
"Enon, ada yang cariin di luar. Non di minta turun!" ujar Bi Sekar, dari balik pintu kamar nya yang terbuka sedikit. Ya, tadi Dinda lupa menutup nya rapat saat masuk ke kamar nya Nur.
Nur dan Dinda saling pandang. Dengan ekspresi wajah penasaran dan was was.
Nur sangat penasaran dengan tamu yang datang ke rumahnya. Setahu dia, Idris seminggu yang lalu, saat pergi dari rumah itu, mengatakan bahwa tak ada orang lain yang bisa masuk ke rumah ini.
"Apa yang datang itu suamiku?" ujarnya dengan ekspresi wajah tak percayanya. Ia bergegas turun ke lantai satu. Sedangkan Dinda, memilih tetap di kamar itu. Ia tak mau ikut campur. Apalagi kalau benar yang datang adalah Pak Idris. Karirnya bisa hancur.
Deg
Jantungnya berdegup kencang, ia merasa takut dan gugup melihat orang orang di lantai satu. Tiga manusia yang ia kenal di ruang tamu itu adalah Idris, Anne dan Angga sang mantan kekasih. Nur melihat Idris sedang berbicara dengan Anne dan seperti sedang menenangkan wanita itu. Sedangkan Angga sang mantan kekasih, menatap nya lekat, yang membuat Nur semakin ketakutan dengan tatapan itu. Sepertinya tiga manusia ini akan menghakiminya.
Kaki Nur gemetaran saat menapaki anak tangga, begitu juga dengan tangannya memegang pembatas besi tangga itu. Ia sungguh takut saat ini. Kenapa Ketiga manusia ini menjumpainya secara bersamaan. Apakah ia akan dihakimi?
TIDAK....
Ia tak salah, ia tak boleh terlihat lemah. Ketiga manusia dihadapannyalah yang salah. Terutama Angga dan Anne, yang telah bersikap jahat padanya. Seumpama Anne tidak merendahkannya, saat ia mencari keadilan dengan mendatangi Angga ke rumah mereka. Mungkin Nur tidak akan dendam pada keluarga itu.
Kejadian kelam di masa lalu, terus saja berputar putar di fikiran nya. Hal itu membuat nya jadi tegar. Ekspresi wajah gugup dan takut, kini sirnah tergantikan dengan ekspresi wajah tegar dan penuh rasa percaya diri, yang membuat Idris, Anne dan Angga tercengang melihat Nur yang kini sudah berjalan menghampiri mereka.
Apalagi Anne wajah nya terlihat memerah, karena amarahnya memuncak, benci pada Nur. Berani wanita ini merebut suaminya. Ingin rasanya ia menjambak Nur.
"Nur....!" Angga yang takjub melihat penampilan Nur bergegas menyambut wanita itu. Seolah ia tak pernah melakukan kesalahan. Tentu saja Nur menjauhkan dirinya, dari jangkauan sang mantan. Ya tujuh tahun tak melihat Nur. Pria itu tak menyangka nika Nur semakin cantik dan semok.
Sikap Angga yang terlihat masih berharap pada Nur, membuat Anne dan Idris terkejut.
"Angga...!" teriak Anne, kesal melihat sang adik yang terlihat bodoh di hadapan seorang pelakor.
Angga menatap masam sang kakak. Kemudian menghampiri Idris.
"Bang, aku ingin bicara serius empat mata dengan Abang." Ujar Angga, menatap lekat Idris, yang terlihat tak tertarik dengan ajakan Angga.
"Angga, kamu Kenapa? ingat misi diawal. Jangan kamu goyah." Tegas Anne kesal melototkan mata nya pada Angga.
__ADS_1
"Misi apa lagi yang ingin kalian rencanakan? sudah kita rembukkan selama satu minggu ini. Keputusan sudah ada." Jelas Idris tegas.
Nur yang tak tahu apa apa, dibuat bingung. Dalam kebingungannya ia mencoba untuk bersikap tenang.
Angga mendekati Anne, dan berbisik pada kakaknya itu. Anne terlihat terkejut, tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah seperti mengiyakan bisikan Angga.
"Bang Idris, ayo kita bicara sebentar."
Idris menatap Nur lekat, dan akhirnya kedua pria itu meninggalkan ruang tamu. Berjalan cepat ke taman samping. Mereka memilih berbicara di dalam sebuah gazebo.
Dan kini tinggallah Nur dan Anne di ruangan itu. Anne menatap tajam Nur, dada nya terlihat naik turun, karena emosi.
Ia pun mendekati Nur dengan gaya nyonya besarnya.
Puukk..
Mendorong bahu Nur dengan kesal, sehingga wanita itu mundur satu langkah ke belakang.
"Berani kamu bermain api dengan aku. Kamu, kamu kan kekasihnya Angga yang gatal itu?" bicara penuh emosi menunjuk nunjuk ke arah Nur. "Dasar wanita murahan, pingin hidup enak, mengincar suami orang? ngaca kamu! jangan ngimpi bisa jadi nyonya."
"LEPAS...!"
Nur menepis kasar tangan Anne yang menjawir dagunya. Anne terkejut melihat sikap beraninya Nur, yang menantangnya.
"Iihh Berani kamu!" Teriak Anne. Anne yang tak terima di lawan, melayangkan tangannya hendak menampar Nur, tapi tangan itu kini menggantung di udara. Nur menahan tangan Anne.
Mendengar suara Anne yang kuat, Idris bergegas ke ruang tamu dan disusul oleh Angga. Kedua pria itu malah diam melihat apa yang akan terjadi
"Ya, saya berani sekarang. Dulu saya tak Berani melawan, bukan karena takut padamu. Tapi, karena aku sedang tak berdaya waktu itu." Menghempaskan kuat tangan Nur.
Angga ingin ikut campur. Tapi, Idris menahan pria itu.
"Ya, aku wanita gatal seperti yang kamu katakan. Aku wanita yang tak bisa menjaga diri, dari godaan adikmu yang tak punya moral itu." Menunjuk Angga yang jaraknya sekitar tiga meter darinya. "Lantas, kamu wanita apa? wa, wanita baik?" Bicara dengan suara bergetar, karena Nur sangat emosional saat ini. Jari telunjuknya mengacung tepat ke wajah Anne. Sontak sikap Nur, membuat Anne semakin meradang.
__ADS_1
"Kamu merasa jadi wanita baik? kalau kamu wanita baik, kamu tak akan mengusirku saat aku mengemis ingin masuk ke rumah gedong kalian itu." Air mata mengucur deras, Nur teringat saat dirinya diusir dengan hina oleh Anne.
"Sakit, di sini sakit. Hidupku hancur...!" ketusnya pada Anne.
"Makanya kamu ngaca, jadi wanita harus pandai jaga diri. Kamu yang buat hidupmu hancur." Jawab Anne cepat.
Ciihh..
Anne yang tak terima disalahkan meludah ke wajah Nur.
Aaarrrgggkkkk..
Grapp..
Seperti orang kesurupan, Nur menarik kuat rambut Anne. Sekuat kuatnya. Diludahi, siapa yang tak akan emosi.
Bruuggkk..
Anne sampai terbanting ke lantai. Karena Anne menahan tangan Nur yang menarik kuat rambutnya.
Idris langsung menolong sang istri. Karena kini Anne sudah terlihat tak berdaya. Sedangkan Angga menahan Nur, agar tak menyerang kakaknya lagi.
Nur, sudah kesetanan, wajahnya memerah karena emosi. Ia membuang rambutnya Anne yang rontok karena ditariknya dengan kuat.
"Sakit... Sakit...!" Keluh Anne pada Idris. Pria itu terlihat tegang.
"Sakit, aku juga merasa tak kalah Sakit nya!" masih Bicara penuh emosi pada Anne, yang memegangi kepalanya yang sakitnya minta ampyun. Rambut nya pada rontok.
" Lepas... Lepaskan aku...!" berontak dari dekapan Angga. Tangannya mencoba melepaskan belitan tangan Angga di pinggangnya.
"Lepas.... Lepaskan aku..!" ujar nya lemah, kini Nur menangis dengan sedih nya. Angga pun melepaskan belitan Tangannya di pinggang Nur. Dan wanita itu ambruk di lantai.
"Sudah kamu rasakan sakitnya kan? itu yang aku rasakan tujuh tahun ini." menatap Anne dengan keputusasaan. Kemudian Nur menatap ke arah Angga. "Hiidupku hancur, aku menderita. Ini gara gara kamu..!" Masih menatap kesal Angga.
__ADS_1
TBC
TBC