
"Tolong keluar kan ayah saya dari penjara!" Tatapan, yang menyirat kan dendam, tertuju pada Aqlan.
Aqlan diam, menatap satu pria yang tadi mendongak kan kepala nya. Dengan tenang, Aqlan membalas tatapan pria itu.
"Ayah?" Tanya Aqlan bingung.
"Ayah saya yang anda jeblos kan dalam penjara," suara yang terdengar dingin, tidak membuat suami Zimah itu takut.
"Apa anda, anak dari pak Robi?" Tanya Aqlan, yang tau, siapa orang yang di maksud oleh pria muda di depan nya ini.
"Iya. Saya anak nya, gara-gara anda menjeblos kan ayah saya, ibu saya pergi dari rumah!" Tatapan tajam yang menyirat kan luka.
"Saya tidak pernah menjeblos kan Ayah anda," jawab Aqlan tegas. "Ayah anda membawa truk dengan kecepatan tinggi, dan menabrak salah satu santri putra kami, hingga menyebab kan koma." Jelas Aqlan tenang, tidak goyah dengan tatapan tajam pria di depan nya.
"Jika saja, anda menerima permintaan ayah saya, agar tidak melanjuti proses hukum, maka ayah saya tidak akan mendekam di sana."
"Saat kejadian itu, banyak pasang mata yang menyaksi kan nya, ayah anda kabur, setelah menabrak santri kami, dan posisi saat itu, ada polisi yang sedang bertugas, mereka yang berusah memberhenti kan truk yang di bawa, pak Robi. Itu yang kami dapat kan dari saksi mata di sana." Dengan sabar Aqlan menjelas kan.
Orang-Orang yang ada di dalam ruangan itu hanya diam, menyaksi kan, sebelum ada perintah dari Aqlan. Termasuk Kiyai Ahmad, yang mendengar kan penjelasan dari anak nya.
"Ayah saya tidak sengaja, itu murni kecelakaan, tanpa sengaja ingin membuat santri anda koma. Jadi, tolong bebas kan ayah saya." Pembelaan diri dari pria muda itu, tanpa menggubris penjelasan dari Aqlan.
Aqlan terus melafal kan dzikir dalam hati, menghadapi orang yang sedang emosi di depan nya ini. "Itu semua keputusan dari pihak yang berwenang. Saya tidak akan mencabut tuntutan itu, karna perbuatan ayah anda, mebahaya kan nyawa orang lain."
"Anda tidak merasakan perasaan saya, dan adik saya."
Walau tidak tau apa maksud remaja di depan nya, Aqlan hanya diam, tapi hati nya terenyuh dengan tatapan mata yang terluka, air yang tergenang di kelopak mata nya. Lalu Aqlan melihat di sebelah remaja itu, ada remaja yang sepantaran dengan anak pak Robi itu.
Remaja yang juga sudah mendongak kan wajah nya, menatap Aqlan balik, tetapi berbeda dengan anak pak Robi. Pria remaja ini memandang nya dengan takut.
"Maaf gus. Saya hanya membantu sahabat saya, untuk membalas kan sakit hati nya pada anda." jawaban kelewat jujur dari remaja itu, membuat remaja di sebelah nya refleks menoleh, lalu menatap sahabat nya tajam.
Aqlan, mengernyit kan alis nya bingung, melihat sahabat anak pak Robi yang ketakutan. Padahal ia tidak mengatakan apapun, apalagi menatap tajam.
"Siapa nama kalian?."
Menurut orang-orang yang ada di dalam ruangan pos santri itu, mendengar suara, dari anak sulung Kiyai Ahmad, itu terdengar pertanyaan seperti biasa, santai. Tapi, tidak dengan remaja itu, yang mendengar suara dari pria, yang ia tau seorang gus. Suara gus di depan nya ini, seperti orang yang sedang menghakimi nya.
"Saya Fadhli. Kalau yang ini, Irzan," tunjuk nya pada diri nya. Lalu pada anak pak Robi. "Saya mohon gus, jangan laporin kami ya. Nanti kalau orang tua saya tau, mereka akan marah sama saya." Tutur nya ketakutan, mimik wajah yang sangat memelas.
Aqlan tidak menggubris permintaan Fadhli. Suami Zimah itu, hanya menatap dua remaja di depan nya secara bergantian. Membuat remaja yang bernama Fadhli itu semakin ketakutan. Menyenggol bahu Irzan pelan, namun, sahabat nya itu tidak merespon. Irzan balik menatap Aqlan, dengan tatapan, yang sulit di arti kan.
"Kalian berapa orang?." Tanya Aqlan singkat.
"Berlima gus. Yang tiga nya kabur, meninggal kan kami berdua, saya sebenar nya mau kabur juga, tapi gak tega ninggalin Irzan sendirian. Alhasil, saya juga ikut ketangkep." jawab nya, sedikit cerita dramastis. Walaupun tidak berniat menunjuk kan ekspresi seperti itu, tapi memang udah dari diri nya begitu. Kang santri yang ada di ruangan itu, berusaha menahan tawa nya sedari tadi, melihat tingkah lucu dan polos, remaja yang mereka tangkap. Abi Ahmad hanya geleng kepala. Sedang kan Aqlan tidak menunjuk kan, ekspresi apapun.
__ADS_1
"Kalian tau?, perbuatan kalian, merugi kan orang lain!" ucap Aqlan datar.
Pria remaja itu mengangguk. Tapi tidak dengan anak pak Robi, yang hanya diam.
"Lalu, bagaimana dengan keluarga saya?" tanya Irzan datar. "Ayah saya yang ditahan, dan ibu saya?, yang entah kemana pergi nya, meninggal kan saya, dan adik saya yang masih kecil, sudah dari beberapa bulan yang lalu, saya terpaksa berhenti sekolah," pengakuan dari Irzan, membuat semua orang yang mendengar nya, menjadi kasihan, termasuk Aqlan yang terenyuh, apalagi tatapan, dan wajah pemuda itu, terlihat sendu. "Semula keluarga saya sudah hancur, setiap hari selalu ada pertengkaran kedua orang tua saya, masalah ekonomi, tapi saya berharap semua itu akan berakhir, karna Ayah, yang selalu giat bekerja, tidak ada kata lelah. Lalu, jika sekarang Ayah mendekam di pen**ra, siap yang akan mencari nafkah?," ungkapan tanpa sadar dari Irzan membuat mereka semua merasa kan kesedihan remaja itu.
"Ibu saya jahat, selalu mengabai kan kami yang mengharap kan kasih sayang nya."
Air mata yang sedari tadi di tahan oleh pria remaja itu, akhir nya runtuh, air mata nya mengalir dengan deras, kalimat terakhir dari pria yang terlihat rapuh itu, terdengar sangat menyakit kan, seperti sudah lama di tahan.
Aqlan menoleh menatap Abi nya, seperti meminta persetujuan. Abi Ahmad mengangguk.
"Abi yakin, kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik, untuk semua nya." Ucap Abi, percaya pada anak sulung nya.
...-----...
Langkah kaki Aqlan menggema di penjuru pesantren Roudhotul Jannah yang terlihat sepi itu, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, menghela nafas, dan kembaki menatap kedepan.
Setelah tadi mendapat persetujuan dari Abi nya, Aqlan meminta Abi nya untuk istirahat terlebih dahulu, karna melihat wajah lelah sang Abi, dan Aqlan menyelesai kan semua nya bersama kang santri yang bertugas, berakhir Aqlan masuk ke ndalem sendirian.
𝘛𝘪𝘯𝘨
Aqlan merogoh kantung gamis nya, dan mengambil benda pipih yang tadi berbunyi, dan terpampang pesan dari istri nya. "𝐻𝑢𝑚𝑎𝑖𝑟𝑜❤".
𝑯𝒖𝒎𝒂𝒊𝒓𝒐❤
Pria yang akan menjadi seorang ayah itu, terkekeh membaca pesan dari istri nya, apalagi ada emot di akhir kalimat, membuat Aqlan tersenyum sendiri menggeleng, sambil melihat hp nya yang masih menyala.
𝑨𝒏𝒅𝒂.
^^^Mas udah selesai, kamu keluar gih, kita naik keatas nya sama-sama, mas ada di depan tangga.^^^
Tidak butuh waktu lama, pesan Aqlan langsung di baca istri nya, terlihat centang dua berwarna biru.
𝑯𝒖𝒎𝒂𝒊𝒓𝒐❤
𝘖𝘬𝘦 𝘮𝘢𝘴.
Zimah segera memakai pashmina nya, dan keluar dari kamar, meninggal kan kedua sahabat nya, dan juga Risha.
Berjalan perlahan meninggal kan kamar tamu.
"Mas." Panggil Zimah pelan, tepat di samping suami nya yang sedang melihat layar hp.
"Kenapa gak tidur?" tanya Aqlan perhatian, mengusap kepala istri nya.
__ADS_1
Wanita berbadan dua itu menggeleng. "Gak bisa mas, gak tau kenapa, pengen tidur nya, sama mas aja," adu nya sedikit manja.
Aqlan terkekeh sambil mengusap kepala istri nya, yang tertutup pashmina. "Sekarang kita naik ya."
Mereka menaiki tangga satu persatu, dengan tangan saling menggenggam, sesekali mereka saling bertanya di sela langkah, menuju kamar mereka yang terletak di tingkat dua.
"Udah larut malam banget ini, gak baik untuk kesehatan kamu, dan anak kita."
Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar.
"Aku ngantung banget mas, tapi, gak tau kenapa gak bisa tidur, mau nya sama mas aja." Jawab Zimah menaiki ranjang mereka, setelah tadi membuka pashmina.
"Udah bersih-bersih?." Tanya Aqlan.
"Udah mas, tadi sama-sahabat aku."
"Tunggu sebentar ya, Mas mau ke kamarandi dulu, setelah itu kita tidur."
Aqlan masuk kedalam kamar mandi, setelah mendapat jawaban dari istri nya.
Sambil menunggu suami nya, Zimah mengambil hp nya lalu membuka aplikasi whatsapp, mencari konta sekertari nya.
Kebetulan Mbak Dian masih online, ntah sedang apa sekertaris nya itu, Zimah mengirim satu pesan, yang langsung di baca oleh Mbak Dian, tak lama mendapat balasan.
Mereka terus saling berbalas pesan, membahas tentang pekerjaan, dan Zimah juga memberi tau tentang kepulangan nya nanti ke jakarta.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, Aqlan keluar denga rambut yang d basah oleh air wudhu, menyisr kebelakang rambut nya, mengguna kan jari-jari, berjalan menghampiri istri nya. Zimah yang melihat Aqlan menaiki ranjang segera meletakan hp di nakas, samping ranjang nya.
"Ngechat siapa?" Tanya Aqlan tanpa melihat, mengangkat selimut tebal, dan masuk kedalam, satu selimut bersama istri nya.
"Sama mbak Dian mas."
Aqlan mengangguk, tidur menghadap Zimah, langsung memeluk istri nya. "Tidur ya, udah malam."
Aqlan mengelus kepala belakang Zimah, agar istri nya cepat tertidur.
Zimah tersenyum memandang suami nya, tampak semakin ganteng, karna wajah dan rambut suami nya yang basah.
"Mas habis wudhu?"
Aqlan mengangguk.
Zimah diam merasakan usapan suami nya, membuat ibu hamil itu hampir masuk ke alam bawah sadar.
"Siapa pelaku yang mebuang sampah di dekat ndalem mas?" Tanya Zimah pelan, dengan mata yang masih terpejam, namu Aqlan masih dapat mendengar nya.
__ADS_1
"Anak dari, orang yang pernah melanggar Zain."
Mata Zimah terbuka lebar, seakan kantuk yang tadi menyerang nya, hilang seketika, mendengar jawaban dari suami nya.