
Satu Bulan Kemudian
Kehidupan Nur semakin bersinar. Kepopulerannya belakangan ini juga melejit dengan membintangi berbagai produk untuk ibu hamil. Mulai dari outfit, hingga suplemen. Ternyata Kepopulerannya justru muncul di tengah masa-masa sulit, melawan banyak berita hoax yang disebar tentangnya. Akibat banyak postingan aku fake, ia malah semakin sukses.Sepertinya orang yang ingin menghancurkannya sudah gila, karena tujuannya tak tercapai.
Hingga saat ini berita tentangnya selalu wara wiri di infotainment pertelevisian, di aplikasi digital, dan media cetak. Bahkan berita tentangnya menyaingi kasus yang lagi viral seantero jagat raya. Yaitu kasus pembunuhan seorang penegak hukum, yang dilakukan sang atasan. Nur sudah jadi seleb.
"Din, acara tujuh bulan nya diadakan sederhana saja. Gak usah meriah dan diliput media." Ujar Nur lemas. Berat rasanya untuk mengadakan acara tujuh bulanan secara meriah. Karena Nur tak punya orang tua lagi. Ia hanya punya satu saudara laki laki, yang tetap tinggal di kampung. Dan saudaranya itu tetap tak suka pada nya, karena ia menikah dengan Idris. Tanpa adanya orang tua dalam acara itu, rasanya hampa.
"Kamu bicara apasih Nur? ini moment penting dalam bidupmu. Harus diadakan meriah, aku yakin postingan acara ini, akan ditonton banyak Followers mu." Sahut Dinda tegas, tanpa menoleh ke arah nya. Dinda sibuk menatap layar ponselnya. Melakukan pe kerjaan sebagai asisten yang profesional.
"Malas Din, gak ada orang tua di acara itu." Nur yang baru selesai membuat konten bersama Dinda, akhirnya memutuskan berbaring di ranjang, yang memang ada di studio mereka.
"Iya sih, tapi acara itu sudah dinanti nantikan banyak orang. Endorse pun sudah diterima Nur!" Akhirnya Dinda menoleh ke arah Nur, yang sudah berbaring di ranjang menatap ke arah nya dengan tidur miring.
Hhuufftt..
Nur menghela napas panjang, dan menghembuskannya berat. Tangan nya terus saja mengelus perutnya yang sudah sangat buncit itu. "Setelah acara tujuh bulanan, kegiatan kita dikurangi saja ya Din. Gak usah ada wawancara di acar televisi lagi." Ujar nya lemah. Nur merasa lelah sebulan terakhir ini, terlalu banyak tawaran wawancara untuknya. Kisah nya sangat menarik, hingga orang orang selalu penasaran tentang Nur.
Anne juga sudah di penjara, tapi ia hanya di tahan Satu bulan saja, hal itu terjadi karena Nur sebagai korban kekerasan, tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian rezekinya sehari hari. Jadi Anne, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Dan pengacara Anne, bisa membela Anne, sehingga hukuman nya diringankan. Yaitu hanya satu bulan.
"Nur, sebenarnya ada sesuatu yang ku sembunyikan darimu. Tapi, kali ini aku tak akan menyembunyikannya lagi." Dinda menghampiri Nur yang tiduran di ranjang dengan ekspresi seriusnya. Nur dibuat penasaran. Ia pun mengubah posisi nya jadi terduduk Dan bersandar di kepala ranjang.
"Masalah apa yang tak kamu ceritakan pada ku Din?" tanya Nur, menyentuh paha Dinda sekilas.
Eeemmmm... Hufftt...
Dinda perlu menarik napas ranjang, moga setelah mendengar ini Nur gak sedih.
"Itu paman Danu mu, ayahnya Dinda. Tiga hari yang lalu datang ke sini, mau bertemu kamu. Tapi, Karena waktu itu kamu sibuk, aku gak izinkan mereka ketemu kamu."
Nur dibuat semakin penasaran, "Mau apa paman Danu ke sini Din? kenapa kamu sembunyikan itu dari ku?" ujar Nur menampilkan ekspresi sedih dan kecewa. Paman Danu sangat baik pada nya. Hanya Dila yang selalu membencinya. "Sudah ku bilang, aku tak usah dijaga ketat. Lihatlah, saudara sendiri gak bisa berjumpa dengan ku." Nur terlihat frustasi, sejak penyerangan yang dilakukan Anne di Mall. Ditambah gara gara itu, Nur jadi trending topik di media. Idris akhirnya membuat penjagaan ketat pada wanita itu. Idris takut, keluarga Anne dendam. Karena wanita itu gak bisa lolos dari jerat hukum dan akhirnya melakukan pembalasan lagi.
__ADS_1
Huufftt...
Lagi lagi Dinda menghela napas, kehamilannya sering membuatnya susah bernafas. Karena ia hasil empat bulan, sudah sama besarnya dengan hasil Nur. Karena Dinda hasil anak kembar. Memang, yang menghandle job atau pe kerjaan tidak hanya Dinda. Ia juga punya lima asisten.
"Pamanmu datang minta uang, mau tebus rumah nya, yang sertifikatnya digadaikan Dila ke bank. Gak hanya sertifikat rumah yang digadaikan, semua sertifikat tanah yang dimiliki keluarga pamanmu di gadaikan Dila." Jelas Dinda dengan ekspresi sedihnya.
"Apa.. Dila gadaikan sertifikat rumah dan sertifikat tanah ayahnya? untuk apa?" tanya Nur heran dan bingung. Untuk apa nya Dila uang sebanyak itu.
"Si Dila kena tipu. Ditipu cowok miskin dan berjiwa kriminal."
"Haaahh.. Koq bisa?" kedua alisnya Nur tertaut, sangat terkejut dengan apa yang disampaikan Dinda.
"Iya, Ia kenal dengan cowok yang ngakunya pengusaha batubara. Ia kena perdaya, sampai hamil. Saat itu, kebongkarlah Kalau pria itu sudah punya istri. Bodohnya Dila, tetap mau sama cowok itu, jadi simpanan lah dia. Hingga ia sudah abor _ si dua kali." Dinda menjeda ucapan nya, ia merasa geram dengan kisah yang akan diceritakannya pada Nur.
"Terus... Terus Din..!" Nur jadi tak sabar, ia mengoyang lengan Dinda, agar cepat melanjutkan cerita nya.
"Iya, sabar dulu. Aku perlu mengambil napas. Stok oksigen di paru paru sudah habis." Ujar Dinda, Nur masih setia mendengar penjelasan Dinda.
"Terus Din..!" Nur kembali menggoyang tangan Dinda, setelah wanita itu minum juice pokat yang baru saja di antara ART.
"Kamu minum dulu, agar gak syok dengar cerita selanjutnya." Dinda menyodorkan satu gelas Juice alpukat pada Nur. Nur menyedot juice itu dengan cepat. Karena sudah tak sabar mendengar cerita Dinda selanjut nya..
"Ternyata suami nya Dila itu, penipu ulung. Ia bukan pengusaha. Dan pria itu ngarang cerita kalau mau cerai dengan istrinya. Faktanya, hasil uang gadaikan rumah, tanah dan perhiasan orang tuanya Dila dibawa kabur pria itu. Mereka ditipu besar besaran." Jelas Dinda geram.
"APA...?" kedua matanya Nur membeliak mendengar cerita panjangnya Dila. Ternyata pamannya kena tipu, begitu juga dengan Dila.
"Astagfirullah... Ya Allah.. Kasihan sekali paman." Ujar nya dengan mata berkabut.
Nur jadi teringat, saat ia pertama kali datang ke kota Medan, untuk kuliah. Ia tinggal di rumah pamannya itu. Bahkan satu tahun setelah dapat kerjaan, ia masih pernah tinggal di rumah itu. Paman dan bibinya sangat baik.
"Din.. Kenapa kamu gak ceritakan ini cepat? Kenapa kamu gak izinkan Mereka masuk ke rumah Din?" tanya Nur dengan raut kecewa, masak saudara sendiri di larang masuk ke rumah nya.
"Kamu tenang dulu, dengerin penjelasanku ya! saat pamanmu dan bibimu datang ke sini. Di rumah ini sedang ada liputan dari media. Gak mungkin kan acara itu berhenti, gara gara mereka. Terus aku kata kan pada pamanmu, kita yang akan menyambangi Mereka, jikalau jadwal sudah tak padat." Jelas Dinda dengan tenang.
__ADS_1
"Oouuww... Iya bener juga." Sahut Nur lemas, ia tak menyangka Dila, akan mengalami nasib seperti nya. Ditinggalkan pria yang dicintai, setelah dihancurkan. Tapi, di sini nasib Dila lebih parah. Pria itu sampai menipu orang tua Dila.
"Dinda, ini tak boleh dibiarkan. Kita harus bekuk penipu itu. Minta suamimu mengusutnya. Aku tak terima, keluargaku ditipu..!" Ujar Nur dengan terisak. Nur sudah menganggap Paman Danu, pengganti ayahnya.
"Iya, ini Masalah sudah kami selidiki. Makanya aku berani cerita padamu. Saat pamanmu ke sini, Menceritakan semua nya. Aku meminta suami ku untuk mencari info, kebenaran dari cerita pamanmu itu. Dan benar semua ceritanya. Dan sekarang, Dila sedang dirawat di rumah sakit. Ia mencoba bunuh diri, tapi sayang gak mati mati." Ujar Dinda geram.
"Kita harus ke rumah paman, kita harus bantu mereka!" Nur beranjak dari ranjangnya dengan tergesa gesa.
"Tunggu.. Tunggu bos datang. Aku sudah kasih uang pada pamanmu, untuk nebus rumahnya. Tapi, kalau untuk nebus surat tanah belum." Jelas Dinda. Ia menarik tangan Nur pelan, agar duduk lagi di tepi ranjang.
"Jangan kau pikirkan masalah itu. Nanti kamu setres. Anakmu di dalam ikut terganggu perkembangannya." Jelas Dinda memegang lembut perutnya nur.
Nur melap air matanya dengan jemarinya. Melirik Dinda yang tersenyum padanya. "Kamu juga jangan setres dan capek. Kamu juga lagi hamil." Ujarnya tangannya menjulur mengusap perut Dinda.
"Calon menantuku.. Kalian baik baik di sana ya? kalau Mama dan Ayahmu sedang mantap mantap, kalian jangan ngintip!" ujar Nur menahan tawa, melirik Dinda, tangan masih mengusap perut Dinda, sang sahabat.
"Bicara apa sih? dasar mertua gak ada akhlak!"
Hahahaha..
Mereka berdua akhirnya tertawa. Mungkin teringat kelakuan masing masing, saat mantap mantap dengan pasangan masing masing.
"Aku gak mau berikan putriku untuk anakmu. Putriku kembar, kamunya hanya punya satu anak. Nanti, anakku satunya lagi gak kebagian, cemburu!" sahut Dinda menampilkan ekspresi wajah serius tapi menahan tawa.
"Bener... Gak mau jadi besanku..?" ancam Nur menunjuk Dinda, yang masih menahan tawa.
"Iya!"
Hahahaha
Mereka pun tertawa bersama dengan keras. Cerita sedih nya Dila, tak usah diambil hati. Wanita itu sudah mendapatkan hasil dari kesombongannya.
TBC
__ADS_1