Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Do'a mu


__ADS_3

"Ada ustadz Harith di bawah" kata Risha tersenyum kecil


"Ustadz Harith?" tanya Zimah bingung di anggukin Risha cepat sebagai jawaban "Ada apa?" lanjut Zimah bertanya


Risha mengedikkan bahu nya pertanda tidak tau


"Gak tau, kata nya ada perlu sama kakak" jawab Risha


Seakan mengerti maksud ustadz Harith ada keperluan dengan nya Zimah menganggukan kepala dan menarik tangan Risha untuk mengikuti nya bertemu ustadz harith yang kata nya ada di bawah


"Ngapain sih kak tarik-tarik tangan aku?" tanya Risha kesal pada Zimah yang berjalan menuruni tangga dengan menarik tangan nya


"Temani kakak" jawab Zimah menoleh pada Risha sebentar


"Yang mau pacaran siapa yang repot siapa" ucap Risha berenggut kesal


Pluk


"Awh, sakit kak" ringis Risha mengadu sambil mengusap bibir nya yang mendapat timpukan pelan dari Zimah


"Lebay, maka nya kalau bicara itu dijaga" kata Zimah memutar bola mata nya malas


"Astaghfirullah cuma canda doang kak" ucap Risha berdecak malas pada Zimah


"Canda-canda mu, kalau kedengaran ustadz harith kan gak enak" balas Zimah tak mau kalah


"Iya-iya maaf" ucap Risha mengalah karna mereka sudah sampai di tangga terakhir


"sssttt diam" kata Zimah pelan meletakan jari telunjuk di bibir nya tanpa menghirau perkataan Risha "Malu entar di dengar sama ustadz harith" lanjut nya berbisik dengan menunjuk ke arah seorang pria yang duduk di sofa ruang tamu


"Yaudah kakak samperin gih ustadz harith nya, kasian udah dari tadi nungguin kakak" Ujar Risha ikut berbisik di telinga Zimah


Zimah hanya mengangguk sebagai jawaban dari perintah Risha sambil melangkah kan kaki nya mendekat kearah lelaki yang menundukan badan nya menatap lantai dengan tangan yang saling bertautan di letakan di atas masing-masing paha kanan dan kiri


Zimah berdiri agak jauh dari harith yang masih menunduk belum menyadari keberadaan Zimah yang menatap nya dalam diam


"Hazimah" panggil harith pelan ketika menyadari Zimah yang berdiri menatap nya

__ADS_1


"Iya" jawab Zimah mengalih kan pandangan karna malu ketahuan sedari tadi memandang harith diam-diam


Harith menatap tepat di mata Zimah yang sembab seperti orang habis nangis


"Kamu seperti orang habis nangis" kata Harith to the poin tidak lagi menatap Zimah yang kini sudah duduk di sebrang nya dengan pembatas meja kaca yang lebar


Zimah langsung meraba kedua mata nya dengan kedua tangan ia baru menyadari jika tadi sehabis nangis dalam diam ia lupa untuk membasuh muka


"Ada keperluan apa ustadz menemui saya?" tanya Zimah tanpa menjawab pertanyaan Harith yang memang benar


"Saya ingin meminta izin menemui paman mu di kalimantan *****" jawab harith


Zimah mengalih kan pandangan menatap harith yang tidak menatap nya


"Ustadz orang terpandang dan saya yakin ustadz dari keluarga yang baik-baik tidak seperti saya" kata Zimah tiba-tiba memandang kearah lain menerawang tentang nasib keluarga nya "Saya takut ustadz akan menyesal setalah tau keadaan keluarga saya" lanjut Zimah


"In syaa Allah saya akan tetap dengan pendirian saya, beri saya kesempatan untuk menemui paman mu terlebih dahulu, apa pun keputusan kedepan nya In syaa Allah saya akan menerima nya" ucap Harith pasrah di akhir


Zimah langsung menatap harith tersentuh mendengar kalimat yang di lotar kan pria yang tidak menatap nya


"Nanti saya akan menyuruh sekertaris saya mengirim alamat dan juga nomor telpon paman saya" kata Zimah masih menatap harith yang tidak juga menatap nya walaupun Zimah memberi alamat yang mungkin di perlukan oleh pria di depan nya ini


"Terimakasih" ucap Harith langsung berdiri ingin pamit "Kalau begitu saya harus pergi Assalamu'alaikum" lanjut Harith langsung melangkah kan kaki nya tanpa menunggu balasan dari gadis yang masih menatap nya hingga mengikuti pergerakan Harith


Hingga suara Zimah kembali terdengar memanggil nama Harith yang baru akan sampai di depan pintu keluar


"Ustadz Harith" panggilan Zimah menghentikan langkah Harith yang tidak membalik kan badan nya dan hanya menoleh kan sedikit kepala nya pada Zimah sebagai respon tanpa mengeluar kan suara


"Jika ustadz mendapat penolakan dari paman dan keluarga nya, saya akan tetap menerima khitbah ustadz dan yang akan menjadi wali saya adalah adik laki-laki saya" kata Zimah secara tak langsung ia menerima Harith membuat harith tersenyum tapi tidak di lihat oleh Zimah


"Do'a kan saja saya di terima paman mu" kata Harith masih tersenyum memandang kedepan pintu yang sedari tadi terbuka


"Saya pulang dulu Assalamu'alaikum" ucap Harith kali ini menunggu jawaban salam dari Zimah tidak seperti tadi yang langsung melangkah pergi


"Wa'alaikumussalam" jawab Zimah menatap punggung Harith yang melangkah keluar pintu setelah mendapat jawaban salam dari Zimah


"AAAAAAAA" teriakan Risha tepat di samping Zimah membuat Zimah repleks menutup kedua telinga nya mengguna kan kedua tangan nya

__ADS_1


"Kamu ini kenapa sih" tanya Zimah kesal memandang Risha yang berdiri di samping nya dengan menggigit ujung kuku jari tangan kanan nya menatap pintu yang tidak ada siapa pun membuat Zimah heran


"So sweet banget sih ustadz Harith jadi pengen di perjuangkan juga deh" kata Risha tidak lagi menatap pintu dan menggigit kuku nya sekarang menatap Zimah yang juga menatap nya


"Di perjuangin sama pak jojo gak mau" kata Zimah langsung berlari cepat menaiki tangga sebelum mendapat amukan dari Risha


Risha bergidik ngeri membayang kan pak jojo salah satu satpam di komplek nya yang bertubuh gempal dan perut maju kedepan yang selalu menggoda Risha jika bertemu dan risha pernah melihat pak jojo tertidur di pos satpam dengan dengkuran yang begitu nyaring dan sesekali mengelap iler nya yang hampir menetes kebawah membuat Risha semakin bergidik


"KAKAAAAAAKKKKK" teriakan membahana Risha bergema di rumah yang besar


Membuat Zimah yang hampir sampai di tangga paling atas langsung menghentikan langkah nya dan menutup kedua telinga mendengar teriakan Risha yang menggema setelah tadi tidak mendapatkan respon


"Harus terima apa ada nya, kasian loh pak jojo selalu berjuang sendirian" ujar Zimah berteriak tidak terlalu kuat dan terkikik pelan langsung melanjut kan langkah nya menuju kamar tidak maau mendengar teriakan Risha lagi yang mungkin sekarang sedang mencak-mencak tak karuan


...----------------------------------------...


"Kapan lan berangkat ke kalimantan ***** nya? tanya Rafaeel yang duduk di samping Farzan


" In syaa Allah besok" jawab Aqlan yang membaring kan tubuh nya di sofa panjang sebrang kedua sahabat nya


"Siapa aja yang ikut" tanya Farzan


"Kedua orang tua gue, pakde, dan bude-bude gue"


"Adik-adik lo dan kakek lo gak?"


Aqlan menggeleng berkali "Nanti gakda yang jagain pondok"


"Gue ikut ya lan" pinta Rafaeel memelas


"Gak"


"Pelit banget sih lan" kata Rafaeel kesal


"Kerjaan lo selalu lo tinggalin terus" kata Aqlan membuat Rafaeel menghela nafas kasar


"Gakpapa kali lan kita berdua ikut biar lo ada teman nya yang masih muda-muda" kata Farzan menimpali

__ADS_1


"Gue bawa adik Zimah"


__ADS_2