Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Tak sabar lagi


__ADS_3

Idris sudah menstel di otaknya untuk bangun cepat. Pukul 4 subuh ia pun terbangun. Ia sudah tak sabar untuk men-tes apakah istrinya itu hamil atau tidak. Idris menatap lekat sang istri yang masih tidur pulas. Rasanya sangat berat untuk membangunkan istrinya itu. Karena biasanya Nur pukul lima sudah terbangun. Akhirnya Idris memutuskan untuk tidak membangun Nur, akan lebih baik istrinya itu bangun dengan sendirinya. Toh sebentar lagi juga bangun. Ia harus sabar, untuk mentes air seni sang istri dengan tesc pack yang dibelikan oleh Mark.


Pria itu dengan pelan menjauhkan tubuhnya dari dekapan sang istri. Kemudian mengecup kening Nur dengan lembut. Perlakuannya itu membuat Nur menggeliat. Ia yang gemes mencium bibir Nur sekilas, sebelum ia turun ke lantai satu, tepatnya mau ke kamar Mark.


Sesampainya di depan kamar Mark. Idris dibuat sedikit terkejut mendapati pintu kamar nya Mark, tidak tertutup rapat. Pintu itu terbuka sedikit. Dengan penasarannya Idris menyeret kakinya masuk ke kamar Mark.


"What.....?!"


Jantung Idris jatuh sudah dari tempatnya. Penampakan yang Idris lihat di hadapannya sangat mengejutkan.


"Mark... Mark...!" teriak Idris sekuat kuatnya. Yang dipanggil tak kunjung bangun.


"Mark...." menaikkan satu oktaf nada teriakannya. Sungguh Idris tak menyangka, sang asisten dan sahabat karib sang istri yang dikenal polos, malah kedapatan tidur seranjang dan saling peluk menghadap satu sama lain. Dan wajahnya Mark, tenggelam di dada Dinda.


"Dinda ...!"


Kini Idris yang berteriak memanggil nama wanita itu. Idris sudah menganggap Dinda sebagai saudarinya sekarang. Dan Dinda sudah ikut kerja dengannya. Sama sama membangun perusahaan yang baru dirintis.


"Mark..!" yang dipanggil seperti nya sudah terbangun. Tapi, nyawanya belum terkumpul sempurna. Mark bahkan semakin memeluk erat Dinda. Kakinya mengungkung tubuh wanita itu.


"Mark...!" teriak Idris lagi, menatap tajam pria yang belum sadar sepenuhnya itu.


"Apa sih Bos? aku itu capek. Capek cari testpack tadi malam, di setiap supermarket dan minimarket yang aku datangi testpack nya pada habis. Apotik sudah pada tutup. Biarkan aku tidur lima menit lagi. Ayam aja belum berkokok, subuh aja belum dapat." Oceh Mark, tapi mata masih tertutup. "Ini guling koq beda ya?" ujarnya lagi sambil meraba raba, Dinda yang dianggapnya guling.


"Mark .. Bangun.. Bangun masih sempat sempatnya bahas shuhuh. Emang kamu mau sholat?" Bangun kalian..!" sepertinya kesadaran Mark sudah 75%. Ia pun semakin mempercepat tangannya yang meraba raba guling nya yang rasanya sangat beda dengan guling sebelumnya.


Dinda terbangun karena merasakan tubuhnya seperti ditelusuri tangan seseorang, begitu juga dengan Mark, yang merasa ada yang aneh dengan guling nya kali ini.


"Aauuuwww...!" Mark dan Dinda sama sama teriak histeris. Diam sejenak dan sama sama memeriksa diri sendiri.


"Aauuuuwwu...!" kembali berteriak dan bergegas turun dari ranjang.


"Tidak ..!" teriak Dinda.


Dinda, dengan cepat menutup piyama yang melekat ditubuhnya, di mana kancingnya lepas semua. Syukur ia sedang tak menghadap Idris. Sempat tadi ia menghadap pria itu saat turun dari atas ranjang dengan kancing piyama yang sudah lepas semua. Itu sangat memalukan sekali.


"Apa maksud kalian, kalian sudah mengotori rumahku. Ku tunggu penjelasan di ruang kerja, sekarang..!"


Titah Idris dengan penuh amarah. Idris tak suka dengan perbuatan maksiat.


Mark masih dalam keadaan linglung saat ini, koq bisa ia dan Dinda tidur seranjang dan pelukan pula. Ditambah, kancing piyama Dinda lepas semua. Sempat ia melihat gunung kembar Dinda yang ditutup bRa itu.


"Aku, aku kenapa di sini pak?" tanya Dinda dengan paniknya. Wajahnya terlihat sangat ketakutan dan was was. Karena kancing piyamanya lepas semua. "Bapak, kenapa bapak buka in kancing bajuku..!" ujar Dinda dengan polosnya, mata indahnya sudah berkaca-kaca.


"Tidak, tidak Dinda... Aku tak melakukan apapun padamu. Aku tak membuka kancing bajumu. Aku saja heran, koq kamu malah ada di ranjang ku." Ujar Mark dengan gugupnya. kedua tangannya terlihat memberikan penolakan atas tuduhan Dinda.


"Hua....Hua.... Hua... Aku, aku aku sudah rusak.... Oh tidak...!" Dinda yang panik dan terkejut, malah ambruk di lantai. Ia pingsan, dan piyama nya yang sempat dirapatkan nya dengan tangan nya. Kini terbuka lagi. Nampaklah aset gunung kembarnya yang menggoda itu. Putih mulus dan montok.


"Kabur ..!"


Mark yang panik, malah meninggalkan Dinda di kamar itu dalam keadaan pingsan. Ia tak mau dituduh lagi, berbuat yang macem macem, jika ia menolong wanita itu, mending panggil Bi Sekar.


"BI Sekar... Bi Sekar...!" teriak Mark berlari kencang ke arah kamar Bi Sekar, di belakang.


Dan saat itu Nur sudah terbangun dan sedang menuruni anak tangga. Ia heran dengan suara ribut yang ada sejak tadi.


"Sini Bi, Dinda pingsan." Dengan paniknya Mark menarik lengan Bi Sekar menuju kamarnya.


"Mark, Bi Sekar, ada apa?" tanya Nur yang sudah ada di depan kamar Mark.


"Kabur....!" Mark langsung kabur ke ruang kerja Idris. Ia tak sanggup untuk menjelaskan apa yang terjadi. Toh ia juga gak tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Nur dan Bi Sekar masuk ke kamarnya Mark dengan penasarannya.


"Dinda...!"


Nur menghampiri Dinda yang terbaring di lantai.


"Non Dinda kenapa?" tanya Bi Sekar heran, karena piyama yang Dinda kenakan kancingnya terbuka semua.


"Gak tahu Bi, ambilkan air Bi." Ujar Nur, berusaha menyadarkan Dinda dengan menepuk nepuk pipi wanita itu.


"Air, air untuk apa non?" tanya Bi Sekar bingung.


"Air untuk sadarkan Dinda Bi " Ujar Nur dengan penuh khawatir nya. Ia juga heran kenapa Dinda ada di kamar nya Mark.


Bi Sekar bergegas menuju dapur. Sedangkan Nur terus berusaha menyadarkan Dinda.


"Non, ini airnya!'


"Percikkan Bi ke wajahnya!


Bi Sekar memercikkan air ke wajah nya Dinda. Tapi, tak ada hasil.


"Minggir Non!'


Dengan ragu Nur menjauh dar sang sahabat.


Dan


Blasshh..


Satu ember air disiramkan Bi Sekar ke wajahnya Dinda.


"Tolong... Tolong...!" Teriak Dinda, megap megap. Seperti nya ada air yang masuk ke hidung.


Uhuk..


"BI, kenapa bibi siram Dinda .?" protes Nur pada ART nya itu dengan muka masamnya. Ia tak suka cara Bi Sekar, sadarkan Dinda.


"Maaf Enon, bibi tadi niatnya biar Enok Dinda cepat sadar." ujar Bi Sekar, takut dan merasa bersalah.


Nur membantu sang sahabat untuk bangkit.


Hua.... Hua ... Hua .


Ia pun memeluk Dinda, menangis histeris dalam dekapannya.


Nur ingin mengelak, karena ia tak mau kena basah. Tapi, ia tetap menyambut pelukan sang sahabat. Karena ia melihat Dinda sedang butuh tempat bersandar.


"Aku, aku, apa yang terjadi padaku Nur?" tanya Dinda sesenggukan.


"Mana ketehe Din. Aku saja heran lihat kamu bajunya terbuka gini, di kamar Mark lagi." Nur mengelus punggung Dinda lembut, berusaha menenangkan temannya itu.


"Aku, aku diapakan Bapak Mark?" tanyanya masih menangis.


"Nanti kita tanyakan pada Mark. Sebaiknya kamu bersihkan tubuh mu. Aku juga mau mandi ini?" Nur mengurai pelukan Dinda. Mereka pun keluar dari kamar Mark, bergegas menuju kamar nya masing masing.


Di ruang kerjanya Idris. Sedang terjadi interogasi. Kenapa Mark dan Dinda ada dalam satu ranjang, pelukan pula.


"Aku gak lakukan apa pun pada Dinda Bos." Ujar Mark panik. Ia juga heran, koq Dinda ada di kamar nya.


"Gak ngapa ngapain kamu bilang. Kamu itu ngedusel dusel ke dadanya Dinda." Ujar Idris kesal, tak suka ada kebohongan.

__ADS_1


"Haa.hh.. Masak sih Bos?" tanya Mark semakin bingung, ia kini terlihat menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Iya, gak ngaku lagi. Kalian kalau memang sama sama suka, nikah aja. Tentu harus ada yang ngalah. Jangan kamu jebak Dinda, agar ia mau nikah dengamu!" Ujar Idris tegas.


"Aku gak jebak Dinda Bos. Lagian mana mungkin aku dan Dinda menikah. Kami beda keyakinan." Sahut Mark dengan wajah masam. Tak suka dengan tuduhan Idris.


"Sudah, sudah. Nanti kita bahas lagi. Mana testpack nya!"


"Testpack?"


Mark jadi lupa bahwa ia beli testpack tadi malam. Gara gara kejadian pagi ini.


"Iya, testpack. Ambilkan testpack nya!" titah Idris.


"Baik Bos " Mark bergegas menuju kamarnya. Dalam perjalanan menuju kamar nya ia berharap Dinda tak ada lagi di kamar itu.


Nyess..


Ia sedikit legah karena tak menemukan Dinda di kamar itu. Hanya ada Bi Sekar, yang terlihat sedang bersihkan kamarnya dari bekas air menyiram Dinda


"Koq banjir bi?" tanya Mark, setelah mengambil testpack dari atas nakas dekat tempat tidur.


"Bukan banjir Mark. Ini tadi air bekas siram Enon Dinda " Jelas Bi Sekar, dengan tatapan fokus ke pekerjaan nya.


"Disiram? Dinda bibi siram?" tanya Mark heran dan terkejut.


"Iya tuan Mark." Sahut Bi Sekar merasa bersalah. Karena sudah dua orang menyalahkan dirinya.


"Oalah Bi!" Mark meninggalkan kamar nya menuju ruang kerja Idris. Saat berjalan di lorong menuju ruang kerja Idris. Ternyata ia sudah di tunggu Bis nya itu di lorong menuju ruang kerja


"Mana!" Idris menengadahkan tangan nya.


Mark dengan senyum ramahnya memberikan alat pengecek kehamilan itu.


"Banyak banget!" tanya Idris heran. Karena Mark memberikan satu kotak testpack.


"Iya Bos. Aku gak ngerti masalah begituan. Ya sudah aku beli satu kotak aja " Sahutnya cepat membela diri.


"Ya sudah .!" Idris mengibaskan tangannya, berjalan cepat menuju kamarnya. Saat ia masuk kamarnya ia mendapati sang istri sudah selesai mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat subuh.


"Sayang .. Sudah ditampung air seni nya?" tanya Idris, menggoda Nur. Dengan berusaha menyentuh istrinya yang sudah berwudhu itu.


"Iiihh.. Jangan, jangan. Aku sudah berwudhu." Nur menghindar dari tangan nakalnya Idris. Tentunya mereka berdua tertawa.


"Air seninya ditampung tadi kan sayang?" masih menggoda Nur, dengan berusaha menyentuh nya.


"Air seni?" Nur nampak berfikir sejenak. "Oooh ... Itu, Lupa...!" jawab Nur cepat.


"Apa... Astaga...!" Idris memegang kepalanya penuh frustasi.


Nur dibuat heran, suaminya itu sikapnya menurut Nur terlalu berlebihan.


"Nanti kita periksa ke dokter aja By. Sudah aahhh sana mandi." Mengusir Idris dengan gerakan tangan nya.


"Aku sudah tak sabar. Nunggu ke Dokter berapa jam lagi!" ujar Idris geram, giginya sampai dirapatkan saat bicara.


"Sabar atuh..!"


"Iya deh!"


Idris menyimpan testpack itu di laci lemari. Ia pun masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


TBC


__ADS_2