
"Wa'alaikumussalam"
Zimah tidak jadi pergi keruang istiqbal karna mendengar mereka berbicara bahasa jawa dan Zimah tidak mengerti tetapi yang membuat Zimah masih mendengar kan karna mereka menyebut nama Zain Chessy dan Dira pun mengikuti Zimah yang tidak jadi pergi
Setelah lelaki tadi yang mengucap kan salam telah pergi dua petugas itu menghadap Ke arah Zimah dan kedua sahabat nya
"Zain lagi di ndalem, jadi bunyai menyuruh mbak langsung ke sana" jelas nya membuat Zimah mengerut kan alis bingung kenapa bunyai pesantren ini menyuruh nya bertemu Zain di ndalem, bukan nya Zimah bisa di suruh menunggu di ruang istiqbal dulu? sampai Zain menyelesai kan urusan nya di ndalem tapi Zimah tidak menanyakan pada kang santri alasan nya Zimah lebih memilih menanyakan untuk ikut nya dua sahabat ke ndalem
"Sahabat saya juga boleh ikut gak kang?" tanya Zimah
"Boleh karna disana ada ruang tamu khusus" jawab santri satu nya
"Mari ikuti saya" ajak lelaki satu nya yang di angguki ketiga gadis di belakang nya
Sepanjang menuju ke ndalem Dira dan Chessy sibuk menanyakan pada Zimah tentang introgasi kang santri tadi
"Emang gitu ya Zi kalau mau ketemu saudara di pondok" tanya Chessy pelan yang berjalan di samping kiri Zimah
"Iya, supaya gak sembarangan orang yang masuk" jawab Zimah
"Harus nunjukin kartu keluarga juga?" tanya Dira berjalan di samping kanan Zimah
Zimah mengangguk "Iya sebagai bukti, untuk menjaga-jaga supaya orang luar gak ngaku-ngaku sebagai keluarga, eh ternyata pacar nya atau orang yang berniat jahat, soal nya dulu pernah kejadian, maka nya di tetap kan peraturan kek gitu apalagi pondok Roudhotul Jannah ini santri nya banyak banget sampe ribuan, gitu sih yang aku denger dari Zain, tapi kalau pondok lain yang santri nya belum ribuan mungkin cuma di tanya aja gak sampai di pinta kartu keluarga" jelas Zimah pada Chessy dan Dira yang manggut-manggut mengerti dengan penjelasan Zimah "Tapi yang pasti nya di pesantren yang boleh bertemu hanya mahrom nya gak boleh yang lain.
"Assalamu'alaikum" ucapan salam dari kang santri di depan pintu yang terbuka menghenti Zimah dan kedua sahabat nya
"Wa'alaikukussalam"
Terdengar sahutan bukan hanya satu orang dari dalam rumah yang Zimah yakini rumah kiyai dan bunyai pemilik pesantren Roudhotul jannah
"Ada apa kang?" Tanya lelaki remaja yang sudah berdiri di ambang pintu yang sedari tadi terbuka Zimah perkirakan umur nya seperti Zain 17 tahun
"Ini ada kakak nya Zain gus, bunyai menyuruh kakak nya Zain untuk datang menemui Zain di ndalem gus" jelas kang santri sopan
"Kang Zain ada di sini?" tanya lelaki remaja yang di panggil gus seperti bingung tamu dari santri di bawa ke ndalem mungkin ada keperluan
𝘍𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘯𝘺𝘢
"Njih gus" jawab kangsantri
__ADS_1
"Yowes terimakasih kang"
"Njih gus saya pamit dulu, Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Setelah kepergian kang santri lelaki yang di sebut gus mempersilahkan mereka masuk
"Monggo mbak silahkan masuk" persilah nya menunjuk ke dalam rumah
"Njih gus trimkasih" jawab Zimah mengikuti logat jawa
Zimah mengikuti remaja yang di sebut gus tadi ke ruang tamu yang tidak ada siapa pun mungkin ini ruang tamu yang di sebut kang santri tadi
𝘍𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢
Zimah dan kedua sahabat nya duduk di sofa ruang tamu di ndalem, mereka memandangi seisi ruang tamu yang di isi lukisan kali grafi dan lemari penuh piala dan penghargaan Zimah tebak ini piala dan penghargaan milik keluarga ndalem soal nya kalau punya santri Zimah pernah melihat di ruang khusus piala dan penghargaan milik santri
Mereka bertiga memandangi dua orang santri putri yang membawa nampan berisi minuman dan cemilan cara mereka meletakan satu persatu minuman dan cemilan membuat kedua sahabat Zimah kagum akan adab mereka termasuk Zimah walau Zimah sering melihat adab santri seperti ini
"Trimakasih ya mbak" ujar Zimah diangguki kedua santri putri dengan senyuman
Setelah kedua santri putri tadi pergi mereka mulai meminum yang sudah di suguh kan
"Bener banget Dir, mana banyak kang santri yang sholeh ganteng pula" timpal Chessy tersenyum sok manis membuat Dira mendelik tak suka
"Cowok mulu yang lo fikir ches" sewot Dira
"Sirik aja lo" balas Chessy sengit
"Idih" kata dira memutar mata
"Permisi yang nama nya mbak Zimah di panggil bunyai ke ruang ndalem" ujar sopan santri putri
"Ada apa ya mbak?" tanya Zimah bingung memandang pada seorang santri putri yang berdiri sopan dan sesekali menatap pada kedua sahabat nya seolah mengatakan kenapa ya
"Saya ndak tau mbak" jawab santri putri dengan logat jawa yang menjadi bahasa di pesantren Roudhotul Jannah ini
"Mari ikuti saya" lanjut santri putri mengajak Zimah
__ADS_1
Zimah pun mengikuti santri putri itu untuk menuju ruang ndalem bunyai dan meninggal kan kedua sahabat nya di ruang tamu
"Assalamu'alaikum" ucap santri putri itu berdiri ta'dzim di depan pintu sebuah ruangan yang tampak luas di sekeliling nya di isi lemari-lemari yang berisikan kitab al-qur'an dan kali grafi seperti di ruang tamu dan yang lain seperti tempat santai membuat Zimah merasa betah
"Wa'alaikumussalam" terdengar jawaban lembut wanita paruh baya dari balik pintu yang belum terbuka
𝘒𝘳𝘦𝘵 (𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶 𝘺𝘢)
"Sudah datang toh" ujar wanita paruh baya yang tampak kerutan di wajah nya namun masih cantik dan wajah yang adem di lihat mungkin karna air wudhu
𝘍𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩
"Njih bunyai" jawab santri yang berdiri sedikit di depan Zimah
"Yowes trimkasih yo ndok" ucap bunyai pada santri putri yang menganggukan pelan kepala nya dan langsung izin pamit pergi
Setelah kepergian santri putri tadi bunyai memandang Zimah dengan senyum keibuan membuat Zimah tersentuh hampir saja Zimah menetes kan air mata nya
"Maaf bunyai apa Zain melakukan kesalahan sehingga saya di panggil kesini?" tanya Zimah sesopan mungkin
"Masuk dulu ndok kita bicara di dalam saja" persilah nya pada Zimah yang mengangguk kakuk
"Baik bunyai" walaupun bingung Zimah tetap mengikuti bunyai masuk kedalam ruangan yang membuat Zimah kagum dengan ruangan yang terlihat cerah namun kalem seperti menggambar kan seorang wanita yang anggun namun bijak dan tegas
"Silahkan duduk ndok" ujar bunyai mempersilahkan Zimah duduk di sofa dan bunyai menuang kan teh hangat yang memang sudah tersedia di atas meja
Zimah tersenyum tipis dan mengambil gelas yang sudah terisi air teh hangat dan meminum nya setelah selesai minum ia letakan gelas di atas meja dan menatap bunyai yang duduk di samping nya yang juga menatap Zimah dengan senyuman lembut
"Kamu yang bernama Hazimah ndok?" tanya lembut bunyai yang menatap Zimah tersenyum
Zimah tidak tau apa maksud nya dan Zimah terkejut sekaligus bingung bunyai tau dari mana nama nya? mungkin dari Zain
𝘍𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘯𝘺𝘢
(𝘗𝘢𝘥𝘢𝘭 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯)
"Njih bunyai, Saya Hazimah panggil Zimah juga tidak apa-apa" jawab Zimah sopan juga lembut seperti ciri khas nya
"Maaf ya saya menyuruh kamu kesini pasti kamu bingung" tutur bunyai merasa tak enak "Tadi saya denger dari salah seorang santri kalau kakak Zain dateng, jadi saya minta Zain supaya kamu kesini saja karna saya ada perlu sama kamu" lanjut bunyai lagi membuat Zimah bingung
__ADS_1
"Kalau boleh tau ada apa ya bunyai" tanya Zimah yang dibalas senyuman hangat oleh bunyai dan mengus kepala Zimah yang tertutup jilbab membuat Zimah jadi merasa sungkan
"Apa nak Zimah setuju saya nikahkan nak Zimah dengan anak saya?"