
"Iya, Angga. Pria yang sangat kamu cintai itu. Saking cinta nya kamu gak bisa lupa kan dia. Gak bisa jatuh cinta lagi pada orang lain." Bicara masih dengan tatapan datar, yang membuat Nur bingung menyimpulkan sikap Idris saat ini.
Nur cukup terkejut mendengar penuturan sang suami. Apa suaminya itu mendengar percakapannya dengan Dinda. Wanita itu menunduk, tak sanggup melihat tatapan Idris yang memancarkan penuh kekecewaan. Ia bahkan kini merasa kesusahan menelan ludahnya sendiri, kedua bola mata bergerak ke kanan dan kiri, berfikir keras, apa kata kata yang akan ia ucapkan pada suami nya itu.
"Kenapa diam?" masih bicara dengan nada dingin.
Huufftt..
Dada Nur terlihat naik turun, saat memberanikan diri untuk menatap sang suami. Tangannya terjulur perlahan ke dada bidangnya Idris. Mengusap usap lembut dada bidang Pria yang dibalut jas hitam itu. Kedua sudut bibir mulai tertarik, menciptakan senyum manis yang buat hatinya Idris sejuk dengan hanya melihat lakukan bibir itu.
"Sebelum kenal dengan Hubby, hati ini tak pernah lagi bergetar. Tak berani untuk jatuh cinta lagi. Tapi, sekarang berbeda, setelah mengenal Hubby, ada dorongan kuat untuk jadi bagian hidup Hubby. Ingin merasakan di cintai dan dilindungi." Mengatakan lembut penuh penghayatan. Nur bahkan Memasrahkan kepalanya tenggelam di dada bidang suaminya itu. Sikap Nur yang lembut, membuat Idris tenang. Padahal tadi ia sempat berang, karena merasa dipermainkan Nur.
Idris sudah tahu motif Nur, menawarkan diri untuk dinikahi, yaitu untuk balas dendam pada Anne.
"Jangan tinggalkan aku lagi seperti Pria Pria itu." Ujarnya terisak, kini tangannya bergerak lembut memeluk Idris yang tubuhnya menegang sejak tadi.
"Lihat aku!"
Deg
Nur dibuat jantungan dengan titah tak terbantahkan itu. Dengan perlahan Nur mengangkat wajahnya. Kedua mata masih basah dengan air mata.
"Kalau aku ingin meninggalkanmu, aku tak akan datang ke sini." Bicara masih dengan nada datar.
"Apakah Hubby akan memperjuangkanku?" tanya Nur lembut.
"Apa kamu akan memperjuangkanku?" tanya Idris balik.
Puuk..
Pukulan manja mendarat di dada bidangnya Idris.
__ADS_1
"Koq nanya balik sih? aku serius Hubby..!" ujar Nur manja.
"Aku serius, aku sudah mengorbankan semuanya., demi Kamu. Apa kamu akan memperjuangkanku juga?"
"Hubby milih aku?" tanya Nur dengan tak percayanya. Ya Wanita perlu juga pernyataan. Karena selama seminggu Idris tak ada kabar. Dan semalam mereka belum sempat bicara.
"Iya, tapi aku perlu ketegasan darimu."
"Ketegasan, prihal apa Hubby!" tanya Nur penuh selidik.
"Apa kamu masih ada rasa pada Angga?"
Kening Nur mengerut mendengar pertanyaan bodoh itu.
"Aku bukan Wanita bodoh, yang mau kembali ke masa lalu yang kelam."
"Bersamanya masa depanmu akan cerah. Dan jika bersamaku masa depanmu akan kelam." Jelas Idris memegang kedua tangan Nur yang terlihat kaget dengan omongannya.
"Kamu berhasil, aku memilihmu." Ujar Idris lembut, ia merangkum wajah cantik itu. Dan menghadiahi satu kecupan di kening Nur.
Ucapan dan perlakuan Idris membuat Nur terkejut. Benarkah ia dipilih? Bukannya dulu, Idris mengatakan jangan berharap ia akan dipilih pria itu. Karena tak mungkin Idris menceraikan Istrinya. Sekarang kenapa ia malah dipilih.
"Kamu penyelamatku!"
"Apa...?"
Kedua bola mata Nur membola mendengar ucapan sang suami. Bahkan mulutnya juga menganga saat ini. Kenapa ia malah dikatakan sebagai penyelamat, harus nya kan ia sebagai perusak.
"Hati ku terasa damai bersamamu." Menarik lembut Nur dalam dekapan nya. "Kita buka lembaran baru." Masih memeluk erat Nur dengan sayangnya.
"Hubby beneran memilih ku?"menjauh kan wajahnya guna melihat wajah sang suami. Apakah ia menemukan keseriusan di netra sang suami.
__ADS_1
Idris mengangguk dengan senyum manis nya.
" Kalau milih aku, Kenapa gak ada kabar selama satu minggu ini..?" merengut menatap Idris, yang masih tersenyum.
"Banyak masalah, jika aku hubungi kamu, masalah gak akan clear clear, yang ada aku akan semakin kangen. Kalau sudah kangen, gak dapat obatnya, yaang ada makin sekarat." Ujar Idris mengulum senyum. Tangannya mulai nakal merayap di punggung Nur.
"Mau obat sekarang?" tanya Nur mulai melepas dasinya Idris. Nur heran juga, ini kan weekend, kenapa suaminya itu malah berpenampilan sangat rapi, pakai dasi segala.
"Sangat, sangat butuh." Idris membelai wajah Nur lembut. Tangannya juga bergerak mengusap dahi Nur yang masih di perban.
Dengan senyum menyeringai Nur mulai membuka kancing kemeja sang suami, setelah Idris melorotkan jasnya dan teronggok di lantai. Nur juga rindu suaminya itu, sangat rindu. Apalagi kini setelah ia dapatkan jawaban yang ia ingin kan atas statusnya, ia jadi semangat untuk mengekspresikan rasa cinta nya pada Idris, Ya dia sudah jatuh cinta pada pria itu. Saking cinta nya ia menepis rasa itu dari hatinya. Karena ia takut terluka, jika Idris tak memilih nya.
Dan ternyata fakta mengejutkan ia dapatkan hari ini. Idris juga menyukai nya. Bahkan pria itu mengatakan ialah dewi penyelamatnya. Berarti hubungan nya dengan Anne, tidak lah baik baik selama ini.
Brruuggkk,,,
Agak sedikit keras, tubuh Nur ambruk di atas ranjang. Setelah keduanya puas saling bertukar saliva. Di mana Nur di bopong sang suami, dan Nur membelit kedua kakinya di pinggang nya Idris.
"Aarrggkk.. Lebih cepat Hubby...!" ujar Nur dengan napas yang berat.
Ya ini yang Idris suka dari Nur. Istrinya itu selalu sukses membuat hasratnya membumbung tinggi. Nur tipe istri yang liar di ranjang, tapi nurut dan bisa mengatur ritme bercinta yang buat Idris merasa nyaman dan diinginkan. Idris jadi merasa pejantan tangguh, Karena sukses membuat Nur mendapatkan kenikmatan. Tidak seperti Anne, yang selalu sok berkuasa dan merasa paling jago di atas ranjang. Pada kenyataannya, Idris tak pernah puas dengan Anne.
"Apa kamu akan menunda punya anak sayang?" Ujar Idris, setelah milik nya masuk ke dalam gua kenikmatan itu.
"Tidak.. Aku Ingin punya anak!" Jawab Nur dengan mata yang merem melek. "Makanya aku tak pernah minta kamu pakai pengaman By." Ujarnya pelan, ia yang sudah sangat berhasrat, menarik satu tangannya Idris, agar memainkan gunung kembar nya.
"Ia kah? Seumpama kita gak bersatu gimana sayang?" tanya Idris heran. Kenapa Nur malah ingin punya anak. Kalau hubungan mereka di awal belum Jelas.
"Ya gak apa apa, aku akan besarkan anak itu. Jikalau Hubby tak mau tanggung jawab." Masih berdiskusi tentang anak, sambil mencetaknya.
Ya Nur sempat frustasi, disaat janin hasil hubungan nya dengan Angga gugur dalam kandungannya.
__ADS_1
TBc