Hazimah & Aqlan

Hazimah & Aqlan
Kalimantan


__ADS_3

"Hati-hati di jalan, jangan lupa baca do'a, kalau sudah sampai kabari umi."


"Njih umi"


Setelah menyalami semua keluarga yang berdiri di depan teras rumah, Aqlan dan Zimah segera masuk kedalam mobil yang sudah ada dua orang santri putra duduk di kursi depan, dan siap mengantar mereka ke bandara.


Zimah membalas lambaian Salsa yang memasang wajah jutek, membuat Zimah terkekeh.


Mobil pun berjalan keluar dari gerbang pesantren Roudhotul Jannah dan melaju menuju bandara.


Sepanjang perjalanan Zimah sibuk membalas pesan dengan bibi dan kedua sahabat nya.


Sementara Aqlan mengobrol dengan kedua santri putra.


"Mas"


Aqlan menoleh


"Sahabat aku mau datang ke walimahan kita, siapa ya, yang bisa jemput mereka di bandara.?"


"Kapan mau datang nya?"


"Hari kamis"


"Bukan nya kita masih di kalimantan ya?"


"Iya, mereka mau datang sebelum kita pulang, kata nya mau bantu-bantu untuk hari spesial aku" Zimah tersenyum mengingat chatan ia dan sahabat nya di grup.


Aqlan mengangguk.


"Jam berapa pesawat nya?"


"Siang"


Aqlan langsung memandang santri yang duduk di kursi kemudi


"Bisa tolong jemput sahabat istri saya di bandara kang?"


"Bisa gus" jawab nya cepat dengan sekali anggukan.


"Kalian berdua aja ya"


"Njih gus" jawab kedua nya


Mereka kembali menyibuk kan diri, hingga mobil sampai di bandara.


Aqlan mengeluar kan barang-barang nya dan Zimah dari bagasi, di bantu kedua santri nya.


"Saya masuk dulu ya, kalian berdua hati-hati di jalan."


Kata Aqlan setelah semua barang-barang nya sudah di keluar kan.


"Njih gus, gus dan ning Zimah hati-hati juga di jalan. Mudah-mudahan sampai tujuan dengan selamat." ucap salah satu mereka


Suami istri itu pun mengangguk dan mengamiin kan, lalu mereka berjalan masuk.


Kedua santri itu setia memandang gus dan ning nya hingga tidak terlihat, setelah nya mereka memutar badan melakangkah masuk ke mobil.


Zimah termenung melihat di luar kaca pesawat, fikiran nya berkelana, wajah nya tampak murung, hingga tidak menyadari suami nya yang sedari tadi memandang nya.


"Kenapa?" tanya Aqlan


"Ini kepulangan ku pertama kali, setelah dulu izin merantau ke jakarta" Zimah menjawab tidak mengalih kan pandangan nya


"Selama apapun kamu pergi, itu tidak akan menyembuh kan luka mu di masalalu."


Zimah menghela nafa, menoleh menatap suami nya.


"Tapi aku takut akan membenci mereka jika menatap mereka secara langsung."

__ADS_1


Aqlan diam, merasa kan kesedihan istri nya.


"Pelan-pelan ya, mas akan bantu."


Zimah mengangguk


.


Aqlan mengikuti istri nya yang memandang rumah besar di depan mereka.


"Apa benar ini rumah kamu?"


Zimah mengangguk.


"Letak nya persis dengan rumah yang dulu, bik Dinda pernah ngirimin aku foto rumah ini dulu, setelah di perbaiki."


Aqlan mengangguk.


"Assalamu'alaikum"


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"𝘞𝘢'𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮𝘶𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳"


Mendengar jawaban dari dalam, Zimah berhenti memencet bel.


𝘒𝘳𝘦𝘬 (𝘴𝘶𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘪𝘯𝘵𝘶)


"Kak Zimah!!!!!"


Zimah menerima pelukan dari gadis kecil dengan senang.


"Icha kangeeeeen banget sama kak Zimah, kak Zimah gak pernah pulang, kalau mau ketemu kak Zimah pasti icha, kak lia, dan bibi harus ke jakarta dulu." adu nya berderai air mata


"Kak Zimah?"


Zimah memandang kedepan mendengar nada terkejut dari gadis remaja di depan nya, berdiri dengan air mata yang mengalir.


Zimah tersenyum hangat


Gadis remaja itu berlari langsung memeluk Zimah


"Lia juga kangen"


Aqlan memilih diam, melihat istri nya melepas rindu dengan kedua adik nya.


"Kakak juga kangen banget sama kalian" suara Zimah parau.


"Kalian udah sampai toh?, kenapa gak di suruh masuk dulu kakak nya."


"Kangen nya gak bisa di tunda lagi bik" ujar Icha mencebi bibir bawah nya.


"Kasian loh kak Zimah dan bang Aqlan nya capek dari perjalanan jauh." kata bik Dinda


Icha dan Lia langsung melihat kebelakang kakak nya, mereka baru menyadari ada suami dari kakak nya


"Hehehe, maaf ya bang Aqlan, kita gak liat ada bang Aqlan, karna udah rindu banget sama kak Zimah.


Aqlan hanya mengangguk dan tersenyum.


Zimah melepas kan pelukan dengan kedua adik nya, dan langsung menghampiri bibi nya.


"Bibi apa kabar?" Zimah mencium tangan bik Dinda, kemudian memeluk nya erat.


"Alhamdulillah bibi sehat, yaudah sekarang kalian masuk dulu ya, istirahat dulu di kamar, nanti malam baru kita makan bersama."

__ADS_1


Zimah mengangguk.


Aqlan menghampiri bibi dari istri nya, lalu mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Assalamu'alaikum bik."


"Wa'alaikumussalam" bik Dinda tersenyum memandang Aqlan


"Makasih sudah menjaga ponakan bibi."


"Sudah menjadi tugas Aqlan sebagai suami Zimah bik."


Bibi tersenyum tipis, mata yang memandang Aqlan hangat.


"Sekarang kalian istirahat ya."


"Iya bik"


"Kita kan belum lepas kangen-kangen nya bik." Icha mengerucut kan bibir nya


Lia hanya diam, walaupun dia menyetujui perkataan adik nya.


"Nanti malam saja, biar kak Zimah dan bang Aqlan nya istirahat dulu"


"Kalian tunjukin kamar yang sudah bibi siapin." lanjut bik Dinda menunjuk Icha dan Lia.


Mereka mengangguk lalu melangkah menuju kamar untuk Zimah dan Aqlan, di ikuti kedua suami istri itu.


"Ini kamar kakak dan bang Aqlan." kata lia menunjuk pintu yang bercat biru.


"Trimakasih ya" Zimah mengusap kepala adik-adik nya.


"Sama-sama kak" balas icha riang, sedang kan lia hanya membalas dengan senyuman


"Oh iya, bang Aqlan masih ingat nama kita berdua gak?" Icha menunjuk diri nya dan juga Lia.


"Masih dong, ini Lia, dan ini Icha." tunjuk Aqlan tepat.


"Gak sia-sia ya waktu itu kita kenalan, kak lia harus berterimakasih sama Icha, karna Icha yang mulai memperkenal kan nama kita berdua, sebagai adik kak Zimah" sombong nya mengangkat dagu memandang Lia.


Aqlan tertawa, sedang kan Zimah menggeleng melihat tingkah adik nya.


Lia memutar bola mata nya malas melihat tingkah somhong adik nya.


"Kak Lia mah pendiam banget" Icha mencibir kakak nya.


"Dari pada kamu, bawel banget. Kak Zimah, bang Aqlan, istirahat aja ya, biarin aja dia ngoceh sendiri, Lia mau pamit dulu." Lia balas mencibir adik nya, dan pamit lalu pergi meninggal kan icha yang cengo, lalu berlari menyusul kakak nya


Aqlan dan Zimah tertawa melihat kedua nya.


"Masuk mas" Zimah mempersilahkan Aqlan masuk ke kamar, yang pintu nya sudah lebih dulu Zimah buka.


Aqlan mengangguk dan berlalu masuk di ikuti Zimah yang langsung mengunci pintu.


Mereka masih berdiri memperhatikan kamar berwarna serba biru.


"Kamu suka warna biru?" tanya Aqlan tanpa menoleh pada istri nya.


"Iya mas."


Aqlan mengangguk, lalu berjalan melangkah keluar balkon, dan terlihat pemandangan sungai dan rumah-rumah penduduk di tepi nya, nuansa nya masih alami.


Kumandang adzan di sertai angin segar dari sungai menambah kesan syahdu nya.


"Mas, perlengkapan sholat nya sudah Zimah siapin." Aqlan menoleh kebelakang tersenyum memandang istri nya.


"Trimakasih, kita sholat jama'ah ya."


Zimah mengangguk, lalu mengikuti langkah suami nya.

__ADS_1


...🌼𝑺𝒆𝒕𝒊𝒂𝒑 𝒑𝒆𝒓𝒊𝒔𝒕𝒊𝒘𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒅𝒊 𝒃𝒂𝒈𝒊𝒂𝒏 𝒉𝒊𝒅𝒖𝒑 𝒌𝒊𝒕𝒂, 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒂𝒅𝒂 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒆𝒓𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒎𝒃𝒆𝒍𝒂𝒋𝒂𝒓𝒂𝒏 𝒋𝒊𝒌𝒂 𝒌𝒊𝒕𝒂 𝒃𝒆𝒓𝒇𝒊𝒌𝒊𝒓.🌼...


...{𝑪𝒂𝒏𝒅𝒓𝒂 𝑷𝒆𝒓𝒎𝒂𝒏𝒂}...


__ADS_2