Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Terciduk


__ADS_3

Idris terlihat sangat mengkhawatirkan Nur. Ia terus saja mengusap usap perut Nur yang kini sudah masuk kehamilan enam bulan itu.


"Dinda, cepat sedikit nyetir nya!" titah nya dengan tak tenang.


Idris yang begitu mengkhawatirkan Nur, meminta Dinda saja yang menyetir. Sedangkan ia menjaga istrinya di jok barisan kedua.


"Tenang Hubby, sudah gak sakit lagi koq." Ujar Nur dengan lembut. Ia memang sudah tak merasakan sakit lagi. Rasa sakit berangsur hilang, setelah perutnya di tinju Anne tadi. Walau tak terasa sakit, ia tetap khawatir. Kandungannya harus diperiksa.


"Benarkah? tanya Idris masih diselimuti ras kekhawatiran.


"Iya Hubby." Nur tersenyum tipis.


"Walau gak sakit lagi, harus tetap diperiksa." Tegas Idris menatap lekat Nur.


"Iya sayang, aku juga khawatir ini." Ujar Nur lembut, ia pun menyadarkan kepalanya di bahu sang suami.


"Ayah... Mama kenapa jahat sama Bunda? aku benci Mama..!" Mayang sejak dari tadi mengamati apa yang terjadi. Setelah mendengar bunda nya Nur baik baik saja. Ia pun akhirnya buka suara.


"Iya sayang, jangan nangis ya!" tegas Idris pada Mayang, yang kini menatap ke arah mereka. Saat ini Mayang duduk di jok sebelah supir.


"Mama jahat.. Aku benci...!" ujarnya dengan terisak. Mengepal tangan dan memukul jok.


"Mamamu gak jahat sayang." Ujar Nur, mencoba menenangkan Mayang, yang sedang kecewa pada Anne.


"Gak.. Mama jahat. Aku tadi lihat Mama meninju dedek bayi.. Hua... Hua... Hua...!" Mayang beranjak dari tempat duduknya. Ia hendak bergabung dengan Idris dgn Nur.


Idris menyambut putrinya itu. Memeluk nya erat, mengusap-usap lembut punggung naha Mayang. Menenangkan putrinya itu.


"Emang, Mamamu jahat!" kini Dinda ikut ikutan mengkompori.


"Dinda...!" ujar Nur memberi peringatan pada Dinda, agar jangan memanas manasi suasana.


"Iya Mama jahat, aku gak mau lagi bertemu dengan Mama." Menangis dalam dekapan Idris.


"Iya sayang." Ujar Idris lembut.


***


Kini mereka sudah sampai di rumah sakit. Setelah melakukan pendaftaran. Nur langsung dapat giliran diperiksa. Dan hasil pemeriksaan, janin yang ada di dalam kandungan Nur, baik baik saja. Dokter menjelaskan janin serta sang ibu, punya mental yang kuat.


"Alhamdulillah... Wasyukurillah..!" Idris bersujud syukur di ruang pemeriksaan itu. Ia akhirnya bisa bernapas legah.


"Ya pak, dijaga istrinya ya, tinggal menunggu tiga bulan lagi." Ujar sang Dokter ramah, senyum merekah tercetak jelas di wajah sang Dokter. Ia senang melihat pasangan yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Sayang... Kamu memang wonder women!" mengecup sekilas pipinya Nur, ia sedang merangkul sang istri keluar dari ruangan itu.


"Iihh Hubby, jangan lebay deh. Muji muji aku wonder women lah, cium aku di tempat keramaian lah. Malu tahu!" ujarnya menyoroti keadaan sakitar, ya di ruang tunggu sedang banyak ibu hamil antri.


Deg


Saat itu juga, matanya Nur menangkap sosok yang ia kenal. Ia dibuat terkejut dengan hal itu. Per lahan ia mendekati sosok wanita yang ia kenal itu. Wanita itu menundukkan kepalanya cepat, saat Nur menghampirinya.


"Dila... Kamu ngapain di sini?" ujar Nur heran menatap sepupunya itu. Saat ini Dila tak berani mengangkat wajahnya.


"Dila... Kamu.!" Nur menutup cepat mulutnya yang sempat menganga. Ia sungguh terkejut mendapati Dila di ruang tunggu praktek Obgyn itu. Setahu dia, Dila belum menikah. Dan untuk apa Dila di tempat ini? Apa Dila hamil? atau Dila ada penyakit di sistem reproduksi nya?


Idris yang masih merangkul Nur, memperhatikan Dila lekat. "Ini Dila sepupumu, yang bekerja di perusahaan keluarga Anne?" tanya Idris pada sang istri yang masih termangu itu.


"Iya By." Sahut Nur lemah.


"Dila... Kamu kenapa di sini?" tak kunjung mendapatkan jawaban. Nur memegang bahu Dila lembut.


Pyaas..


Dengan cepat Dila menjauhkan tangan Nur dari bahu nya. Ia pun kini mengangkat wajahnya tegas. Menatap Nur dan Idris dengan kesal.


"Mikir apa kalian tentang aku? mikir aku hamil? emang orang datang ke tempat ini, hanya ibu hamil semua. Dasar OKB!" ketus nya dengan muka masamnya, bergegas pergi dari tempat itu.


"Pain kamu tanya tanya dia sayang? lihatlah, dia sombong sekali. Bilang apa dia tadi, OKB? apa itu OKB?" tanya Idris pada Nur yang terlihat bingung dan sedih itu.


"Dia itu masih saudara ku By. Ya, wajar aku ingin tahu tentang nya." Jawab Nur sedih. Dari dulu hingga sekarang, Dila terus saja bersikap buruk padanya.


"OKB? apa itu?" tanya Idris penuh selidik.


"OKB itu kepanjangan nya Orang kaya baru." Jawab Nur menekuk bibirnya sedih. Ia tak terima dikatain OKB.


"Oohh... Amiin...!"


Nur menatap jengah sang suami. Apanya yang diaminkan. "Hubby, aminkan apa?"


"Meng aminkan ucapan sepupumu yang sombong itu." Jelas Idris, mengulum senyum, ia merasa lucu dengan kelakuan Dila. "Seandainya, aku masih jadi atasan nya, sudah cepat itu orang aku pecat."


"Eehhmm..!" hanya itu sahutan Nur, atas pernyataan sang suami. Dan kini mereka sedang berjalan menuju mobil di parkiran.


Sesampainya di parkiran, Dila yang mengajak Mayang bermain di taman dekat tempat parkir, bergegas menghampiri atasannya itu.


"Bagaimana keadaan dedek bayinya Nur?" tanya Dinda dengan penasarannya, memperhatikan Nur lamat lamat.

__ADS_1


"Syukur alhamdulillah tak ada masalah Din. Anakku baik baik saja." Jawabnya sembari mengusap usap perutnya, yang sedang melakukan pergerakan.


"Syukurlah..!" Mereka semua masuk ke dalam mobil. Dengan penuh ke hati hati an Dila melajukan mobil yang harganya milyaran rupiah itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Suasana di dalam mobil juga tenang. Dan saat itu juga, Idris mendapat telepon dari Mark.


"Bagus... Ok!"


Nur penasaran dengan apa yang dibicarakan sang suami dengan Mark.


Tahu apa yang diinginkan sang istri. Idris mendekatkan wajahnya ke telinga sang istri. Membisikkan sesuatu yang membuat Nur sedikit legah.


Nur harus kuat, ia tak boleh merasa bersalah. Karena hadir dalam rumah tangga Anne dan Idris. Ia memang pelakor, tapi ia punya hati yang baik dan tulus. Ia juga tak memaksa Idris, untuk memilih nya. Jadi, ia harus membuat pikiran negatif tentang dirinya yang di cap pelakor.


Huuufftt..


Nur menghela napas panjang berulang kali. Setelah merasa tenang, ia menatap Idris yang duduk di sebelahnya. Ia tak menyangka, punya suami seperti Idris. Baik, penyayang dan pekerja keras.


"Ada apa? apa ada yang salah denganku?" tanya Idris heran, dengan tatapan Nur yang terlihat dalam itu.


"Gak sayang..!" bicara dengan senyum tipis, sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Terus kenapa?" tanya Idris semakin penasaran.


"Gak apa apa." Sahut Nur mengulum senyum. Tingkah Nur membuat Idris gemes. Ia tak tahan lagi. Langsung merangkum wajah sang istri. Menghujani banyak kecupan di wajah cantik itu.


Tin


Tin


Tin


Dinda membunyikan klakson mobil, ia terlihat kesal.


"Di sini ada anak kecil tuan dan Nyonya!" ujarnya geram, melirik Nur dan Idris dari spion.


Hihihi...


Mayang malah tertawa.


TBC


Yuk dukung novel ni say. Tinggalkan jejak like comment positif dan dari

__ADS_1


__ADS_2