Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Ken tut


__ADS_3

Idris dan Nur telah sampai dikediamannya, disaat Magrib tiba. Nur menanyakan keberadaan Dinda kepada kepala pelayan. Nur ingin memastikan, apakah Dinda sudah pulang ke rumahnya atau tidak.


"Non Dinda masih di ruang kerja Nyonya. Tadi setelah selesai sholat Magrib, Non Dinda kembali ke ruang kerja." Jawab kepala pelayan sopan.


"Oouuww... Kirain dia dan Mark sudah pulang " sahut Nur, bergegas ke ruang kerja, yang diekori oleh Idris.


Saat tiba di depan ruang kerja, ia cukup terkejut melihat pintu ruangan itu sedikit terbuka. Ditambah ada suara suara aneh dari dalam ruangan itu.


Nur yang penasaran, akhirnya mengintip daei celah pintu.


"Astaga.. Mereka malah bercumbu di sini. Gak tahan lagi apa, melakukannya du rumah mereka." ujar Nur menggeleng heran dengan kelakuan Dinda dan Mark. Yang berciuman di sofa. Dan tangannya Mark terlihat memainkan gundukan kembar yang semakin padat dan montok itu.


"Dasar gak ada akhlak itu si Mark. Ayo, kita gituan juga. Lihat mereka, aku juga pengen." Ujar Idris pelan di telinga Nur. Yang membuat bulu roma nya Nur meremang.


"Iihh.. Hubby.. Geli tahu." Nur menggosok kuping nya. Saat itu Idris terkejut. Jadilah tangannya mendorong pintu itu, hingga terbuka lebar.


Pasangan yang lagi me -sum di dalam, dibuat terkejut, bingung, kikuk dan malu, membenahi penampilan masing masing.


Hehehe..


Nur tertawa cengengesan, gara gara mereka keromantisan Mark dan Dinda terganggu. "Silahkan dilanjutkan di rumah kalian yaa?!" ujar Nur cengengesan, meledek Mark dan Dinda.


Dinda sangat malu, ia tak berani menatap Nur dan Idris. Sedangkan Mark, yang malu juga, terlihat menahan tawa.


"Iya Nyonya besar. Baiklah kami pamit pulang. Ku harap, tak ada gangguan lagi. Aku akan menonaktifkan ponselku!" tegas Mark masih mengulum senyum. Meraih tangan sang istri, menggandengnya lembut. Dinda mengekori sang suami. Masih menunduk malu pada Idris dan Nur.


"Iya, malam ini tak akan gangguan." Sahut Idris tertawa kecil menatap Mark, yang wajahnya memerah karena malu. "Tapi besok, kamu ada tugas penting."


"Baik bos. Kawin pamit." Ucap Mark sopan.


" Nur, kami pulang dulu ya?!" akhirnya Dinda buka suara.


"Iya Din, mainnya hati hati ya? ingat, di dalam rahimmu ada menantuku." Ujar Nur. Ckk Ckkk.. Ckkk. Nur tertawa lepas.


"Dasar, calon besan gak ada akhlak." Sahut Dinda, sebelum mereka ngacir dari hadapan Nur dan Idris.


Hahahaha..


Nur tertawa puas, melihat Mark dan Dinda yang berjalan ke arah lift dengan menggerutu, terdengar sedikit percakapan, Dinda menyalahkan Mark. Karena Mark yang menggangu Dinda saat bekerja.


Hhuufftt.....


"Gak nyangka, Dinda berjodoh dengan Mark. Dan mereka terlihat bahagia dalam pernikahannya. Padahal Mark diawal awal tak suka dengan Dinda, eehh.. Gak tahunya sekarang bucin parah." Ujar Nur, membalas tatapan Idris yang sedari tadi setia menatapnya.


"Itulah jodoh, Kita tidak akan pernah tahu siapa jodoh kita nanti. Tanpa diminta untuk menunggu, jodoh pasti bertemu di ujung penantian." Idris memeluk pinggang Nur, menarik wanita itu agar mendekat kepadanya.

__ADS_1


"Mau apa?" Nur mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.


"Mau melakukan seperti yang di lakukan Mark dan Dinda." Ujar Idris lembut, mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri yang memerah, karena tersipu malu.


Nur terdiam, sorot mata penuh cinta membalas tatapan mata sang suami. Wajahnya Idris sudah dekat ke wajah sang istri. Ia pun memiringkan sedikit wajahnya, membuat ancang ancang untuk saling berpangutan.


Satu


Dua


Nur memejamkan kedua matanya. Bersiap menyambut bibir sang suami, berlabuh di bibir meriah chery lembut itu.


Tiga.


"Ayah.. Bunda..!"


Byur...


Hasrat yang bergelorah redup sudah, Mereka tak menyadari, kalau Ma yang, ada di sebelah mereka.


Hehhee..


Keduanya nyengir, menahan malu pada anak kecil itu.


"Uupppss.. Aku gak lihat koq Ayah, bunda.!" ujar anak kecil yang centil itu, dengan tertawa kecil. Mayang .alah menutup kedua matanya dengan jemarinya yang terbuka, sehingga ia masih bisa melihat ayah dan ibunya itu.


"Heheeh... Mayang kan sering lihat ayah dan bunda begituan!" ujar Mayang serius, mematuk matukkan jari telunjuknya, sebagai kode orang yang sedang berciuman.


"Apa..?" ujar Nur herman sekaligus malu. "Lain kali jangan lihat begituan ya Nak!" ujar Idris memberi peringatan pada sang putri.


"Kan gak sengaja ayah...!" Anak kecil itu malah menjepit hidung mancungnya Idris.


"Iya, lain kali. Kalau lihat lagi kek gitu."


"Aku tutup mata." Jawab Mayang cepat, memotong ucapan Idris. Tangannya menutup matanya dan gadis kecil itu tersenyum mengejek.


"Astaga... Ini anak!" Idris gemes, ia merangkum kepala sang putri dengan tangannya. Ingin rasanya ia mempites pites putrinya itu, saking geramnya.


Hahahaha..


Nur malah menertawakan suami dan anaknya itu. Percakapan Idris dan Mayang terdengar lucu.


"Eemmm... Lihat bundamu jadi tertawa." Idris meriah bahu Nur, merangkulnya dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kiri, sedang memegang Mayang dalam gendongannya. Mereka melewati lorong rumah gedong itu, menuju kamar.


"Habis kalian berdua lucu." Ujar Nur tersenyum lebar menatap suami dan anaknya.

__ADS_1


Sesampainya di kamar. Mereka menuju balkon. Mayang didudukkan Idris di sofa, yang sudah duduki Nur terlebih dahulu. Malam ini langit saat indah dan cerah. Begitu banyak bintang kelapa kelip, dan malam diterangi oleh bulan.


Saat itu juga pelayan datang membawa makanan. Ya, tadi saat Nur sampai di rumah. Ia meminta pelayan membawa makanan ke kamar. Mereka akan makan malam di balkon. Tentu saja dalam sekejab semuanya bisa disiapkan pelayan mereka. Karena jumlah pelayan di rumah mewah itu cukup banyak. Dan kebanyakan pelayan, dibawa Nur dari kampungnya. Dan gajinya melebihi gaji PNS golongan IV.


"Eemmm.. Besok aku ikutkan ayah ke kampung?" tanya Mayang, menatap serius Idris, kemudian beralih menatap Nur.


"Mayang kan lagi sekolah sayang." Jawab Idris, setelah meneguk air dari gelas. Ia sebenarnya sudah mendidik Mayang. Agar di saat makan jangan bicara. Tapi, lihatlah anaknya itu lupa dengan aturannya.


"Eemm... Aku gak mau sekolah lagi. Ibu gurunya jahat, cerewet!" keluhnya menampilkan ekspresi kesalnya.


Kening Nur mengerut mendengar ucapan Mayang. Setahu dia, guru di tempat Mayang sekolah baik, penyayang dan lembut. Koq katanya cerewet.


"Kenapa kamu bilang gurunya jahat sayang?" tanya Nur dengan penasarannya.


"Habis.. Ibu guru Nindy, marah samaku..!" Hu hu hu hu hu... Mayang malah menangis tersedu sedu. Ia sedih, tapi tingkahnya terlihat lucu. Ya setiap tingkah Mayang, pasti jadi lucu.


Idris membelai kepala Mayang, berusaha mendiamkannya. "Jahat kenapa sayang..!?" tanya Idris dengan wajah turut prihatinnya.


"Bu Nyndy malah, karena aku kentut di kelas." Hua .. hua.. Hua..


Mayang malah menangis semakin histeris. Tak hanya guru Nyndy yang menegurnya. Murid lain menertawakannya.


"Oalah sayang, kalau kentut, jangan di tempat ramai. Permisi dulu, kentutunya di toilet." Jelas Idris, masih berusaha mendiamkan Mayang yang masih menangis. Sedangkan Nur sudah tertawa terbahak bahak. Hal itu membuat Mayang semakin kesal. Bukan hanya teman sekolah yang menertawakan. Bundanya juga, ia sebel.


"Kan Ibu gurunya yang bilangan, kentut jangan ditahan. Itu angin harus dikeluarkan. Saat itu jjga, aku ingin buang angin ayah." Hua ... Hua... Hua..


Idris tak bisa menahan dirinya untuk tidak ketawa juga.


Kwkwkwkwk..


"Tu kan Ayah ikut ikutan tertawa." Mayang merajuk, melipat kedua tangan di dada, dan membuang muka.


"Maaf sayang, Habis ceritamu lucu. Maaf ya?" memelas pada sang putri. Sedangkan Nur, masih senyam senyum memperhatikan Mayang dan Idris yang berinteraksi.


"Gak lucu..!" ujar Mayang kesal, menatap kedua orang tuanya.


Idris mengangkat Mayang, menempatkannya di pangkuannya. "Iya sayang, gak lucu koq. Sudah ya, jangan nangis lagi." melap air mata Mayang yang membanjiri pipi mulus chaby nya.


"Ayah harus hukum Ibu Nyndy. Ibu Nyndy salah."


"Iya, Besok ayah ke sekolah mu. Hukum Ibu Nyndy." Ujar Idris lembut. Menahan tawa, menatap ke arah Nur di hadapannya. Yang dari tadi juga menahan tawanya.


"Besok aku gak mau ke sekolah. Aku mau ikut ke kampung." Ucapan Mayang lagi.


"Iya, Mayang ikut koq sayang." Sahut Nur, tangannya menjulur mencubit gemes pipi tembem itu.

__ADS_1


Nur ke kampung, mau ziarah ke makam sang Ibu. Sekalian ia akan bersedekah di kampung. Pulang dari kampung, ia akan melakukan acara tujuh bulanan.


TBC


__ADS_2