Hasrat Liar Istri Simpanan

Hasrat Liar Istri Simpanan
Ngidam


__ADS_3

Waktu terasa cepat berlalu, sebulan sudah berlalu setelah Idris menyelidiki nomor yang meneror sang istri. Dan sejak itu tak pernah ada lagi teror pembunuhan yang masuk ke ponselnya Nur. Ia dan Idris akhirnya menjalani hidup dengan damai. Usaha mereka melesat cepat. Bahkan kini mereka sudah membuka usaha di bidang kuliner. Dan rencananya akan menerapkan konsep bisnis waralaba.


Idris merasa hidupnya berubah sangat drastis menuju kebaikan. Ia merasa sangat bahagia lahir dan bathin. Rezeki mengalir deras dan datang dari segala penjuru arah. Bahkan ia dapat lebih banyak penghasilan, dibandingkan saat memegang perusahaan keluarga Anne. Kalau seperti ini terus, tak butuh waktu satu tahun, ia akan membayar denda yang diminta pengadilan, agar ia dapat akte cerai. Setelah itu, ia akan mengurus pernikahannya dengan Nur.


"Sekali saja minta hal hal aneh, agar ayahmu ini punya kenangan saat ibumu mengandungmu Nak." Ujar Idris lembut, mengelus dan menciumi perut Nur yang sudah besar, karena sudah masuk bulan ke enam kehamilannya.


Nur tak mengalami namanya morning sick, ngidam pun terbilang gak pernah. Ia seperti wanita biasa yang lincah dan sehat. Padahal ia tengah hamil. Paling ia merasa sedikit pusing jikalau kelelahan.


"Hubby bicara apa sih? jangan minta yang aneh aneh dech. Harus nya Hubby bersyukur. Aku itu gak minta Hubby manjat pohon mangga tetangga tengah malam. Beli martabak di subuh hari, dan banyak permintaan aneh lainnya." Ujar Nur, menatap lekat Idris yang kini juga tengah menatap nya lekat.


"Ya pingin aja gitu, adek minta sesuatu pada Hubby." Menatap sekilas Nur, dan kembali fokus mengelus - elus perut buncitnya Nur.


Nur memang sampai sekarang gak pernah ngidam, dan ia sangat bersyukur akan hal itu, ia gak nyusahin diri sendiri, suaminya ataupun orang lain buat nyari sesuatu yang sulit. Apa lagi saat ini mereka sedang sibuk mengepakkan sayap untuk mengembangkan usaha kuliner, serta Nur yang sibuk buat kontennya. Sekarang ia tak hanya buat konten kuliner. Tapi, keseharian dia dalam beraktifitas walau lagi hamil.


Buat konten kuliner, auto ia jadi lebih sering makan. Sehingga berat badannya Nur di usia kehamilannya memasuki enam bulan, meningkat drastis, hingga 16 kilo gram.


"Bener mau nurutin maunya aku By?" Tersenyum penuh maksud pada Idris.


"Iya, iya sayang. Kamu mau apa? mau martabak? mau kedondong? atau mau rujak?" tanya Idris dengan antusiasnya. Ya, biasanya ibu hamil suka makanan itu.


"Eehmmmm. No, no...!" Nur menggerakkan tangannya sebagai kode penolakan. Sudut bibir masih tertarik sempurna, menciptakan senyum penuh maksud menatap sang suami yang duduk di sebelahnya.


"Jadi mau apa dong sayang?" tanya Idris dengan penasaran nya. Istrinya itu ngidam apa sih?


"Eemmm... Beneran, ngidam aku ini harus dikabulkan ya. Karena Hubby yang minta." Tegas Nur, dengan tatapan serius.


"Iya, iya sayang...!" mengangguk kan kepala dengan antusiasnya. Sudah masuk usia hamil enam bulan, baru kali ini Nur minta sesuatu pada nya.


"Aku ingin naik UFO!"

__ADS_1


"Apa... Coba katakan sekali lagi sayang?!" ujar Idris, merasa pendengarannya sedikit terganggu, istrinya itu minta putu? jajanan putu yang ia tangkap dari ucapan sang istri.


"AKU INGIN NAIK UFO..! BUKAN MAU PUTU..!"/ujar Nur dengan suara keras tepat di telinga Idris. Ia sampai mengangkat kepala nya, agar lebih lekat dengan suaminya itu.


"Apa.... UFO?" ujar Idris dengan tak percaya nya. Di mana ia akan menemukan pesawat UFO?


Nur menganggukkan kepalanya cepat.


"Hahahha... Jangan bercanda sayang!" Ujar Idris masih tertawa.


"Siapa yang bercanda, aku serius..! Hua.... Hua... Hua...!" Nur menangis dengan keras. Ia kesal pada Idris karena menertawakan keinginannya.


"Cup... Cup... Cup ... Jangan nangis sayang. Nanti anak kita ikutan nangis, karena sedih lihat mama nya menangis." Idris melap air mata Nur dengan jemarinya. Ia pun menarik Nur dalam dekapannya. Tapi, Nur menolak, ia berontak dari rengkuhan suaminya itu.


"Lepas... Aku mau naik UFO, naik UFO Sekarang...!" teriak Nur kesal pada Idris, karena suaminya itu terlihat sepele dengan permintaan nya. "Makanya gak usah, sok sok nanya. Aku mau nya apa? tiba aku katakan mau ku. Apa Hubby bisa wujudkan?" cicit Nur kesal pada Idris. Bibirnya di tengkuk sudah.


Misal ada makanan yang dia inginkan, dia tak memaksa. Dia akan memakannya jika ada, tapi tak akan mencarinya jika memang tak ada. Bahkan ia akan memasak sendiri makanan yang ia inginkan.


‘ngidam’ bukan keinginan baby, jadi emang ibunya aja yang lagi pengen sesuatu... yang disebabkan perubahan hormon selama kehamilan. Tapi, ngidam Nur, kali ini beneran keinginan anak dalam kandungannya.


"Sayang... Jangan menangis lagi ya? malam ini mungkin Hubby tak bisa wujudkan keinginanmu. Semoga esok malam, Hubby bisa memanggil alien untuk turun ke bumi." Ujar Idris lemas, tangannya terjulur memeluk sang istri yang membelakanginya, mengusap usap lembut perut Nur, yang kini anaknya itu melakukan pergerakan.


Huufftt..


Idris menarik napas dalam. Ia bingung sudah bagaimana caranya memenuhi keinginan istrinya itu.


"Makannya, gak usah nanya nanya aku, ngidamnya apa? tiba di katakan, Hubby nya malah lemas gitu." Ujar Nur merajuk, sesekali terdengar suara tarikan ingusnya. Ia masih menangis.


"Iya sayang... Maaf ya?!"

__ADS_1


"Gak ada maaf maaf.. Aku mau naik Ufo....?" membalik badan hingga kini mereka bersitatap. Nur menampilkan ekspresi wajah masam, karena Idris tak bisa mewujudkan keinginan nya.


"Iya sayang, iya.. Jangan ngambek ya. Besok kita usaha kan manggil alien." ujar Idris lembut.


"Aku mau naik UfO. Bukan mau ketemu alien!" ketusnya lagi.


"Iya, iya sayang... Sabar ya sayang."


"Gak... Mau sekarang!" ujar Nur ngotot. Ekspresi wajah masih kesal. Ia kembali membelakangi Idris.


"Iya sayang, semoga nanti adek mimpi naik pesawat UFO."


"Iihh... Sebel.. Makanya gak usah sok sok nanya. Bersyukur saja, istrimu gak repotin."


"Iya sayang... Jangan marah, Hubby nyerah." Mengecupi ceruk leher sang istri. Sedangkan tangan mulai nakal memainkan gunung kembar.


Nur protes, tak suka digerinyangi sang suami, karena keinginan nya tak terwujud.


"Jangan sentuhan aku, sebelum kapal UFO, turun ke bumi!" Tegas Nur, menjauhkan tangan Idris dari tubuhnya.


"Apa...? jangan ngadi ngadi deh sayang..!" berusaha meraih sang istri dalam dekapannya. Tapi, lagi- lagi Nur menjauh, ia bahkan sudah membuat batas di tengah ranjang dengan sebuah guling.


"Sebelum Hubby wujud kan keinginan ku, jangan dekat dekat dengan ku!" menatap tajam Idris yang tergelak. Kemudian wanita itu kembali berbaring membelakangi sang suami.


"Apa anak ku mau jadi astronot ya?" ujar Idris lemas merebahkan tubuhnya menghadap sang istri yang membelakangi nya.


TBc


Tinggalkan jejak like coment vote ya say.

__ADS_1


__ADS_2