Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Minta restu


__ADS_3

Harith hanya tersenyum menenangkan saat zimah menyebut nama nya dia juga merasa lucu dengan ekspresi zimah yang baru menyadari keberadaan nya


"Ustadz harith kok ada di sini?" tanya zimah penasaran tapi tak bisa di pungkiri saat ini jantung nya berdegub kencang


Siapa sih yang tidak grogi kalau di tatap intens sama orang yang selama ini kita kagumi? dalam keadaan sisi rapuh kita


Dan zimah tidak pernah memperlihatkan sisi rapuh selain di depan orang terdekat nya karna zimah tidak suka di kasihani Dan sekarang???? Entahlah....


"Saya yang membawa adik kamu ke sini" jelas harith yang di angguki zimah


"Terimakasih ustadz" ucap zimah sopan tidak lagi menatap harith "Maaf saya harus pergi menemui doktor" lanjut zimah bergegas pergi menemui doktor yang mungkin sudah menunggu nya sedari tadi di ikuti ketiga gadis yang sedari tadi bersama nya


Aqlan hanya menatap kepergian zimah yang seperti menghindari nya


"𝐾𝑒𝑛𝑎𝑝𝑎 𝑧𝑖𝑚𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑖𝑛𝑑𝑎𝑟?" 𝑚𝑜𝑛𝑜𝑙𝑜𝑔 𝑎𝑞𝑙𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑚 ℎ𝑎𝑡𝑖


"Zimah kenapa lan?" tanya rafaeel pelan aqlan hanya menggeleng


Setelah nya tidak ada pembicaraan lagi mereka hanya diam dengan fikiran masing-masing


...-------------------------------------...


𝘊𝘦𝘬𝘭𝘦𝘬


Zimah membuka pintu rawat vip tempat zain kemarin di pindah kan setelah koma beberapa hari


Zimah masih berdiri di ambang pintu melihat kearah brankar tempat zain terbaring dengan mata terbuka menatap kearah nya dengan senyuman


Zimah tidak bisa menahan air mata bahagia nya ketika melihat adik nya yang kemarin masih menutup mata dengan wajah pucat dan sekarang bisa ternyum manis kearah nya


Zimah segera melangkah kan kaki menuju brankar zain tanpa menyapa risha dan sahabat nya


"Zain" panggil zimah senang memeluk zain dengan erat "Ada yang sakit gak?" lanjut zimah bertanya yang sudah melepas kan pelukan dan memegang pundak zain


"Gak ada kak" jawab zain menggeleng lemah


"Kamu itu buat kakak khawatir tau gak." omel zimah "Gimana sih bisa kek gini, kamu jalan nya gak hati-hati kan? sifat ceroboh kamu itu gak pernah hilang ya, bahayain diri sendiri tau gak." zimah terus mengomel membuat zain meringis malu


"Iya kak iya" pasrah zain melihat zimah


"Kamu itu iya iya terus kalau di nasehatin, tapi tetap aja di langgar, dan kali ini nyawa kamu hampir melayang, terus kamu masih mau ceroboh lagi?" lanjut zimah mengomel zain hanya menggeleng pasrah


"Kak udah ya, zain malu ramai orang" ringis zain memandang ke tiga gadis yang tertawa pelan melihat nya


"Ngapain malu, di ruangan ini cuma ada kita berlima kok" jawab zimah enteng memandang kearah risha dan dua sahabat nya yang duduk di sofa lumayan jauh dari brankar tepat ia berdiri

__ADS_1


"Yaampun zi adek lo baru sadar udah di omel aja" sahut chessy geleng kepala sedari tadi ia terus memperhatikan zimah yang terus mengomel


Sebenar nya mereka bertiga ingin melanjut kan tawa nya tapi melihat wajah melas zain mereka jadi kasian


"Oke maaf" ujar zimah pelan langsung memeluk zain "Kakak tuh khawatir sama kamu zain, kakak gak mau kehilangan kamu, icha, lia, dan bibi, cukup ayah dan bunda aja yang pergi jangan kalian kakak gak sanggup" jelas zimah pelan dengan air mata yang sudah mengalir


Seketika ruangan menjadi sendu mendengar perkataan zimah yang menyayat hati bagi yang mendengar


"Saat kakak mendengar kamu kecelakaan kakak hanya menatap kosong, fikiran kakak kacau, kejadian di masalalu seakan berputar, ketakutan kakak semakin bertambah" lanjut zimah terseduk


"Kakak takut zain, takut banget" cicit zimah pelan namun masih bisa di dengar semua orang di ruangan itu


Mereka hanya bisa menangis diam mendengar penjelasan Zimah, mereka tau seberapa kuat trauma Zimah


"Kak" panggil Zain pelan "Maaf" cicit nya menatap Zimah saat pelukan mereka sudah terlepas


"Maaf, Zain udah buat kakak khawatir" lanjut nya lagi masih menatap zimah


"Kakak maafin, lain kali kakak minta jaga diri kamu ya" jawab zimah menghapus air mata nya kemudian menghapus air mata zain yang di angguki zain


...-------------------------------------...


"Umi apa Aqlan boleh menolak perjodohan ini?" tanya aqlan bersimpuh pada wanita paruh baya yang duduk di kursi memegang tangan wanita yang telah melahir kan nya memandang nya dengan pandangan lembut


"Kenapa to le?" tanya wanita paruh baya yang di sebut umi, memandang anak nya yang mendongak kan sedikit kepala "Apa yang membuat mu ingin menolak perjodohan ini?" lanjut nya selalu dengan tutur kata yang lembut


"Kamu sudah menemui nya le?" tanya umi


"Njih umi sudah, bahkan Aqlan sudah bicara sama zimah kalau aqlan ingin melamar nya" jelas aqlan tersenyum


"Nama nya zimah to?" tanya umi menggoda


"Njih umi, nama nya Malaika Hazimah Raeesh" jelas aqlan menyebut nama lengkap zimah


"Nama nya cantik apa orang nya juga cantik?" puji umi tersenyum bertanya pada aqlan yang juga tersenyum


"Cantik umi" puji aqlan to the point


𝘗𝘭𝘶𝘬


"Puji-puji anak gadis orang, bukan mahrom juga" dumel umi pada aqlan yang mengusap bibir nya karna di pukul pelan oleh umi


"Loh kan umi yang tanya cantik apa tidak, yowes Aqlan jawab jujur" ujar aqlan membela diri


"Pokok nya tidak boleh puji-puji anak gadis orang" umi masih membela diri membuat aqlan menghela nafas

__ADS_1


"Njih umi, Njih" jawab aqlan pasrah


"Apa nak zimah setuju dengan lamaran mu?" tanya umi balik ke topik pembicaraan awal


"Kemarin zimah menyetujui Aqlan menemui wali nya, tapi setelah dia yang mengabari secara langsung" jawab aqlan tersenyum paksa


"Kenapa le?" tanya umi menyadari perubahan sang anak


"Beberapa hari yang lalu zimah seperti menghindari Aqlan umi" adu nya


"Beberapa hari yang lalu?" tanya umi di angguki aqlan


"Bukan nya kamu sudah ada di sini selama dua minggu?" lanjut umi bertanya mengerut kan alis nya


"Njih umi, kemarin Aqlan bertemu Zimah di rumah sakit" jawab Aqlan


"Kalian ketemuan?" selidik umi


"Astaghfirullah ndak umi, Zimah datang kerumah sakit melihat adik nya yang kemarin koma?" jelas Aqlan


"Innalillahi wainna ilaihiroji'un, adik nya koma karena apa?" ucap umi terkejut


"Di tabrak truk yang melaju kencang" beri tau Aqlan


"Sama seperti Zain anak ndalem ya di tabrak truk juga ya" kata umi berfikir


"Zain kan adik nya Zimah umi" jelas Aqlan memberi tau membuat umi terkejut lagi


"Maa syaa Allah, Zain adik nya Zimah to" ucap umi


"Njih umi" Aqlan mengiya kan


"Yowes kita balik ketopik awal lagi" kata umi di angguki Aqlan


"Umi tidak akan memaksa kamu menikah dengan siapa pun" lanjut umi menjelas kan sambil mengusap bahu Aqlan yang masih di posisi awal bersimpuh


"Tapi ini semua sudah menjadi keputusan kakek mu" jelas umi lagi


Aqlan hanya menunduk kan kepala nya dan merasakan usapan tangan umi yang kini di kepala nya


"Umi tidak tau ini bisa di batal kan atau tidak, tapi umi akan membantu mu untuk berbicara pada kakek" ujar umi mengubah usapan ke pipi Aqlan yang kini mendongak menatap nya tersenyum senang


"Terimakasi umi" ucal Aqlan mencium tangan sang umi dengan ta'dzim


...𝘓𝘦 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘪𝘺𝘢𝘪, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘰𝘥𝘰𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯𝘵𝘳𝘦𝘯, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘶𝘮𝘪 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘶....

__ADS_1


...𝘶𝘮𝘪 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘨𝘶𝘴𝘵𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘰𝘩....


__ADS_2