
"Anak dari, orang yang pernah melanggar Zain."
Mata Zimah terbuka lebar, seakan kantuk yang tadi menyerang nya, hilang seketika, mendengar jawaban dari suami nya.
"Kenapa bisa?," tanya nya tak percaya.
Aqlan mencerita kan semua nya, sesekali Zimah mengerut kan kening, lalu tak lama mengangguk.
"Zimah sih setuju-setuju aja keputusan mas, yang terbaik untuk kita semua. Tapi," Menjeda ucapan nya sebentar, memandang Aqlan dengan tampang bertanya. "Apa ayah mereka setuju?"
Diam sebentar, sebelum menjawab pertanyaan istri nya. "Nanti kita ke kantor polisi, ketemu ayah mereka, meminta izin terlebih dahulu.
...-----...
"Nanti kalau sudah sampai, kabarin aku ya."
"Iya kk," ujar Risha.
"Pasti itu," timpal Chessy.
"Jadi kapan kamu nyusul kita ke jakarta?," imbuh Dira, bertanya menatap sahabat nya yang sedang berbadan dua.
"Setelah selesai urusan mas Aqlan, aku bakalan pulang kejakarta, mungkin seminggu atau dua minggu lagi," jawab Zimah memandang sahabat-sahabat nya, kemudian memandang dua orang santri putra yang kemarin menjemput Chessy dan Dira, kali akan mengantar nya ke bandara lagi, di tambah Risha.
"Bawa mobil nya pelan-pelan ya kang," ujar Zimah pada dua santri putra yang tidak menatap nya.
"Njih ning. In syaa Allah," jawab kedua nya kompak dengan anggukan kecil.
Ketiga gadis jakarta yang masih mengenak kan hijab itu, mendekati Zimah dan keluarga ndalem, mencium tangan umi Halimah, kemudian bersalaman dengan Salsa, 'adik ipar sahabat nya' , terakhir berpelukan pada Zimah. Mereka melakukan semua itu secara bergantian, dengan khidmat.
Setelah berbincang sebentar dengan keluarga ndalem yang mengantar mereka di depan rumah, dan mendengar perkataan hangat dari umi Halimah, mereka segera masuk kedalam mobil. Mobil hitam itu perlahan keluar dari gerbang Besar pesantren, Roudhotul Jannah.
"Kandungan kamu sudah berapa bulan ndok?" umi Halimah bertanya, sambil memandang perut Zimah.
"Kamu sudah bertemu sama pak Robi nya le?" umi Halimah bertanya, memandang sang putra sulung yang berdiri di depan nya.
Saat ini mereka masih berdiri di tempat semula seperti tadi, melihat kepergiaan ketiga, gadis kota itu.
"Njih umi, sudah tadi pagi," Aqlan menjeda sebentar ucapan nya. "Beliau tadi sempat bercerita, menyesali semua nya. Beliau mengizin kan kita mengambil anak nya untuk sementara waktu, sampai menyelesai kan hukuman. Meminta kita, untuk mendidik anak-anak nya di, pesantren ini.
Awal nya Aqlan tidak yakin, jika pak Robi mengizin kan Aqlan untuk membawa anak-anak nya tinggal di pesantren ini, mengingat dulu, pak Robi sangat-sangat berontak di bawa oleh pihak yang berwajib, bahkan memandang Aqlan dan ustadz penanggung jawab Zain, dengan tatapan seperti menyirat dendam.
"Alhamdulillah!" ucap umi penuh syukur.
__ADS_1
Langit sore tampak indah, angin yang berhembus menggoyang kan bunga warna-warni dan rumput-rumput yang menghiasi sisi-sisi tertentu di pondok itu, menunjukan kententram, kedamaian, dan ketenangan, Pesantren yang memiliki ribuan santri di tanah jawa, pesantren Roudhotul Jannah.
Tampak santri putra dan santri putri berlalu lalang melewati rumah ndalem, melangkah beriringan, menolak pandang dengan yang bukan mahrom, menunjukan ta'dzim, dengan kepala sedikit menunduk ketika melewati sang guru.
Pohon-Pohon yang berjejer di sisi halaman pesantren, bangunan-bangunan, bertingkat tersusun rapi, suara nadzoman kitab Al-Fiyah, yang memenuhi kawasan pesantren Roudhotul Jannah. Terdengar merdu, menyejukan, menenang kan. Bagi siapa saja yang mendengar nya.
Sepasang suami istri, calon pasangan yang akan mengganti kan kiyai Ahmad, dan bunyai Halimah, memimpin pesantren. Berjalan beriringan dengan langkah tegas, menjawab sapaan santri-santri yang bepapasan dengan mereka. Sesekali Aqlan menoleh pada Zimah yang tersenyum.
"Mas liat-liat, kamu bahagia banget?"
Zimah mengangguk, dengan senyuman yang tak lepas dari bibir nya, menatap sang suami dengan hangat. "Bahagia banget mas! Gak tau kenapa, apalagi masalah yang kita hadapi belakangan ini, bisa di selesai kan dengan cepat, ada hikmah yang bisa Zimah ambil dari semua kejadian iti. Dari mulai permasalahan keluarga Zimah, dan pesantren ini," tutur nya lembut, di sela langkah mereka. Tampak jelas wajah dan sorot mata yang tidak ada kebohongan.
"Alhamdulillah. Ada nya ujian itu, supaya kita bisa belajar dan mengambil hikmah nya. 'Ada nya kebahagian kita bersyukur. Ada nya ujian kita harus bersabar'. Perjalanan bukan hanya sampai disini! Perjalanan kita masih panjang. Jadi mas minta, apapun ujian kedepan nya, jangan pernah tinggalkan Allah, dalam keadaan apapun."
Tepat Aqlan menyelesai kan perkataan nya, mereka tiba di rumah ndalem.
Tadi setelah mengantar kepulangan sahabat nya, dan berbincang sebentar dengan keluarga. Zimah mengajak Aqlan berjalan santai di kawasan pesantren.
Tiba di dalam rumah, Aqlan dan Zimah berhenti melangkah, pandangan mereka sama, mengaraj pada orang-orang yang duduk di kursi ruang tamu.
Mereka yang ada di ruang tamu juga menatap sepasang suami istri yang baru melewati pintu yang sedari tadi terbuka.Termasuk dua pria remaja yang duduk berdampingan di sisi kanan dan kiri gadis kecil. Satu pria remaja yang memandang takut-takut, dan satu nya memasang wajah datar.
Termasuk Abi Ahmad dan umi Halimah yang ada di situ. Juga ada sepasang suami istri paruh baya, yang tidak mereka ketahui.
"Remaja yang kemarin mas ceritain Mungkin, gadis kecil itu adik nya Irzan, dan dua orang paruh baya itu, mas kurang tau.
Aqlan mejawab apa yang diketahui nya, adik yang pernah Irzn cerita kan. Dan Fadhil yang tidak mau orang tua nya tau tentang kenakalan nya.
Aqlan menarik pelan tangan istri nya yang sedari tadi di genggam, lalu mengajak bergabung pada semua orang yang sedari tadi memandang mereka.
"Assalamu'alaiku."
Ucap kedua nya secara bersamaan. Dia jawab oleh semua orang yang ada di situ.
"Apa ini adik kamu Irzan?" Tanya Aqlan berbasa basi.
"Njih gus," jawab Irzan ramah, tidak seperti kemarin yang tidak bersahabat. Walaupun sekarang wajah nya tidak menunjuk kan ekspresi apapun.
"Cantik nya!" Celetuk Zimah tiba-tiba, memandang anak kecil yang sedari tadi tersenyum memandang nya dengan berbinar, dengan pipi tembeb, kelopak mata bulat, tampak imut.
"Maaci," jawab nya antusias di sertai tepuk tangan.
"Gus," sapa pria paruh baya yang tidak Aqlan ketahui.
__ADS_1
"Iya pak?"
"Saya, dan wanita di samping saya ini, orang tua nya Fadhil." ucal nya memperkenal kan diri.
Aqlan hanya mendengar kan dang memberi senyuman ramah, menyabut perkenalan pria paruh baya itu.
"Maaf kan kesalahan anak kami gus!" tutur nya tampak sedih, menunduk kan kepala. Tidak berani menatap Aqlan yang duduk tidak jauh dari orang tua Fadhil itu.
Kiyai dan bunyai, diam, mendengar permintaan tamu mereka, karna tadi orang tua Fadhil sudah meminta maaf pada mereka. Dan sekarang, ini urusan anak nya.
"Kami tidak mengetahui perbuatan putra kami, yang sama sekali tidak terpuji," sambung ibu nya Fadhil. Dengan sorot mata sendu.
Zimah sebagai istri dari Aqlan tidak ingin menimpali. Karna ini hak suami nya, keputusan ada pada suami nya, walaupun Zimah tidak tega melihat orang tua yang mengharap maaf untuk kesalahan yang di perbuat anak nya.
Aqlan tidak langsung menjawab. Memandang sepasang paruh baya yang tampak kriput di wajah mereka, sorot mata yang penuh harapan.
"Saya sudah memaaf kan nya,"
Mendengar ucapan pria yang menjadi cucu dari kiyai sepuh yang mereka hormati. Sepasang paruh baya itu tersenyum penuh syukur.
"Tapi saya ingin memberi kan hukuman untuk anak bapak dan ibu," ucap Aqlan sopan pada paruh baya itu.
Sepasang paruh baya itu terdiam memandang anak nya yang menunduk, meremat jari-jari nya yang saling bertautan. Lalu memandang gus Aqlan, yang tampaj berwibawa.
"Tidak apa-apa gus, ini demi kebaikan anak kami untuk kedepan nya, agar bisa mempertanggung jawab kan, apa yang telah dia perbuat."
Fadhil mendongak kan kepala, memandang sang ayah yang menjawab dengan tegas, tidak ada keraguan sedikit pun. Sedang kan sang ibu hanya mengangguk tidak mengeluar kan suara, menyetujui pendapat sang suami.
"Hukuman nya Fadhil harus mengikuti Irzan dan adik nya, untuk tinggal di pesantren ini, dalam waktu yang tidak tau kapan. Boleh keluar jika ada kepentingan, seperti sekolah. Jadi Fadhil dan Irzan harus mengikuti peraturan disini. Sedangkan, sang adik akan tinggal di ndalem."
Keputusan Aqlan tidak bisa terbantah kan, karna sepasang paruh baya itu tau, hukuman itu, yang terbaik untuk anak nya.
"Adik saya tidak terbiasa jauh dari saya," Irzan akan suara, setelah tadi terdiam.
"Nanti biar saya yang mengurus nya," tutur Zimah menyahuti dengan ramah, dan kelembutan.
"Benar, nanti saya dan keluarga yang juga membantu," ucap Aqlan mendukung sang istri, yang tampak antusia, dan yang sedari tadi memandang gadis kecil itu, penuh bahagia.
"Nati kamu juga boleh ke ndalem, menemui adik mu."
Perkataan istri dari gus Aqlan, membuat Irzan menghela nafa lega.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Ucapan salam dari orang yang berdiri di ambang pintu, mengalih kan, atensi semua orang yang ada di ruang tamu.