Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Aqlan baru mengetahui


__ADS_3

Aqlan membuka pintu kamar dengan pelan sehingga tidak menimbul kan suara, ia melihat istri nya yang berbaring membelakangi pintu, melangkah perlahan lalui menaiki kasur di sebelah istri nya.


"Zimah." panggil Aqlan lembut


Tidak ada jawaban.


"Mas tau kamu belum tidur."


Tetap tidak ada balasan.


"Gak baik membawa perasaan benci sebelum tidur, apalagi sama bik Dinda yang sudah merawat kamu dengan kasih sayang nya."


Nasehat lembut Aqlan berhasil membuat Zimah membuka mata nya, dan duduk menghadap suami nya.


Aqlan tersenyum.


"Zimah gak benci sama bik Dinda mas"


"Zimah kecewa dan sedih, kenapa bik Dinda enggak beri tau Zimah dulu"


"Walaupun Zimah dan Zain bukan saudara kandung, tapi kami tumbuh dengan kasih yang sama, Zimah bisa merasa kan kesedihan Zain, dia pasti berfikir, kemana orang tua nya, kenapa dia di angkat oleh ayah dan bunda."


Aqlan mendengar kan unek-unek istri nya.


"Bik Dinda gak memberi tau kamu pasti karna janji nya pada ayah dan bunda."


"Gak boleh gegabah menyimpul kan sesuatu, jangan mengambil keputusan di saat kamu emosi."


Zimah menarik dan menghembus kan nafas nya secara perlahan, guna menenang kan diri. Apa yang di kata kan suami nya benar.


"Sekarang kamu temui bik Dinda ya."


Zimah mengangguk.


"Kasian tadi bik Dinda sedih melihat kamu seperti itu, kata nya itu pertama kali kamu seperti itu sama beliau."


Zimah diam mengingat tingkah nya tadi, tidak seperti biasa nya dia seperti itu.


"Zimah juga gak tau mas. Akhir-akhir ini Zimah mudah sensitif, mudah nangis, mudah marah." Zimah meringis mengingat tingkah nya akhir-akhir ini, dia seperti tidak mengenali diri nya, yang dulu nya selalu bisa menguasai diri.


"Mungkin kamu banyak fikiran." Aqlan menyimpul kan apa yang ia tau saja


Zimah mengangguk


"Iya. Apalagi akhir-akhir ini banyak hal yang gak terduga." Zimah membenar kan pendapat suami nya.


Aqlan memegang kepala istri nya, dan mengusap memgguna kan ibu jari nya.


"Mulai hari ini jangan banyak fikiran ya, kamu harus berbagi sama mas, jangan menghadapi semua nya sendirian." harapan Aqlan untuk kebaikan istri nya.

__ADS_1


Zimah tersenyum haru, bersyukur menjadi istri dari lelaki yang menyayangi nya.


"Sekarang mas temanin kamu ketemu bik Dinda."


Zimah mengangguk lalu beranjak dari tempat tidur nya dan keluar dari kamar bersama suami nya.


Zimah memandang pintu kamar di depan nya dan memandang Aqlan yang berdiri di samping nya.


Aqlan yang mengerti kegelisan istri nya mengangguk.


Zimah memberani kan diri mengetuk pintu kamar bibi nya.


π˜›π˜°π˜¬, π˜›π˜°π˜¬, π˜›π˜°π˜¬, π˜›π˜°π˜¬


"Assalamu'alaikum, bik" ucap Zimah memanggil bibi nya pelan


"Wa'alaikumussalam, sebentar."


"Ada apa Zimah."


Zimah tidak menjawab ia langsng menghambur kepelukan bibi nya.


"Maafin Zimah ya bik, gak tau kenapa Zimah mudah sensitif, tadi Zimah gak bermaksud marah sama bibi." Zimah mendekap erat sang bibi.


"Iya. Bibi maafin, bibi ngerti kok perasaan kamu." bik Dinda sudah melepas kan pelukan mereka, ia memegang kedua bahu keponakan nya dan menatap dengan lembut.


"Untung tadi di nasehatin sama mas Aqlan" Zimah memandang suami nya.


Bik Dinda memandang Aqlan dengan rasa syukur, seperti mengatakan terimakasih.


Aqlan yang mengerti hanya mengangguk kecil.


"yasudah sekarang kamu tidur ya."


Zimah mengangguk menyalim tangan bibi nya, den melangkah pergi bersama suami nya.


...----------------------------------------...


Aqlan dan Zimah berjalan saling bergandengan tangan, sepanjang perjalanan mereka di tepi sungai, banyak pasang mata yang menatap mereka, tak hayal karna karna paras mereka yang mencuri perhatian.


"Ustadz Harith?" sapa salah satu wanita antusias, yang kisaran umur nya seperti istri nya.


"Iya?" Anggukan sekali Aqlan membalas sapaan dari wanita itu.


"Loh, ini bukan nya Zimah ya?" ujar wanita itu terkejut.


Kening Zimah mengkerut, memikir siapa wanita di depan nya ini.


"Iya, saya Zimah" kata Zimah lembut, ciri khas nya.

__ADS_1


"Aku gak nyangka loh, ternyata pemilik restoran yang terkenal itu kamu, aku baru tau kemarin, di acara tv yang kamu hadir, aku nontonin kamu loh." cerita nya antusias


Zimah tersenyum, bingung harus menanggapi apa.


"Terimakasih" akhir nya Zimah membalas.


"Kamu gak kenal aku?"


Zimah menggeleng.


"Sombong kamu, mentang-mentang udah sukses, jadi orang kaya, gak ingat asal usul dulu nya gimana." cerocos nya


Zimah diam, bingung harus menanggapi apa, dia benar-benar gak mengingat wanita di depan nya ini. Zimah memandang Aqlan di samping nya, mengisyarat kan melalui mata, mengatakan jika ia bingung.


"Maaf, istri saya benar-benar gak mengenal anda" Aqlan angkat bicara.


"Jadi beneran ustadz Harith nikah sama Zimah?, saya kira itu hanya isu-isu di sosmed." bukan nya menjawab, wanita itu malah menanyakan kebenaran yng selama ini di liat dan di dengar nya.


"Iya. Zimah istri saya." terdengar lantang dan tegas dari suara Aqlan, hingga orang-orang yang tadi melihat mereka dari jauh, kini mendekat dan mengerumuni mereka bertiga.


"Ustadz Harith kok mau sih sama Zimah, dia kan wanita karir, pembisnis, pasti gak banyak waktu untuk suami nya, kenapa gak cari yang kayak ustadz aja? sama-sama berdakwah." celetuk salah satu wanita paruh baya dari kerumunan itu


πΏπ‘Žπ‘”π‘–?. π‘¦π‘Žπ‘›π‘” 𝑑𝑖 π‘π‘Žβ„Žπ‘Žπ‘  π‘‘π‘’π‘›π‘‘π‘Žπ‘›π‘” π‘ π‘‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘ ? π‘’π‘šπ‘Žπ‘›π‘” π‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘–β„Ž π‘ π‘Žπ‘™π‘Žβ„Ž π‘›π‘¦π‘Ž π‘ π‘’π‘œπ‘Ÿπ‘Žπ‘›π‘” π‘π‘’π‘šπ‘π‘–π‘ π‘›π‘–π‘  π‘šπ‘’π‘›π‘–π‘˜π‘Žβ„Ž π‘‘π‘’π‘›π‘”π‘Žπ‘› π‘’π‘ π‘‘π‘Žπ‘‘π‘§?.


Zimah menghela nafas nya pelan, dia hanya bisa bermonolog dalam hati.


"Apa tau anda tentang saya?" Zimah mendatar kan wajah nya, ia seperti dejavu berada dalam situasi seperti ini


"Dan kamu" tunjuk Zimah pada wanita yang pertama tadi mengenali nya. "Saya gak kenal sama kamu." ucap Zimah tegas.


Sedang kan Aqlan, sedari tadi memasang wajah datar, dia memang sering berhadapan dengan orang bnyak, tapi bukan situasi seperti ini.


"Aku Rini sahabat kmu" menyebut nama nya dengan memandang Zimah jengkel.


Wajah Zimah semakin datar ketika mendengar nama salah satu orang di masalalu nya.


"Untung dulu aku selalu nolak kalau kamu ngemis-ngemis sama aku, sekarang liat, kamu jadi orang sombong" ujar nya mengkritik Zimah dengan songong


"Saya sangat bersykur, dulu anda selalu menolak, bahkan gak segan-segan menghina saya, mempermalu kan saya, menginjak-injak harga diri saya di depan orang ramai, jadi sekarang saya gak perlu repot-repot untuk membalas budi pada π‘Άπ’“π’‚π’π’ˆ, yang mengaku diri nya 𝑺𝒂.𝒉𝒂.𝒃𝒂𝒕. Di saat bahagia, dan menjadi asing bahkan bisa di bilang musuh di saat keterpurukan 𝑺𝒂.𝒉𝒂.𝒃𝒂𝒕


π’π’šπ’‚ sendiri." kata Zimah menekan setiap kata sahabat, suara Zimah dingin mata nya menyirat kekecewaan pada Rini.


Rini menegang mendengar perkataan wanita yang dulu pernah menjadi sahabat nya.


Semua orang terdiam salah tingkah mendengar perkataan wanita yang dulu nya lemah, tidak seperti sekarang mendengar dan menatap wajah nya, membuat mereka ciut.


Aqlan memandang istri nya sedih, belakangan ini banyak hal tak terduga yang ia ketahui tentang kehidupan istri nya, nanti apa lagi yang akan ia tau tentang masalalu istri nya?.


"π‘†π‘’π‘π‘’π‘Ÿπ‘‘π‘– π‘Žπ‘π‘Ž π‘˜π‘’β„Žπ‘–π‘‘π‘’π‘π‘Žπ‘› π‘˜π‘Žπ‘šπ‘’ 𝑑𝑖 π‘šπ‘Žπ‘ π‘Žπ‘™π‘Žπ‘™π‘’ π‘ π‘Žπ‘¦π‘Žπ‘›π‘”?"

__ADS_1


__ADS_2