Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Kawasan Santri Putri


__ADS_3

"Mas mau dengar kamu ngaji." Zimah mengangguk ragu dan gerogi, karna ini pertama kali nya dia mengaji di depan Aqlan.


"Aku malu mas nanti banyak salah nya." Zimah menatap Aqlan memelas


"Kalau salah mas benerin sayang."


Bukan nya tenang, Zimah malah semakin gerogi mendengar perkataan manis Aqlan yang lembut.


Zimah mulai membaca qur'an dengan Aqlan yang mendengar sesekali membetul kan bacaan istri nya yang salah.


Aqlan mencubit hidung mancung istri nya pelan.


"Lumayan bagus loh bacaan kamu." puji Aqlan


Zimah tersenyum malu-malu.


"Seperti orang sudah pernah menghafal" lanjut Aqlan menebak.


Zimah tersenyum, sambil menutup qur'an yang tadi di baca nya.


"Dulu pernah menghafal sewaktu di pondok."


Aqlan terkejut


"Maa syaa Allah kamu pernah mondok?"


Zimah mengangguk.


"Iya. Tapi gak tamat."


"Kenapa?"


"Bisnis ayah bangkrut, karna di tipu, jadi Zimah gak ada biaya yang cukup" beri tau Zimah


"Gak coba minta keringanan dari pondok?."


Zimah mengangguk.


"Bunyai dan pak kiyai selalu memberi santri-santri nya yang tidak mampu keringanan asal mereka mau belajar. Termasuk Zimah. bahkan Zimah pernah gak bayar karna memang gak ada sama sekali uang, dan beliau selalu memaklumi. Seiring berjalan nya waktu Zimah sudah bisa menghafal 20 lebih jus." kata Zimah


Zimah menarik dan menghembus nafas nya pelan untuk melanjut kan cerita nya


"Tapi lagi-lagi Zimah di uji dengan kepergian ayah dan bunda." suara Zimah tercekat tapi tidak ada sedikit pun air mata, seolah-olah ia sudah ikhlas.


Aqlan mengusap punggung tangan istri nya.


"Lanjutin hafalan nya sama mas ya."


Zimah mengangguk semangat, membuat Aqlan tersenyum dan mengacak rambut Zimah yang di lapisi mukenah.


"Sekarang mau jalan-jalan keliling pesantren gak?, selama kamu di sini gak pernah keluar dari kawasan ndalem." ajak Aqlan


"Aku malu mas." kata Zimah nyengir


"Keliling nya sama mas, biar gak malu."


"Aku sama Salsa aja, kalau sama mas semakin malu aku." ujar Zimah.


Aqlan menaikan sebelah alis nya heran.


"Kenapa malu?."


"Mas kan gus, masa jalan sama aku yang bukan siapa-siapa."


Ekspresi wajah Aqlan berubah datar menatap Zimah.


"Kamu istri mas Zimah. Siapa yang bilang kamu bukan siapa-siapa? tanya Aqlan marah


"Aku" tunjuk Zimah pada diri nya dengan cekikikan.


Aqlan yang menyadari kalau dia di kerjai istri nya pun langsung memasang tampang cemberut lalu menggelitik istri nya.


Zimah tertawa geli melihat tampang suami nya yang menurut nya lucu, dan mendapat serangan tiba-tiba dari suami nya, semakin membuat nya tertawa dan menggeliat tak karuan.

__ADS_1


Mereka sama-sama tertawa bahagia dengan Zimah yang berusaha menghindari Aqlan dan Aqlan yang berusaha menggapai istri nya.


...---------------------------------------...


Aqlan dan Zimah berjalan beriringan memasuki kawasan santri putri dengan tangan yang saling bertautan.


Keberadaan mereka berhasil mencuri perhatian santri-santri yang sedang melakukan kegiatan mereka di luar kamar, ada yang sedang duduk sambil mengaji, ada yang bermain, bercengkrama dengan teman, ada yang sedang menyapu lapangan (mungkin sedang di hukum). Semua santri memandang ke arah gus nya, gus yang sangat di idola kan santri putri.


Terdengar bisik-bisikan, bertanya-tanya siapa wanita yang bersama gus nya. Mereka sangat tau jika gus nya sangat menjaga diri dari wanita, kecuali dengan mahrom nya.


Dan sekarang mereka melihat secara langsung, gus nya menggenggam tangan seorang wanita yang tidak mereka ketahui?. Mereka penasaran, tapi tidak berani untuk bertanya.


"Mereka gak program sore seperti biasa?" tanya Zimah mendongak melihat Aqlan di samping nya.


"Di sini jum'at libur."


Zimah mengangguk, dan kembali memandang santri-santri yang menatap nya dengan pandangan yang berbeda-beda, namun kebanyakan menatap nya heran. Zimah hanya tersenyum melihay mereka.


Aqlan mengenal kan bangunan-bangunan dan tempat yang di tunjuk pada istri nya.


"Kalau aula nya di mana mas?"


"Disana" tunjuk Aqlan


"Kamu mau lihat?"


Zimah mengangguk.


"Di antar sama Salsa aja ya, mas kan gak boleh masuk kalau gak ada kepentingan."


Zimah mengangguk lagi.


Aqlan melihat santri putri yang dekat dengan jarak mereka berdiri.


"Kamu." panggil Aqlan


Santri putri yang di panggil pun bergegas mendekati Aqlan dan Zimah,


"Njih gus. Ada apa?." tanya santri putri itu dengan logat jawa khas di pondok Roudhotul Jannah, sedikit membungkuk kan badan nya dan tidak menatap Aqlan.


"Njih gus." ucap nya dan mundur perlahan lalu bergegas pergi.


Zimah tersenyum memandang santri tadi, yang tidak berani memandang Aqlan.


Mereka kembali melangkah pelan menikmati suasa pesantren di sore hari sambil menunggu kedatangan Salsa.


"Assalamu'alaikum." ucap Salsa yang sudah berada di depan Aqlan dan Zimah.


"Wa'alaikumussalam." jawab kedua nya.


"Ada apa mas manggil aku.?" tanya Salsa


"Temenin mbak Zimah ke liling pondok santri putri."


"Njih mas."


Salsa langsung menggandeng tangan Zimah.


"Yuk mbak."


Zimah mengikuti langkah Salsa di samping nya meninggal kan Aqlan di belakang, Zimah menoleh ke belakang melihat suami nya yang sudah berjalan keluar dari kawasan santri putri.


Salsa membawa Zimah ke aula yang biasa di pakai untuk santri-santri putri belajar.


Melihat aula yang begitu luas, Sesekali Zimah memberi senyuman pada santri yang menyapa Salsa.


Zimah terus mengikuti langkah Salsa yang mengajak nya keruangan-ruangan santri putri, hingga sekarang mereka berada di kawasan kamar.


Zima melihat kamar yang berjejer dan banyak santri-santri yang berlalu lalang di luar nya.


"Ning Salsa"


Sapa salah satu santri yang melihat keberadaan ning nya, hingga mengalih kan atensin semua santri yang berada di sini ketika mendengar sapaan teman nya.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu ning?"


"Ndak mbak, saya cuma jalan saja bawa istri nya mas Aqlan"


Jawaban Salsa membuat semua santri yang mendengar nya kaget.


"Istri?" ujar salah satu santri tanpa sengaja dan langsung menutup mulut nya, takut di dengar oleh ning nya, namun Salsa mendengar nya karna suara santri tadi lumayan kuat.


Salsa mengangguk dengan senyuman.


"Iya. Panggil saja ning Zimah." kata Salsa di angguki semua nya kecuali Zimah.


Zimah menyenggol pelan bahu Salsa dengan bahu nya, menatap Salsa dengan gelengan pelan, tanda tidak mau di panggil dengan embel-embel ning.


Namun Salsa menanggapi dengan senyuman.


"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘏𝘢𝘻𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘙𝘢𝘦𝘦𝘴𝘩 𝘥𝘦𝘩, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘪𝘴𝘯𝘪𝘴 𝘮𝘶𝘥𝘢, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘭𝘪𝘬𝘪 𝘤𝘢𝘣𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘬𝘰𝘵𝘢."


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?"


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘻𝘪𝘯 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘥𝘢𝘬?"


"𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵"


"𝘕𝘢𝘩 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘯𝘰𝘯𝘵𝘰𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘢𝘵 𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘦𝘷𝘪𝘴𝘪. 𝘒𝘢𝘵𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘶𝘯𝘤𝘶𝘭 𝘥𝘪 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘣𝘭𝘪𝘬."


"𝘖𝘩 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘢 𝘏𝘢𝘻𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘦𝘦𝘴𝘩 𝘺𝘰, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘱𝘦𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘳𝘦𝘴𝘵𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭?"


"𝘐𝘺𝘰"


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘨𝘶𝘴 𝘈𝘲𝘭𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘭𝘪𝘩 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯𝘵𝘳𝘦𝘯 𝘺𝘰?."


"𝘐𝘺𝘰 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘶𝘴 𝘈𝘲𝘭𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘴𝘢𝘯𝘵𝘳𝘦𝘯, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘈𝘪𝘴."


Salsa menoleh cepat menatap kakak ipar nya setelah mendengar kata terakhir yang tidak seperti bisikan dari santri putri yang berada di belakang santri putri di depan nya.


"Mbak yang berdua tolong kesini." perintah Salsa datar, menyuruh dua orang santri putri yang tadi membicara kan kakak ipar nya.


Kedua santri tadi melangkah pelan menghampiri Salsa dengan takut.


"Apa di pesantren ini mengajar kan untuk berghibah?" tanya Salsa tegas dengan wibawa seorang anak kiyai, memandang dua santri yang menundukan kepala.


"Ndak ning" jawab kedua nya bergetar


Zimah melihat kedua santri yang di tegur adik ipar nya. Zimah merasa kasihan, tapi ini sudah peraturan pesantren yang tadi ia dengar dari salsa.


"Apa kalian tau siapa yang kalian bicara kan?."


Kedua nya mengangguk dengan masih menunduk.


"Tau ning. Ning Zimah istri nya gus Aqlan." Jawab kedua nya bersama.


"𝑆𝑢𝑑𝑎ℎ, 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑘𝑒𝑡𝑎𝑘𝑢𝑡𝑎𝑛"


Zimah berbisik sangat pelan di telinga Salsa, yang hanya bisa di dengar ia dan Salsa.


Salsa menoleh pada Zimah dan mengangguk.


"Jangan di ulangi lagi, itu bukan adab seorang santri."


"Njih ning, kami minta maaf"


Salsa mengangguk.


Mereka kemudian beralih pada Zimah.


"Kami minta maaf ning, tidak seharus nya kami seperti itu."


Zimah mengangguk dan tersenyum tulus menanggapi permintaan maaf mereka.


Kedua nya menyalami tangan Zimah dan Salsa dengan ta'dzim.


"Mbak kenapa?" tanya Salsa di sela langkah menju arah ndalem, melihat kakak ipar nya yang tampak diam tidak seperti tadi.

__ADS_1


Zimah tersenyum. "Gak apa-apa."


__ADS_2