Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Bercengkrama


__ADS_3

"Aku bukan sayangmu. Aku kerbau...!" ketus Nur, menampilkan ekpresi wajah kesal, dengan mata berkaca kaca sudah. Ya, suasana hati bumil, sangat cepat berubah. Dan gampang tersinggung.


"Kerbau...?" tanya Idris heran. Dan akhirnya mengekori Nur yang sudah keluar dari lift. Ia menahan gerak sang istri dengan memeluknya dari belakang. Idris sadar, ia tadi salah ucap, salah membuat perumpamaan.


"Maaf ya sayang... ! Tadi itu salah ucap." Bicara lembut, dan menenggelamkan wajah di perpotongan leher sang istri. Tangan bergerak pelan mengusap usap perutnya Nur.


Ya Idris tak akan segan segan meminta maaf pada Nur, jika ia melakukan kesalahan. Oa Ia ii tak akan ikut ikutan marah, jikalau Nur ngambek. Idris sangat mencintai Nur. Melebihi apapun.


"Ya ampun.. Eehh... Anak kita bergerak sayang...!" suara Idris terdengar penuh ke bahagian. Ia melepaskan pelukannya, dan kini berjongkok di hadapan Nur, mengusap usap perut buncit itu, dan menciuminya. Siapa coba yang tak luluh diperlukan seperti itu. Jadilah Nur meresapi setiap sentuhan lembut sang suami diperutnya.


Kalau Idris sudah menunjukkan rasa kasih sayang yang teramat besar seperti ini, ia akan terharu, bahagia sekali. Kadang saking bahagianya, ia malah ingin menangis. Seperti saat ini, genangan di pelupuk mata mulai mengintip, dan tak mampu lagi terbendung.


“Ya Allah, jagalah anakku selama ia berada dalam perut istriku, sehatkan ia, sesungguhnya Engkau Yang Maha Menyehatkan, tak ada kesehatan kecuali kesehatan dari-Mu, kesehatan yang tak terganggu penyakit. Ya Allah, bentuk ia yang ada di perut istriku dalam rupa yang baik, tetapkan dalam hatinya keimanan pada-Mu pada Rasul-Mu. Ya Allah, keluarkan dia dari perut istriku pada saat kelahirannya secara mudah dan selamat. Amin Ya Robbal alamin...!"


Tes.


Akhirnya cairan bening yang dari tadi menggenang jatuh juga membasahi pipi mulusnya Nur.


"Iihh.. Sudah dong By, mau sampai kapan kita di sini?" Ujar nya terisak, suami nya itu pandai sekali membuat nya terhanyut dalam suasana.


Idris menegakkan tubuhnya. Terlihat bingung dengan sikap sang istri yang malah menangis.


"Koq nangis sih sayang? Hubby kan sudah minta maaf!" mencium lembut kedua mata yang sembab itu.


Hua....Hua... Hua...


Nur malah menangis histeris. Cara idris memperlakukannya yang penuh kasih itu membuat nya semakin terharu. Ia tak menyangka, ia akan dicintai sebesar ini oleh Idris. Padahal pernikahan mereka di awali dengan niat tak baik. Nur ingin balas dendam pada istri pertamanya Idris. Sama sekali tak pernah berharap dicintai pria yang menatap nya dalam penuh cinta di hadapan nya.


"Maaf sekali lagi, jika Hubby buat hatimu pedih sayang..!" meraih tubuh Nur dalam dekapannya.


"Gak By, kamu gak pernah sakiti hatiku. Malah kamu yang mengobati hati yang hancur ini. Jangan pernah tinggalkan aku ya By...?! Aku tak akan bisa hidup tanpamu nanti. Dari pada kehilanganmu, melewati hari hari tanpamu, mending aku mati.."


Idris mengendurkan dekapannya. Menatap lekat wajah Nur yang masih terisak itu. "Kamu Bicara apa sih sayang?" tanya Idris dengan herannya. Kenapa istrinya itu bicara ngaur seperti itu.

__ADS_1


"Pokok nya Hubby jangan coba coba lirik wanita lain...!" Ujar Nur merajuk.


Kening Idris mengerut mendengar ucapan sang istri. Kenapa pula bicara seperti itu.


"Iya sayang, mana berani Hubby. Lagian untuk apa? Hubby bukan pria yang mau membuang waktu bermain main dengan wanita." Ujar Idris lembut, kembali menarik Nur dalam dekapannya.


Rasa nya sangat nyaman dan sangat nyaman dipeluk sang suami. Inikah rasanya pelukan seorang suami yang sangat mencintai kita? Nur mendongak, guna menatap wajah tampan sang suami.


Cup


Satu kecupan lembut mendarat di keningnya Nur. "Kita bobo di kamar saja ya? gak usah nonton lagi. Ini sudah pukul 22.05 WIB. Gak baik begadang." Ujar Idris lembut.


"Iya By." Jawabnya sambil mengangguk pelan. Mereka pun berjalan sambil berpelukan menuju kamar nya.


Sesampainya di kamar, ternyata Mayang sudah tak ada di kamar itu. Padahal tadi, gadis kecil itu tiduran di atas ranjang empuk itu.


"Mayang pasti sudah di pindah Bi Fatma ke kamar nya Mayang." Ucap Idris, memberi jawaban dari ketercengangan Nur.


Mereka berdua naik ke atas ranjang, bersiap siap untuk tidur. Tapi, seperti biasa. Idris akan kembali membelai perut sang istri, mengajak anak dalam kandungan nya berkomunikasi. Karena kata Dokter Obgyn, mengajak janin bicara di dalam kandungan sangat memengaruhi tumbuh kembang bayi setelah dilahirkan. Untuk itu, peran ayah cukup penting dalam menjaga kesehatan otak bayi dalam kandungan.


"Sayang, tadi apa kata Dokter tentang kehamilanmu ini?" tanya Idris, ia sudah berbaring di sebelah Nur. Setelah sholat magrib, mereka melakukan kontrol kehamilannya Nur ke Dokter Obgyn yang ada di kota. Karena Nur mengeluh lemas dan kepalanya sakit sekali.


Nur melirik sang suami, ia pun mengubah posisinya menghadap sang suami. Tangannya Idris terjulur merapikan rambutnya Nur, yang menutupi sedikit wajahnya.


"Eeemmmm... Dokter bilang," Nur menjeda ucapan nya, terlihat ia sedang ingin memancing mancing sang suami.


"Apa sih Kata dokter tadi sayang?" tanya Idris dengan tak sabaran. Saat Dokter mengajak mereka bicara untuk konsultasi, setelah pemeriksaan. Tiba tiba saja, ada yang menelpon Idris. Jadi ia tak konsentrasi mendengar percakapan Dokter Obgyn itu dengan sang istri, terkait keadaan kandungannya.


"Kata dokter gak apa-apa koq By, cuma aku katanya sedikit stres dan kelelahan, Dokter menyarankan supaya kita rileks dengan mengambil liburan ke London, Paris, Milan, Maladewa, LA, Hongkong." Nur menjeda ucapannya, dengan ekspresi tak bisa dibaca oleh Idris. "Eemmm... Enaknya kita pergi kemana ya By..?" raut wajah seriusnya Nur tiba tiba saja berubah, sudut bibir tertarik sempurna.


Eemmmm...


Gumam Idris dalam hati, ia tahu istrinya itu mau bercanda dengan nya.

__ADS_1


"Enaknya.. Kita pergi ke dokter lain aja sayang...!" Menjepit gemes hidung mancung nya Nur.


Hahhaha..


Nur tertawa Lepas, begitu juga dengan Idris. Pria itu pun menarik sang istri ke dalam pelukannya. Tangannya sudah jadi bantal untuk sang istri.


"Yang kamu katakan tadi, sudah seperti cerita lucu yang pernah Hubby dengar." Ujar Idris membelai lembut punggungnya Nur. Rasanya moment seperti ini sangat menentramkan.


"Cerita? coba Hubby cerita lucu dulu." Ujar Nur penuh harap.


Idris membalas tatapan penuh harapnya Nur. "Baiklah, Hubby akan cerita. Semoga istriku ini terhibur. Ini cerita nya tentang istri cerdas, begini cerita nya.


Istri Cerdas


"Sumai: Bu, ini ada uang 50rb, tolong dicukup-cukupin buat tiga hari ya, syukur-syukur bisa buat satu minggu." Ujar Idris, mengubah suara lebih tegas.


Ckkcckk.. Nur sudah pernah baca cerita lucu itu. Akhirnya dia menyambung cerita selanjutnya.


"Istri: Ya pak, buat satu minggu juga cukup ini, santai saja!" Ujar Nur, menahan tawa.


Tubuh Idris sudah bergetar, karena menahan dirinya agar tak tertawa.


"Suami: Wah senengnya punya istri cerdas kaya ibu, uang 50 rb bisa dipake belanja satu minggu, emang mau dibelanjaain apa bu?" Ujar Idris yabg kini sudah tertawa.


"Istri: Kalender Pak!!! kan bisa buat satu tahun!!!"


He...he....he.....he.....


Mereka pun tertawa Lepas, hingga sudut matanya Nur mengeluarkan cairan.


Ini ke bahagian itu, bercanda dengan pasangan sebelum tidur, mengistirahatkan tubuh. Moment ini yang tak pernah ia dapat dari Anne. Saat bersama Anne, tak ada cengkrama. Yang ada cerita barat, membahas operasi selanjutnya ya g akan dilakukan wanita itu. Serta membicarakan tentang show yang akan di lakukan Anne.


TBC

__ADS_1


 


 


__ADS_2