
Sesampainya di depan gerbang rumah. Mobilnya Idris, di hadang oleh Angga. Hal itu membuat Idris geram, sedangkan Nur dibuat jadi tidak tenang. Ia tak mau lagi melihat wajah pria yang menghancurkan hidupnya itu.
"Mau apa lagi dia, gak malu dia, berani nongol lagi di hadapan kita. Dasar kakak dan adik sama gila nya!." Umpat Idris kesal, menatap ke arah Mark, yang berdiri di hadapan mereka.
"Bos, kalau gini terus. Hidup kalian tak akan tenang." Ujar Dinda sedih, turut prihatin dengan rumah tangga Nur, yang selalu dihantui oleh Anne.
"Iya By." Timpal Nur, dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran. Ia tak mau ada keributan lagi. Kenapa Anne dan Angga, tak move on saja. Kembali melanjutkan hidup, tanpa harus mengganggu nya. Dulu saja, saat Angga mencampakkannya, dan Anne menghinanya. Nur memilih pergi dari kehidupan pria itu.
Idris menekan handle pintu.
"Bos, jangan turun! Tak ada gunanya meladeni orang itu." ujar Dinda, menoleh ke belakang. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan Nur. Yang sudah tidak tenang duduk di jok mobil itu.
"Ini harus diselesaikan, aku harus bicara lagi dengannya!" ujar Idris menatap lekat sang istri yang sedang tidak tenang itu.
"Jangan terpancing dengan apa yang dikatakannya nanti Hubby. Aku, aku gak mau setelah bicara dengannya, sikap Hubby nantinya berubah padaku!" ujar Nur dengan mata yang berkabut. Jujur ia takut Idris kena pengaruhi oleh Angga.
Karena Angga masih terus mengusik hidupnya. Bahkan pria itu, masih sering datang ke rumah mereka yang di kampung. Entah jurus apa yang diucapkan Angga pada abang nya yang di kampung, hingga sampai detik ini. Abangnya Nur, menginginkan Nur kembali pada Angga. Dan Idris, tetap dengan Anne.
"Jangan ragukan perasaanku padamu, Ok! kamu tenang, tak perlu merasa bersalah seperti itu. Hubby tahu kamu tegang seperti ini, karena lihat berita yang viral, kejadian di mall tadi siang." Ujar Idris lembut, berusaha menenangkan Nur, yang memang tegang dan cemas.
"Kamu bukan pelakor. Ingat kata kata ku ini, kamu bukan pelakor. Memang aku yang mau denganmu!" tegas Idris, membelai wajahnya Nur. Ia harus bisa meyakinkan sang istri, agar jangan merasa bersalah pada Anne.
Nur mengangguk lemah. "Iya By."
Idris turun dari mobil mewah nya. Sedangkan mobil yang dikenderai Dinda, melaju masuk ke pekarangan rumah.
Angga menyambut Idris, yang menghampiri nya. Ekspresi wajah tegang terlihat jelas.
"Bang, kita harus bicara!" ujar Angga serius.
"Tak ada yang perlu dibicarakan lagi Angga. Kamu pergilah dari tempat ini." Tegas Idris, menampilkan wajah masamnya.
__ADS_1
"Kasihan kak Anne, bang. Tak perlu abang bayar denda, agar dapat akte cerai. Kembalilah pada kak Anne bang!" bicara dengan memelas.
"Kamu bawa kakakmu ke psikiater. Sembuhkan dia, di dunia ini masih banyak laki laki. Jangan usik kehidupan ku dan Nur lagi." Tegas Idris menunjuk Angga, yang kini terbengong, mendengar penuturan Idris.
"Cabut laporan penganiayaan itu bang." Angga yang sempat termehok, kembali memelas, menahan tangan Idris yang hendak meninggalkannya.
"Tidak akan, ini kedua kalinya ia buat ribut denganku." Menghempaskan kuat tangan Angga. Ia pun melanjutkan langkahnya masuk ke rumahnya. Meninggalkan Angga yang menahan amarah.
"Lihat saja apa yang bisa ku lakukan!" ujarnya kesal. Merogoh ponsel nya dari saku celana. Kemudian melakukan panggilan pada seseorang
***
"Astaga....Nur, kita perlu buat konferensi pers nih. Ada postingan yang menggiring, kamu sebagai pelakor!" ujar Dinda geram. Kedua matanya masih setia menatap layar datar ponsel pintar nya itu. Pertengkaran di mall, dengan cepat menyebar.
Huufftt...
Nur yang lagi santai di kursi malas, yang ada di kamarnya, terlihat berulang kali menghela napas. Ia perlu oksigen yang banyak, agar dadanya yang sesak dan terasa sempit, jadi lapang. Sejak menikah, ia tak pernah hidup tenang. Inilah resiko menikah dengan suami orang.
"Kalau gak di klarifikasi, pengikutmu bisa berkurang Nur." jelas Dinda, tanpa melihat ke arah Nur. Dinda tetap fokus ke gawai nya.
"Biarkan saja, mungkin itu yang terbaik." Ujar Nur pasrah, masih memejamkan kedua matanya. Ia tak menduga jadi orang terkenal. Dulu ia iseng buat konten. Dan teryata dewi fortuna berpihak padanya. Setiap postingan nya selalu banyak penonton.
krekk
Pintu terbuka, yang masuk adalah Idris. Ia menghampiri Nur yang berselonjor di kursi santai. Pria itu mengusap lengan Nur dengan lembut, sehingga wanita itu membuka kedua matanya.
"Jangan terlalu di pikirkan. Ingat, kamu sedang mengandung anak kita."
Ucapan lembut penuh kekhawatiran Idris, membuat Nur tersadar. Bahwa, ia harus tegar. Ada janin dalam rahimnya yang sedang berkembang.
"Iya By." Jawabnya tersenyum manis.
__ADS_1
Tok
Tok
Mark mengetuk pintu kamar yang terbuka itu. Ia bergegas masuk menghampiri Idris yang masih berdiri, di sebelah Nur. Mark mendekatkan wajahnya ke telinga sang atasan. "Di bawah banyak wartawan Bos." Bisik nya.
Idris menanggapi biasa saja, laporan Mark. Karena memang, sejak Nur terkenal sebagai youtuber, selegram, Tiktokers. Ada saja wartawan yang mewawancarainya.
"Biarkan saja Mark. Nanti mereka juga bosan sendiri. Semakin kita ladeni, maka berita ini tak akan ada habisnya." Ujar Idris tenang.
Dinda tak setuju dengan ucapan Idris, ia pun mendekati kedua pria itu.
"Kita harus buat klarifikasi Bos. Lihat ini beritanya semakin memojokkan Nur." Menunjukkan postingan yang langsung viral dalam hitungan jam itu.
"Ini masalah sangat sensitif, apapun yang akan kita jelaskan tak akan berterima pada pengikut yang benci pada Nur." Ujar Idris masih dengan ekspresi wajah tenang nya.
Tak dipungkiri hadirnya pelakor dalam hubungan memang bikin jengkel, sedih, marah, dan gemas. Makanya berita tentang Nur cepat viral.
"Ya setidaknya kasih pembelaan. Ini berita sudah membahas masa lalumu Nur. Coba lihat postingan ini!"
Dinda menemukan postingan baru tentang Nur. Judulnya sangat ambigu dan buat penasaran orang untuk menonton nya.
Cek sepuluh fakta youtubers Nur Intan. Pertama, dulunya dia adalah wanita B.O.
Tangan Nur gemetaran memegang ponsel nya Dinda. Ia syok melihat berita tentang nya. Wajah cantik itu memucat sudah. Melihat perubahan air muka Nur. Idris mengambil alih ponsel nya Dinda dari tangan nya Nur. Dan Dinda memeluk Nur, mencoba menenangkan wanita yang lagi down itu.
"Mark, postingan ini hoax. Usut dan laporkan!" titah Idris pada Mark. "Banyak pihak yang ingin mengambil kesempatan dari masalah ini. Ini tak bisa dibiarkan!" tegas Idris lagi, Ia tak akan tinggal diam. Nama baik sang istri dicemarkan.
"Baik Bos!" tegas Mark, bergegas keluar dari kamar itu. Ia akan melaksanakan perintahnya Idris.
"Dinda, buat postingan. Besok kita akan adakan klarifikasi. Dan saya akan ikut di acara itu!" tegas Idris, menatap sendu Nur yang terlihat tertekan.
__ADS_1
TBc