
"Ya sudah ayo!" Idris tak bisa menolak kemauan sang istri. Jadilah mereka harus melewati batangan sawah, sebelum sampai ke pondok. Setiap moment diabadikan secara live, dan langsung diserbu netizen dengan komentar. Mana pemandangannya indah, hawa sejak buat hati adem ayem.
"Aauuuwwhh..!" teriak Nur, karena terpleset.
"Sayang..!" Idris dengan cepat merengkuh pinggang sang istri. Menahan dan menyeimbangan tubuh mereka agar tak jatuh ke areal persawahan.
"Kamu baik baik saja kan sayang?" tanya Idris penuh kekhawatiran. Mereka sudah duduk di tempat yang disediakan untuk acara masuk rumah, yaitu acara syukuran dan minta
Huufftt..
Idris sudah dibuat jantungan. Gimana coba kalau istrinya itu terjatuh, kan bisa membahayakan janin dan si ibu.
"Iya By." Ujarnya dengan tersenyum tipis. Gemesh lihat sikap sang suami yang sangat mengkhawatirkannya.
Setelah merasa tentang, Mereka pun melanjutkan langkahnya menuju pondok yang bertingkat di tengah sawah itu. Masih dengan bergandengan tangan. Mark, Dinda, Mayang serta dua asisten lainnya, mengekor di belakang
"Akhir akhir ini, ada saja kejadian yang buat tak tenang, soal kamu dan anak kita." Ujar Idris pelan.
Nur sampai menghentikan langkahnya, karena mendengar ucapan suami nya itu. Ia menatap lekat sang suami yang ada di depannya. "Maksud Hubby apa?" tanya nya heran, apa yang dikhawtirkan suaminya itu tentang ia dan janin yang ada di rahimnya.
"Hhuuffft... Ya seperti kejadian barusan. Kamunya mau jatuh, tadi Pagi juga hampir kena timpah para warga, sebulan lalu perutmu ditinju Anne. Memikirkan kejadian itu, buat aku gamang dan takut. Takut ada hal mengerikan lagi yang akan terjadi dan mengancam nyawamu sayang." Ujar Idris, menatap lekat sang istri, yang juga ikutan tegang, karena ucapan Idris itu.
"Semoga kita selalu dalam lindungan-NYA." Ujar Nur lembut, tak mau mengambil hati ucapan sang suami.
"Amin..!" Idris kembali membalik badan, melangkah menuju pondok yang sudah dekat itu. Mereka masih bergandengan tangan.
Sesampainya di depan pondok. Mereka disambut hangat oleh orang yang menyewa sawah peninggalan orang tuanya itu.
"Kamu Nur kan?" tanya seorang wanita berumur sekitar 40 tahunan, yang dipanggil Nur dengan tutur etek.
__ADS_1
"Iya etek." Jawab Nur ramah, menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita itu.
"Ini suamimu Nur..?" tanya si ibu dengan mata tak berkedip. "Ya ampun, suamimu tampan sekali Nur..?" Ujar si etek tersenyum kikuk, karena malu tak bisa menahan diri, agar tak memuji Idris. " Ooppss..!" si etek menutup mulutnya yang sempat menganga, karena takjub melihat sosok pria tampan bersih di hadapannya.
Siapa sih yang tak senang dipuji. Jadi lah Idris mengulum senyum tak jelas.
"Iya etek. Awas si Udak cemburu!" Ujar Nur melirik si etek sambil menyungging senyum tipis. Kemudian menyikut sang suami, yang masih tersenyum bahagia itu. Suasana asri di persawahan membuat hati senang dan pikiran tenang, bawaannya bahagian terus.
"Udakmu di sana, memancing. Dia gak akan dengar." Si etek menunjuk ke arah gunung. Dengan mengulum senyum, ya si etek memang suka bercanda. Dan jarang ngengosip, ia habiskan waktunya bekerja, dari pada mengghibah.
"Iya etek, bercanda koq." Sahut Nur. Mendudukkan bokongnya di lantai pondok itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Memilih posisi yang nyaman dan aman. Bahkan Dua asisten mengajak Mayanh naik ke lantai dua pondok itu.
Pemandangan indah memanjakan mata, dengan padi menguning. Ditemani suara burung berkicauan dengan merdunya angin sepoi sepoi menerpa wajah, membuat suasana hati senang dan bahagia.
"Setelah punya peungalaman bidup di kota, dipikir pikir hidup di desa lebih baik ya By." Bicara dengan tatapan lurus ke arah pada menguning yang siap panen.
Idris menoleh ke arah sang istri, yang terlihat sedang merenung itu. "Iya sayang. Biaya Hidup Lebih Murah, terhindar dari Gaya Hidup Hedonisme, lebih Banyak Menabung, kualitas Udara Lebih Sehat, Kondisi Alam Masih asri."
"Hubby, mau gak kita pindah ke sini?" tanya Nur penuh selidik.
"Eemmm... !" Idris nampak berfikir. "Mau sih, tapi usaha kita berkembang di kota sayang." Ujar Idris, meriah jemari sang istri. Menciumi Gemesh jemari itu.
"Aaaauuuuwww....!" teriakan penuh kesakitan terdengar dari balik pondok.
Nur dan Idris bergegas ke asal suara, yang mereka tahu itu suara nya Mark.
Sesampainya di lokasi kejadian. Nur dan Idris dibuat terkejut dengan keadaan Mark yang kacau balau. Pria itu terlihat memegang selang- kangannya.
Nur menghampiri Mark yang di rengkuh oleh Dinda dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Menjauh... Non menjauh....!" Ujar Mark dengan mengibaskan tangan nya. "Aauuuww.. Perih...!" Teriak nya lagi, saat ia merapatkan pahanya, guna menutupi paha putih yang ditumbuhi bulu halus itu.
"Dinda, Mark kenapa?" Kini Idris yang mendekati Mark, yang masih terduduk di batangan sawah. Baju sudah kotor kena lantai.
"Dia jatuh dari pokok kelapa Bos! Hua hua hua..!" Dinda malah menangis histeris. Tadi ia masih bisa menahan diri untuk tidak menangis, tapi melihat keadaan sang suami yang cukup parah, membuat sedih. Tak hanya paha sang suami yang lecet, dada dan tangan Mark juga lecet. Karena tergesek ke pokok kelapa
"Mana yang sakit Mark?" Mark kembali merapatkan pahanya sambil meringis kesakitan. Saat Idris bertanya.
"Burungku, pahaku lecet bos. Habis tergesek ke pokok kelapa." Aduh Mark, seperti anak kecil. Idris jadi dibuat heran dengan tingkah Mark, sejak istrinya hamil. Ia nampak lebih kalem gitu bawaannya.
"Kamu sih, sok jago mau manjat kelapa. Lihat kan modar burung mu!" ketus Idris. Hahahha
.. "Lucu...!" Idris menjauh dari Mark. Ia meminta dua asisten lainnya untuk membantu Mark bangkit. Mark harus cepat diperiksa pihak medis. Pahanya banyak yang tergores ke pokok kelapa. Karena celana kerja yang ia pakai sobek. Dadanya juga, serta tangan.
"Kamu itu manjat pokok kelapa, bukan manjat pinang, yang bisa kamu buat berseluncur untuk turun!" Jelas Idris lagi, menatap Mark sambil mengulum senyum.
"Gak usah bos meledek. Asal bos tahu, aku ini atlet panjat tebing. Tadi itu, aku terkejut, tiba tiba ada cicak besar hinggap di wajah ku. Aku hilang keseimbangan, dan tubuh ku melorot tanpa bisa di rem." Jelas Mark Masih meringis kesakitan.
"Iya, Iya. Dinda, nanti kamu periksa dengan detail. Apa urat burung nya putus semua. Hhahha...!" ledek Idris, tak bisa menahan diri, untuk tidak tertawa.
"Waktu sekolah, nilai mata pelajaran ilmu pengetahuan alam bos, berapa sih? hingga bos mengatakan di sini ada tulang. Di sini itu adanya pembuluh darah!" Jelas Mark melotot pada Idris. Ia kesal dibuat bahan tertawaan.
Idris Masih menahan tawa. Entah kenapa ia merasa lucu sekali, membayangkan Mark, yang memeluk pokok kelapa yang tak mulus itu.
"Yang bilang tulang siapa? aku kan bilangnya surat, atau kata ilmiah dan medisnya pembuluh darah!" Jelas Idris geram pada Mark, yang masih saja ribut, untuk menutupi rasa malunya.
Mark terdiam, entah kenapa ia pengen sekali makan air kelapa mudah. Ia pun memaksa dirinya memanjat pokok kelapa yang batangnya, Masih basah. Karena tadi turun hujan sebentar.
"Sudah, sudah kita pulang!" Ujar Nur menggandeng tangan sang suami.
__ADS_1
"Kelapa ku..!" teriak Mark. Kelapa yang dapatkan harus dibawa.
TBC