Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Sulit jatuh cinta


__ADS_3

Pagi pagi sekali Nur dapat telepon dari Abangnya yang di kampung. Abang nya itu menanyakan tentang informasi yang ia dapat dari Dila, Prihal Nur yang telah jadi istri simpanan. Nur membenarkan info yang di dapat sang Abang. Hal itu membuat Nur habis dimarahi dan cerahami saudara laki laki nya. Apalagi video ia yang jadi pelakor, sudah tersebar di kampung. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Dila.


"Maaf kan Nur bang!" Nur memejamkan kedua matanya. Rasanya takdir hidupnya sangat barat untuk di jalani nya.


"Apa cukup dengan kata maaf? kamu itu bisanya hanya buat malu keluarga besar. Tak pernah kamu mikir akan akibat dari perbuatanmu. Dulu kamu coreng nama baik keluarga dengan berzina dan sekarang kamu merusak rumah tangga orang."


Tut


Nur tak sanggup mendengar umpatan kebencian untuknya lagi. Seandainya ia di suruh memilih jelas ia tak mau jadi istri simpanan. Ia juga sudah taubat. Nurut pada sang ibu. Agar jodoh untuknya, ibunya yang nentuin. Tapi, ia selalu ditinggalkan di hari pernikahannya. Rasanya itu sangat sakit sekali.


Sang Abang dengan kesalnya kembali menghubungi nomornya Nur. Dan Nur menolak panggilan itu. Karena ia sedang tak ingin diceramahi dan disalahkan lagi.


"Kamu kenapa Nur?" tanya Dinda dengan heran nya. Ia baru saja Keluar dari kamar mandi. Tangannya terlihat sibuk, mengering kan rambut keritingnya dengan handuk kecil.


Nur melirik sekilas Dinda, Tangannya dengan cepat menyeka air matanya. "Gak apa apa Din, aku kangen ibu." Air mata yang dilap kembali mengucur deras. Karena ia memang sangat rindu ibunya saat ini. Hanya ibunya yang memahaminya dan menerima ia apa adanya dan tulus mencintai nya.


"Kalau kamu kangen ibumu. Kamu bisa berziarah." Dinda ikutan sedih. Ia bahkan sejak kecil sudah yatim pintu. Bahkan ia dibesarkan di pasti asuhan.


"Apa bisa? kita aja di kurung di sini." Nur mendudukkan bokongnya dengan lemah di kursi yang ada di kamar itu.


"Iya sih, "


Hhhuuuuffftt..


Dinda menarik napas panjang. Ia pun Mendekati meja rias milik nya Nur. Mendudukkan bokongnya di kursi. Mulai menyisir Rambutnya dengan mengulum senyum. Tingkah Dinda yang sedikit aneh itu membuat Nur sedikit terhibur. Wanita itu terlihat mengagumi kecantikannya.


"Jatuh cinta berjuta rasanya. Biar siang, biar malam, terbayang wajahnya. Jatuh cinta berjuta indahnya. Biar hitam, biar putih, manislah nampaknya."


Nur bersenandung lagunya lawas. Sontak Dinda menoleh ke arah Nur, yang tertawa tipis padanya.


"Iihh Nur, kok kamu dari semalam godain aku terus sih..?" Dinda merengut menatap Nur yang terlihat senang itu.

__ADS_1


"Eeuumm... Aku senang lihat kamu sikap nya begini Din. Dari pada mukamu ketat terus. Aku capek lihat nya. Kan gini, enak lihat nya. Senyam senyum, wajah berbinar binar, ucapan jadi lemah lembut." Ujar Nur terlihat meresapi ucapannya.


"Kamu ini, aku jadi malu tahu. Jangan bilang bilang sama Abang Mark. Kalau aku suka padanya." Dinda mengacungkan jari telunjuknya pada Nur yang masih menertawakan nya.


"Cieeehh.. Manggil Abang.. Abang...!" Nur malah semakin menggoda Dinda. Yang membuat wanita itu malu pada Nur, ia yang malu, menutup wajahnya dengan tangannya. tingkah Dinda memang aneh dari semalam.


Hahahha..


Nur merasa terhibur dengan adanya Dinda di rumah itu. Masalah barat dalam hidup, seolah jadi ringan seperti kapas saja.


Dinda yang kesal pada Nur, karena digodain terus, akhirnya memukul pelan lengan Nur saat wanita itu duduk di kursi yang ada di sebelah Nur.


"Aku sudah lupa rasanya, gimana jatuh cinta Din." Ujar Nur sedih, tatapan nya lurus ke luar jendela, Seperti sedang menerawang.


Dinda terlihat tertarik untuk mendengar kalimat yang akan keluar selanjutnya dari mulut sahabatnya itu.


"Yang lalu gak usah diingat lagi." Ujar Dinda memegang lembut tangan Nur.


"Ingin nya gitu Din. Tapi, rasanya terlalu sakit hingga kita takut untuk jatuh cinta lagi."


"Kamu bicara nya seperti sudah banyak pengalaman saja." Nur melirik Dinda heran. Temannya itu Sok tahu soal asmara. Punya cowok saja gak pernah.


"Pengalaman itu tak harus di dapat saat kita mengalaminya Nur. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain." Jelas Dinda serius menatap Nur.


"Iya sih, tapi Sepertinya aku akan terluka lagi." Ujar Nur sedih. "Tapi, aku sudah siap koq DC."


"Kamu cinta pak Idris Nur?" tanya Dinda penuh selidik.


Huufftt...


Nur menarik napas barat. Rasanya sangat susah menjelaskan apa yang ia rasakan saat ini. "Apa itu bisa dikatakan cinta? aku saja nawarkan diri untuk dinikahi Pak Idris, karena Ingin balas dendam. Kami saja baru kenal dua minggu. Apa secepat itu jatuh cinta?" melirik Dinda dan tersenyum miring.

__ADS_1


"Hanya butuh satu detik untuk orang jatuh cinta Nur." Ujar Dinda.


"Tapi, itu tak berlaku untukku Din. Aku tak berani lagi jatuh cinta."


Eehhmmm...


Suara bariton itu mengagetkan Nur, yang masih diselimuti kecemasan. Ia pun langsung menoleh ke asal suara. Tampaklah pria yang sedang mereka bahas di ambang pintu dengan muka murungnya.


"Hub, Hubbyy..." Nur tergagap. Ia sungguh terkejut dengan kehadiran sang suami di kamar itu. Asyik ngobrol, membuat keduanya tak sadar Kalau Idris sudah ada di kamar itu.


Idris menghampiri kedua wanita itu dengan tatapan datarnya. Tatapan mata fokus ke Nur, yang terlihat gugup. Kemudian pria itu melirik Dinda.


"Dinda tolong tinggalkan kami berdua di kamar ini!" titah Idris tegas. Pria itu terlihat tampan sekali pagi ini, sudah rapi dengan setelan jas hitam dan dasi warna maroon.


"Oouuww.. Iya pak!" Dinda menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada pria itu. Ia pun menyeret kakinya menuju pintu, dengan sesekali menoleh ke belakang untuk melihat keadaan sang sahabat yang ia tinggalkan dalam keadaan tegang.


Prak..


Suara pintu ditutup membuat Nur terperanjat, karena ketakutan. Ya Nur sedikit ketakutan dengan keberadaan Idris di ruangan itu. Karena tatapan Idris saat ini terlihat tak bersahabat.


"Eemmm.... Sepertinya aku sudah salah dalam ambil keputusan." Ujar Idris masih dengan ekspresi wajah datarnya menatap lekat Nur.


"Keputusan? keputusan apa Hubby..?" tanya nya sedikit gagap, sudut bibir kini tertarik sempurna, menciptakan senyum terpaksa. Ya Nur pandai menyembunyikan perasaannya. Ia sedang was-was. Tapi, masih bisa tersenyum.


"Apa kamu masih mencintai Angga?"


Deg


Degup jantungnya Nur berdebar kuat. Kenapa malah bahasa Angga.


"Angga..?" ujarnya tak percaya nya. Nur akan panik dan sedih jika membahas pria itu.

__ADS_1


"Iya, Angga. Pria yang sangat kamu cintai itu. Saking cinta nya kamu gak bisa lupa kan dia. Gak bisa jatuh cinta lagi pada orang lain." Bicara masih dengan tatapan datar, yang membuat Nur bingung menyimpulkan sikap Idris saat ini.


TBC


__ADS_2