Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Rencana pulang


__ADS_3

Sepasang suami istri itu keluar dari pemakaman dengan tangan saling bertautan.


Aqlan memandang istri nya, ia kira Zimah akan menangis jika berada di pemakaman kedua orang tua nya, tapi ternyata istri nya tersenyum bahagia.


"Bahagia banget?" sambil membuka kan pintu mobil depan untuk istri nya.


"Tadi malam habis mimpiin ayah dan bunda." jawab Zimah dengan pancaran bahagia.


Aqlan berlari kecil memutar mobil depan , membuka pintu dan masuk lalu duduk di kursi kemudi.


"Mimpiin apa emang nya?" Aqlan bertanya sambil memasang kan tali pengaman di mobil untuk istri nya, dan memasang untuk diri nya.


"Mimpiin duduk bareng mereka, lalu bunda seperti mengatakan kalau Zimah gak boleh nangiisin mereka lagi, karna kan sudah ada lelaki yang mencintai Zimah, dan ada buah hati kita." Zimah tersenyum manis memandang Aqlan lalu memandang perut nya dan mengusap pelan.


Walau usia tidak remaja lagi, dan tengah berbadan dua, Zimah bercerita sangat antusia sehingga membuat Aqlan terkekeh gemes, dan mencubit pelan pipi istri nya.


Mereka tertawa bahagia.


"Mas pernah lihat foto bunda, bunda cantik ya, versi kamu."


Zimah mengangguk, membenar kan.


"Bunda wanita cantik yang pernah Zimah lihat, wanita sabar, sangat penyayang, dan sholehah." cerita nya membayang kan wajah anggun sang bunda.


"Tak heran jika banyak yang menyukai, termasuk paman." Zimah terkekeh


"Tapi ayah pemenang nya." sahut Aqlan memain kan dua alis nya, dengan cara naik turun.


Zimah tertawa melihat tingkah suami nya yang menggelik kan.


"Kamu juga cantik, wanita tercantik setelah umi" senyum manis Aqlan beri kan pada istri nya.


Pipi Zimah merona, segera ia putar kepala nya menghadap keluar jendela.


"Kenapa setalah kita menikah mas sering gombal sih?." kata Zimah tanpa memandang suami nya.


"Kalau mas gombal sebelum kita nikah, entar kamu bilang mas playboy lagi."


Zimah membola kan mata nya menoleh cepat menatap suami nya yang menampil kan senyuman.


Bukan nya ikut tersenyum, Zimah malah memandang suami nya dengan mata memicing, membuat Aqlan mengerut kan kening nya bingung.


"Kenapa?" tanya Aqlan.


"Mas sebelum nikah sama Zimah banyak gombalin cewek ya?." ekpresi cemberut Zimah membuat Aqlan membola kan mata nya dan menggeleng cepat.


"Astaghfirullah. Gak ada sayang." jawab Aqlan cepat.


"Terus kenapa tadi?"


"Kenapa apa nya?" tanya Aqlan bingung.


"Yang tadi."


"Yang mana?."


"Ih yang tadi mas, yang mas bilang kalau gombalin Zimah sebelum nikah entar di bilang playboy berarti mas udah pernah gombalin cewek selain Zimah karna mas udah pernah di tolak karna banyak gombal nya jadi mas waktu melamar Zimah sok serius supaya Zimah terima." jelas Zimah marah dengan satu nafas.


Aqlan cengok mendengar penjelasan panjang istri nya dan air mata yang tergenang hampir jatuh.


Aqlan mengurut pelipis nya.


"Gak gitu konsep nya sayang. Mas gak pernah gombalin cewek lain." ucap Aqlan memaksa kan senyum, harus ekstra sabar dengan bumil, yang emosi nya naik turun, karna hormon kehamilan.


Zimah melipat kedua tangan nya di depan dada, dan menghadap kedepan.


"Kata nya mau kepesantren sahabat abi?"


"Ohya, mas lupa bilang ke kamu, tadi abi telpon kata nya kita jangan sowan."

__ADS_1


"Kenapa?." tanya Zimah menghadap suami nya, seketika melupakan masalah tadi.


"Sahabat abi dan istri nya kebetulan lagi berada di jawa, jadi abi langsung yang mengundang kiyai Ali dan istri nya." jelas Aqlan


"Kiyai Ali?." tanya Zimah memastikan.


Aqlan mengangguk.


"Istri nya bernama bunyai Fatimah bukan?"


Aqlan mengangguk lagi, bingung dengan istri nya.


"Kamu kenal". tanya Aqlan


Zimah mengangguk.


"Itu guru ku mas, yang dulu pernah aku ceritain." jawab Zimah.


"Maa syaa Allah. Mas sangat mengidola kan kiya Ali karna ke Zuhudan beliau." ucap Aqlan terpancar kekaguman.


"Beliau dan istri memang Zuhud mas, Zimah yang dulu selalu di tugas kan oleh bunyai untuk membersih kan kamar. Zimah melihat tempat tidur beliau dan istri, hanya terletak di lantai, tidak seperti tempat tidur yang empuk." cerita Zimah pengalaman nya dulu yang menjadi santri khidmat.


Aqlan menjulur kan tangan nya, lalu mengusap kepala istri nya yang tertutup jilbab, mengusap dengan lembut dan tersenyum karna bangga dengan istri nya, menjadi salah satu santri khidmat orang sholeh.


"Mobil nya gak di jalan mas?" Zimah mengubah topik, karna tidak sanggup melihat tatapan suami nya, yang membuat jantung Zimah berdetak cepat.


Aqlan terkekeh, melihat istri nya yang salah tingkah.


"Gak mau mampir kemana lagi?"


Zimah menggeleng.


Aqlan menghidup kan mesin mobil, lalu menjalan kan nya.


"Kita pulang kejawa kapan mas?" tanya Zimah melihat suami nya yang tengah mengemudi.


"Besok gimana?, jadi ada tiga hari untuk bantu-bantu persiapan walimahan kita."


"Jadi kamu gak mau milih sendiri, karna di bawain sahabat kamu?" melihat sekilas istri nya


Zimah mengangguk.


"Iya mas, Chessy itu desainer, melanjut kan usaha mama nya, mempunyai butik yang terkenal di jakarta. Jadi dia mau mengambil andil untuk itu, di bantu Dira juga, yang ingin ikut andil perancangan gaun Zimah." cerita Zimah dengan senyuman.


Aqlan mengangguk tersenyum melihat kebahagiaan istri nya.


"Persahabatan kalian lengket juga ya." ujar Aqlan.


Zimah mengangguk. "Alhamdulillah mas." ucup nya bersyukur.


Setelah nya tidak ada lagi percakapan hingga mereka sampai di kediaman bik Dinda.


"Assalamu'alaikum" ucap mereka berdua memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam." jawab bik Dinda yang kebetulan duduk di ruang tamu.


Zimah dan Aqlan menyalami tangan bik Dinda, kemudian ikut bergabung duduk di situ.


"Sudah kepondok nya?" tanya bik Dinda


Zimah menggeleng.


"Gak jadi bik, karna sahabat abi nya mas Aqlan lagi ke jawa." jawab Zimah.


Bik Dinda mengangguk.


"Kapan kita berangkat kejawa nya?" bik Dinda memandang Aqlan yang sedang memain kan hp nya.


Aqlan menoleh dan memasukan hp nya ke saku.

__ADS_1


"Besok bik, tiket nya sudah Aqlan pesan tadi, bibi, Icha, dan, Lia, sudah persiapan kan?" tanya Aqlan.


"Sudah dong"


Jawaban kelewat senang dari icha dengan teriakan melengking sambil berlari menghampiri tiga orang yang ada di ruang tamu itu. Lia yang berada di belakang adik nya hanya menggeleng, melihat tingkah Icha.


"Seneng banget Cha?." heran Zimah


"Udah gak sabar kak mau ke jawa, ketemu bang Zain." jawab nya nyengir.


Zimah menggeleng. Zimah menoleh memandang suami nya, karna mendengar nada panggilan dari hp Aqlan.


"Siapa?" tanya Zimah


"Santri ndalem yang akan jemput sahabat kamu." jawab Aqlan pelan menjauh kan hp nya yang sudah tersambung dengan panggilan.


Zimah mengangguk dan memperhati kan suami nya yang berbicara dengan santri yang di sebrang telpon.


"𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘨𝘶𝘴, 𝘴𝘢𝘺𝘢 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘤𝘪𝘳𝘪-𝘤𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩."


Zimah langsung mengeluar kan hp nya dari tas yang ia bawa sedari tadi, karna mendengar suara kang santri dari telpon yang suara nya di speaker Aqlan.


"Sebentar biar istri saya telpon sahabat nya dulu" ujar Aqlan.


"𝘕𝘫𝘪𝘩 𝘨𝘶𝘴"


"Kamu dan Chessy dimana?, kang santri nya udah di bandara." tanya Zimah to the point, setelah mengucap kan salam.


"𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘯𝘢?, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘊𝘩𝘦𝘴𝘴𝘺 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘯𝘪𝘩."


Suara Dira yang seperti mencari-cari santri yang di maksud Zimah.


Zimah memandang Aqlan yang masih menempel kan hp di telinga, mereka berbicara tanpa mengeluar kan suara. sama-sama memegang hp dengan terhubung orang yang ada di bandara.


Sesekali mereka mengangguk membalas pertanyaan yang tidak mengeluar kan suara.


"Santri putra dua orang, pake sarung, dan baju koko, satu nya serba putih, satu nya putih dan hitam." jelas Zimah setelah mendapat jawaban dari suami nya.


"𝘕𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢."


Suara Chessy yang riang karna sudah menemukan ciri-ciri yang di maksud Zimah, walaupun bukan dia yang pegang hp, tapi sedari tadi dia menempel kan teli dekat Dira, agar suara Zimah terdengar.


"Nah kalau udah ketemu, samperin aja" ujar Zimah


"𝘕𝘫𝘪𝘩 𝘨𝘶𝘴, 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶"


Di sebrang telpon Aqlan pun mengabar kan jika sudah ketemu orang yang di cari.


"Yowes, hati-hati di jalan." pesan Aqlan mengakhiri telpon, setelah mengucap kan salam, Aqlan mematikan panggilan nya. Tidak dengan Zimah, yang panggilan nya masih terhubung.


"𝘐𝘯𝘪 𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘋𝘪𝘳𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘊𝘩𝘦𝘴𝘴𝘺 𝘬𝘢𝘯, 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩.?" suara bas namun terdengar santun


Zimah dapat mendengar percakapan dari panggilan yang tersambung nama Dira.


"𝘐𝘺𝘢"


Balasan Dira yang cuek membuat Chessy mendengus, Zimah terkekeh mendengar nya.


"𝘉𝘪𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘮𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘣𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢." tawar kedua santri itu.


"𝘕𝘪𝘩 𝘮𝘢𝘴, 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘶𝘢 𝘤𝘢𝘱𝘦𝘬 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵" suara centil Chessy mewakili Dira.


Zimah mematikan sambungan telpon nya, lalu tertawa lepas, ia yakin Chessy pasti mendapat tatapan maut dari Dira, karna tingkah nya seperti itu.


Aqlan yang penasaran pun melihat istri nya tertawa segera bertanya.


"Semoga aja ya, kedua santri mas, gak ilfil melihat tingkah sahabat aku Chessy." jawab Zimah di sela tawa nya.


Aqlan hanya terkekeh menanggapi nya.

__ADS_1


...🌼"𝑱𝒐𝒅𝒐𝒉. 𝑹𝒆𝒛𝒆𝒌𝒊. 𝑴𝒂𝒖𝒕. ...


...𝑯𝒂𝒏𝒚𝒂 𝑨𝒍𝒍𝒂𝒉 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒂𝒖."🌼...


__ADS_2