"Bunda.. Bunda...!" Suara itu mengangetkan kedua wanita itu. Dan secara bersamaan mereka menoleh ke asal suara.
__ADS_1
TBC