Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Tekad


__ADS_3

"Aduuhh.. kepalaku, kepalaku sakit.!" Nur memegangi kepalanya dengan wajah kusutnya. Ekspresi wajah kesakitan tercetak jelas. Hal itu membuat ART yang sedang bersamanya terlihat mengkhawatirkannya.


"Ayo non, istirahat dulu." Menuntun Nur duduk di sofa ruang tamu itu. "Kalau Enon sakit, gak usah pulang dulu." Memperhatikan lekat Nur yang masih meringis kesakitan.


Nur melirik wanita paruh baya yang terlihat mengkhawatirkannya dengan penuh maksud.


"Emang aku masih bisa tinggal di rumah ini Bi?" tanyanya dengan meringis kesakitan.


"Ya biasalah Enon, masak orang sakit disuruh pulang. Kejam amat!" Sahut Art berjenis kelamin wanita itu, yang Nur tak tahu namanya sama sekali.


"Oouuh.. Yang punya rumah nanti gak marah bi?" Nur terlihat penuh selidik.


"Gak lah Enon. Ini rumah jarang didatangi tuan. Bahkan Nyonya gak pernah datang ke rumah ini." Jelas ART tersebut.


"Oouuww... Berarti tuan pemilik rumah, hari ini gak pulang ke sini ya Bi?" tanya Nur masih penuh selidik seperti detektif saja, seolah ia lupa dengan kepalanya yang sakit.


"Soal itu aku kurang tahu Non. Tuan tak terduga kapan datangnya kesini." Menatap heran Nur yang terlihat sedang menginterogasinya. Dan saat ini Nur terlihat sudah dalam keadaan baik.


Nur manggut-manggut, tapi ekspresi wajahnya terlihat berfikir keras.


"Apa kepalanya sudah gak sakit lagi non?"

__ADS_1


Nur langsung memegangi kepalanya. "Aduhh.. Sakit, pusing, nyut nyutan masih Bi." Ekor matanya melirik si Bibi, yang langsung panik mendengar Nur meringis kesakitan.


"Kalau begitu Enon kembali ke kamar untuk istirahat." Nur dituntun ART masuk kembali ke kamar.


Sesampainya di kamar, Nur berbaring di ranjang. Sedangkan si bibi terlihat sedang menghubungi dokter.


"Gak usah panggil dokter Bi." Ujar Nur dengan paniknya. "Cukup istirahat sebentar, nanti juga baikan."


"Baiklah Enon, selamat istirahat ya." Si bibi keluar dari kamar itu.


Sepeninggalan sang bibi, Nur beranjak dari ranjang. Ia menghela napas berat, karena saat ini ia merasa sangat tegang. Ia sama sekali tak sakit kepala. Tapi, saat ini otaknya sedang berfikir keras. Gimana caranya, agar bisa tetap bertahan tinggal di rumah ini. Ia harus bisa mengambil hati si empunya rumah. Kalau bisa, ia akan menggoda pria pemilik rumah ini.


"Hadeuuhhh...!"


"Aku ini wanita baik baik. Aku tak akan bisa merusak rumah tangga orang. Kenapa aku malah ingin jadi pelakor?" Nur bicara sendiri di kamar itu. Entah keberanian dari mana yang ia dapatkan, sehingga tercetus keinginan jahat itu.


Apa mungkin, karena sakitnya hatinya karena dihina selama ini. Karena ia sudah tak perawan lagi? dan memang ia jadi susah dalam menemukan jodoh. Apa harus jadi pelakor, ia baru bisa merasakan kehidupan berumah tangga?


"Iya, iya. Kamu juga harus merasakan sakit, seperti sakit yang ku alami selama ini. Kamu harus hancur, seperti aku yang juga hancur karena ulahmu." Ujarnya penuh keyakinan. Tapi, ia kembali murung, merasa tak yakin dengan niat jahatnya.


"Harus, harus bisa. Karena, tak akan kamu dapatkan lagi cinta yang tulus Nur. Tak akan ada pria yang mau menerima masa lalumu. Jadi, kamu harus berfikir keras untuk masuk dalam keluarga ini. Tak perlu cinta lagi. Saatnya sekarang balas dendam " Ujarnya dengan penuh tekad. Ia sudah seperti orang gila bicara sendiri di kamar itu.

__ADS_1


Merasa sedikit tenang. Nur pun memutuskan untuk turun ke lantai satu. Ia akan menemui ART baik hati, yang bersamanya tadi.


Saat menapaki anak tangga. Kedua mata indahnya Nur tentu saja jelalatan melihat desain interior dan furniture rumah itu. Benar benar selera orang kaya.


"Eeehhmmm... Enak ya jadi orang kaya." Ujarnya menggelengkan kepalanya. Heran sendiri dengan dirinya yang tiba tiba saja berubah jadi wanita yang punya niat penuh terselubung. Selama ini ia hidup lurus lurus saja. Walau pernah sih membelok, mau dibujuk rayu sang pacar melakukan zina.


"Eehh si Enon, koq ke sini? sudah gak sakit kepalanya?" tanya si bibi yang menurut Nur sangat ramah.


Nur tersenyum lebar, penuh ketulusan. Ia terkesima dengan sikap si Bibi yang sangat baik.


"Sudah Bi," Nur mendekati si bibi. "Lagi masak ya Bi?" tanyanya basa basi. Sudah tahu lagi masak, masih ditanyain lagi.


"Iya Non. Tadi tuan Nelpon. Katanya mau makan siang di rumah." Jawab si Bibi semangat. "Tumben tumbenan itu si tuan, makan siang di sini. Mungkin karena ada Enon kali disini." Celutuk si bibi, sambil memotong motong wortel.


"Karena aku? emang kenapa denganku Bi?" tanya Nur heran, matanya terlihat bergerak ke sana kemari. Ucapan si bibi seperti sebuah kode saja.


"Gak tahu juga sih non. Heeheh..!" Si Bibi nyengir kuda. Nur jadi ingin tertawa lihat tingkah si bibi yang ramah dan lucu.


"Iya Bi, baiklah sebagai rasa terimakasih ku pada bibi yang baik hati ini." Nur meraih kedua bahu si bibi. Menuntunnya duduk di kursi meja makan. "Aku yang akan mengerjakan tugas bibi hari ini. Bibi istirahat saja ya?" tersenyum pada si bibi yang sedang bengong. Mereka baru kenal, tapi terlihat sudah akrab.


Si bibi tentu saja senang, ada yang bantuin dia. Ia pun akhirnya mengangkat kedua kakinya ke atas kursi satu lagi. Ia bersantai memperhatikan Nur memasak.

__ADS_1


TBC


Tinggalkan jejak like coment positif dan vote say


__ADS_2