Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Pipi merah


__ADS_3

"Gak tidur?" tanya Aqlan melihat Zimah sedari tadi masih duduk di tepi kasur saat Aqlan mau menunaikan sholat malam sendirian hingga Aqlan sudah bersandar di tepi kasur milik Zimah


"Tidur" angguk Zimah cepat bergegas naik kekasur di samping Aqlan dan langsung membaring kan badan nya membelakangi Aqlan


Aqlan melihat Zimah yang sangat grogi tersenyum tipis dia maklum karna Zimah tidak pernah berada di satu ruangan dengan lawan jenis sama seperti nya, hanya saja Aqlan jadi terhibur melihat tingkah Zimah walaupun jantung nya berdebar tidak seperti biasa nya.


"Hazimah" panggil Aqlan terkekeh kecil melihat Zimah di samping nya berusaha untuk memejam kan mata nya.


"Iya" Zimah menjawab pelan walaupun di gugup


"Apa kamu tidak marah sama saya?"


"Marah kenapa?" tanya Zimah balik membuka mata nya


"Soal ijab qobul kita yang dadakan." kata Aqlan melihat Zimah yang masih membelakangi nya dengan menyelimuti tubuh hingga keleher dan masih kepala masih di baluti pasmina.


Zimah tidak langsung menjawab dia membalikan badan nya menghadap Aqlan, dia tatap lekat Aqlan yang juga menatap nya.


Membangun kan badan nya dan menyandar pada sandaran kasur seperti Aqlan di sebelah nya, di tatap nya Aqlan lagi dengan tersenyum tipis dan mengalih kan pandangan kedepan.


"Saya mau marah pun saya tidak bisa, saya hanya kecewa sama paman saya, kenapa seolah-olah beliau yang selama ini berkorban untuk hidup saya dan dengan gampang nya beliau mengatur saya."


Aqlan masih mendengar kan Zimah yang terus bicara, dia juga melihat raut sedih istri nya dan juga kecewa.


"Jika beliau tidak mau menjadi wali saya, saya tidak mengapa, masih ada adik saya Zain yang bisa mengganti kan almarhum Ayah." kata Zimah sendu


Aqlan memberani kan memegang tangan Zimah yang berada di sebelah tangan nya untuk memberi sedikit ketenangan.


"Tapi kenapa beliau ngak mau, apa maksud nya?" ujar Zimah bertanya menatap Aqlan


Aqlan hanya diam


"Maaf, di hari pertama kita menikah saya malah bersedih" kata Zimah terkekeh segera mengubah mimik wajah nya dengan tersenyum.


"Tidak apa-apa" Alqan memberi senyuman manis pada Zimah membuat Zimah mengalih kan pandangan dengan pipi merah

__ADS_1


"Biasa nya tidur jam berapa?" tanya Aqlan mengubah obrolan mereka


"Tergantung, kalau gak sibuk tidur nya awal" kata Zimah memandang jam dinding yang menunjukan jam 9


"Kalau sekarang sibuk gak?"


Zimah langsung memandang Aqlan dan menggeleng


"Kenapa? apa ustadz butuh sesuatu?"


"Gak ada, cuma mau ngajak tidur aja" kata Aqlan enteng, lagi-lagi membuat pipi Zimah memerah


"Ustadz mau tidur?" tanya Zimah melihat Aqlan dengan ekor mata nya


Aqlan mengangguk


"Silahkan, apa ustadz merasa sempit? atau merasa gak terbiasa satu kasur sama orang? gpp, ustadz tidur di kasur sendirian aja biar saya tidur di sofa atau di kamar tamu."


Aqlan menggeleng terus mendengar pertanyaan Zimah yang berturut


Perkataan Aqlan di sertai senyuman manis membuat pipi Zimah semakin memerah.


...---------------------------------------...


"Ngapain kamu pakai mukenah? habis sholat?" tanya Zimah selidik pada Risha yang duduk di kursi meja makan


"Yakali sholat matahari udah tinggi" kata Risha berdecak


"Siapa tau kan kamu kesiangan" ujar Zimah langsung duduk di kursi depan Risha


"Aku tuh hampir lupa kalau di rumah ini ada suami kakak, yakali aku makai pakaian yang biasa aku pakai, gak sopan dong." kata Risha langsung menyendokan makanan di piring ke dalam mulut nya.


"Tapi gak mukenah juga dong Rish" kata Zimah geleng kepala


"Males mau naik keatas lagi, ini aja aku pinjam atasan mukenah Bik Jum"

__ADS_1


Zimah hanya geleng kepala melihat Risha


Suara kursi yang di tarik mengalih kan atensi Zimah, ia memandang Aqlan yang duduk di samping kursi dengan menghadap nya dan kedua nya diam.


Zimah di buat salah tingkah di tatap Aqlan karna mengingat obrolan terakhir mereka semalam.


Risha yang melihat dua orang di depan nya yang satu nya diam menatap kesembarang arah yang satu nya lagi menatap perempuan di depan nya.


ekhem, Risha berdehem pelan untuk menghilang kan suasana yang seperti canggung di kedua nya


"Kakak kenapa" tanya Risha menatap kakak nya


"Gak" jawab Zimah singkat menutupi grogi nya apalagi ada Risha


"Salting tuh kali di tatap kak Aqlan" kata Risha mengejek


Aqlan hanya terkekeh


"Eh Astaghfirullah, maksud aku ustadz Harith" lanjut Risha meringis malu


"Gak apa-apa, kak Aqlan aja" kata Aqlan ramah


"Mau pakai lauk apa ustadz" tanya Zimah yang sudah bisa menguasai diri nya


"apa aja" kata Aqlan menatap Zimah yang berdiri di tempat sambil memegang piring


Risha cengok mendengar kakak nya memanggil suami nya masih dengan sebutan ustadz.


Setelah selesai mengisi kan nasi dan lauk di piring Aqlan, Zimah langsunh meletakan di depan Aqlan dengan pelan, dan kembali mengambil kan untuk nya


Mereka semua makan dengan khidmat walaupun sesekali Risha memandang kedua orang di depan nya secara bergantian.


"Kata kakak kalau udah punya suami mau panggil dengan panggilan spesial?, tapi kok masih panggil ustadz sih."


Perkataan Risha membuat Aqlan langsung menatap Zimah dan Zimah yang pipi nya sudah merah menahan malu menatap Risha.

__ADS_1


__ADS_2