Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Kedatangan Keluarga Ning Ais


__ADS_3

Membaca Al-qur'an adalah dzikir yang terbaik.


Sebuah hadits yang di riwayat kan dari Utsman bin Affan r.a. mengatakan:


... خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ....


..."sebaik-baik orang di antara kamu adalah, orang yang belajar Al-qur'an, dan mengajar kan nya."...


...{Hr. Bukhori.}...


Aqlan membaca hadits dengan jelas, sehingga mudah di fahami oleh santri-santri putra, dan santri putri di balik satir.


Aqlan memandang santri-santri putra, dan melanjut kan penyampaian.


"Adapun beberapa keutamaan-keutamaan membaca Al-qur'an."


Para jama'ah santri putra dan putri mendengar kan dengan khidmat, termasuk Zimah yang ikut duduk di shaf para santri putri.


-Rumah yang didalam nya membaca Al-qur'an akan tampak bercahaya oleh penduduk langit, sebagaimana penduduk bumi melihat bintang bercahaya di malam hari.


-Barangsiapa membaca huruf dari kitab Allah (Al-qur'an) maka bagi nya satu hasanah.


-Seseorang yang yang menghafal Al-qur'an, berarti ia menyimpan ilmu kenabian di kepala nya.


-Membaca Al-qur'an dapat membersih kan hati, sebagaimana kaca, jika tidak di bersihkan maka ia akan berdebu.


"Subhannallah"


Ucap para santri mendengar fadhilah bagi orang yang menghafal dan membaca Al-qur'an, hati mereka menghangat, timbul semangat yang membara.


"Surat Al-fatihah dapat menjadi penyebab kesembuhan segala penyakit. Dan membaca nya sama dengan membaca dua pertiga Al-qur'an."


Jarum jam terus berputar, tapi mereka masih mendengar kan nasihat sang gus dengan khidmat, mencoba meresapi, dan memahami setiap kalimat,


"Mudah-mudahan kita semua bisa mengamal kan dan menyampai kan kepada semua orang. Dan kelak bisa berkumpul dengan orang Ahli Al-qur'an."


"Akhirul kalam. Tsumma salamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh."


"Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabrokaatuh." jawab semua jam'ah


Mereka semua berdiri untuk menyalami sang guru dan bergeser memberi jalan untuk gus nya lewat.


Aqlan melangkah kan kaki nya keluar dari pintu bagian putra di aula utama yang besar, dan berhenti di tangga masjid untuk menunggu istri nya pulang ke ndalem bersama.


"Mas."


Aqlan menoleh mendengar panggilan istri nya yang tidak tau kapan berdiri di samping nya.


"Sudah?"


Zimah mengangguk


"Mas nungguin aku?"


"Iya. Nungguin siapa lagi." Aqlan mengacak rambut istri nya yang di tutup mukenah.


"Ya gak ada sih, sebentar kita tunggu Salsa dulu, tadi dia ngajak aku ke ndalem bersama."

__ADS_1


Aqlan mengangguk dan mengambil tangan istri nya untuk di genggam, mereka bercerita sambil menunggu Salsa.


Sedari tadi para santri melihat mereka yang sedang tertawa bahagia, terutama melihat Aqlan, melihat keromantisan dan kebahagia yang terpancar di wajah gus nya, yang tidak pernah mereka lihat sebelum nya. Dan itu karna perempuan bernama Zimah, Gus nya terlihat semakin tampan jika seperti ini.


"Bahagia banget mas. Sampai gak sadar di perhatiin santri-santri"


Celetuk Salsa tiba-tiba, walaupun sebenar nya ia juga bahagia melihat mas nya tertawa bahagian dengan wanita pilihan nya. Tapi masalah nya mereka menjadi pusat perhatian para santri.


Aqlan langsung mengubah mimik wajah nya datar dan menarik istri nya pergi meninggal kan adik nya di belakang.


"𝐵𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑟𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑡𝑟𝑖 𝑛𝑖ℎ.


Monolog Salsa dalam hati, tau apa kebiasaa santri kalau sudah melihat apa yang selama ini jarang mereka lihat.


Salsa melihat para santri dan yang sudah bubar, dan melihat mas dan mbak nya yang sudah melangkah jauh. Salsa menghela nafas pelan karna di tinggal kan, dan bergegas mengikuti langkah kedua nya yang sudah jauh.


"Assalamu'alaikum"


Semua atensi orang-orang yang berada di ruang tamu ndalem memandang Dua orang perempuan dan satu orang pria.


Zimah melihat ruang tamu yang ramai orang, dan ada beberapa orang yang tidak Zimah kenal.


Hati Zimah mulai berdetak tak karuan, menebak-nebak, apa ini tamu yang di bicara kan budeh Salma kemarin.?


"Masuk sini le, ndok, ini ada kiyai abdurrahman dan keluarga nya."


Umi menghampiri kedua anak dan menantu nya.


Aqlan menggenggam tangan istri nya, dan menarik nya untuk bergabung dengan semua orang, di ikuti Salsa di belakang nya.


"Perkenal kan ini menantu kami." abi membuka pembicaraan mengenal kan Zimah pada tamu nya.


Zimah tersenyum pada mereka yang menatap memandang nya.


"Perkenal kan diri mu ndok" perintah umi di samping Zimah


Zimah mengangguk.


Zimah meletakan tangan kanan nya di dada. "Saya Malaika Hazimah Raeesh, istri nya mas Aqlan." Zimah memperkenalkan diri nya dengan sopan.


Aqlan tersenyum melihat istri nya, dan hal itu tidak luput dari semua orang, terutama gadis muda yang sedari tadi menatap Zimah.


"Jadi bagaimana perjodohan anak kami dan Aqlan?" tanya kiyai abdurrahman mewakili keluarga nya yang hadir.


"Perjodohan nya tidak di lanjut kan." Abi menjawab dengan wibawa nya yang tenang


"Bagaimana bisa,? perjodohan ini sudah lama di rencana kan oleh abah saya dan kiyai Malik (𝒎𝒃𝒂𝒉 𝑨𝒒𝒍𝒂𝒏)." ujar kiyai Abdurrahman tak terima


"Aqlan sudah memilih wanita pilihan nya."


Kiyai Abdurrahman membuang nafas nya kasar mendengar jawaban dari Kiyai Ahmad.


"Sesuai wasiat abah saya untuk menikah kan cucu nya, yaitu Aisyah, dengan Aqlan cucu dari sahabat nya, yaitu kiyai Malik. Saya meminta Aqlan untuk menikah dengan Aisyah jadi yang kedua, tetapi di depan publik harus menganggap Aisya istri satu-satu nya." putus kiyai Abdurrahman sembarangan


Aqlan mengepal kan sebelah tangan nya yang tidak menggenggam tangan Zimah, Wajah nya datar sedatar mungkin.


Sementara Zimah menahan nafas nya, mendengar kalimat yang selama ini tidak ingin di dengar nya.

__ADS_1


Umi Halimah dan Salsa menatap Zimah yang terdiam.


"Maaf sebelum nya Salsa menimpali, Salsa mau pamit ada urusan." Salsa berujar menatap semua orang yang ada di ruang tamu. "Tapi sama mbak Zimah, soal nya Salsa lupa ada urusan sama mbak Zimah." lanjut Salsa menatap umi nya.


Seolah tau apa maksud anak nya, umi langsung mengangguk cepat.


"Yuk mbak." ajak Salsa berdiri menarik tangan Zimah."


Zimah mengangguk dan tersenyum pada semua nya.


Aqlan menatap kepergian istri nya yang di bawa adik nya ke dalam.


Menghela nafas pelan, pertama Aqlan menatap abi nya, yang memasang wajah dingin memandang kiyai Abdurrahman, sementara yang di pandang hanya santai, seolah-olah omongan nya tidak menyakiti orang lain.


"Maaf, saya tidak akan menikah dengan ning Ais, walaupun menjadi kan nya yang kedua. Saya mencintai istri saya, dan hanya Zimah yang menjadi istri saya satu-satu nya." jawab Aqlan tenang namun terdengar tegas, tapi wajah nya tetap datar.


"Bagaimana dengan wasiat abah saya." ujar kiyai Abdurrahman marah


"Perjodohan ini bukan wasiat, hanya saja keinginan kami dulu sewaktu masih muda. Dan itu pun tidak di paksa kan, jika salah satu pihak yang akan di jodoh kan sudah memiliki pilihan, makan perjodohan ini batal." kiyai malik bersuara, setelah sedari tadi diam.


𝘜𝘩𝘶𝘬. 𝘶𝘩𝘶𝘬.


"Itu saja yang ingin saya sampai kan, saya mau izin istirahat dulu, tubuh saya semakin lemah, karna umur sudah semakin tua."


Aqlan dan Abi Ahmad ikut berdiri melihat mbah yang berdiri, tapi mbah segera menghenti kan mereka mengguna kan isyarat tangan nya.


"Biar Aqlan bantu mbah" ujar Aqlan khawatir.


"Kamu tetap disini, selesai kan semua nya.


Aqlan mengangguk dan duduk kembali setelah melihat mbah yang sudah menuju kamar nya.


"Seperti yang tadi abah saya sampai kan, maka perjodohan ini batal." ujar Abi Ahmad tegas


"Tapi bagaimana dengan keluarga kami yang sudah tau, jika kami akan menikah kan Aisyah dengan Aqlan, Kami akan malu jika pernikahan nya di batal kan." ujar istri kiyai Abdurrahman


"Tahap pembahasan kita kemarin belum sampai ke pernikahan. Kita masih membahas perjodohan, itu pun meminta persetujuan dari anak kita masing-masing." umi Halimah menjawab lembut namun tetap tegas


Mereka bungkam mendengar istri dari kiyai Ahmad. Bunyai Halimah yang terkenal lembut namun tegas, tidak banyak bicara, tapi sekali bicara apa yang dianggap nya benar.


"Seharus nya Aqlan sebagai penerus abi nya tidak memilih istri yang banyak mengejar dunia."


"Coba cari istri ya minimal seorang santri, kalau perlu keturunan kiyai, supaya bisa menyeimbangi Aqlan."


Tidak henti nya istri kiyai Abdurrahman melontar kan perkataan untuk mengoreksi Aqlan.


Aqlan semakin mendatar kan wajah nya, ingin menyela tapi melihat umi nya yang ingin menjawab.


"Jangan menilai apa yang tidak kamu ketahui, itu akan menjadi fitnah. Menantu saya memang bukan dari keluarga kiyai, tapi dia tidak pernah menilai orang lain buruk dan menganggap diri nya baik." Tatapan umi datar


"Jangan karna omongan anda, orang lain memandang negatif pada keluarga kiyai-kiyai."


"Ingat. Anda juga bukan berasal dari keturunan kiyai." Ucap umi Halimah telak, mengakhiri perkataan nya.


..."𝑩𝒆𝒓𝒉𝒆𝒏𝒕𝒊𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉𝒂𝒔 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒌𝒂𝒎𝒖 𝒌𝒆𝒕𝒂𝒉𝒖𝒊, 𝒅𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒊𝒄𝒂𝒓𝒂 𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒏𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒂𝒑𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒉𝒂𝒕𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒖."...


...🌼𝑨𝒍𝒊 𝒃𝒊𝒏 𝑨𝒃𝒊 𝑻𝒉𝒂𝒍𝒊𝒃🌼...

__ADS_1


__ADS_2