
"Mayang...!" Nur merentangkan kedua tangannya, bersiap menyambut gadis mungil yang cerewet tapi gemesin itu. Saat diam saja Mayang sudah terlihat lucu, apalagi kalau ia mulai bertingkah dengan pola anehnya. Yang bisa jadi hiburan di saat penat. Yang sukses membuat geleng-geleng kepala sekaligus tersenyum-senyum.
Puas berpelukan dan cipika cipiki, Mayang langsung melorotkan tubuhnya, kemudian mencium gemes perutnya Nur.
"Eeuummmaaacchh.. Eemmmmuuaacchh...!" Tingkah Mayang sama persis dengan Idris. Jelas saja Mayang bisa melakukan seperti itu, karena ada gurunya sang ayah. Perlakuan Mayang siang ini, membuat Nur jadi teringat suaminya itu. Sudah satu minggu Idris dilarang oleh Nur, untuk menyentuh nya. Nur jadi merasa bersalah, ia tak seharusnya egois pada suaminya itu.
Saat memikirkan itu, tiba tiba saja Idris sudah ada di hadapannya. Dan ikut ikutan dengan Mayang mengusap usap perutnya yang ditutupi oleh dress bumil itu.
"Hubby.!" Nur terperanjat, sangat terkejut dengan kelakuan Idris dan Mayang, yang mengajak dedek bayi dalam kandungannya berbicara.
Idris termehok dengan sikap Nur yang terlihat terkejut itu. "Maafin Hubby ya? Hubby salah, tak seharusnya Hubby nanyain kamu waktu itu, ngidam apa?" ujar Idris memelas, kedua tangan mengatup sempurna. "Hubby gak bisa wujudkan keinginan mu itu sayang, gak ada pesawat UFO yang turun ke bumi."
"Ayah... Ayah... Aku mau naik pesawat UFO!" Mayang yang dari tadi serius memperhatikan Idris yang memelas pada Nur, langsung nimbrung, apalagi ia mendengar kata UFO yang keluar dari mulutnya Idris. Tadi di sekolah, mereka membahas benda benda langit. Dan di majalah ada gambar benda benda yang bergerak di langit.
Gubrak..
Idris menepuk jidat nya. Ia pun ambruk dihadapan sang istri dan anaknya. Ia merasa bintang bintang sedang berputar di kepalanya. Karena pusing dengan permintaan Mayang, yang ikut ikutan ingin naik pesawat luar angkasa itu.
"Hubby...!" Nur bergegas turun dari sofa, berusaha menyadarkan sang suami, yang berpura pura pingsan.
Kenapa gak dari kemarin kemarin aku akting sakit ya?
Idris membathin.
"Ayah... Ayah... Bangun...!" Kini Mayang terlihat mengkhawatirkan ayahnya itu.
"Dinda... Panggilkan Mark..!"
Dinda yang ada di luar ruang studio itu bergegas masuk ke dalam.
"Nur." ujar Dinda dengan perannya, mendapati Idris terkapar di lantai.
"Panggilkan Mark..!" Titah Nur lagi dengan bingung nya. Terus berusaha menyadarkan Idris, dengan menepuk nepuk pelan pipi serta meng goyang lengan sang suami.
"Suamiku gak ada di sini Nur." Ujar Dinda, ia baru saja mencari keberadaan Mark di rumah itu.
__ADS_1
Nur dibuat bingung, kenapa Idris tidak bersama Mark. Biasanya selalu bersama. Seperti ayam ayam dengan induk nya.
"Ya sudah panggil dokter." titah Nur pada Dinda, Nur sudah sangat mengkhawatirkan Idris. Ia beranggapan suaminya itu pingsa , karena ia abaikan selama ini.
"Baik Nur!" Dinda terlihat sedang menelpon.
"Bunda.. Bunda... Mata ayah, terbuka sebelah!" Ujar Mayang dengan polos nya. Saat tak sengaja melihat sebelah mata Idris melek.
"Apa...? Hhhuuuuuufftt..! Hubby... Hubby.. Bangun...!" ujar Nur kesal, laporan Mayang, membuatnya sadar. Kalau suaminya itu sedang akting.
"Iihhh... Kesel...! bangun... Gak usah berpura pura pingsan lagi." meng goyang geram lengan sang suami.
Dengan per lahan kedua matanya Idris terbuka.
"Sebel..!" Nur yang terduduk di lantai, dengan cepat membelakangi Idris. Yang kini cengengesan menatap nya.
Ia mendudukkan bokongnya, memeluk erat sang istri dari belakang. Nur masih menampilkan ekspresi wajah kesal, tapi ia menahan tawa.
"Cie... Cie...!"
Idris tersenyum lebar pada sang putri, ia malu karena jadi bahan tontonan anaknya. Tapi, ia sedang tak ingin melepaskan Nur. Ini kesempatan emas buatnya, untuk berbaikan dengan istrinya itu.
"Iihh... Lepas.. Lepaskan Hubby.. Gak malu di lihatin Mayang!" ujar Nur dengan kesal, tapi ia sedang menahan dirinya agar tak tertawa. Apalagi kini wajah sang suami sudah tenggelam di ceruk lehernya.
"Ayo sini sayang..!" Idris malah menarik tangan sang putri. Dan mereka jadinya ber pelukan. Nur pun tak sanggup lagi bersikap dingin. Jadilah ia membalas pelukan sang suami dan anaknya itu dengan perasaan yang bahagia sekali. Sudah seminggu ini ia dan Idris tak bersentuhan. Walau mereka tetap komunikasi.
"Ayo ayah, kita ke time zone naik pesawat luar angkasa..!" ujar Mayang penuh harap. Ia kini terlihat menarik narik lengan Idris, agar bangkit.
"Iya sayang.." menatap gemes sang putri. Per lahan Mayang melepas cengkraman tangannya dari sang ayah.
"Yuk sayang. Kita naik pesawat Ufo..!" Ujar Idris semangat, menatap Nur dengan mata yang berkaca kaca.
***
Akhirnya keluarga kecil yang bahagia itu bertolak ke Mall, yang menyediakan tempat bermain, yang ada wahana pesawat UFO nya.
__ADS_1
Wajahnya Nur langsung berbinar binar, bahagia sekali melihat pesawat UFO mainan itu.
"Wooowww... Asyik.... Terbang dengan pesawat UFO...!" teriak Nur merentangkan tangan, saat wahana pesawat ufo yang dinaikinya itu sudah bergerak berputar.
Idris dibuat tercengang dengan tingkah sang istri, yang ternyata tak malu menaiki permainan anak anak itu. Tahu dengan naik permainan ini Nur akan senang, ia tak akan menderita selama seminggu ini, karena tak diizinkan Nur untuk menyentuh nya.
"Ayah.... Ayah... Da .... Da... Da.... Da...!" Kini Mayang yang terlihat senang. Jelas senang, ia dan bundanya naik dalam wahana yang sama.
Moment langkah itu langsung diabadikan Dinda, menayangkan siaran langsung. Dalam sekejap postingan dibanjiri komentar.
"Hat hati...!" Idris membantu Nur turun dari pesawat UFO itu.
"Gendong...!" pinta Nur dengan manja nya. Dengan semangat empat lima Idris menggendong Nur menjauh dari wahana itu.
Raut wajah penuh kebahagiaan terjetak jelas di wajah pasangan itu.
"Ayah... Ayah...!" teriak Mayang kesal, karena tak ada yang menyambutnya di pos pemberhentian. Ia terlupa kan, orang tuanya sibuk bermesraan.
Mark yang sempat lengah sejenak, karena asyik bersama Dinda, bergegas menyambar Mayang dan menggendong nya.
"Ayahmu sudah lupa sama mu Mayang." Ujar Mark, mengompori.
"Iya paman, mereka baru baikan. Wajar mesra mesraan."
"Apa...?"
Mark terkejut mendengar ucapan Mayang, yang cara berfikirnya sudah seperti orang dewasa, yang bisa berfikir. Tadinya Mark mengira, Mayang akan menangis histeris, minta digendong Idris.
"Ayah dan Bunda, baru baikan. Biarkan mereka mesra mesraan, kita makan ice cream saja paman." Celoteh Mayang lagi menatap Mark dengan penuh harap.
"Baiklah...Kita makan ice cream..!" Ujar Mark, menarik tangan Dinda yang dari tadi berjalan di sebelahnya, ia pun merangkul sang istri, yang tadi sibuk main hape, membalas komentar netizen.
"Sudah lama kita gak jalan jalan di waktu kerja seperti ini." Ujar Mark, melirik Dinda yang ada di sebelahnya.
"Iya ya Uccok." Ya, Dinda memanggil Mark dengan sebutan Uccok. Karena dulunya Mark, memanggil. Dinda dengan nama Butet. Panggilan itu tercipta, disaat mereka keduanya dulu baru menikah bermusuhan.
__ADS_1
TBC