Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Siapa yang ajak nikah


__ADS_3

Di ruang kerjanya Idris sedang terjadi persidangan yang sangat tegang. Karena kedua kubu yang diadili, tak merasa melakukan kesalahan apapun. Mark, tidak merasa mengajak Dinda ke kamarnya, serta membuka kancing baju Dinda. Sedangkan Dinda tak mengakui, kalau ia sengaja masuk ke kamar itu.


"Aku tak suka dengan kelakuan kalian hari ini, kalian berdua tak ada yang mengaku atas perbuatan yang kalian perbuat. Kalian itu bukan pasangan sah, yang seenaknya saja tidur bareng."


Nyut..


Hatinya Dinda sakit mendengar ucapan Idris yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu. Kalimatnya seperti tuduhan, kalau ia senang melakukan, seperti apa yang dituduh kan oleh Idris. Wanita yang tak tahu apa apa itu, kini hanya terdiam menunduk. Mau melakukan pembelaan tak akan diterima. Bukti nyata memang benar ia dan Mark kedapatan ber pelukan di atas ranjang.


Kalau Dinda hanya bisa diam dan pasrah akan tuduhan serta sanksi yang akan diberikan, beda lagi dengan Mark. Ia tak terima dengan sanksi yang diberlakukan Idris. Dimana Idris meminta Mark untuk menikahi Dinda. Sanksi itu selaras dengan perbuatan mereka.


"Bos, aku tak mungkin mengakui apa yang tak kulakukan, aku benar benar tak ada niat macam macam pada Dinda di rumah ini." Bicara dengan penuh kekesalan. Kenapa Bos nya itu kali ini cara berfikirnya sangat sempit. "Kita bisa periksa CCTV, kenapa Dinda malah nyasar ke kamar ku!" tegas Mark, tak mau diintimidasi oleh sang bos.


"Ya sudah, kamu periksa sana. Ku beri waktu 10 menit!" Tegas Idris, menatap tajam Mark.


Dengan wajah muram, Mark turun ke lantai satu, ia akan memeriksa CCTV.


Sepeninggalannya Mark, Dinda menatap Idris dan Nur secara bergantian. Ia sedikit heran dengan ekspresi Nur yang sedari tadi mengulum senyum.


"Bos, ini semua pasti salahku. Mungkin aku yang masuk ke kamarnya Pak Mark, tanpa sadar. Karena aku ada kebiasaan bisa dikatakan jenis penyakit, yaitu disaat setres mau jalan sendiri disaat tidur." Jelas Dinda dengan penuh ketakutan.


Ia tak mau Mark benci padanya, karena ia yang memang salah. Ditambah sanksi yang diberikan Idris untuk mereka, sepertinya tak disetujui oleh Mark. Karena terlihat Mark sedari tadi menatap nya macam, penuh kebencian.


"Makanya Dinda, jangan Mark terus yang kamu pikirkan, ya gini akibatnya." Ujar Idris melirik sang istri yang sedari tapi terlihat senang.


Dinda terdiam, ia jadi malu sendiri. Sepertinya Nur sudah cerita pada Idris, kalau ia menyukai Mark.


Tok


Tok


"Masuk..!" ujar Idris.

__ADS_1


Terlihat Mark masuk ke ruangan itu dengan lemas nya. Seperti sedang kehilangan arah hidup.


"Bagaimana?" tanya Idris dengan ekspresi wajah datar nya.


"CCTV ternyata rusak." Sahut Mark dengan penuh keputusasaan.


"Berarti kamu tak bisa buktikan kalau kamu tak bersalah."


Mark terdiam.


"Aku tak memaksa. Kalian berembuk dulu, kapan ijab kabul nya dilaksanakan!" tegas Idris, berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa.


Rasanya ia begitu senang melihat Mark yang terlihat frustasi itu. Idris menggandeng tangan sang istri keluar dari ruang kerjanya itu. Mereka akan ke rumah sakit memeriksa. Apakah Nur hamil atau tidak.


Katanya tak memaksa, tapi disuruh berembuk! Mark membathin, menatap kesal sang bos, yang menurutnya hari ini bersikap lain dari sifatnya.


Dinda, yang menunduk karena takut pada Mark, sesekali melirik pria itu dengan kikuk nya. Dan disaat Mark menatap nya, ia pun langsung membuang muka.


Deg


Jantungnya Dinda berdebar kuat, karena terkejut mendengar pertanyaan Mark.


"Ti, Tidak pak!" Sahut nya dengan tergagap. Dinda sangat ketakutan melihat ekspresi pria yang ia taksir itu.


****


"Hihihi.... Hubby coba lihat video Dinda yang gentayangan ini." Menyodorkan ponsel kepada Idris. Di mana rekaman hasil dari CCTV sudah disimpan Idris di ponselnya dan dikirim juga pada Nur.


Kini mereka sedang di perjalanan menuju rumah sakit, akan melakukan pemeriksaan rahimnya Nur.


"Gak bosan kamu lihatin itu terus?" tanya Idris, menggeleng tak percaya dengan tingkah sang istri, yang dari tadi tak henti henti nya tertawa, karena menonton rekaman cctv yang menampilkan Dinda berjalan seperti vampire menuju kamarnya Mark.

__ADS_1


"Lucu tahu By..!" masih tertawa lepas, mengulang ulang video nya Dinda yang berjalan melompat lompat dengan kedua tangannya di julurkan.


"Aneh, koq ada wanita seperti itu. Tidur sambil berjalan. Biasanya kan itu terjadi pada anak anak." Ujar Idris tersenyum lebar pada Nur. Ya memang tingkah Dinda sangat lucu di video itu.


"Terimakasih ya By, sudah mau kabul kan keinginan ku." Menyimpan hape di tas, kemudian bergelayut manja di lengan sang suami.


"Iya sayang. Tapi, jangan senang dulu. Mark, tidak akan mau melakukan hal yang bertolak belakang dengan keinginannya. Apalagi mereka itu beda keyakinan." Ujar Idris lembut.


"Iya sih, tapi aku pernah lihat, Mark belajar ilmu fiqih gitu. Jadi, aku mikir nya dia mau masuk islam. Makanya aku ada ide, jodohin dia dengan Dinda. Dengan adanya kejadian ini. Karena Dinda suka sekali pada Mark." Nur bicara dengan serius nya, tangannya meraih jemari sang suami yang sedari tadi ada di perutnya.


"Dinda itu mau melawan arus, kalau mau cintai seseorang ya, yang sama keyakinan. Biar gak ribet." Ujar Idris, tak suka dengan sikap Dinda yang suka pada Mark.


"Hubby, kita tidak pernah bisa memilih jatuh cinta pada siapa. Rasa itu hadir begitu saja dan tak bisa dihindari."


" Seperti kamu yang suka pada Hubby?"


"Iihh... Ke PD an, siapa juga yang suka." Nur menjauhkan tubuhnya dari dekapan Idris, wajahnya cemberut, menatap masam Idris yang terlihat mengulum senyum menatap Nur.


"Iya deh Hubby yang suka, kalau gak suka ngapain Hubby mau diajak kawin. Kan aneh, ada orang yang tak mau ngaku, tapi ajak orang kawin."


Idris tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa lagi.


Hahahaha..


Satu pukulan manja mendarat di dada bidang sang suami. Tingkah manjanya Nur membuat Idris gemesh, ingin rasanya ia menggigit pipinya Nur, saking gemesnya.


"Iya deh, aku ngaku, aku suka sih lihat Hubby pada pandangan pertama. Hubby itu baik, mau nolongin aku, makanya timbul niat untuk memiliki. Tadi nya sih pesimis, karena sainganku Miss Universe. Eehh gak tahu nya kecantol beneran." Ujar Nur tersenyum tipis. Rasanya ia malu sendiri pada dirinya yang terjebak dalam permainannya. Niat mau balas dendam, malah suka beneran. Syukur bak gayung bersambut. Kalau tidak bisa nelangsa ia.


"Tak penting lagi siapa yang duluan suka. Yang penting sekarang, gimana rasa ini terus tumbuh dan berkembang, sehingga ia tetap kuat. Disaat ada goncangan, rasa cinta kasih ini tetap bertahan." Ujar Idris lembut, menatap mata coklat nya Nur yang berbinar benar, karena merasa bahagia mendengar ucapan Idris.


TBC

__ADS_1


__ADS_2