Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Kecewa nya Zimah


__ADS_3

"Masakan bibi gak pernah berubah, persis seperti bunda."


Zimah memandang bibi nya yang duduk di seberang meja makan dengan nya.


"Alhamdulillah, kalau begitu makan yang banyak ya, nak Aqlan juga." bik Dinda bergantian memandang sepasang suami istri di depan nya.


Sedang kan Lia dan Icha, fokus dengan makanan nya.


"Iya bik." kata Aqlan.


Mereka kembali menikmati makanan yang di masak oleh bik Dinda.


"Alhamdulillah kenyang." suara Icha mengalih kan perhatian semua orang yang ada di ruang makan.


"Do'a dulu cha" peringat Lia yang duduk di samping nya.


Sang empu hanya nyengir menunjukan deretan gigi nya.


"Ada yang mau Zimah dan mas Aqlan omongin bik."


Bik Dinda mengangguk.


"Kita bicara di ruang keluarga aja."


Wanita paruh baya itu bangkit dari duduk nya, di ikuti yang lain nya.


"Kalian bicara apa" tanya bik Dinda setelah semua nya duduk di sofa.


"Zimah sama mas Aqlan datang ke kalimantan untuk menjemput bibi dan adik-adik Zimah, karna umi dan abi nya mas Aqlan mau mengadakan acara walimahan Zimah di pesantren."


"Pesantren?, pesantren mana?" bik Dinda menatap Aqlan dan Zimah bingung.


Zimah menatap suami nya, minta penjelasan.


Aqlan tersenyum tipis


"Pesantren abi Aqlan bik."


"Nak Aqlan anak kiyai?" bik Dinda tampak kaget.


Aqlan mengangguk lalu tersenyum


"Iya bik."


"Maa syaa Allah, amalan apa yang kamu lakukan nak, nak" bibi memandang Zimah haru.


"Zimah juga gak tau bik, Zimah baru tau kalau mas Aqlan anak kiyai setelah kita sudah menikah." Zimah menatap suami nya dengan binar syukur.


Aqlan yang menjadi topik pembicaraan hanya diam sambil tersenyum tipis, di dalam hati ia banyak-banyak melafadz kan istighfar.


"Aqlan memilih Zimah, karna Aqlan yakin, Zimah adalah pasangan yang bisa di ajak sama-sama mendapat kan ridho Allah." Aqlan menatap istri ny penuh cinta.


Bik Dinda yang melihat tatapan kedua nya penuh cinta, bersyukur, karna keponakan yang selama ini ia asuh dengan kasih sayang, kini mendapat kan lelaki yang mencintai karna Allah.


Icha dan Lia ikut tersenyum melihat kakak dan abang ipar nya bahagia.


"Nanti Icha mau cari yang kayak bang Aqlan aja deh, biar romantis." Icha menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di kedua paha nya, sambil memandang sepasang suami istri dengan senyuman sok manis nya penuh khayalan.


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬

__ADS_1


Lia yang jengah melihat tingkah adik nya langsung memukul bahu icha dengan pelan, tapi membuat sang empu meringis.


"Sssttt, apa sih kak Lia, sakit tau." Icha memberenggut menatap nyalang kakak nya, yang di tatap hanya memasang wajah cuek.


Bik dinda yang melihat keponakan bungsu nya menghela nafas, seperti sudah biasa mendengar tingkah bar-bar keponakan nya.


Jikah Aqlan terkekeh dan geleng kepala. Beda hal nya dengan Zimah yang cengo karna kaget mendengar ucapan spontan adik bungsu nya.


Zimah menatap bik Dinda yang mengedik kan bahu nya dan menggeleng tanda tak tau.


Menoleh lagi bertanya dengan Lia melalui tatapan.


Lia menggaruk kepala nya yang tak gatal.


"Pergaulan kak, teman-teman Icha kan sok dewasa semua, masih kecil juga, tapi udah tau nikah-nikahan." jawab Lia tapi tatapan mengarah pada Icha


"Tapi Icha gak kayak mereka ya." Icha membela diri, mendelik pada kakak nya lia.


"Bergaul dengan yang baik-baik Cha." nasehat Zimah


"Iya kak" jawab Icha pasrah, tetapi mata tetap menatal nyalang lia.


"Kamu sudah beri tau paman mu?"


Zimah diam mendengar pertanyaan bibi nya.


Lia yang tau kemana arah pembicaraan kakak dan bibi nya, segera berdiri menarik tangan Icha.


"Ngapain tarik-tarik kak." tanya Icha masih kesal dengan lia.


"Temenin kakak keluar"


Lia menghela nafa susah menghadapi adik nya yang tidak peka, labil, lalu dia memandang bibi nya.


Bik Dinda yang mengerti pun dengan lia yang sudah dewasa dari Icha. langsung menatap Icha.


"Cha, temenin kk Lia gih, kan gak boleh keluar sendirian." ucap bik Dinda lembut


Berhasil!.


Icha pun langsung berdiri dan berjalan mendahului kakak nya.


Bik Dinda kembali memandang Zimah yang sedang memperhatikan kedua adik nya hingga tidak terlihat.


"Apa paman bakalan datang bik?, dari dulu paman gak pernah respec sama kita."


Bik Dinda diam.


"Di coba dulu aja" usul Aqlan.


Zimah mengangguk.


"Ada yang mau Zimah tanyain sama bibi." Zimah menegak kan tubuh nya tidak lagi bersandar pada sofa, menatap bibi nya dengan serius.


Aqlan menatap istri nya bingung.


Sedangkan bik Dinda mengangguk, seperti tau apa yang akan di tanyakan oleh keponakan nya.


"Apa benar Zain bukan saudara kandung Zimah?."

__ADS_1


Bik Dinda bungkam, walaupun ia sudah menebak jika pertanyaan ini akan keluar dari mulut keponakan nya, menatap manik mata Zimah yang seperti mengatakan jika ini tidak benar.


Anggukan dari bik Dinda membuat Zimah menutup rapat mata nya.


"Kenapa selama ini Zimah gak pernah tau?, bibi gak pernah beri tau Zimah, dulu ayah bunda juga gak pernah beri tau Zimah, kenapa?" suara serak Zimah dengan mata yang masih tertutup menahan air mata, menanda kan jika dia kecewa.


Aqlan merangkul istri nya, sebelah tangan nya ia gunakan untuk mengusap belakang istri nya.


Entah berapa kali bik Dinda menghela nafas untuk menjawab pertanyaan Zimah.


"Ayah dan bunda mu tidak ingin kebahagian yang selama ini kalian rasa kan terasa hambar jika mengetahui Zain bukan saudara kandung kalian."


"Tapi ini menyakiti Zain bik, Zain gak seperti dulu lagi kalau dekatan sama Zimah, dia seperti menjaga jarak." Zimah mendongok ke atas menahan agar air mata nya tidak jatuh.


"Jika saja Zimah tau lebih dulu, Zimah akan mencari cara untuk menyampai kan sama Zain, gak seperti saat itu di sampaikan oleh paman, dengan tidak etis nya, paman menyakiti hati Zain bik." sekuat tenaga Zimah menahan tangis nya, apalagi membayang kan Zain yang menjaga jarak dari nya.


"𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘪𝘯 𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘯𝘪𝘩, 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘢𝘴 𝘈𝘲𝘭𝘢𝘯."


"𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯, 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘣𝘪𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘪𝘬-𝘢𝘥𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘸𝘢𝘭𝘪𝘮𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘢𝘬."


𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘵𝘢-𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘤𝘢𝘯𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩.


𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘤𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘯. "𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘬"


𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢 𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘦𝘳𝘦𝘸𝘦𝘵 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘡𝘪𝘮𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯,


"𝘒𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘥𝘰𝘯𝘨" 𝘳𝘦𝘯𝘨𝘦𝘬 𝘡𝘢𝘪𝘯 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢 𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨.


Zimah menghela nafas, mengingat percakapan nya dengan Zain.


"Apa paman gak mikir sebelum menyampai kan sama Zain?, seharus nya paman memberi tau Zimah dulu, biar Zimah yang menyampai kan nya, kalau perlu bakalan Zimah tutup rapat-rapat semua nya." air mata nya meluruh, dada nya sesak, mengingat tatapan adik nya yang kosong.


"Andai bibi tidak mengiya kan apa yang paman sampai kan waktu itu, hati Zimah sakit bik, sakit banget, melihat tatapan Zain yang tidak seceria dulu, setelah kepergian ayah dan bunda, yang Zimah usaha kan adalah kebahagian adik-adik Zimah, Zimah gak mau mereka bersedih. Karna hati Zimah bakalan sakit." dada nya semakin sesak, air mata nya mengalir deras.


Walaupun kecewa, Zimah tetap melembut kan suara ny.


Zimah berdiri meninggal kan bibi dan suami nya, ia segera masuk ke dalam kamar.


Bik Dinda menatap sendu kepergian Zimah hingga tidak terlihat lagi.


Aqlan memandang prihatin wanita paruh baya yang telah merawat istri nya dengan tulus.


"Maafin istri Aqlan ya bik." walaupun ia orang baru dalam hidup istri nya dari wanita paruh baya di depan nya, tapi ini tanggung jawab nya sebagai suami, atas kesalahan istri nya.


Bik Dinda tersenyum.


"Gak apa-apa, Zimah hanya emosi, baru kali ini Zimah kecewa sama bibi."


Aqlan diam memperhati kan wanita paruh baya, yang tampak kriput di wajah nya.


"Dari dulu Zimah selalu mengutama kan ke bahagian orang-orang yang di sayangi nya, sampai dia memberani kan diri merantau ke kalimantan."


"Paman nya, adik dari ayah Zimah memang tidak memperduli kan Zimah dan adik-adik nya, dulu Zimah selalu di caci, dari keluarga pihak ayah nya, dan orang-orang kampung sini, hanya bibi satu-satu nya keluarga Zimah dari pihak bunda nya, bibi memaklumi, wajar Zimah kecewa, karna tujuan nya telah di hancur kan oleh orang yang selama ini membenci nya."


"Bibi gak tau, bagaiman nanti jika Zimah bertemu paman nya."


Bik Dinda menghela nafas, lalu menatap Aqlan.


"Tolong bimbing Zimah, tidak mudah bagi nya untuk bertahan selama ini, keluarga yang ia kira akan merangkul nya setelah kepergian kedua orang tua nya, ternyata mereka yang benar-benar menghancur kan mental gadis yang dulu nya masih kecil."

__ADS_1


"Zimah di dewasa kan oleh keadaan."


__ADS_2