Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Menduga duga


__ADS_3

"Berani Idris menggugat cerai aku, gara gara wanita itu. Apa hebat nya dia..!" Anne sungguh kesal, Karena Idris sudah menceraikannya. Berkas perceraian sudah masuk ke pengadilan. Tunggu waktu sidang saja.


"Sabar kak." Ujar Angga tak kalah panik. Ia juga tak mau kakaknya jadi janda. Tadinya ia ingin membujuk Nur, agar mau kembali padanya. Belum juga bisa bicara, Kakaknya Anne sudah buat keributan. Padahal tadi Angga sedang berusaha membujuk Idris di taman, agar mencabut aduan perceraian ke pengadilan.


"Tidak.... Aku akan melenyapkannya..!" Anne sudah seperti singa kelaparan saat mengatakan itu. Wajahnya tegang sudah.


"Jangan gegabah, tak semudah itu melenyapkan nyawa orang. Jangan gara gara emosi, kakak jadi dipenjara." Ujar Angga lembut, mencoba menenangkan sang kakak.


"Gara gara wanita itu, rumah tanggaku hancur. Bahkan Idris membawa Mayang lari."


"Soal Mayang, menurutku ia memang lebih baik jika bersama Abang Idris." melirik sang kakak yang masih emosi.


"Apa maksudmu bicara seperti itu Angga? apa aku ini tak becus jadi ibu. Aku akan merasa lebih baik, jika dipenjara dari pada tersiksa melihat mereka bahagia." Sahut Anne dengan emosi yang terlihat masih berkobar kobar itu.


"Jangan pernah kak ada pikiran seperti itu. Aku masih ada keinginan untuk memiliki Nur."


"Jangan gila kamu! aku tak akan setuju, wanita itu jadi bagian keluarga kita." Menatap kesal Angga yang sedang menyetir.


"Dulu aku diam, karena aku tak berdaya. Kalau sekarang, aku sendiri yang akan menentukan Hidupku." Menantang tatapan tajam nya Anne.


"Angga, kamu masih waraskan? apa tak ada lagi wanita di dunia ini, sehingga kamu dan Idris mau memperebutkannya?"


Ciihh

__ADS_1


Berdecak kesal, karena muak mendengar penuturan Angga. Anne merasa heran dengan Idris dan Angga. Yang tergila gila pada Nur.


Selama seminggu ini ternyata Idris menyiapkan semua berkas untuk bercerai. Dan setelah ayah mertua sehat. Ia langsung meminta sang asisten, Mark mendaftarkannya ke pengadilan agama. Dan selama satu minggu ini, Idris ternyata sudah tak tinggal di rumah megah itu. Ia membawa anak semata wayangnya ke suatu tempat rahasia.


Dan hari ini, Angga dan Anne mencegat Idris, saat masuk ke rumahnya yang di tempati Nur. Karena Anne dan Angga sama sama punya keinginan bertemu dengan Nur. Dan juga Idris.


"Aku ini masih waras dan sangat waras. Aku akan miliki Nur, agar kakak tetap bisa bersama Abang Idris. Maka, ikuti saja saranku. Cobalah berubah jadi wanita tenang jangan temperamen. Kalau kak bersikap seperti tadi, ya Abang Idris mana mau balik lagi dengan kak. Pria itu ingin wanita yang manja, lembut, dan ia merasa dibutuhkan. Gak seperti kakak, mau nya mengatur terus. Sok merasa paling cantik dan menolak tua. Abang Idris sudah bosan, dengan apa yang ada di dalam diri kak. Yang sudah tak ori lagi."


"Diam.. Lebih baik kamu diam Angga. Kamu sok tahu!" Ujar Anne kesal, Mukanya merengut melirik Angga.


***


Di kediaman Idris.


Mata yang indah terlihat mengerjap erjap, karena terkejut mendapati sang suami ada di hadapannya.


"Hubby.. " Ujarnya menatap sendu Idris, Kemudian mengalihkan pandangan sejenak pada Dinda.


"Syukurlah kamu sadar juga." Mengelus lembut kepalanya Nur yang masih tercengang itu.


Nur masih dibuat heran dengan keberadaan Idris di sisi nya saat ini. Kenapa pria itu malah bersama nya? apakah Idris memilih nya?


"Dinda, aku titip Nur. Aku ada urusan penting."

__ADS_1


Ucapan Idris pada Dinda, kiranya sudah cukup sebagai jawaban, atas bingung nya Nur, mendapati Idris masih bersama nya, dan sekarang pria itu akan pergi. Berarti Idris tak memilih nya.


"Iya pak." Jawab Dinda dengan lusuhnya. Karena ia merasa hidupnya akan hancur. Pasti ia akan kena pecat dari kantor. Karena dianggap ikut campur urusan bos.


Ya hingga saat ini, Idris masih jadi Direktur. Ayahnya Anne, tidak mau Idris berhenti. Idris pun setuju tetap bekerja, hingga tugasnya selesai. Dan ia tak akan menangani proyek baru.


"Kamu istirahat ya!" mencium kening Nur.


Deg


Nur dibuat semakin jantungan dengan sikap Idris. Ia tak mau penasaran, ia harus bertanya.


"Hubby mau ke mana? Apakah Hubby akan menceraikanku..?"


Ngung ...


Ngung..


Ponsel dalam saku celananya Idris bergetar. Hal itu membuat perhatian nya teralih ke ponselnya. Bahkan pria itu terlihat tak tenang, saat menerima panggilan itu.


"Iya, iya Mark. Aku segera ke sana."


Idris terlihat panik sekali. Bahkan pria itu pergi begitu saja, dari kamar itu. Meninggalkan Nur dengan seribu tanda tanya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2