
Grapp...
Mark dikejutkan dengan Anne yang tiba tiba saja nongol di hadapan mereka. Merampas dengan cepat Mayang dari gendongan pria itu. Ingin dia merampas Mayang kembali. Tapi, ia mengurungkan niatnya itu, ia tak boleh melakukannya dengan gegabah. Karena ia tak mau ada keributan di keramaian itu. Anne tipe wanita frontal.
"Mama kangen banget samamu sayang!" Anne menghujani Mayang dengan banyak kecupan, di wajah Mayang dengan rindu yang membuncah, sorot matanya terlihat sangat merindukan anak kecil itu. Dan Mata indah dengan bulu yang lentik itu berkaca-kaca sudah.
"Kamu apa kabarnya sayang?" menatap Mayang dengan sendu. Gadis kecil itu masih bergelayut manja dalam gendongannya. Walau Anne tak perhatian pada Mayang, karena Anne sering keluar kota. Tapi, ia sayang sekali dengan Mayang. Makanya ia setuju mengangkat Mayang jadi anak.
"Baik Ma." Melap air mata yang menetes di pipinya Anne dengan lembut. "Mayang berat loh Ma. Mending Mayang di gendong om Mark." Tangan gadis kecil itu menjulur ke arah Mark. Tapi Anne tetap menahan Mayang dalam dekapannya. Ia tak mau Mayang beralih ke Mark.
"Mama masih kangen sayang." bicara dengan terisak..
"Mama kenapa menangis?" tanya Mayang penuh selidik.
"Mama sedih, karena gak bisa lagi bersamamu dan ayah mu sayang." Ujar Anne masih terisak.
Saat ini Dinda dan Mark, hanya bisa menyaksikan interaksi antara ibu dan anak itu.
"Oouuww... Iya ya ma, ayah sudah kawin lagi dengan bunda Nur. Dan sebentar lagi, Mayang akan punya adik... Horee... Yee...!" Sorak Mayang, dengan gerakan tangan yang lincah.
Nyut..
Air muka Anne, berubah dengan cepat. Darahnya terasa mendidih, hingga terasa sampai ke ubun ubun, jika ia mendengar nama Nur.
"Itu... Ayah dan Bunda...!" Kedua matanya Anne mengikuti arah gerakan tangannya Mayang yang menjulur ke arah Idris dan Nur, yang terlihat menghampiri mereka.
Dan saat ini, Idris masih membopong Nur, yang terlihat sudah tak tenang dalam gendongan sang suami. Karena Anne menatap tajam me arah mereka.
"Hubby... Turunkan aku. Bisa terjadi perang disini." ujar Nur pelan, tak mau menatap ke arah Mayang, yang menatapnya nanar. Nur kini menatap Dinda, dengan seribu tanda tanya. Kenapa malah mereka bertemu Anne di mall ini.
"Hubby... Turunkan..!"
Idris, akhirnya menurunkan Nur. Ia dengan kikuknya merapikan penampilan nya. Jujur, hr merasa tak nyaman dengan tatapan devils dadi Anne.
"Sayang, kenapa kamu gak pulang ke rumah?" ujar Anne sendu, menyeret dua langkah, agar lebih dekat ke Idris dan Nur.
Trap...
__ADS_1
Nur yang terkejut, memundurkan langkah nya.
Idris melirik Nur yang kini berada, tak jauh di belakang nya. Kemudian beralih menatap Anne.
"Kita sudah tak ada hubungan lagi. Itu sudah cukup untuk jawaban atas pertanyaan konyolmu itu." Ujar Idris tegas, sama sekali tak menampilkan ekspresi kasihan pada Anne, yang terlihat sedih dan sangat terpukul itu.
"Tujuh tahun kita membina biduk rumah tangga. Apa tak ada sedikit kebaikan yang kamu ingat, saat kita bersama? sehingga kamu dengan cepat melupakanku." Ujarnya masih dengan ekspresi wajah teraniayanya.
Anne tak habis pikir, Idris dengan cepat melupakannya. Bahkan ia tak bisa terima alasan Idris, untuk menceraikan nya. Karena ia merasa selama ini, melakukan tugas sebagai istri dengan baik.
"Di sini, bukan tempat yang tepat untuk membahas itu." Mengambil Mayang dari dekapan Anne.
Sikapnya Idris, membuat hatinya Anne semakin hancur. Ia masih sangat mencintai pria itu.
"Ayo sayang, kita pulang!" menarik lembut tangan. Nur.
Grap..
Anne mencengkram kuat tangan Nur. Wanita itu akhirnya menghentikan langkahnya. Menatap enggan, Anne yang terlihat penuh amarah itu. Suasana jadi semakin tegang dan mencekam saat ini. Dinda dan Mark, terlihat waspada.
Ekspresi wajah penuh amarah, berganti cepat jadi seperti manusia yang dizholimi. Nur panik, karena mereka sudah mulai jadi pusat perhatian orang orang penghuni di mall itu.
"Kembali kan suamiku..!" kali ini Anne bicara dengan penuh amarah, ekspresi wajah berubah dengan cepat, seperti binatang buas siap menerkam. Sorot mata tajam itu memerah dengan rahang mengeras.
Idris mencoba melepas cengkraman tangan Anne dari lengan Nur. Hal itu membuat Anne semakin menggila. Amarah menyelimuti hatinya. Menatap Idris dengan devil. Pria si hadapannya berbuat curang dengannya.
Puukkk..
Tak terduga duga, Anne melakukan aksi gila nya. Ia meninju kuat perut Nur yang membusung itu.
"Aawww....!"pekik Nur kesakitan sakaligus terkejut, memegangi perutnya.
Grapp..
Dengan satu tangan, Idris menahan tubuhnya Nur yang hampir ambruk, dengan panik nya.
"Nur..!" Dinda juga ikut menahan tubuh Nur. Dan Mayang turun cepat dari gendongannya Idris.
__ADS_1
"Tidak...!" teriak Idris, bergegas cepat membopong Nur, ke parkiran, tempat mobil mereka berada, Yang diikuti oleh Dinda yang berlari mengejar langkah Idris dengan tidak tenangnya, sembari membopong Mayang. Yang tak henti hentinya bertanya. Kenapa Mamanya Anne, meninju perut bunda nya.
"Berdoa ya sayang, semoga bunda baik baik saja." Ujar Dinda penuh kekhawatiran menenangkan Mayang.
Sedangkan Mark berhasil mengejar Anne membekuk wanita gila itu. Dan saat itu juga, body guardnya Anne terlihat menghampiri mereka.
"Lepas..!" berontak dari cengkeraman Mark.
"Tidak, Nyonya harus mempertanggungjawabkan perbuatan Nyonya." Menantang para bodygurdnya Anne dengan mengunci pergerakan Anne, membekuk tangan ke belakangyannya
"Tolong.... Kenapa kalian diam saja..!" teriak Anne dengan frustasi nya. Kesal pada pengawalnya Yang diam saja, memperhatikannya dibekuk Mark.
"Sialan... Bantu aku lepas dari bajingan ini!" teriaknya lagi naik pitam pada pengawalnya.
"Bergerak kalian, ku patahkan tangan wanita gila ini" Mark, menekan kuat tangan Anne yang saling bersilang di belakang tubuhnya.
"Mark.... Sialan... Dulu kau itu anak buah ku.. Dan sekarang kau bicara seperti itu tentang saya. Kau yang Gila... !" Anne semakin menggila. Ia tak memperdulikan sekitar yang menyaksikan adegan yang mereka lakoni. Ia kesal pada Mark, yang mengatakannya wanita gila.
"Beda dulu dengan sekarang!" Mark mendorong tubuh Anne, agar keluar dari Mall itu.
Pukk..
Mark ditimpuk dengan kursi plastik dari belakang, tepat di kepalanya. Anak buah Anne, tak mau usaha mereka sia sia.
Mark melayangkan kakinya ke belakang. Tepat mengenai tongkat ajaib pengawalnya Anne.
"Oouuww...!" pengawal lainnya melakukan serangan pada Mark, yang masih menahan Anne.
Pukk
Ia kembali kena Serang. Mark cukup kewalahan melawan empat Body guard. Akhirnya Anne lepas dari rengkuhannya. Wanita itu melarikan diri.
Mark berusaha mengejar, tapi di hadang para pengawalnya Anne. Melihat ada keributan, pihak ceruty akhirnya turun tangan, mengamankan Mark dan ke empat orang suruhan Anne.
"Pak, urus mereka. Aku akan mengejar si tersangka." Titah Mark pada pihak security. Ia berlari mengejar Anne.
TBC
__ADS_1